
Saat bayangan itu kembali tergambar di ingatannya dedenya kembali kian menegang minta pemuasan, Ubay menghembuskan nafasnya kasar, tanpa menyentuh Alikapun dedenya bisa berdiri seperti itu, dan sudah jelas kini bila Alikalah yang mampu membangunkan tidur panjang sang adik di dalam celananya.
Uaby memutuskan mengambil handuk dan membayangkan hal yang sama di kamar mandi hingga membuat kepuasan duniawipun terpuaskan dan membuatnya melayang sampai ke surga.
Ubay benar benar tidak akan melupakan kejadian hari ini, dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin berusaha mendinginkan tubuhnya yang telah memanas, dia merasakan kesejukan yang menyerap ke pori pori kulitnya.
"Gadis kecil, awas kamu lain hari!" ancam Ubay saat di rasa cukup dengan mandi besarnya itu, Ubay keluar dari kamar mandi dan mendapati Alika yang nampak sudah terbangun, hingga kejadian pengering rambutpun terjadi.
(Baca episode sebelumnya bila ingin tahu apa yang terjadi saat itu).
.........
Saat Alika berjalan bersama Ubay menuju sebuah ruangan besar dengan setumpuk belanjaan Alika tergugu dengan jenis mahluk konsumsi seperti nenek Kejora, memang dirinyapun bukan dari kalangan bawah meski keluarganya sama sekali tidak di kenali oleh orang orang, namun dia tidak kekurangan sama sekali.
"Halo nek!" Alika menghampiri Kejora dan nampak Fedrixpun turut ada di sana.
"Eh, neng Alik?" Fedrix menyapa Alika dengan senyum ramahnya, namun Alika yang melihat Fedrix justru mundur bebrapa langkah, matanya membulat sempurna menatap mata yang kini menghujam dirinya hingga tubuhnya membentur dada Ubay.
"Kenapa?" tanaya Ubay manatap garis kekhawatiran yang terpancar dari wajah Alika.
"Ti..tidak, hanya saja..!" Alika takut mengatakan isi hatinya dan kini merasakan tangannya yang dingin dan bergetar sangat kuat.
"Kamu kenal Alika, rix?" tanya Ubay, karena saat Alika melihat Fedrix jelas tertangkap bila gadis itu takut saat melihat kawannya dan berusaha menghindar.
"Kenal dong, dia itu cewek yang paling cantik di dunia, siapa yang tidak kenal dia." ucap Fedrix tersenyum simpul.
"Neng Alik kenapa?" tanya Kejora, jelas nampak tangan Alika yang bergetar hebat, Ubaypun menyadari hal tersebut.
"Sini, jangan takut! Ada aku disini!" ucap Ubay menggenggam tangan Alika yang kini tepat di hadapannya dan terkesan memeluk Alika dari belakang.
Entah rasa aman dari mana yang kini tiba tiba datang dalam hati Alika merasakan sentuhan lembut dari Ubay yang kini berada di belakangnya berusaha memberinya kekuatan.
Alika bergeser ke samping Ubay agar tidak terkesan pria itu memeluknya, dia menggenggam tangan Ubay cukup erat namun hal tersebut malah sangat di sukai Ubay, dia senang saat Alika mampu percaya dan bergantung terhadapnya.
"Grrr.. Kayanya dia masih tarauma, aku sempat mau perkosa dia beberapa tahun kebelakang saat dia masih terbilang masih kecil, ya mungkin sekitar 4 tahun lalu aku rasa." ucap Fedrix tanpa rasa bersalah mengatakan kesalahannya sendiri.
Sontak mata Ubay terbelalak dan memelototi Fedrix yang nampak santai dan tanpa rasa bersalah, sebuah timpukanpun meluncur ke arah wajah Fedrix yang berasal dari nenek Kejora.
"Kamu mengatakan itu tanpa rasa bersalah? apa kamu tidak bisa berfikir bagaimana hal bodoh yang sudah kamu lakukan itu? ya ampun di mana otak kamu!" ucap nenek Kejora merasa kesal dengan Fedrix.
"Tenang nek, aku gak apa apain Alik kok, dia punya banyak jurus yang tersembunyi, dia luar biasa dalam penguasaan ilmu bela diri!" ucap Fedrix mengangkat bahunya hingga sebuah jotosanpun melayang ke arah wajah Fedrix.
"Mungkin aja!" ucap lagi Fedrix membiarkan Ubay melampiaskan amarahnya pada dirinya karena dia sendiripun sudah tahu, bila dirinya pantas mendapatkan hal tersebut.
Satu buah jotosan kembali lagi melayang di pipi Fedrix hingga membuat memar biru di wajahnya tergambar jelas, Alika yang melihat itu terdiam seribu bahasa, dia mungkin sudah tahu isi hati Ubay pada dirinya, dan demi dirinya pula dia mengeniyaya sahabatnya sendiri.
Fedrix tidak mengelak meski beberapa kali Ubay membuat kepalanya hampir oleng, hingga sebuah kata yang keluar dari mulut Fedrixpun membuat Ubay menghentikan perbuatannya.
"Gue minta maaf! Maafin gue bay?" kata itu keluar dari mulut Fedrix yang bawel namun tidak pernah mengatakan kata terlarang itu yaitu kata maaf, di kamus Fedrix memang tidak ada kata maaf hingga akhirnya satu kosakata langka itupun terukir.
"Arrgh, kerja sama kita batal! Sekarang lo pergi jauh jauh dari gue!" ucap Ubay kasar membanting tubuh Fedrix, Alika yang melihat itu merasakan dadanya yang kembali bergetar.
"Nenek, aku pulang dulu." ucap Alika memeluk Kejora tiba tiba hingga membuat Kejorapun kebingungan, terlebih lagi merasakan tangan Alika yang dingin dan bergetar.
"Kenapa buru buru?" tanya Kejora menyelidik setiap sudut wajah Alika yang nampak memucat.
"A..aku ingin pu..lang saja nek, lain hari Alik mampir lagi nek!" ucap Alika kembali memeluk tubuh Kejora dan berdiri mengenakan jaketnya yang sobek.
"Ambil dulu sandalmu di atas, di laci kamarku!" ucap Ubay memberikan informasi keberadaan sandal Alika.
Alika menatap Ubay sekilas mengangguki, Alika berjalan kembali ke atas diikuti Ubay dan beberapa pelayan.
Belum sampai Alika sampai di kamar Ubay, kepalanya terasa berat dan matanya menjadi kabur dengan pusing yang luar biasa hingga di tangga terakhir Alika menginjakkan kakinya dia kehilangan keseimbangan atas tubuhnya sendiri hingga menimpa Ubay yang tepat berada di belakangnya.
"Huuh.. Begini lebih baik!" ucap Ubay mengangkat tubuh Alika dan mengambil sebuah jarum di leher Alika yang sempat Ubay tusukkan agar Alika kehilangan kesadarannya.
"Tuan muda, ini?" seorang pelayan nampak bertanya melihat tuannya yang nampak akan berbuat serong.
"Jangan beri tahu siapapun, dan jangan biarkan siapapun masuk ke dalam kamarku hari ini!" ucap Ubay kemudian.
Entah apa yanga akan di lakukan pria itu pada gadis kecil yang kini dalam dekapannya.
.........
Di lantai satu nampak Fedrix yang babak belur dan di bawa beberapa pengawal Ubay ke rumah sakit atas perintah Kejora, Kejora sendiri sempat menatap kejadian dimana Ubay menusukkan jarum di leher Alika, namun diapun tidak ingin menegur atau memperingatkan Ubay.
Meski rasa ragu sempat terselip di batin Kejora, yang mana dia harus percaya atau tidak pada cucunya. Ubay yang memiliki sifat nekat memang selalu membuat Kejora khawatir, namun entah mengapa saat itu dia lebih memilih percaya pada cucunya.
Bersambung...