Because The Story

Because The Story
Penyesalan



Di perjalanan Ubay mengingat ingat kembali kejadian beberapa saat yang lalu dimana bibirnya yang kini terasa hangat bersentuhan dengan bibir gadis pujaannya, rasa itu membuatnya sangat bahagia dia merasa sangat gembira.


"Dia membalasku" Bisik Ubay mengingat bagaimana ciumannya itu di balas oleh sang kekasih.


Perjalanan pulang berjalan sangat lancar di perjalanan itu pula Ubay teringat bagaiamana dia memaksa seorang temannya untuk melindungi Alika secara diam diam.


2 hari yang lalu di kediaman Jaka, Ubay mencoba menghubungi seseorang.


"Cih dasar sombong, apa dia sudah melupakanku karena sudah asyik dengan dunianya" Pikir Ubay saat telponnya tidak di angkat oleh orang yang dia hubungi.


Tapi tak lama kemudian seseorang menghubunginya, dengan cepat Ubay mengangkatnya dan mengucapkan sumpah serapahnya pada orang di balik telpon.


"Hei kuplak, sue lu gue telpon lu dari pagi dan lu baru hubungin gua sekarang! " Ucap Ubay merasa kesal pada temannya.


"Hallo paman, momy sedang berolah raga jadi dia tidak mengangkat telponnya. Ada yang bisa Atta bantu? " Tanya seorang bocah yang di ketahui bernama atta yang baru berusia 6 tahun itu.


"Eh, ini Atta ya. Tidak perlu nanti saat ibumu pulang bilang padanya bila aku menghubunginya" Atta yang mengenal baik Ubaypun mengangguk patuh dan tidak nego atau membantah ucapan pria itu.


Sore hari nomor itu kembali menghubungi Ubay dan akhirnya dialah yang di tuju Ubay.


"Bay? Ngapa lo sewot gitu? " Tanya seseorang dari balik telpon.


"Kau kemana saja? Aku sudah menghubungi mu sejak pagi" Ubay marah besar dan tawa terdengar dari orang yang berbicara dengannya.


"Hahahahah.. Tumben kamu mencariku kenapa? " Ubay yang mendengar tawa temannya itu memutar bola matanya merasa kesal.


"Jangan ketawa, ketawa mulu jelek kaya Dursasana" Mendengar itu sosok di balik telpon yang di ketahui wanita itupun terkekeh sebelum akhirnya Ubay mengatakan tujuannya menghubungi orang tersebut.


"Aku butuh bantuanmu, bantu aku melindungi Alika" Ucap Ubay pungkas.


"Gadismu itu? Apa bayarannya? " Mendengar bayaran tentu Ubay merasa sangat kesal.


"Hei aku sudah membantumu melindungi keluargamu selama 7 tahun lebih dan sekarang kau meminta bayaran padaku, teman macam apa kau ini! " Mendengar itu pula wanita di balik telpon terkikik.


"Hihihi oke oke, aku juga ingin dia ada di sana bagaimana? " Pertanyaan ambigu dari wanita itu membuat Ubay sedikit bertanya tanya dengan maksud temannya.


"Siapa? Oh pria yang merubah identitasnya jadi nama ayahnya itu? " Di balik telpon wanita itu mengangguk.


"Kau masih mencintainya aku pikir kau sangat bodoh selalu mencintainya di setiap saat bahkan rela mengandung dan melahirkan anaknya tanpa di ketahuinya aku cukup kasihan padamu Raisa" Wanita yang di ketahui bernama Raisa itupun menghembuskan nafasnya kasar.


"Aku tahu dia tidak sebodoh itu Bay, aku tahu dia menyimpan sesuatu. Aku ingin dia" Raisa berucap setengah berbisik dari ucapannya terdengar jelas himpitan beban di dadanya, Ubay yang merasa tidak tega dengan temannya itupun mengerti dan mengangguk.


"Baiklah, aku setuju kau sebagai the queen of the Mafia pasti tahu apa yang harus kau lakukan setelahnya aku hanya bertugas membawanya ke Negara ini saja.. Setelahnya tergantung padamu Raisa" Mendengar itu Raisa amat senang dia menatap Atta yang nampak tengah memainkan Pad Pro 2022 itu.


"Ya aku tahu itu, Terima kasih banyak. Aku akan menjaga gadismu itu dengan seluruh kemampuanku" Mendengar itu Ubay tersenyum puas dan menutup telponnya.


Begitulah percakapan dua teman yang sudah lama tidak saling jumpa itu, setelah sekian lama akhirnya Raisa akan kembali kenegaranya.


"Aku merindukan kalian ayah, bunda, Raina" Ucap Raisa setengah berbisik.


"Atta ayo berkemas kita akan bertemu nenek" Mendengar itu mata Atta terlihat berbinar dan meloncat loncat kegirangan, menyaksikan itu hati Raisa terasa pedih sekaligus senang karena demi keluarganya dia harus berpisah dengan mereka semua dan kini dia melihat kegembiraan putera semata wayangnya itu sungguh membuatnya bahagia.


Saat itu juga Raisa dan puteranya berangkat ke negaranya dan menyisipkan sebuah kertas di rumah yang kini sudah kosong itu.


"Kakek tua aku pulang hari ini jangan mencari ku dan tidak perlu menghawatirkan ku" Isi pesan tersebut sebelum akhirnya Raisa pergi bersama puteranya.


Dan di sebuah kamar tepatnya di kamar Alika, Gadis itu tengah menghamburkan tubuhnya ke atas kasur dan menyembunyikan wajahnya di balik selimut.


"Apa yang aku lakukan tadi, kyaaa.... Sangat memalukan" Runtut Alika memukul mukulkan wajahnya pada bantal dengan rona di kedua pipinya merasa sangat malu dan kacau, ini pertama kali baginya menyerahkan sesuatu hal dari dirinya dengan suka rela.


"Apakah dia akan menganggap aku murahan karena kelakuanku tadi, tapi tadi itu sungguh.. " Alika kembali terdiam membayangkan apa yang beberapa saat lalu terjadi padanya.


Ciuman yang terasa begitu lembut dan menyatukan kedua perasaan dia insan beda jenis itu membuatnya sadar akan arti cinta dan di cintai sadar akan sebuah makna memiliki dan sebuah arti dari rasa tidak ingin kehilangan. Semuanya memang terkesan egois dan hanya memikirkan perasaannya sendiri namun dengan itu Alika bisa memiliki arti kebahagiaan sebuah kebahagiaan yang tidak pernah dia rasa sebelumnya. Sebuah kebahagiaan yang seakan menunggunya dan menjemputnya kebahagiaan yang memang sudah tercipta untuknya.


"Aku harus bagaimana bila dia menghubungiku? " Pikir lagi Alika namun wajahnya yang memanas mengingat bagaimana tatapan cinta dari seorang Ubay membuatnya kembali salah tingkah dan seperti orang gila dirinya tertawa dan cekikikan sendiri di kamar. Itu sesuatu yang baru bagi Alika.


Di perjalanan pulang Ubay mendapatkan telpon dari seseorang yang sudah dia tunggu ya dialah Raisa, Raisa menghubungi Ubay untuk mendapatkan informasi yang dia inginkan mengenai Alika namun saat di tanya tentang Alika, Ubay malah teringat kejadian beberapa saat lalu.


"Ah sudahlah aku cari sendiri saja informasinya, kau sungguh tidak berguna! " Keluh Raisa menutup telpon. Ya identitas mengenai ayah Alika memang tidak terkuak ke publik namun saat Ubay mengetahui seluruhnya dia jadi sadar bila ternyata Alika dan dirinya sudah tercipta untuk saling mencintai sejak nenek kakek mereka bertemu yaitu Jajang dan Jaka.


Itu semua bukanlah pertemuan tanpa sengaja dan perasaan mereka yang menyatukan bukan sesuatu yang di buat buat itu adalah sebuah takdir yang mengharuskan mereka bersama namun dengan semua itu pula mereka berhasil mendapatkan kebahagiaan mereka. Menyesal mungkin ada pada perasaan mereka berdua penyesalan dimana mereka tidak di pertemukan lebih cepat karena bila mereka di pertemukan lebih cepat niscaya Alika tidak akan pernah tahu apa itu kecewa dan penghianatan.


Bersambung...