
Waktu yang di tentukan pun tiba, Alika menatap penuh rasa bahagia dengan gaun yang kini telah menempeli kulit putihnya, namun Alika sedikit ragu mengenakan gaun itu karena bagian lengannya sangat pendek dan betisnya pun kelihatan, akhirnya Alika memutuskan menggunakan jaket di bagian luarnya dan saat di rasa cukup Alika tersenyum menatap cermin yang memantulkan bayangan dirinya.
Alika berjalan keluar dari kamarnya dengan rona bahagia, tas selempang kecil dia bawa untuk membawa barang barang yang sekiranya dia butuhkan.
"Alik mau kemana?" Sang mamah menatap penampilan Alika yang nampak tidak biasa.
"Mau ke luar dulu mah, sekalian sore ini Alik mau ke rumah kakek." Ucap Alika berjalan menuruni anak tangga rumahnya.
"Sebelum pergi kamu sebaiknya ke lapangan dulu deh, pak camat tadi berpesan agar kamu ikut serta dalam upacara." Ucap sang mamah memberikan pesannya.
"Ah gak bisa mah, aku sibuk sekarang." Keluh Alika, dia benar benar tidak bisa menunda waktu begitu lama dan memberikan Al menunggu untuknya.
"Sibuk? Tapi setidaknya kamu datang dahulu saja lalu berpamitan lagi." Sang mamah mewanti wanti Alika.
"Ah okedeh mah! Alik pamit dulu, assalammu'alaikum!" Alika menyalami tangan mamahnya dan berlari menuju garasi dan menatap sepeda goesnya.
Dia melihat lapangan yang sudah penuh sesak oleh orang orang yang akan melakukan pengibaran bendera, Alika memarkirkan sepeda goesnya dan menuju sebuah tenda tamu dan melihat sang ayah yang tengah berbincang dengan beberapa pembesar.
"Pah, maaf alik gak bisa lama di sini! Alik ada perlu dulu!" Bisik Alika di belakang pundak sang Ayah, Ayahnya yang sudah menyadari suara dari puterinya itupun mengangguk.
"Baiklah, nanti ayah beri tahukan pada Pak Camat bila kamu tidak akan ikut!" Ucap sang ayah lembut.
"Baiklah pah! Aku pamit dulu assalammu'alaikum!" Alika kembali berlari menuju sepedanya yang terparkir.
Namun sebuah pesan tiba tiba muncul ke dalam ponselnya dengan nama Al, Alika tersenyum sekilas dan membaca pesan tersebut.
✉ "Aku akan terlambat datang, maafkan aku." Isi pesan tersebut, wajah Alika berubah mendung hingga tanpa sadar dia menabrak seseorang di depannya.
"Ah..!" Suara wanita tua terdengar mengaduh dah sepertinya ikut terjatuh, mata Alika sontak membulat dan mengabaikan ponselnya menatap sosok sang nenek yang nampaknya terjatuh.
"Aduh ya ampun nek, aku tidak sengaja! Ayo aku bantu berdiri." Alika dengan sangat cepat menolong nenek itu berdiri dan tanpa sengaja ponselnya terinjak orang dan rusak hingga layarnya pun tidak menyala.
Alika belum menyadari akan keberadaan ponselnya, dia masih membantu sang nenek berdiri yang nampak sangat kesulitan.
"Nenek tidak apa apa?" Tanya Alika membawa sang nenek berjalan dan membantunya duduk di sebuah kursi di pinggir jalan.
"Nenek baik baik saja, ponselnya kemana?" Tanya sang nenek saat melihat Alika tidak memperdulikan ponselnya dan lebih memilih menolongnya terlebih dahulu.
"Oh iya aku jadi lupa! Tunggu di sini ya nek, aku akan kembali." Ucap Alika berlari mencari ponselnya yang kini nampak tak berbentuk dan berserakan, Alika akhirnya pasrah akan hal itu dan memasukkan barang yang kini menjadi rongsokan itu ke dalam tas selempangnya.
Guna mengencerkan suasana dan bila menurut Alika untuk membuang sial akhirnya diapun membeli satu box ice creem penuh dan memberikannya pada anak anak yang nampak berlalu lalang, dan mengambil dua buah untuk dirinya dan berjalan menuju nenek yang mungkin kini menunggunya di pinggir jalan.
"Nenek! Mau ice creem?" Alika menawarkan penuh senyum di bibirnya, sang nenek pun mengangguk setuju dan mengambil ice creem yang di sodorkan Alika.
Alika duduk di samping sang nenek memperhatikan orang orang yang berlalu lalang di depan mereka seraya menikmati ice creem.
"Cincinnya bagus, apa itu dari pacarmu?" Tegur sang nenek memperhatikan sebuah ring yang kini terbelit di jari manis Alika.
"Bukan nek, tapi ini memang di berikan orang yang berharga." Ucap Alika karena selama ini yang dia tahu bila cincin itu di berikan oleh abangnya.
"Berharga? Siapa dia?" Tanya sang nenek penasaran menatap Alika yang nampak sangat lesu.
"Dari abang aku nek, oh iya aku belum memperkenalkan diri. Nama aku Alika, panggil Alik aja nek!" Ucap Alika tersenyum lembut menatap sang nenek.
"Nenek bernama Kejora, panggil nenek saja." Kejora menghabiskan ice creemnya.
"Namanya indah seperti sosok yang aku kagumi nek!" Ucap Alika yang mengambil tisu dari dalam tasnya dan mengelap bibir sang nenek yang nampak belepotan bekas ice creem strawberry.
"Tapi sayang aku juga tidak tahu sekarang beliau ada di mana, aku sangat mengaguminya meski aku sendiri tidak mengetahui rupanya seperti apa." Tambah Alika tersenyum lembut, tangan kejora sontak menggenggam tangan Alika yang akan terjatuh.
"Luar biasa sekali kamu nak, kamu mengaguminya tanpa tahu rupanya, nenek bahkan sangat mengagumi sikapmu nak!" Ucap sang nenek tersenyum simpul.
Pertama kali bagi Kejora melihat gadis yang lembut, penuh perhatian, dan tidak merasa malu saat bersama nenek nenek sepertinya, bahkan Alika memperlakukannya sangat istimewa hingga membuat Kejora sangat ingin mengenal lebih jauh sosok gadis di hadapannya itu.
"Huuh.. Nenek juga mengagumi seseorang yang nenek sendiri tidak tahu kini beliau ada dimana." Keluh kejora lirih.
"Waah siapa nek?" Tanya Alika antusias, dia memang sangat menyegani orang orang dengan banyak pengalaman seperti Kejora.
"Ayah nenek sendiri, namanya Jajang." Jawab sang nenek pasti.
Deg, jantung Alika terpompa sangat cepat dan langsung menatap wanita yang kini di sampingnya, tanpa terasa air mata Alika mengalir deras dan langsung memeluk Kejora, Kejora sangat bingung dengan tindakan Alika yang tiba tiba dan menangis di pelukannya.
"Eh nak.. Kamu kenapa?" Tanya Kejora mengusap punggung Alika berusaha memberi ketenangan.
Alika melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah kejora lalu menunduk di bawah kursi menekuk satu kakinya dan menatap penuh kagum ke arah Kejora.
"Bila angsa putih berjalan di atas air.." Alika belum sempat melanjutkan kalimatnya lalu terpotong oleh Kejora.
"Maka Kejora ku dalam pelukan." ucap kejora dan sontak air mata Kejora Pun ikut mengalir merasakan degupan aneh dan rindu yang seakan terobati.
Alika kembali memeluk Kejora penuh sayang dan tersenyum setelahnya memperhatikan guratan kecantikan dalam wajah yang kian menua itu.
"Nek, aku sudah cari nenek lama sekali, kenapa nenek sendirian di sini?" Tanya Alika merasa khawatir bilamana Kejora menjadi seorang yang tidak di perhatikan.
"Hiks.. Hiks.. Hahah.. Nenek kabur dari rumah, cucu nenek melarang nenek untuk keluar rumah katanya di luar sangat ramai." Ucap sang nenek dalam isaknya dia tertawa bahagia.
Tidak sedikitpun dia menyangka bila ternyata sosok yang di kagumi gadis di hadapannya itu adalah dirinya.
"Siapa cucunya? Jahat banget! Bukannya ajak jalan jalan malah di suruh diem di rumah!" Ucap Alika kesal.
"Gak papa nek, Alik bisa temenin nenek jalan jalan kita akan bahagia hari ini!" Ucap Alika lagi penuh semangat.
Kejora terkekeh melihat Alika yang nampak sangat bersemangat dan mengangguk setuju dengan rencana yang di ajukan Alika terhadapnya.
Bersambung...