
Sesampainya di sebuah pantai dimana perahu kecil siap membawa Kejora dan Satria, keduanya menaiki perahu itu dan mulai memasuki kawasan laut dan sampai di sebuah wilayah yang mana nampak biasa saja dari atas namun siapa sangka bila di kedalaman sana terdapat sebuah harta karun luar biasa.
"Aku turunkan jangkar terlebih dahulu!" ucap Satria turun kelaut dan menyangkutkan jangkar mereka ke bawah sana, Kejora memerutuli pakaiannya dan menyisakan baju yang terbilang terbuka, dia ikut turun menyentuh air laut.
Tanah yang di kenakan Kejora untuk menutupi kulitnya yang sebenarnyapun luntur dan memperlihatkan kulit putihnya yang nampak terang tersinari mentari.
Kejora ikut masuk menyelam mengikuti suaminya dan melihat sebuah kapal karam yang dimana di dalamnya adalah tempat pembudi dayaan kerang mutiara, memang sangat lama menunggu mutiara mutiara itu tumbuh, namun saat panen dan hampir setiap hari Satria menebar bibit bibit baru dan kerang kerang mutiara kecil yang dia budidayakan sendir itupun mampu membuat hampir setiap seminggu sekali pula Satria mampu panen kerang kerang tersebut. Hampir sepuluh kapal karam bekas peperangan yang di gunakan olah Satria untuk menangkar mutiara.
Mata Satria yang berada di dalam lautpun terbelalak saat menyaksikan bagaimana isterinya yang tengah menyelam dengan sangat anggun layaknya duyung itupun mampu membuat dada Satria berdetak kencang, Kejora memang sengaja memperlihatkan keindahan selamannya seraya memperlihatkan bentuk liukan tubuhnya yang memukau.
Benar saja kini Satria menatap penuh kagum ke arahnya, Satria yang memang sangat mencintai Kejora di tambah dengan kilauan memepesona wanita itu mampu membuatnya tertarik dan akhirnya mendekat ke arah Kejora.
Keduanya tersenyum dan mengangkat tubuh mereka ke atas mengambil oksigen, namun pandangangan mereka akhirnya beradu di atas air dan dengan cepat Satria meraih pinggul Kejora dan mendekapnya erat seakan tidak ingin melepaskan wanita itu selamanya.
"Kamu sangat memepesona Kejora!" ucap Satria jujur sekaligus mengutarakan isi hatinya untuk pertama kali.
"Hmmm, benarkah?" tanya Kejora yang mana jawabannya adalah suatu kepastian yang akan di berikan Satria.
"Ya." satu kata itu mampu menafsirkan banyak sekali keraguan di hati Kejora dan kini, Kejora mengangkat sudut bibirnya ke atas memperlihatkan sebuah keyakinan.
"Baguslah!" ucap Kejora singkat, namun belum lama mereka bertukar argumen sebuah ledakan tiba tiba membuyarkan mereka, kampung kecil yang mereka bangun terlalap si jago merah dengan kepulan asap hitam yang membumbung tinggi ke angkasa, menyiratkan aorta kehancuran yang nyata.
"Ada apa itu?" ucap Kejora terbelalak, begitupun juga Satria yang melihat itu, bahkan beberapa warga yang sama sama tengah memanen mutiarapun ikut terkejut dan satu per satu mengangkat dirinya ke permukaan.
"Itu kampung kita!" teriak semua orang, gagap gempita membahana kembali meledak di balik deretan pagar pohon kelapa, meluluh lantahkan semua yang terkena ledakan itu.
"Itu penyergapan!" seru yang lainnya menunjuk ke arah brekade tentara bersenjata yang berada di atas bukit.
"Kita buka lorong rahasia!" ucap Kejora lagi yang mena untuk sebuah hal buruk mereka memang sudah mempersiapkannya.
Semua orang kembali menyelam ke bawah laut dan membuka sebuah pintu rahasia hingga lubang berupa lorong gelap itu menghantarkan mereka pada sebuah gua yang tertutup rapat, mereka membuka tutup tersebut hingga akhirnya nampak beberapa warga desa yang berbondong bondong masuk dan untunglah saat itu tidak ada lagi bayi, karena bayi yang pernah mereka selamatkan dulu kini usianya telah mencapai tiga tahun.
Di usia balita bayi bayi itu memang sudah di latih ketahanan tubuh termasuk berenang, sehingga merekapun masuk kembali ke lorong itu hingga akhirnya sampai di tempat penangkaran mutiara.
Nampak beberapa warga desa menyelamatkan kerenag kerang mereka begitupun Kejora dan Satria, merekapun tak lupa mengambil harta merka yang sudah lama tersimpan rapat di bawah lautan.
"Yeay, kita semua berhasil!" sorak seluruh warga yang nampak bersuka cita di atas kapal, begitupun Kejora yang secara refleks memeluk Satria yang berada di sampingnya.
Semua orang bersuka cita dan bergembira ria, mereka berlayar membelah pantai dan lautan, tujuan merekapun kini mengarah ke Batavia atau Jakarta saat itu. Mereka yang kaya raya tidak akan takut lagi menghadapi situasi kota.
Mereka tiba di dermaga, dengan gaya khas bangsawan dengan pakaian mewah dan aksesoris yang serba wah, mereka satu per satu menuruni kapal, tidak ada yang curiga dengan posisi mereka yang seorang buronan, semuanya berhasil tiba dengan selamat dan menyebar ada yang mendirikan sebuah kedai makanan, ada yang membuka butik pakaian ada pula yang menjadi seorang pelajar, semua warga kampung akhirnya tersebar dan membaur tidak ada yang curiga satupun pada mereka, hingga akhirnya proklamasi bergema dan kemerdekaan di raih.
Setelah semuanya berlalu Kejora dan Satria masih dalam keadaan malu malu, keduanya sama sekali tidak terlihat layaknya pasangan melainkan seperti saudara yang selalu saling mendukung satu sama lain.
Disuatu pagi yang cerah, Kejora dan Satria tengah bersiap membuka sebuah perusahaan dan rumah sakit, memang saat itu tingkat sebuah perusahaan dan rumah sakit tidak seperti zaman sekarang, namun kemajuan persahaan yang dimiliki oleh Kejora dan Satria sudah cukup baik di zaman tersebut.
"Kejora, apa kita akan berbagi tugas?" tanya Satria saat melihat dua hal yang harus mereka lakukan hari itu.
"Tidak! Kita akan berangkat bersama ke dua tempat tersebut! Kenapa kamu seakan menghindar terus dariku?" tanya Kejora kesal karena memang sifat pemalu Satria selalu membuatnya hareudang.
"Ba..baiklah." ucap Satria gugup, sudah berulang kali dia menguatkan mentalnya untuk mendekati Kejora dan selalu mendapatkan respon positif dari wanita itu, namun terkadang pula dia seakan termakan rasa malu hingga membuatnya menjadi bisu.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku! Mengapa kamu selalu menghindariku?" tanya lagi Kejora kesal.
"I..itu aku .." Satria gagap saat akan menjawab pertanyaan Kejora.
"Aku mencintaimu, apa itu kurang jelas!" tegas Kejora mengutarakan kekesalan hatinya yang seakan selalu tidak di perdulikan.
Mata satria membulat seketika menatap Kejora yang kini tengah meneliksik menyudutkan matanya.
"A..apa?" tanya lagi Satria gagap, dia sama sekali menjadi sulit berucap dan berusaha membunuh rasa takutnya saat itu.
"Aku mencintaimu Satria!" ucap Kejora tegas memelototi Satria yang kini tengah menatapnya.
Satria menelan rasa malunya dan membernikan tubuhnya untuk berbuat sesuatu, Satria menarik tubuh Kejora dalam dekapannya, mata Kejora membulat dan merasakan getaran di tangan Satria yang kini mungkin tengah malu setengah mati.
Bersambung...