
.........
"Mah, pah!" Alika mendekat pada kedua orang tuanya dan memeluk keduanya.
"Hiks.. Hiks.. Kamu juga sudah besar, kamu juga pasti akan ninggalin kami seperti abangmu sayang!" Ucap sang mamah memeluk Alika.
"Emang abang mau kemana? Bukannya dia akan tinggal di rumah?" Tanya Alika penasaran.
"Tidak sayang, besok mereka akan berangkat ke ibu kota, abangmu mau melanjutkan S2 nya!" ucap sang mamah, Alika pun mengangguk sedari dulu memang cita cita abangnya adalah menjadi dokter spesialis tulang, dan mungkin benar bila dia akan melanjutkan S2 nya.
"Alik kan masih sama mamah dan papah, biarin aja abang julid itu pergi!" Ucap Alika ketus namun dia sendiri juga merasa sedih dalam hati, terlihat dalam kejudesannya itu memberikan wajah tanpa ekspresi.
"Kamu ini ya, bila bukan karena beasiswa mungkin abang mu pun tidak akan pergi!" Ucap sang papah menambahkan.
"Beasiswa?" Alika terkejut, karena selama ini dia sama sekali tidak tahu akan hal itu.
"Iya, rumah sakit tempat dia bekerja memberinya beasiswa dan berjanji akan memenuhi semua kebutuhannya!" Jawab sang papah lagi menambahkan.
"Astoge! Ternyata dia keren juga!" Ucap Alika mengacungkan dua jempol pada sang abang.
Nampak di belakang Alika seorang pria tengah menatap dirinya dengan senyum yang menawan namun Alika yang tidak peka hanya terus berbincang dengan kedua orang tuanya, dan tidak menyadari pria yang melintas di belakangnya.
...----------------****************----------------...
Beberapa saat yang lalu, seorang pria nampak berjalan keluar dari sebuah perusahaan dan membawa mobil hitam dengan lambang kuda berdiri.
"Tuan muda Ubay, kemana anda akan pergi?" Seorang pengawal berjas hitam dan kaca mata khasnya bertanya pada pria yang di ketahui namanya Ubay itu.
"Aku akan ke sebuah undangan, kalian tidak perlu ikut!" Ucap Ubay memasuki mobil mewahnya dan mulai melaju di dalam parkiran megah itu dan melihat sekeliling, dan menatap sebuah rombongan di sana.
Namun mata ubay seakan mengarah pada sosok wanita di atas sepeda motor dengan rambut terurai indah dan penampilan yang sangat mempesona.
Ponselnya repleks memotret wanita tersebut dan mengirimkannya pada salah satu pengawalnya untuk mencari identitas wanita itu, karena sejak dirinya tinggal di kota kecil itu, dia tidak pernah melihat wanita yang sangat mempesona seperti itu.
Ubay melajukan mobilnya dan mengarah berada tepat di depan sepeda motor itu, dengan jelas dari sepion mobilnya, Ubay dapat melihat bagaimana wanita itu tengah fokus berkendara, hingga lampu merah menyala dan tanpa sengaja Ubay dan gadis yang memakai kebaya merah maroon itu sejajar yang tidak lain adalah Alika.
Alika nampak tengah bersenandung dan tidak menyadari bila Ubay tengah memperhatikannya.
Lampu hijau kembali menyala dan sebuah pesan sampai di dalam ponsel Ubay, namun karena masih di perjalanan Ubay tidak membuka ponselnya dan memilih fokus berkendara dan sesekali melihat sepionnya yang kini wanita itu dengan jelas dapat dia lihat.
Hingga mereka sampai di sebuah tempat acara resepsi pernikahan dari Adit yang merupakan teman di rumah sakitnya.
Sebelum dia keluar nampak Alika yang melepas helamnya dan dengan sangat susah payah dia mulai touch up wajahnya yang mulus dan alangkah terkejutnya dia saat melihat wanita itu kini berdiri tepat di samping mobilnya, tengah bercermin dan mengeluarkan tiara dan botol minumnya di atas mobil milik Ubay.
Alika nampak tengah menyanggul rambutnya dan menghias kepalanya memperlihatkan bentuk leher yang jenjang memberikan kesan cantik luar biasa.
Karena terburu buru Alika langsung berlari mengikuti rombongan dan meninggalkan botol airnya, sekilas Ubay membuka pesan yang berasal dari pengawalnya dan memaparkan tentang identitas gadis itu.
"Owh, namanya sangat cantik bahkan keluarganya berasal dari keluarga baik baik meski identitas dari pihak ayahnya cukup rahasia dan belum terbongkar, sayang sekali! Tapi tunggulah gadis kecil aku pasti akan mendapatkan mu!" ucap Ubay tersenyum sekilas dan keluar mobilnya.
Lagi lagi dia terkejut saat botol air Alika jatuh tepat menimpa kepalanya dan bukannya marah, Ubay malah tersenyum sekilas dan melempar botol air itu ke dalam mobil mewahnya.
Ubay mulai berjalan mengikuti jalan yang memimpinnya ke sebuah tenda megah khas pernikahan dan di jajaran paling belakang nampak Alika yang tengah menggerutu.
Dan beberapa kali Alika mengucapkan kata kata yang membuat perut Ubay tergelitik dan terkekeh setelahnya, hingga akhirnya dia mendengar Alika yang mengeluh kehausan.
"Ck, gadis ini sangat manis!" ucap Ubay keluar tenda dan melihat sebuah mini market dan membeli sebotol air mineral dan menaruhnya di pangkuan Alika, Ubay langsung keluar lagi dari tenda saat mendapatkan telpon dari ponselnya.
"Hallo pih?" Ubay mendapatkan telpon dari sang ayah yang kini terdengar sangat khawatir.
"Ayah dengar kamu keluar tidak membawa pengawal, dan diam diam mencari identitas wanita cantik, cepat bawa dia kemari dia berasal dari keluarga baik baik dan memiliki wajah cantik dan pandangan luas, ayah suka dia! Dan satu lagi besok kamu harus pulang dulu dan lakukan pekerjaanmu disini terlebih dahulu" ucap sang ayah panjang lebar.
"Iya pih, dia masih di bawah umur aku belum bisa deketin dia!" ucap Ubay santai.
"Ah begitu rupanya, tapi ingatlah usiamu yang sudah tua itu!" ucap sang ayah terkekeh setelahnya.
"Iya pah aku sadar diri kok!" ucap Ubay lantas tersenyum lembut.
"Baiklah bila begitu, nenekmu sangat menyayangimu, sampaikan salam ayah padanya." ucap sang ayah lembut.
"Tentu pah, aku pamit dulu!" ucap adit dan berlalu menutup telpon.
Saat Ubay memasuki tenda tersebut nampak Alika yang sudah meneguk habis seluruh air dalam botol tersebut tanpa meninggalkan setetes air pun, senyum terukir di bibir Ubay dan duduk di samping Alika.
Namun seperti biasa Alika malah terus fokus ke arah depan memperhatikan kakaknya yang tengah mengucapkan qobul, Alika sama sekali tidak sadar bila saat ini ada sosok pria yang sedang memperhatikannya tepat di sampingnya.
Sebuah qobul di ucapkan lancar oleh Adit dan serentak ucapan "Sah" terdengar menggema dan Alika berdiri dan bertepuk tangan dengan memberikan suitan dari bibirnya yang di tekuk oleh tangan kanannya hingga mengeluarkan bunyi nyaring khas suitan.
Alika menjadi pusat perhatian, termasuk Adit yang sekilas menatap adiknya lalu menatap Ubay yang berada di samping Alika.
Mata Ubay tak henti hentinya menatap kagum gadis yang kini tengah kembali duduk akibat malu dengan kelakuannya sendiri, Ubay terkekeh melihat kejadian itu dan kembali memperhatikan acara yang ramai dan sungkeman yang hikmat, bahkan beberapa kali Alika mengusap air matanya saat Adit menangis.
Hati Ubay terenyuh, awalnya dia menyangka bila Alika adalah gadis barbar yang mungkin tidak akan tersentuh namun melihat bagaimana dia menangis dia faham bila Alika lebih penyayang dari apa yang dia bayangkan.
Tentu saja gadis semacam itu akan sangat jarang di temukan, dan Ubay benar benar beruntung saat menemukan gadis yang kini sudah dia patri dalam hatinya itu, meski Alika sama sekali tidak sadar akan hal itu.
Bersambung...