Because The Story

Because The Story
melepas kepergian



Waktu menunjukkan sudah siang dan Alikapun meminta Ubay membagikan amplop tersebut namun di tolak Ubay dan meminta Alika sendiri yang membagikannya dengan alasan bila dirinya tidak mengenal orang orang di sana.


Alikapun menuruti keinginan Ubay dan membagikan amplop tersebut, sedangkan sore itu nampak di dapur Ubay yang tengah mengutak atik sayuran dan beberapa makanan.


"Lagi apa?" tanya Alika, tempat tersebutpun kini sudah sepi dan hanya tersisa Ubay, Adit dan keluarga kecilnya, Nenek Kejora dan Alika sedangkan mamah dan papah Alika kembali pulang karena melihat kondisi sang mamah yang kian membutuk mengharuskannya pulang agar ingatan sang mamah pada tempat tersebut dan kenangan dari mertuanya dapat memudar.


"Mau masak!" ucap Ubay yang nampak sangat pandai memainkan pisau namun Alika terkejut saat melihat cara masak Ubay dimana sayuran dan daging di satukan.


"Masa iya masak kaya gini!" ucap Alika memisahkan kembali keduanya.


"Kita berbagi tugas saja, aku yang masak dan sekarang tolong potong sayuran dan pisahkan berdasarkan jenis sayurannya, setelah itu kupas bawang dan potong daging." ucap Alika mengambil beras dari tempatnya, mencuci beras itu hingga bersih dan memasukkannya ke dalam sebuah kastrol untuk memasaknya.


"Sudah sayang" Ubay memperlihatkan hasil kerjanya pada Alika yang nampak sangat bagus, urusanya dalam pisau memang sangat mahir karena sudah di latih sejak kecil.


"Oke, siksik ikan itu dan keluarkan isi perutnya!" ucap Alika lagi setelah memeriksa pekerjaan Ubay dan mulai mengeluarkan berjenis jenis bumbu yang masih sangat tradisional.


Alika mulai menumbuk bumbu bumbu itu dalam sebuah tumbukan kecil yang sering di guakan neneknya dan menggoreng bumbu itu dalam panci presto sebelum akhirnya air di masukan dan Alikapun membersihkan Ayam itu yang terlihat masih sedikit kotor dalam westapel yang sama di dekat Ubay.


Alika yang nampak fokus sangat di sukai Ubay, dan nampak begitu trampil dan cekatan, Alika memasakan ayam tersebut dan menutup presto.


Selama menungu Alika tidak tinggal diam, dia membersihkan sayurnan dan menumisnya kemudian, Alika hanya sebentar menumis sayuran tersebut dan hidangan pertamanya selsai.


Alika keluar rumah melalui pintu belakang dan melihat tempat pembakaran yang berasal dari drum di belah dua, Alika mulai menyalakan api dan menumpuk kayu bakar di atasnya alika melakukan semuanya sendiri dan kembali ke dalam melihat Ubay yang nampak kesulitan menyisik sisik ikan tersebut.


"Susah ya?" tanya Alika melihat keseriusan Ubay yang terlihat amat mempesona.


"Enggak, satu lagi!" ucap Ubay memperlihatkan ikan yang berada di tangannya dan terlihat tangannya pun yang nampak sudah beberapa kali tertusuk duri ikan dan sisik sisik ikan hingga berdarah.


"Ya ampun!" Alika sontak panik dan melihat tangan Ubay yang kini berlumuran darah, Alika menghembuskan nafasnya kasar dan mengguyur tangan Ubay dengan air dan mengelap air itu dari tangan Ubay dengan bajunya sendiri.


"Kamu harus hati hati, kalo gak bisa bilang aja! Sini duduk!" ucap Alika menarik kursi makan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri dan bergegas mencari kotak p3k.


Alika dengan hati hati membersihkan darah dari tangan Ubay yang masih mengalir, Ubay memperhatikan setiap reaksi Alika dan merasa senang saat tangan itu terus di perhatikan oleh gadis kecilnya.


"Sudah!" ucap Alika saat tangan Ubay nampak sudah rapih di penuhi perban, Ubay terkekeh geli memperhatikan bagaiamana sifat posesif yang kini di tunjukkan Alika.


"Sudah diam saja, perhatikan aja aku yang masak!" ucap Alika menyimpan kembali kotak p3k nya dan melanjutkan aktifitasnya.


Alika sesekali ke luar memperhatikan api dalam pembakan, dan kembali ke rumah untuk melanjutkan aktifitasnya, satu buah kompor bertungku tigapun alik gunakan bersamaan lagi dimana kini ayam yang di masaknya sudah hampir matang dan apinya sudah di matikan dan dengan cekatan alika mengangkat tutup uap ptresto tersebut dan kembali menumbuk bumbu dan melumerkan pada ikan, dan mentega yang sudah panaspun dia siram pada ikan yang sudah di lumuri bumbu. Alika melihat nasi yang dia masak dan sedikit lagi matang.


Alika keluar dan membakar ikan yang sudah di lumuri bumbu dan aroma mewangi mulai menyebar, Ubay memperhatikan Alika yang sedang mengipasi ikan buatannya dan sudah hampir matang, Alika mengangkat ikan ikan tersebut dan kembali ke rumah yang terus di ekori Ubay.


Waktu menunjukan sudah hampir magrib dan semua orang sudah berada di depan meja makan siap menyantap makanannya masing masing, Raisa dan Citra nampak tengah bermain di depan televisi dan merekapun mulai menyantap makanan mereka.


"Kenapa gak makan?" tanya Alika yang kini duduk di samping Ubay.


"Susah makannya." ucap Ubay memeperlihatkan tangannya, semua orangpun terkejut melihat tangan Ubay yang terperban seluruhnya.


"Itu kenapa?" tanya nenek kejora khawatir melihat tangan Ubay yang tertutup sempurna oleh kain kasa dengan tanda pita yang sangat menunjukkan peminim namun sangat rapih.


"Gak tau, Alik ngelarang aku nyentuh apapun sampe di perban tangannya begini!" ucap Ubay terkekeh geli dan menatap Alika sekilas.


"Sendirinya yang gak hati hati." ucap Alika yang kini mulai makan, Ubay menatap ke arah Alika yang sedang menikmati makanannya.


"Sayang, aku susah mau ma..!" belum selsai berbicara tangan Alika meluncur dengan makanan penuh masuk ke mulut Ubay dan sontak Ubaypun berhenti berbicara dan mengunyah makanannya.


Semua orangpun terpaku melihat Alika yang nampak menyuapi Ubay dan makan untuk dirinya sendiri, semua orang enggan menegur keduanya hanya tawa tawa kecil yang nampak kikuk yang terselip.


"Sayang, masakan kamu enak!" ucap Ubay antusias dan terus makan meski semua orang sudah menghabiskan makanannya, dia terus makan di suapi Alika.


"Eh, tau gak? Kalo aku gak suka cowok gemuk?" ucap Alika dan sontak ubay batuk mendengar pengakuan Alika.


"Aku gak gemuk kok!" ucap Ubay percaya diri memang tubuhnya sangat proposional dan tidak termasuk golongan gemuk ataupun kurus.


"Iya, tapi kalo makan kamu kaya gini, kamu bisa bisa gemuk sayang!" ucap Alila untuk pertama kalinya mengatakan sebuah kata yang membuat Ubay terbelalak.


"Apa?" tanya lagi Ubay mengharap akan mendapatkan siaran ulang dari ucapan Alika barusan.


"Kalo bisa tetap dalam tubuh proposional seperti sekarang, aku akan sematkan kata itu sebagai panggilan!" tegas Alika memelototi Ubay dan di angguki pria tersebut penuh semangat.


"Janji ya?" tanya Ubay penuh antusias, di karuniai wajah tampan dan tubuh prolosional memang menjadi kelebihan tersendiri yang di miliki Ubay selain harta yang melimpah dan otak encer.


"Iya!" jawab Alika dan merapikan bekas makan semua orang dan mencuci piring piring kotor dan Ubay masih setia menunggu gadisnya.


Kejora yang kini lebih sering diam dan hanya merasa pulang ke tanah tempat lahirnya itu benar benar merasa sangat nyaman dan menjadi pendiam, acara tahlilan berlangsung selama 7 malam dan semuanya berjalan dengan baik.


Nenek Kejorapun terkadang sering menatap kagum pada Alika yang mana sangat jauh berbeda dengan wanita zaman sekarang, ya meski Alika termasuk bukan gadis zaman dulu dan suka mengenakan kebaya namun Alika mampu memadukan semuanya dengan sangat baik.


Banyak hal yang sudah mereka lalui bersama dan banyak kemajuan antara pendekatan Ubay dan Alika, hari itu Alika, Ubay dan nenek Kejora tengah melepas kepergian dari, ayah dan ibu Alika yang kembali ke kota karena pekerjaan ibunya yang seorang disainer mengharuskannya stay away, bagitupun juga Adit dan keluarga kecilnya dimana Adit kini harus mulai bekerja, meski rumah sakit tempat dirinya bekerja adalah milik Ubay, namun bila dirinya mengambil cuti terlalu lamapun tetap saja akan membuat rasa tidak enak, meski Ubaynya sendiri tidak begitu memperdulikan.


Bersambung...