Because The Story

Because The Story
Harapan



Sebuah telpon terdengar dari bawah bantal, Alika mengambil ponsel pintar tersebut dan terlihat sebuah kontak tanpa nama dengan foto seorang wanita seksi yang membuat mata Alika membulat dan sontak mengangkat telpon tersebut.


"Selamat sore, hotel untuk besok malam sudah dipersiapka.. Tuuuut...tuuut.." sambungan terputus, Alika memutus sambungan telepon tersebut mendengar seorang wanita yang berbicara.


Mata Alika kian merembas dengan ungkapan wanita tersebut yang mengatakan telah mempersiapkan hotel untuk besok malam, pikiran Alikapun menjurus pada hal hal yang tidak baik.


Alika berpikir bila Ubay akan berbuat serong dan membeli seorang wanita layaknya di novel novel CEO dan menidurinya, kepala Alika sekan berpusing dan terasa begitu sakit dengan dada yang bergumuruh hebat merasa di khianati, Alika bediri dan dengan langkah gontai dia berjalan menuju ruangan bawah, nenek Kejora yang baru keluar dari kamarpun menyaksikan langkah Alika yang terlihat terhenyung henyung dengan sebuah ponsel di tangannya.


Alika melemparkan ponsel tersebut tepat di atas pangkuan Ubay hingga pria itu terkejut dan menatap Alika yang nampak tengah menangis tersedu sedu, dada Ubay merasakan sakit luar biasa menyaksikan pemandangan tidak biasa itu, Alika yang biasanya ceria kini nampak lusuh dan muram.


"Heh, aku salah percaya padamu! Kemasi barang barangmu dan pergi dari sini!" ucap Alika melepaskan cincinnya dan melemparkan cincin itu ke wajah Ubay, sontak Ubay kian terkejut menyaksikan bagaimana Alika yang marah dengan hidung memerah namun bibir yang pucat.


"Alik! Apa maksudmu?" tanya Ubay menatap wajah Alika dengan sorot tajam dan memegang dua pangkal tangan Alika.


"Apa kurang jelas? Pergilah! Wanitamu sudah menunggu di hotel dan biarkan aku pergi, terima kasih atas lukanya!" ucap Alika melepaskan diri dari tangan Ubay dan menjauh sebisanya.


"Apa maksudmu Sayang, aku tidak memiliki wanita lain selain kamu Lik!" ucap Ubay tegas dan merangkul tubuh ringkih Alika.


"Oh benarkah, lalu kenapa kamu tadi melakukan sesuatu yang keterlaluan padaku bila bukan untuk mengotoriku? Dan tadi seorang wanita menghubungi ponselmu dan mengatakan sudah mempersiapkan hotel untukmu, apa itu kurang jelas?" ucap Alika marah, cinta dan benci kini berbaur menjadi satu, kini benar benar tidak ada maaf lagi bagi siapapun yang telah menyakitinya.


Pupil mata Ubay membulat mendengarkan hal tersebut dan sekilas nampak darah keluar dari hidung Alika, yang mana kini mental Alika benar benar terkuras habis dan sudah mencapai batasnya.


"Alik kamu salah faham sayang.." lirih Ubay memeluk Alika, Ubay tidak memperdulikan rontaan tubuh Alika yang kini memukul mukul tubuhnya, hingga akhirnya tubuh Ubay seakan terhenyung saat tangannya di pelintir dan di banting Alika.


"Maaf tuan! Aku tidak sama dengan wanita wanitamu yang lain, perbaikilah sikap kurang ajarmu!" ucap Alika mengibaskan tangannya terlihat begitu kejam.


Namun ubay yang sudah mengetahui kondisi Alika sedang tidak baik baik saja itupun tidak kalah gesit, setelah mendapatkan bantingan keras Ubay menarik lengan Alika dan mengunci tangan dan kaki gadis itu.


"Ubay! Apa yang kamu lekukan? Lepaskan Alika!" ucap nenek Kejora berjalan mendekati cucunya dan siap menyerang cucunya itu.


"Berhentilah ikut campur! Ini urusanku!" ucap Ubay dan sontak saja nenek Kejora melotot dia tidak percaya bila cucunya sanggup melontarkan sebuah kata kata kasar terhadapnya dan memeperlakukan Alika secara kasar.


Dengan sigap Ubay mengambil ponselnya dan kembali menepon wanita yang menghubunginya semula, Ubay menyalakan pengeras suara pada panggilan itu hingga akhirnya sambungan teleponpun terhubung.


"Siapa kau dan jelaskan statusmu di perusahaan!" ucap Ubay tegas dengan suara yang sedikit serak.


"Saya melly tuan, salah satu dari departemen humas saya sudah mempesiapkan hotel untuk tuan melakukan rapat dengan salah satu koliga bisnis tuan dari Dubai di salah satu hotel bintang lima di ibu kota." ucap wanita itu menjelaskan, tubuh Alikapun melemas mendengar hal tetsebut begitupun nenek Kejora.


"Mulai besok kau di pecat!" ucap Ubay lagi dan menutup telponnya, mata Alika kembali membesar dan menatap wajah Ubay yang nampak sangat frustasi.


Dengan amarah menggebu Ubay melemparkan ponsel pintarnya yang mungkin harganya bisa mencapai sebuah mobil itu, hingga ponsel itupun pecah dan menjadi puing puing saja.


"Sedah jelas, Alik aku sangat mencintaimu, aku tidak mungkin bisa hidup..." Alika melepaskan tangan dan kakinya dari cengkraman Ubay dan menarik lengan pria itu menuju ruangan atas sebelum Ubay menyelsaikan kalimat akhirnya.


Nenek Kejora faham bila Alika dan Ubay membutuhkan waktu berdua untuk menyelsaikan permasalahannya, nenek Kejora akhirnya kembali ke luar dan menatap buku yang terdapat di atas meja dengan sampul hitam, perlahan meski dirinya tidak mengerti isi buku itu namun sedikit demi sedikit dia menatap gambar gambar di dalan buku tersebut.


Sebuah lukisan kecil yang merupakan sosok dari Sanipun nenek Kejora dapati, hatinya tersentuh menatap rindu pada sosok lukisan itu, hatinya sekan remuk saat menyksikan bagaimana mayat ibu dan adiknya dulu yang meninggal amat mengenaskan.


Mungkin saat ini siapapun tidak ada yang tahu sosok luar biasa Jajang dan Sani yang telah berjuang mati matian mengorbankan jiwa, raga dan keluarga mereka untuk memerdekakan tanah air, namun nenek Kejora berharap bila orang orang yang kini menikmati kemerdekanaan bisa bersyukur dengan apa yang mereka dapatkan, karena hal ini adalah cita cita dari seluruh pejuang.


Memang tidak harus dengan cara mengangkat tangan di sudut alis dengan tubuh tegap untuk memberi hormat, dengan melihat prilaku Alika nenek Kejora faham bagaima sesungguhnya cara menikmati cita cita dari para pejuang terdahulu.


Mungkin kini banyak pejabat yang korup, namun tidak sedikit pula pejabat yang melakukan kewajiban dan amanahnya dengan jujur dan mencintai rakyat sepenuh hati.


Dan benar bila banyak anak muda yang sudah terbawa pergaulan selatan ataupun batar, timur ataupun utara, namun tidak sedikit pula anak muda yang begitu mencintai tanah airnya, meski perlengkapan sudah canggih dan peralatan sudah otomatis, namun proses pembuatan semuanya itu pula yang menjadi bentuk perjuangan anak muda sekarang untuk membantu orang orang yang membutuhkan.


Salah bila seseorang menyalahkan alat alat yang mempermudah kebutuhan manusia dan memberikan sempel bila hal itu dapat memutus lapangan kerja, justru hal itu mengharuskan orang orang kian sadar dan berpikir maju dalam melakukan segala sesuatu.


Memang tidak harus bila seluruh anak muda harus mengikuti dan mentaati seluruh adat dan budaya dalam sebuah negeri, namun mereka juga patut menghormati bagaimana adat dan budaya negerinya sendiri, layaknya dimana kaki di pijak di sana langit di junjung, begitulah seloka yang tepat bagi anak muda zaman sekarang.


Meski zaman sudah edan, namun segala sesuatu hal yang adapun juga mesti di mengerti dan disesuaikan, hati Kejora terus bergemuruh menafsiran pandangannya pada dunia sekarang, dia yang merasa gagal mendidik cucunyapun sangat merasa bersalah dan berharap bila segala hal yang akan terjadi ke depannya maka akan jauh lebih mudah bagi Ubay dan Alika.


Bersambung...