Because The Story

Because The Story
Pria dewasa



Alika bergantian menatap cincin dan Ubay yang kini berdiri tepat di depan wajahnya, Alika menatap sekilas ayah, ibu, nenek kejora, dan ayah Fajar setelahnya.


"Ta..p.." belum selsai berucap Ubay memotong pembicaraan Alika hingga membuat gadis itu mati kutu.


"Demi kamu, aku bukan hanya rugi materi tapi juga nyawapun di pertaruhkan. Cincin yang kamu pake itu berasal dari kedalaman atlantis dengan harga selangit, bahkan sekarang harganya sudah 10 kali lipat!" ucap Ubay kembali menggenggam tangan Alika.


"Bukan hanya harga yang tinggi, demi mendapatkan benda kecil ini, aku sampai hampir kehilangan nyawa akibat rudal dan tembakan. Apa kamu masih tidak sadar akan hal itu?" tanya lagi Ubay menjelaskan kronologi perjuangannya.


"Jadi, menikahlah denganku Alika!" ucap Ubay pasti hingga membuat mata Alika membulat begitupun Ayah dan ibu Alika. Tidak ada yang bersuara setelah itu, keadaan menjadi sunyi senyap, hingga bunyi telpon di saku celana ayah Alika membuyarkan segalanya.


Ayah Alika sekilas menatap layar ponselnya, memastikan siapa yang menghubunginya saat itu hingga akhirnya bergegas mengangkat telpon dan mengusap air mata yang sempat mengaliri pipinya.


"Assalammu'alikum iya bu?" mata ayah Alika seketika membulat saat mendengar kabar dari sebrang telpon dan matanya berair setelahnya.


"Apa? Bapak meninggal?" sontak Mata Alikapun membulat mendengar hal tersebut, Alika kehilangan kendali atas tubuhnya. Secepat kilat tanpa menghiraukan orang orang yang tengah berada di sana Alika berlari keluar yang di ikuti oleh Ubay, Alika menyalakan sepeda motornya masih menggunakan piama dan siap tancap gas.


Melihat kejadian itu, sontak mata Ubay membulat dan menghentikan Alika, dia melihat air mata Alika yang terus mengalir tanpa henti, bahkan tangisnya sampi membuat Ubay merasakan sakit luar biasa.


"Hentikan! Bila kamu berkendara seperti ini, kamu bisa celaka!" ucap Ubay mengambil kunci motor tersebut hingga membuat Alika kian menangis sejadi jadinya.


"Hiks.. Ha...hiks.. Kamu hiks.. Tidak tahu perasaanku.. Hiks.. Haa..hiks.." ucap Alika dalam isaknya yang pedih.


"Aku tahu! Kamu mundur, aku yang akan bawa motor, pakai ini! Tunjukan jalannya dan pegangan yang erat!" ucap Ubay menyerahkan jas yang semula dia pakai dan mengambil kendali atas sepeda motor tersebut.


Ubay tancap gas dengan kesetanan meski saat itu mereka tidak mengenakan helem karena refleks akan keterkejutan yang mendadak hingga semua hal pun terlupakan dan memfokuskan tujuan mereka yang satu, yaitu cepat sampai di kediaman Jaka.


Jarak yang jauh dan biasanya di tempuh dalam waktu 2 jam lebih itupun kini berhasil di tempuh dalam setengah jam, dalam kecepatan super tinggi yang dikendalikan pengendara ulung ala Ubay. Pelukan erat di berikan Alika pada Ubay untuk menyeimbangkan sepeda motor tersebut agar lebih mudah dikendalikan. Selain itu kecepatan sepeda motor yang berada di bagian maksimal bahkan membuat seakan jalan dan ban motor melayang itu dapat membuat saban waktu mereka celaka bersama.


Sesampainya di kediaman Jaka, terlihat bendera kuning berkibar dan tangis Alika yang tidak tertahan, kaki Alika seakan lemas dan berlari kedalam rumah yang di ikuti oleh Ubay, terlihat Jaka yang sudah pucat dan di pulasari membuat dada Alika sesak dan menangis, kakinya terhenyung ke kramik dan tangis pecah seketika. Jeritan dari bibir Alika sontak membuat semua orang merasakan kepedihan yang sama.


Ubay yang berada di belakang Alika sontak memeluk gadis kecil itu dan menepuk nepuk punggung Alika memberikan kekuatan untuk gadis yang dicintainya. Alika menumpahkan seluruh air matanya dalam pelukan Ubay, dia merakan banyak hal yang sulit sekali dia rasakan dan hanya sebuah kesimpulan yaitu penyesalan yang kini bernaung di hati Alika.


"Haa.. Kakek! Alik sudah janji akan melakukan apapun yang kakek katakan. Alik tidak nakal hiks hiks.. Ha.. Tapi kebapa kakek tinggalin Alik sendirian..! Ha.. Hiks hiks.. Kek..!" Alika berteriak sejadi jadinya dan meraung memancarkan penyesalan yang begitu dalam.


"Sudah sayang.. Aku di sini!" Ubay mengatakan ucapan yang begitu lembut dan berusaha menengkan Alika, kata sayang yang terselip dalam ucapannya mencerminkan bagaimana dia benar benar sangat ingin memberi kehangatan pada Alika, Ubay berusaha mencurahkan kasih sayangnya pada gadis yang kini dia dekap.


Tangis yang begitu pedih terus meluap dari bibir Alika, secercah kenyamanan dari dada bidang yang mendekapnya membuatnya teralun dalam kepedihan, matanya seakan berat mendengarkan detak jantung yang kini tengah berdetak di telinganya.


"Aku sayang kamu..." lirih Alika menutup matanya dalam segukan, Ubay yang samar mendengar ucapan Alika menjadi terperanjat, dia menatap wajah yang kini dalam setengah tidak sadar, mata Alika tertutup namun masih dengan segukan wajah Alika memucat menandakan kepiluan.


"Alik, bangun! Bila kamu tidak bangun kakek kamu pasti sedih, apakah kamu tidak ingin mengantarkan kakekmu ke peristirahatan terakhirnya? Sadarlah sayang." bujuk Ubay mendekap tubuh ringkih itu dan menjadi pusat tontonan semua orang.


Nenek Zahra nampak terpaku dengan air mata yang masih berlinang, pria yang selalu bersamanya dalam susah dan senang itu kini meninggalkannya, dunia Zahra seakan runtuh seketika namun melihat Alika yang nampak begitu tersiksa dan Ubay yang berada di sampingnya membuat Zahra sedikit bernafas lega dan menatap sang suami yang kini terbalut kain kafan.


Bruk, nenek Zahra runtuh tersungkur di dada bidang suaminya dan merasakan tubuhnya yang seakan di tarik dari ujung kepala hingga membuat kesadarannya memudar dan sontak seluruh orang di sana berteriak memanggil Zahra, Ubay yang melihat itupun terpaku, mustahil baginya meninggalakan Alika dia melihat sekilas senyum dari nenek Zahra sebelum beliau tersungkur, Ubay sudah merasakan firasat buruk sejak itu dan kini jelas nenek Zahrapun berpulang pada sang pencipta akibat serang Jantung, sebelumnya memang Nenek Zahra sudah menahan rasa sakitnya hingga akhirnya tumbang dan dalam hitungan sepersekian detik nenek Zahrapun meninggal.


Kediaman yang biasanya penuh keceriaan itupun berubah kabung seluruh warga desa berbondong bondong saling bahu membahu mengurusi keluarga Alika, Alika yang tidak sadarkan diri di istirahatkan di kamarnya, sedangkan Ubay ikut serta menyolati jenazah kakek Jaka, sedangkan nenek Zahra di solatkan di tempat yang berbeda.


Dua jam kemudian, keluarga besar Alikapun tiba bersama dengan Adit dan keluarga Ubay, semuanya menatap Ubay yang nampak seperti tuan rumah yang mempersiapkan segalanya, dari mulai papan untuk pengureban dan bahkan sampai mempersiapkan keranda dan segala macamnya.


Ayah Alika menatap bagaimana Ubay yang sudah sangat dewasa memperispkan segalanya, saat dia datang dia memang sempat menangis namun sebagai seorang laki laki dia berusaha tegar dan mamah Alikalah yang menangis menjadi jadi, meski mamah Alika tidak sampai jatuh pingsan namun semua orang di sanapun faham bagaimana perasaan keluarga tersebut.


Bersambung...