Because The Story

Because The Story
Buku Tua



Di hari itu juga Alika dan seluruh keluarganya berpamitan pulang, air mata mengaliri pipi Alika mengucap selamat tinggal pada kakek dan nenek tercinta.


Alika yang memang tidak bisa naik mobil karena selalu mabuk perjalanan memilih bersama sang ayah berkendara dengan motor sedangkan mobil yang ayahnya bawa di bawa oleh Adit bersama Tia dan mamahnya.


...----------------...


Sesampainya di depan rumah mereka dengan menempuh perjalanan sekitar dua jam merekapun sampai di sebuah rumah dengan gaya yang minimalis dan asri berlantai dua.


"Ah sampe juga!" Alika turun dari sepeda motornya dan melihat sebuah motor trail kesayangannya yang terparkir di garasi.


"Hai motor kesayangan ku! Wahh udah lama gak ketemu kamu, kangen banget!" Alika mengusap dan memeluk sepeda motornya.


Tanpa pikir panjang Alika mengambil kopernya di bagasi mobil yang baru saja tiba dan membawanya masuk ke dalam rumah dan terlihat dua orang pembantu rumah tangganya yang tengah bersih bersih.


"Eh neng Alik sudah pulang, mau minum dulu neng?" Tanya salah seorang asisten rumah tangganya.


"Gak ah bi, Alik mau ke atas aja!" Jawab Alika dan langsung tancap ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Dalam kamar yang tiba tiba hening dengan aksen merah muda dan putih itu Alika merasakan rasa pedih seketika dalam dadanya, bohong bila dia tidak sakit hati mendapati kekasihnya yang berbuat serong namun dia hanya berusaha memperlihatkan sisi tegar nya di hadapan keluarganya agar semua orang tidak khawatir pada dirinya.


Alika tahu bila dia menangis saat itu, tentu suaranya akan terdengar ke luar kamar, diapun memutuskan untuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air.


Air dia nyalakan agar meredam suara tangisnya, hatinya pedih sekali seakan tersayat sembilu, entah apa maksud mimpinya malam tadi dan tuhan langsung mewujudkan kenyataan itu di hari itu juga.


Mungkin penyesalan Alika bukanlah karena dia sudah memukuli Ipung melainkan dia menangisi sikapnya yang bodoh dan membiarkan pria itu dalam hatinya, mencintainya sepenuh hati.


Memang benar tak semua pria sama dengan Ipung namun kebohongan itu telah mampu menutup sebagian hati Alika akan pria, dia menjadi enggan percaya pada siapapun. Dia takut merasa kecewa kembali, dadanya terasa sangat sesak dan tanpa sadar darah mengalir di hidungnya dan terus mengalir hingga membuat kepalanya pusing dan pandangannya menjadi buram dan pingsan.


...----------------...


Kejadian itu tak di ketahui siapapun, hingga tiga jam berlalu dan air masih mengalir dengan darah yang sudah hanyut dan tersisa sedikit pada baju Alika.


Alika mengerjapkan matanya yang masih terasa pusing, dia membuka bajunya dan mengenakan handuk setelahnya, dengan susah payah Alika merangkak ke kamarnya hingga mampu menggapai ranjangnya.


Rasa dingin di rasakan tubuh yang kini menggigil, Alika menyelimuti tubuhnya dan tertidur lagi.


Semua orang berfikir bila Alika kelelahan dan tertidur, semuanya tenang tenang saja kecuali Adit yang diam diam masuk ke kamar Alika saat adiknya itu tertidur dan melihat baju Alika terdapat noda darah, sempat sebersik curiga di rasakan Adit namun diapun tak bisa bertanya saat itu karena melihat adiknya yang tengah terlelap.


Alika kembali terbangun dan mendapati malam sudah tiba, kepalanya sudah terasa membaik meski sedikit terasa berdenyut namun hanya sedikit saja dan mampu dia sembunyikan dengan senyuman manisnya di depan keluarganya.


Alika mengenakan pakaian dan melihat Jam yang sudah lewat makan malam, tak ada yang membangunkannya karena semua orang berpikir bila Alika hanya kelelahan saja tidak berpikir yang lain.


Namun tiba tiba suara tukang sate membuat matanya terbelalak dan berlari dengan cepat menuruni anak tangga dan memberhentikan tukang sate itu.


"Sate neng?" Tanya pria itu dengan senyumnya yang khas.


"Iya mang, sepuluh tusuk ya! Sate ayam saja!" Ucap Alika menirukan gaya hantu yang sangat terkenal akan tukang satenya.


"Hahah, neng Alik tiasa bae! Pake cabe gak neng?" Tanya pria itu lagi bertanya pada Alika.


"Pake mang, 4 sendok ya!" Jawab Alika dan masuk lagi ke rumahnya mengambil uang dalam dompet yang masih berada di dalam kopernya.


Namun matanya malah gagal fokus saat melihat sebuah buku yang nampak sangat tua dalam kopernya, Alika mengambil buku tersebut dan menaruhnya di atas kasur.


"Nanti deh aku liat!" Ucap Alika kembali berlari ke bawah dan menerima pesanannya dan memberikan uangnya.


Alika kembali ke kamarnya dan mengambil buku yang nampak tua itu, namun tiba tiba matanya langsung terbelalak saat mengingat bila dia belum mengerjakan sholat dzuhur, asar, magrib dan Isya hampir empat waktu sholat dia tinggalkan.


Air matanya tiba tiba merembes keluar dan tangisnya pun pecah seketika saat mengingat kewajibannya yang tertinggal itu.


"Oh tuhan maafin Alik.. Hiks..hiks.. Alik gak sengaja ya Allah!" Ucap Alika dan langsung meluncur ke kamar mandi melihat pakaiannya yang berserak kan dan merapikannya ke dalam wadah cucian.


Diapun tak lupa segera mengambil air wudhu dan meng kodo seluruh sholatnya yang tertinggal, sesal dan sesaknya dia rasakan dalam isak setelah seluruh sholatnya terlaksana.


Tidak lupa setelah menyelesaikan sholatnya itu Alika langsung melakukan sholat taubat dan memanjatkan do'a do'a nya, dia teledor akan sholatnya dan dia berharap tuhan akan memaafkannya.


Alika menyelesaikan seluruhnya dan masih dalam segukkan dia membawa buku usang dengan sebuah bungkusan sate yang semula dia pesan menuju ke balkon kamarnya.


Sebuah meja kecil dan kursi yang terbuat dari kain yang empuk dan rotan dengan busa sebagai alas duduk pun terdapat di sana, mata Alika sekilas meneliti buku dengan sampul hitam itu dengan seksama dan penuh rasa ke khawatiran dan penasaran akan hal tersebut Alika membuka halaman pertama.


Deg, deg, deg jantung Alika terpompa deras hingga terdengar ke telinganya, bagaimana tidak dalam buku di halaman pertama itu dia melihat sebuah lukisan kecil sosok wanita yang sangat cantik dan anggun.


"I.. In..ini kan?" Ingatan Alika langsung tertuju pada mimpinya, sudah jadi barang tentu bila lukisan itu adalah sosok yang ada dalam mimpinya.


Entah buku itu dari mana datangnya dan entah apa tujuan orang yang menaruhnya namun melihat hal itu saja Alika sudah tahu bila orang itu adalah orang yang paling dekat dengannya.


Alika membalik lukisan itu dan melihat sebuah tulisan dengan aksara khas zaman dulu yang menyatu bertuliskan.


"'Aku akan menemui mu Adinda"' Di baris pertama dan di lihat lagi sebuah nama terukir dalam aksara sunda di sana, dengan cepat Alika mengambil kamus sundanya berupa sebuah tata cara pembuatan kata dalam aksara sunda "'SANI"' Mata Alika langsung terbelalak kini jelas sudah siapa yang menaruh itu dalam kopernya.


Bersambung...