Because The Story

Because The Story
Perjuangan Alika



Sudah menjadi kebiasaan Alika bilamana dia selalu memberi uang pada anak anak jalanan, dia berharap bila saat dia melakukan itu dia bisa mengikis kesialannya, terlebih lagi hari itu dia sangat sial sekali, dan diapun akhirnya menyerah mengejar mobil Ubay yang sudah melaju cepat.


Ubay yang melihat pemandangan itu menjadi kian mencintai gadis yang baru di lihatnya hari ini, dia benar benar tidak menyangka apapun sikap yang akan di tempuh oleh gadis itu, semua yang di lakukan Alika seakan sebuah kejutan yang membuatnya senang.


.........


Di depan rumah Tia, ayah dan ibu Alika nampak tengah memperhatikan Alika yang tengah berdebat hebat dengan seorang pria dengan tubuh tinggi tegap dan nampak melepaskan cincinnya.


Dari semua yang terjadi mereka dapat mengartikan bila pria itu menyukai puterinya namun memberikan cara menyebalkan untuk menarik simpati puterinya.


Mereka memang tidak begitu membatasi pergaulan Alika dengan siapapun namun melihat kedekatan mereka, ayah dan ibu Alika menjadi terhanyut dan tanpa sadar do'a terbaik di ucapkan hati mereka.


"Mah pah?" Adit nampak menyapa keduanya, dan malah ikut memperhatikan yang menjadi perhatian ayah dan ibunya.


Hingga akhirnya Ubay meluncur dan nampak Alika yang akan melempar helemnya, namun ternyata pikiran mereka salah, Alika napak mengenakan helmnya dan menyimpan botol airnya ke dalam jok motornya dan langsung tancap gas.


"Dia itu bukannya atasanmu ya Dit?" Tanya ayah Adit memalingkan wajahnya pada sang putera.


"Iya pah, dia atasan Adit, tapi jangan khawatir dia meski seperti itu juga dia orangnya sangat baik, meski banyak desas desus yang mengatakan dia importen tapi kenyataannya dia tidak seperti itu, tapi dia memang tidak pernah menyukai wanita, dan ini adalah kali pertama aku melihat dia menyukai wanita." Ucap Adit panjang lebar menerangkan tentang atasan dan juga sahabatnya itu.


"Aku penasaran bagaimana pria yang tidak tahu wanita itu akan meluluhkan Alika si batu api itu!" ucap Adit lirih.


.........


Semua kejadian panjang itupun berlalu hingga akhirnya keesokan paginya abang dan kakak iparnya berangkat ke ibu kota, semua keluarga yang memang masih berkumpul itupun mengucap selamat tinggal pada Adit dan isterinya yang berangkat.


Alika sangat lama memeluk abangnya dia memang sangat menyayangi abangnya dan sudah terbiasa bila hari hatinya selalu bersama dengan sang abang.


Adit pun berangkat pagi itu, nampak dari kejauhan Ubay yang melambaikan tangan namun Alika masih belum menyadari kedatangan pria itu dan terus menangis dalam pelukan abangnya, hingga mereka pergi pun Alika sama sekali tidak menyadari kehadiran Ubay hingga sebuah kotak merah di berikan seseorang pada tangannya, Alika menyangka bila kotak itu dari sang abang dan tidak melihat abangnya lagi dan langsung memeluk kakeknya.


"Hiks.. Hiks.. Kek abang ninggalain Alik!" Adu Alika namun Ubay yang kini berada tepat di belakang Alika pun terenyuh, tak menyangka sudah tentu bila Alika yang di katakan Adit sangat menyebalkan itu menjadi begitu sangat sedih saat akan di tinggalkan oleh abngnya.


"Pergilah, hati hati di jalan!" Ucap sang Ayah pada Ubay dan diangguki pria itu, sekilas dia menatap Alika dan kemudian berlalu meninggalkan keluarga itu.


Alika masih menangis hingga siang dan akhirnya tertidur di kamarnya, dia memeluk sebuah kotak merah yang di berikan Ubay, dia menyangka bila kotak itu adalah pemberian abangnya.


Mata Alika perlahan terbuka saat adzan dzuhur berkumandang, Alika menatap kotak merah itu yang masih dalam pembaringan, dia melihat sebuah cincin dengan sebuah batu mulia yang berkilau di atasnya bahkan cincin itu nampak lebih cantik dari cincin yang di berikan Adit pada Tia.


Alika tersenyum dan mengenakan cincin itu, entah hembusan angin apa hingga membuat Alika sendiri merasa nyaman saat mengenakan cincin itu, senyum terukir di wajah Alika.


Alika mulai melaksanakan sholat dzuhur setelah membalas pesan abangnya dan mulai belajar lagi untuk mengejar paket C.


.........


Hingga hari yang di tentukan pun tiba di mana dia akan melakukan ujian paket C, dia menjawab semua soal dengan mudah dan lancar tanpa hambatan berarti dan sampai pengumuman berlangsung pun Alika seperti biasa mendapatkan juara umum dan berada di renking teratas nilai rata rata.


Semua keluarga Alika sangat bangga dengan pencapaiannya itu, terlebih lagi perjuangan Alika yang hampir setiap malam gadang untuk ujiannya itu.


Tak lupa setelah mendapat nilai sempurna pun Alika kembali belajar untuk mengikuti seleksi masuk ke perguruan tinggi, meski tujuannya bukan perguruan tinggi Negeri namun dia juga harus serius dan mengharap mendapatkan nilai yang sempurna.


Benar saja perjuangannya terbayar sempurna saat dia lagi lagi mendapatkan garis paling atas dalam seleksi terebut, dan masuk ke dalam universitas tersebut tanpa wawancara terlebih dahulu.


Hingga tibalah waktu Ospek yang membuat semua calon mahasiswa berkumpul untuk melakukan Ospek di kampus baru mereka.


Para senior Alika selalu memperhatikannya karena penampilannya yang begitu cantik dan mempesona, namun Alika nampak acuh tak acuh. Ketidak percayaan Alika pada pria membuatnya menutup pintu hatinya serapat mungkin dan tidak memberikan celah sedikitpun pada siapapun yang ingin menghuni hatinya.


Ospek yang memang di satukan dari seluruh fakultas itu selalu menyorot Alika, tapi Alika malah lebih dekat dengan para orang tua yang nampak susah payah ikut serta dalam acara Ospek tersebut.


Alika sangat senang saat mendengarkan cerita cerita orang tua yang bersamanya, semua pria muda nampak mencuri curi perhatian dari Alika dengan berbagai cara, namun Alika sama sekali tidak perduli dan selalu acuh tak acuh.


Kegiatan belajar Alika terbilang sangat lancar sampai semester 4, saat itu Adit sudah memiliki seorang puteri bernama Raisa, dan Tia pun juga kembali memiliki seorang puteri yang kedua bernama Citra.


Hari itu Alika akan membeli sebuah rumah yang ukurannya sangat kecil namun tanahnya sangat luas, harganya memang terbilang murah dan membuat Alika pun harus membongkar celengannya di bank yang mana dia dapatkan dari hasil penjualan akun gamenya.


Memang Alika sangat senang bermain game online namun dia terpaksa menjual semua akunnya di berbagai jenis game hingga uangnya terkumpul sebanyak rp 60.000.000, dari hasil menjual 30 akun game dari 10 jenis game yang sering dia mainkan.


Alika membayarkan uang itu sekaligus pada orang yang menjual tanah dan rumahnya pada Alika.


Alika sangat bahagia dan untuk pertama kalinya dia membeli barang dengan uangnya sendiri, orang tua Alika yang mengetahui itu sangat bangga pada Alika.


Tujuan Alika untuk mengurai sandi sandi dalam buku tersebut mulai terwujud secara perlahan dan mampu mengurai sandi sandi dalam aksara sunda tersebut.


Dan meski di kelas Alika dia menjadi yang paling muda tapi dia tetap menjadi juara prodi dan bahkan IP nya selalu menjadi bahan gunjingan para dosen yang mana nilai Alika selalu sempurna.


Bersambung...