Because The Story

Because The Story
Al



Pagi itu di rumah Alika terjadi keriuhan luar biasa karena abangnya pulang setelah lulus S2, dia membawa seorang bocah berusia 1 tahun dan seorang bayi berusia 2 bulan, wajah dua bayi itu laksana mentari yang sangat indah membuat alika sendiri terkagum kagum melihatnya, pipi mereka nampak tembem kemerahan gigi Alika sampai bergertak ingin mencubit pipi bayi mungil itu.


"Waah, ini ciapa namanya?" Tanya Alika berbicara layaknya anak kecil mengelus lembut pipi mungil Raisa, Alika langsung memangku bocah yang baru berusia 1 tahun itu dari gendongan Adit.


"Raisa namanya." Ucap Adit tersenyum sekilas dan membiarkan puterinya bermain dengan Alika, Raisa dan Alika memang nampak sangat mirip di tambah lagi mata mereka yang sama sama terang.


"Hai Ica cantik, panggil aku kakak Alik ya jangan panggil bibi oke." Alika menciumi pipi tembem Raisa bergantian.


"Kakak.." ucap Raisa dan sontak Alika langsung bersorak kegirangan dan membawa Raisa ke kamarnya.


"Alik, Alik.. Dia bahkan gak inget sama abangnya saat punya ponakan." Panggilan Adit pada Alika di abaikan Alika begitu saja, sontak tawa kecil terdengar dari ayahnya yang melihat kelakuan Alika.


"Iya, padahal kalian udah 2 tahun gak ketemu." Ucap sang Ayah menimpali ucapan puteranya.


"Ya gimana mau ketemu, setiap aku pulang kampung idul fitri dia selalu ada di kampung di rumah nenek dan kakeknya, gimana aku bisa ketemu dia." Ucap Adit kesal.


"Hahah, tapi lihatkan bagaimana dia sekarang, dia sangat dewasa." Ucap sang ayah memberikan penilaian pada Alika yang kini jauh lebih pendiam dan dewasa.


"Dewasa? Dewasa dari mananya, dia sama aja tuh kaya dulu." Ucap Adit kemudian menimpali ucapan ayahnya.


"Kamu yang gak berubah! Lihat Alika langsung masuk ke kamarnya saat kamu tiba dan membawa anak pertamamu, dia ingin kamu tidak banyak bicara dan beristirahat." Jelas sang ayah memaparkan kondisi Alika yang diam, dan memberi pengertian pada Adit.


"Permisi! Ada paket untuk nona Alika." Seorang kurir paket nampak memasuki gerbang rumah kediaman orang tua Alika.


"Alik paket!" Teriak sang ayah dan Alika pun turun dengan kondisi Raisa yang sudah tertidur dalam dekapannya.


"Dari siapa ya pak?" Tanya Alika merasa dirinya tidak pernah memesan paket.


"Dari yang biasa kirim, namanya Al" Ucap kurir itu kemudian.


"Loh kan aku udah nerima transperannya, kok ada paket lagi?" Tanya Alika, lantas menerima paket itu dan masih menggendong Raisa dalam pelukannya.


"Tanda serah terimanya di sini ya teh!" ucap kurir tersebut menyerahkan selembaran kertas bukti penerimaan paket.


Alika mengangguk dan menandatanganinya, tanpa sadar Alika kini menjadi pusat perhatian dari abang dan ayahnya yang sedari tadi masih berada di garasi itu.


"Dari siapa de?" Tanya Adit penasaran, selama yang dia tahu Alika tidak memiliki teman dekat ataupun sahabat meski itu seorang wanita sekalipun.


Alika beranjak menuju kamarnya membaringkan Raisa di atas kasur miliknya, dengan hati hati, Alika membuka paket tersebut dan alangkah terkejutnya dia saat mendapati sebuah gaun cantik dan beberapa aksesoris tambahan dan sebuah pesan.


"'Besok acara 17 an, di pake ya! Merdeka!"' isi surat tersebut hingga sebuah senyum simpul terukir di bibir Alika, memang benar setiap kali acara 17 Agustus dia selalu antusias dan memilih pakaian terbaiknya untuk dia kenakan.


Pria yang mengirimkan gaun itu berinisial Al dan dia sudah dekat dengan Alika selama dua tahun terakhir melalui game online, namun meski begitu mereka tidak pernah bertemu sekalipun di real life.


Alika mencari alamat yang mengiriminya paket istimewa itu dan di temukan, saat itu masih tanggal 15 agustus dan bila mengirim paket mungkin masih sempat terkirim apalagi melihat jarak yang cukup dekat itu.


Alika melihat barang barang terbaiknya hingga pilihannya jatuh pada sebuah syal yang dia rajut sendiri saat masa lapang dulu.


Alika membungkus syal itu dengan baik dan langsung meluncur ke bawah dengan pakaian rapih menuju pada sepeda goesnya yang memang akhir akhir ini sering dia gunakan saat merindukan sosok abangnya yang mana dulu dia selalu di boncengi sang abang saat mereka bersenang senang menggunakan sepeda tersebut.


"Mau ke mana de?" Tanya Adit melihat adiknya yang nampak buru buru.


"Mau kirim paket bang!" Teriak Alika meninggalkan pelataran rumah.


Namun saat sampai di kantor jasa pengiriman Alika memotret terlebih dahulu paket tersebut sebelum akhirnya di serahkan pada jasa pengirim paket tersebut.


Alika tersenyum sekilas dan mengirimkan foto tersebut pada sebuah kontak bernama Al, dengan kepsen.


"'Barang berharga untuk orang berharga"'.


Alika langsung menggoes kembali sepedanya menuju rumahnya dan sepanjang perjalanan senyum di wajah Alika tak pernah luntur, untuk pertama kalinya Alika mengatakan kata kata yang begitu ambigu pada seseorang.


Alika kembali merasakan getaran aneh saat memikirkan sosok Al, karena baik Alika ataupun Al keduanya sama sama tidak pernah menunjukkan wajah mereka, mereka ingin memberikan kejutan pada masing masing di antara mereka.


Alika akhir akhir itu memang sangat menjaga penampilannya dan begitu merawat kulitnya, dia ingin berpenampilan terbaik untuk acara 17 an itu dan berharap orang yang akan dia temui tidak akan kecewa akan penampilannya.


Wajahnya kini pun nampak sangat putih dan glowing layaknya model skincare kenamaan, Alika juga menjadi jarang keluar rumah dan selalu mengurung dirinya di kamar.


Saat Alika tiba Raisa nampak masih tertidur dan terlelap dalam buayan selimut tebal, Alika tersenyum sekilas sebelum akhirnya meluncur ke kamar mandi membersihkan peluh yang memenuhi tubuhnya.


Bersambung...