
Alika celingukan mencari sepatunya, namun tak kunjung dia temukan. Matanya bergulir ke kiri dan ke kanan mencari sepatunya namun tidak dia dapati.
"Hmm, maaf apa kamu liat sepatuku gak?" Tanya Alika menatap pria yang kini tengah mengusap usap kepalanya yang basah dengan air yang masih menetes.
"Pakai ini saja!" Pria itu menyodorkan sebuah peperbeg dengan sebuah sandal bulu yang nampak sangat manis dan lucu.
"Aku mau goes sepeda!" Tegas Alika merasa kikuk sendiri akibat hal tersebut, dia sama sekali tidak mengerti maksud pria tersebut.
"Pakai saja dulu." Ubay tidak menghiraukan ucapan Alika dan lebih memilih mengambil sebuh alat pengering rambut.
Namun Ubay yang memeng tidak pernah menggunakan pengering rambut dan selalu lebih memilih membiarkan rambutnya kering sendiri itu nampak kesulitan menggunakan alat tersebut, Alika yang melihat Ubay kesulitan tertawa keras dan nampak terpingkal pingkal.
"Buahahahah, apa kamu tidak pernah pakai pengering rambut, feet.. Hahahah." Tawa Alika menggema membuat Ubay sedikit tersenyum sekilas dan membiarkan Alika menertawakannya.
"Aku memeng tidak pernah pakai ini, sudahlah! Biarkan saja rambutku basah." Ucap Ubay menaruh kembali pengering rambut itu di dalam laci.
"Sini, sini biar aku bantu," Alika mengambil pengering rambut itu dari Ubay, Ubay yang memiliki tinggi badan yang jauh dari Alika menyulitkan Alika mengeringkan rambut miliknya.
Ubay yang menyadari hal tersebut lantas menarik kursi belajarnya, Alika kebingungan dengan apa yang akan di lakukan pria tersebut, dan lagi lagi jantung Alika terpompa sangat kencang sangat tangan Ubay mengitari perutnya dan mengangkatnya ke atas meja belajar.
Alika mematung seketika, dia sangat terkejut dengan perlakuan tak terduga yang di tujukan oleh Ubay terhadapnya, sedangkan ubay lantas duduk di hadapannya menyodorkan kepalanya ke arah Alika.
"Ee... Tidak boleh sedekat ini juga!" Alika mendorong kepala Ubay agar tidak begitu dekat dari tubuhnya, karena dengan jarak itu Alika bisa dengan jelas mencium aroma sabun dan shampo yang melekat pada tubuh Ubay.
Namun Ubay tidak menjauh dan meletakkan tangannya di atas meja sontak saja dada Alika berdegup amat kencang dan sangat tidak beraturan.
"Lakukan saja, aku tidak akan macam macam." Ungkap Ubay dan akhirnya Alika pun mulai mengeringkan rambut Ubay dengan hati hati, dan tanpa di sadari Ubay malah terjatuh di paha Alika dan tertidur di sana.
Alika merasa pahanya yang sangat berat dan mulai keram, rambut Ubay pun sudah kering, tapi pria di hadapannya itu malah tetap diam.
Alika menyibakkan rambut Ubay dan melihat ketenangan di sana, mata Ubay tertutup sempurna dan tanpa dia sadari, tangan Ubay melingkari perut Alika dan tertidur amat pulas.
Alika menahan rasa sakit di pahanya yang sudah keram dan kesemutan hingga kini pahanya seakan mati rasa dan tidak dapat dia gerakan.
Pintu kamar itu tiba tiba terdengar bersuara, seseorang mengetuk pintu tersebut dan sontak saja Ubay menggeliat namun bukannya terbangun dia malah menarik tubuh Alika kian mendekat dan mencari kenyamanan.
"Tuan muda, makan siang sudah di siapkan." ucap salah seorang pria dari luar kamar, sontak saja mata Ubay terbuka perlahan dan kembali tertutup enggan bangun.
"Bangun..!" ucap Alika tegas namun halus, namun Ubay malah melengguh dan enggan terbangun.
"Aku tahu kamu sudah bangun!" Alika lagi menarik telinga Ubay hingga membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Uuh.. Aw.. Sakit sakit, galak banget si!" Rintih Ubay memegang telinganya yang kini nampak memerah, Alika tertawa dan turun dari atas meja tersebut namun karena pahanya mati rasa hingga membuat keseimbangan tubuh Alika sedikit terganggu.
"Kamu sakit?" Tanya Ubay sedikit resah melihat langkah gontai Alika.
"Kamu nuaanynya?" Alika berbicara ala sebuah ucapan yang tengah viral.
"Mana aku lihat yang sakitnya!" Ubay melihat gerik Alika bisa di pastikan bila gadis itu memang tengah menahan rasa sakit dan ngilu di tubuhnya.
Namun pandangan Ubay langsung mengarah pada paha Alika yang sedikit tersibak dan nampak kemerahan.
"Kenapa pahamu merah?" tanya Ubay lagi tanpa merasa bersalah akan pertanyaannya tersebut.
"Kepala kamu seberat beban hidup ribuan orang tau! Masih nanya lagi!" sungut Alika malas dan mengambil tas dan jaketnya di atas kasur dengan langkah pelan Alika membuka pintu kamar tersebut tanpa mengenakan alas kaki.
"Kepalaku?" lirih Ubay, dan jawaban pun muncul di kepalanya dimana Alika menahan kepalanya dan beralaskan meja yang keras dan berujung runcing, sudah jelas hal itu akan menyakiti gadis manis itu.
"Alik..!" teriak Ubay dan berlari mengejar gadis yang kini meninggalkannya sendirian, nampak gadis itu tidak mengenakan alas kaki sama sekali dan berjalan menuruni anak tangga yang sangat besar dengan pegangan yang cukup kokoh, Alika mulai berjuang turun.
"Alik, tunggu!" cegah Ubay dan akhirnya Alika pun berhenti dan menatap pria yang memanggilnya sekilas sebelum akhirnya kembali turun dan mengabaikan seruan tersebut.
"Nenek sudah pulang, kamu tidak mau menemuinya?" Ubay kemudian dan akhirnya senyum manis terukir di bibir Alika dan berbalik menatap Ubay.
"Benarkah? Dimana nenek sekarang?" Tanya Alika dengan sumeringah di bibirnya menatap Ubay yang kian mendekatinya.
"Pakai ini, ayo!" Ajak Ubay menyerahkan alas kaki yang sempat di tinggalkan oleh Alika, dan berjalan di samping Alika.
"Dia ada di belakang, mungkin tengah memburak barik belanjaannya." ucap Ubay menatap Alika yang nampak berjalan sangat kesulitan, dia sangat ingin mengangkat tubuh gadis itu namun dia sadar bila dia melakukan hal tersebut Alika pasti akan kembali ketakutan saat bersamanya.
Ubay kembali teringat saat dua tahun lalu dia memesan sebuah kursi lelang demi mendapatkan cincin yang kini terukir di tangan Alika.
...----------------...----------------...
Sore itu, Ubay sangat sibuk setelah pagi dia mengunjungi undangan pernikahan sahabatnya Adit diapun menjadi selalu senyum senyum sendiri.
"Tuan muda, anda memintaku untuk memesan sebuah kursi dalam acara lelang malam ini, dan kami sudah mendapatkannya. Tuan muda bisa hadir di tempat tersebut malam ini." Ucap salah satu pengawal Ubay memberikan sebuah amplop berisi surat undangan.
"Baiklah, kita berangkat sekarang. Siapkan jumlah uang yang tidak mereka pikirkan." ucap Ubay dan membersihkan meja kerjanya dan berdiri keluar dengan mantel yang melekat di pundaknya.
"Baik tuan muda." ucap pengawal tersebut mempersilahkan tuan mudanya untuk berjalan keluar dari ruangan megah dengan kesan mewah yang sangat melekat dalam setiap interior ruangan tersebut.
Bersambung...