
Pemakaman berjalan dengan lancar, Alika dan Raisa berada di rumah. Gadis kecil bernama Raisa itu selalu membuat Alika teringat akan dirinya saat kecil yang begitu manja, dia menatap lekat gadis itu dan tersenyum setelahnya.
"Papah...!" ucap Raisa saat melihat ke arah luar jendela di mana semua orang sudah kembali, Alika menatap ke luar rumah dan membuka pintu rumah itu lebar lebar.
Ubay nampak bercucuran keringat karena terik siang itu memang sangat panas, namun wajah pria itu tidak pernah menunjukkan lelah dan selalu tersenyum saat menatapnya, seorang asisten Ubay nampak tiba bersama dengan Fedrix.
Mata Alika lagi lagi membulat dan nampak Ubaypun tengah kesal di luar sana meminta Fedrix dan asistennya untuk kembali saja, dia hanya mengambil barang barang yang sempat dia pesan saja pada asistennya.
Asisten Ubay dan beberapa warga di mintai tolong oleh Ubay untuk mengeluarkan barang barang dari bagasi mobilnya dan nampak lima buah koper dikeluarkan, Ubay mengambil satu koper dan menyeretnya masuk ke dalam rumah.
"Simpan yang itu di sana, dan yang satunya lagi di dekatkan dengan milikku." perintah Ubay dan di turuti oleh beberapa pria yang nampak membantunya.
"Apa ini?" tanya Alika kebingungan menatap begitu banyak barang yang Ubay bawa, Ubay tersenyum sekilas dan memberikan koper yang sempat dia seret sendiri pada Alika.
"Ini untuk memenuhi kebutuhan kita selama di sini, dan yang dua itu pakaianku dan nenek, kami akan menginap disini, dan yang dua itu untuk acara tahlilan." ucap Ubay menjelaskan.
"Ini apa?" tanya Alika menaruh koper tersebut dan membukanya perlahan, semua orang terpaku termasuk Alika dan beberapa warga yang melihatnya.
"Kebutuhanku banyak, dan itu tidak seberapa. Gunakan itu untuk kebutuhan harian kita." ucap Ubay tersenyum lembut, Alika jelas spicless menatap bagaimana pria yang kaya raya dan tanpa perhitungan yang kini berdiri di hadapannya itu.
"Ta..tapi i.." Alika sulit berkata kata, dia menatap orang tuanya yang nampak mamanya masih memeluk sang papah dan menangis tidak memperhatikannya, sedangkan adit nampak sibuk dengan Raisa yang sedang bermanja dengannya.
"O ya, di kamar mana aku bisa tinggal?" tanya Ubay menutup kembali koper yang sempat terbuka tidak ingin terlalu mengekspose bagaimana kekayaannya.
"Kamu bisa tinggal di kamarku!" ucap Alika dan sontak saja mata Ubay membulat memikirkan hal yang jelas jauh dari realita yang di maksud Alika.
"Di kamarmu?" ubay nampak spicless dan menatap bagaimana mungkin Alika mengatakan hal semacam itu, apakah beneran Alika sudah siap, pikir Ubay.
"Iya, aku akan tidur di kamar kakek, aku akan tidur bersama nenek Kejora." ucap Alika lagi tersenyum lembut, gubrak! Pikiran kotor Ubaypun jatuh seketika dan ternyata benar bukan yang seperti dia maksud.
"Oh baiklah! Aku bawa barang barang ini ke kamarku dulu bila begitu, dan yang ini dan yang itu aku nanti masukin ke kamar kakek!" ucap Ubay seenak jidatnya mengakui kamar Alika adalah kamarnya.
Alika tergugu mendengar kata kata Ubay barusan dan melihat pria itu yang nampak menyeret dua koper menuju tangga, Alika tidak tinggal diam diapun mengambil dua koper lainnya dan mengikuti langkah Ubay.
"Eh, jangan! jangan! Biar aku aja, kamu diam saja!" ucap Ubay memportal Alika hingga gadis itupun berhenti, dan mengambil koper lainnya yang masih di dekat pintu.
Alika menepikan koper itu lagi ke arah tangga, Ubay yang menyaksikan bagaiamana keras kepalanya Alikapun menggeleng pelan, dia benar benar bingung harus dengan cara apa memberi tahu gadis itu bila dirinya kini khawatir.
Alika membawa satu koper menaiki anak tangga dan melihat Ubay yang nampak kembali dari kamarnya, Ubay menggeleng pelan menyaksikan bagaimana Alika berjuang satu demi satu anak tangga dengan koler berat di tangannya.
"Aku mau minta tolong boleh?" Ubay sudah kehabisan kata katanya hingga meminta Alika melakukan hal lain, jelas rona khawatir terpancar dari wajah Ubay namun dia juga cukup bingung untuk meminta Alika tidak perlu membantunya.
"Aku tidak tahu disini seperti apa tradisinya, bisakah aku minta tolong untuk memasukkan uang ke dalam amplop di kamarku, dan sesuaikan saja jumlahnya terserah berapa baiknya." ucap Ubay meraih koper yang berada di lengan Alika.
Ubay sempat terkejut dengan berat koper satu itu yang hampir sama dengan dua kopernya tadi, itu adalah perlengkapan neneknya, dan entah apa isi dari koper itu hingga bisa seberat itu.
"Baiklah." ucap Alika berjalan mengikuti Ubay yang kini nampak semburat di tangan pria itu keluar mengangkat koper besar dengan berat hampir seratus kilogram itu.
"Oh ya kamar kakek ada di sana!" ucap Alika menunjuk sebuah pintu, dan langsung di angguki Ubay setelahnya.
Ubay mencari sosok neneknya di bawah, namun tidak dia temukan. Memang sebelumnya Ubay sudah mengatakan yang sebenarnya pada sang nenek, dan kini mungkin neneknya masih berada di pemakaman bersama ayahnya.
Ubay memampirkan tiga koper itu di kamar sang kakek dan kembali menutup pintu kamar itu dan menuju kamar Alika, disana nampak Alika yang tidak mengenakan kerudung dan sedang menghitung uang dan memasukannya ke dalam amplop yang memang sudah di persiapkan Ubay.
"Perlu bantuan?" tanya Ubay masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar itu kemudian, namun Ubay kembali terpaku saat melihat gadis itu tengah menangis.
"Eh, kenapa?" Ubay mengusap air mata Alika dan menatap lagi mata yang kini tengah berair menatapnya.
"Gak papa, cuma aku ingat aku pernah melakukan hal ini bersama kakek dulu, saat itu di rumah ini akan diadakan ulang tahunku yang ke 16." ucap Alika berusaha tersenyum namun sangat sulit.
"Kakek pasti bangga punya cucu kaya kamu sayang." Ubay mendekap lagi tubuh Alika berusaha menengkan Alika, dia tahu jelas itu bukan hal mudah di lalui Alika dan dia berusaha untuk jadi kekuatan bagi Alika.
"Terima kasih!" ucap Alika berbalik memeluk Ubay dan sontak akibat terkejut Ubay hampir terjatuh namun repleks tangannya cepat hingga akhirnya mampu menahan tubuhnya namun kini tubuh Alika berada tepat berada di atas tubuhnya dan sontak hal tersebut membuat dada Ubay melompat lompat tidak karuan.
"Kamu bau acem ih! Mandi gih!" ucap Alika dan sontak membuat Ubay terkeleh, Alika beralih dari atas tubuh Ubay dan membiarkan pria itu berlalu mengambil handuk menuju kamar mandi.
"Sayang..!" teriakan terdengar dari dalam kamar mandi dan sontak Alika menyahut.
"Ya!" jawab Alika merasa bila Ubay kini tengah berada dalam masalah karena tidak membawa handuk.
"Aku lupa bawa handuk, apa kamu punya?" tanya Ubay penuh harap dan tidak lama pintu di ketukpun terdengar.
"Ini!" ucap Alika membuk sedikit pintu kamar mandi itu dan menyodorkan lengannya dengan handuk di tangannya.
Kamar mandi itu memang terbilang sangat sederhana, tidak seperti di kamar Alika yang baerada di kota, di sana kamar mandinya masih menggunakan bak kecil dengan air keran dan gayung sebagai pengambil air.
"Ciee yang kamar mandinya pake emas sekarang malah harus mandi peke gayung!" ucap Alika terkekeh dan sontak alis Ubaypun terangkat sebelum akhirnya pintu kembali tertutup rapat.
Mungkin para pembaca sudah tahu apa dulu yang di lakukan Ubay di kamar mandi setelah berdekatan dengan Alika, ya dia kembali menyalurkan birahinya melalui tangan, ya meski dia tidak merasa puas namun dia bisa menahan dirinya lagi saat berdekatan dengan Alika, dan tidak kembali kehilangan kendali atas dirinya.
Bersambung...