Because The Story

Because The Story
Dua wanita



Di sore hari yang cerah dengan warna jingga menyala lebih terang dari hari hari biasanya, nenek Kejora duduk di samping rumah itu menghadap menatap matahari sore yang kini meneranginya. Nenek kejora merasakan terpaan hangat dari pancaran itu dan kian merasa nyaman.


"Nek?" Ubay menegur neneknya dan duduk di samping sang nenek dalam kursi rotan yang terasa begitu nyaman.


"Iya? Ada apa?" tanya Kejora menatap cucunya yang kini duduk di sampingnya.


"Bagaimana menurut nenek bila aku menikahi Alika secepatnya?" tanya Ubay merebahkan tubuhnya dalam sandaran kursi tersebut.


"Itu lebih baik menurut nenek, dia wanita yang baik dan sangat dewasa, dia juga sangat menghargai banyak hal dan pendapat apapun, nenek menyukainya." ucap Kejora menyetujui keinginan cucunya.


"Permisi! Paket!" ucap seorang kurir dari depan dan sontak saja Alika berlari menuju ruangan depan dan melihat orang di balik pintu dengan paket yang di pesan Alika.


"Terima kasih ya pak!" ucap Alika dengan girang duduk di sofa dan membuka paketnya, sedangkan tukang paket itupun berlalu pergi.


"Ah akhirnya sampe juga!" ucap Alika dan berlarian kesana kemari mencari nenek Kejora dan Ubay.


"Nenek? Nenek?" Alika mencari Nenek Kejora hingga akhirnya sampai disamping rumah dan melihat Ubay dan nenek Kejora yang nampak tengah berbicara.


"Nek?" sapa Alika dan menghampiri wanita tua itu untuk menunduk di depannya, namun tangan Ubay langsung menarik Alika hingga gadis itupun terjatuh dalam pelukannya.


"Iish, apa apaan si?" Alika merasa risih dan berusaha bangkit namun di hentikan Ubay, dia memeluk wanita itu erat dalam dekapannya.


"Iih, apaan si? Lepas! Lepas!" ucap Alika lagi berusaha melepaskan pelukan Ubay namun sayang gagal, Ubay malah semakin memperkencang pelukannya meski mata Alika sudah memelototinya.


"Ubay!" tegur nenek Kejora namun lagi lagi Ubay tidak menghiraukan seruan itu dan tetap memeluk Alika, dia benar benar ingin sekali memeluk gadis itu dan enggan melepaskannya.


"Kenapa si ih aneh!" ucap Alika kesal mencubit tangan Ubay dan menatap pria itu kesal.


"Besok aku harus kembali bekerja sayang, aku harus kembali ke kota dan aku pasti akan sangat rindu padamu sayang." ucap Ubay enggan melepaskan pelukannya.


"Lebay banget! Dah ah jangan deket deket kalo mau peluk, peluk aja tapi jangan terlalu dekat ngerti!" ucap Alika berusaha menjauhkan diri.


"Hmm" hanya itu jawaban dari Ubay dan enggan menjauh dari tubuh kekasihnya sedikitpun.


"Oh ya nek, Alik ada sesuatu buat nenek!" Alika menyerahkan buku bersampul hitam itu pada nenek Kejora dan tersenyum simpul.


"Apa ini?" tanya nenek Kejora merasa bingung menerima buku dengan aksara yang sama sekali tidak dia mengerti.


"Sebentar!" Ubay sejenak melepaskan pelukan Alika dan mengambil buku tersebut.


"Kenapa? Jangan bilang kamu gak ngerti tulisan begini!" tanya Alika penasaran melihat keterkejutan yang terpampang dari wajah Ubay.


"Emang enggak, emang kamu ngerti?" tanya Ubay penasaran menatap Alika yang sedang memperhatikannya.


"Ya ngerti lah, masa yang begini aja gak ngerti, bahkan sandi sandi di dalamnya juga udah aku pecahin, hebatkan?" ucap Alika mengambil buku itu dari tangan Ubay dan kembali menyerahkannya pada nenek Kejora.


"Nenek juga ngerti kan? Itu bahasa sangsakerta, sunda, arab dan sedikit campuran aksara sunda, sisanya adalah aksara jiwa." ucap Alika nenjelaskan tentang isi dalam buku tersebut.


"Kalo sangsakerta dan sejenisnya memang mudah di pahami, tapi kode kode yang di buat dalam aksara jiwa itu yang sulit, selain perpaduan antara banyak ucapan juga sering memberi kekeliruan bila belum mempelajari tulisan tulisan daerah sebelumnya." ucap Alika lagi menambahkan.


"Yang halaman pertama kamu sudah tahu artinya?" tanya Ubay dengan penuh harap pada Alika.


"Oh, itumah emang gak ada artinya, cuma mesti di baca biasa aja, itu memang menggunakan bahasa jiwa dan menunjukan keberadaan sebuah harta karun." ucap Alika mengangkat pundaknya.


"Harta karun?" Ubay kian penasaran dan sangat tidak menyangka bila gadis yang terlihat polos itu ternyata sangat cerdas.


"Iya, tapi maaf ya! Aku udah beli tanahnya dan kamu gak akan bisa beli lagi dari aku!" Alika terkekeh geli dan tertawa.


"Ck, kalo sudah jadi milik kamu yasudah, aku juga tidak akan perduli lagi. Yang aku takutkan adalah orang lain dapat membaca sandi itu." Ubay menggenggam tangan Alika.


"Ih aneh! Aku kira kamu penasaran akan hal itu karena penasaran harta karun." ucap Alika kembali berusaha melepaskan diri dari pelukan Ubay.


"Diem!" ucap Ubay tegas menarik tubuh Alika hingga gadis itu terjerebak dalam pelukannya, Alika mendengus kesal dengan sikap kekasihnya, mau kompleinpun percuma karena pasti pria itu tidak akan mendengarkannya.


"Ubay, kalian itu belum menikah, tidak boleh melakukan hal semacam itu, lepaskan Alika!" ucap tegas nenek Kejora.


"Gak ah nek, aku masih pengen peluk peluk Alika, besok aku harus ngantor dan masuk rumah sakit bentar jadi waktu berduaan sama Alikanya abis." ucap Ubay manja tetap dalam pendiriannya.


Nenek Kejora menghembuskan nafasnya kasar dan begitupun Alika, Ubay yang merasa menang kini sudah tahu menyikapi sikap keras kepala Alika yaitu dengan keras kepala dan sentuhan manis maka gadis itupun pasti akan menurut.


"Sayang mau denger cerita gak?" tanya Alika menyentuh pipi kekasihnya berusaha membuat pria itu lengah.


"Cerita apa? Aku tidak mau dengar! Aku lebih ingin peluk kamu sekarang." ucap Ubay lagi tidak terjebak dalam tak tik Alika.


Ya begitulah Ubay, dia tidak akan pernah terjebak dalam taktik yang sama baik itu di kehidupan berbisnis ataupun kesehariannya, bahkan dengan Alikapun dia tidak akan toleransi, kecuali mememang kondisi yang kira kira menguntungkannya maka diapun akan berpura pura terjebak dan mendapatkan imbalannya.


"Ubay, nenek punya cerita ini kisah nyata ya! Kamu tidak seperti Alika yang sangat ingin ku ceritai meski aku selalu mengelak, tapi sekarang karena kalian berdua sudah berkumpul maka tidak ada salahnya bila nenek menceritakan kisah panjang ini." nenek Kejora nampak tersenyum sekilas menatap mereka berdua.


"Benarkah nek? Baiklah Alik akan dengerin semuanya." ucap Alika girang dan tangan Ubay yang lagi lagi terus menarik perutnya hingga mereka terus saling bedekatan.


"Aku ke kamar mandi dulu nek!" ucap Ubay mengangkat tubuh Alika dan mendudukannya di atas kursi tersebut kembali.


Alika mengangkat bibir atasnya mencibir sikap yang di ambil Ubay, dia benar benar merasa bila kekasihnya itu sangat tidak sopan, namun berbeda dengan yang sebenarnya terjadi, akibat gaya gesek antara dua hal mengharuskan Ubay ke kamar mandi dan memuaskan dedenya yang sudah sangat tegang akibat gesekan tadi.


Ubay sama sekali sulit mengendalikannya hingga akhirnya meminta izin ke kamar mandi terlebih dahulu, karena melihat keantusiasan Alika diapun akhirnya merasa tertarik dan ingin ikut mendengarkan, tapi bila dalam kondisi seperti tadi niscaya kelamaan celanya akan basah akibat cairan putih yang mengandung semen itu.


Setelah menyelsaikan hasratnya Ubaypun kembali dan melihat dua wanita berbeda generasi yang terdengar tengah bercanda ria, nampak Alika yang tengah menceritakan sesuatu hingga akhirnya tawa keras terlontar dari bibir neneknya.


Bersambung...