
Di tempat acara lelang berada berjenis jenis manusia hadir dari berbagai jenis kalangan, dari mulai pembesar negara, mafia, dan pengusaha besarpun ada.
Berbagai jenis manusia dari perusahaan yang berbeda beda pula telah datang termasuk Ubay, Ubay sendiri memang bukan pertama kalinya datang ke tempat tersebut namun dia sangat menyukai bagaimana sesi lelang di sana, yang mana saat melakukan pelelangan mereka tidak pernah curang namun saat acara itu usai maka tempat tersebutpun akan berubah menjadi medan perang.
Ubay yang memang memiliki banyak sekali kemampuan bela diri, bahkan kemampuan peringanan tubuh yang mana sering di gunakan orang orang zaman dahulu pun di kuasai olehnya, semua itu berkat pembelajaran yang di berikan sang nenek terhadapnya.
"Kita mendapatkan ruang VVIP tuan." Ucap seorang ajudan Ubay dan langsung di angguki pria tersebut.
Mereka berjalan pada sebuah ruangan megah nan mewah dengan memberikan pemandangan langsung ke arah sebuah monitor besar yang akan mempertontonkan barang barang yang akan di lelangkan.
Sebuah tombol untuk pengajuan dana dan penawaran pun tersedia, tempat itu kedap suara dan berubah sunyi setelahnya saat seorang pria membuka acara lelang megah tersebut, barang barang awal dengan harga yang cukup rendah pun di keluarkan hingga akhirnya sesi lima barang terakhir yang mana menjadi salah satu incaran dari para investor pun di keluarkan.
Barang yang pertama merupakan sebuah lukisan yang begitu legendaris dan hanya ada satu di dunia yang jatuh ke tangan salah satu investor berduit tebal.
Barang ke dua yaitu sebuah materai istimewa yang hanya ada satu di dunia dan berhasil jatuh pada tangan seorang pembesar negara yang menginginkan benda tersebut untuk keperluan kenegaraan dan sebagai kepemilikan negara atas materai tersebut dan biasanya mereka akan menaruh barang tersebut di sebuah musium negara.
Beberapa orang nampak berbisik mencari informasi siapa yang menempati ruangan VVIP yang terlihat pasif dan belum mengajukan satupun penawaran akan barang barang yang di tawarkan.
Hingga akhirnya di sesi ke tiga di mana barang yang di lelang merupakan sebuah kujang yang memiliki nilai legendaris, semua orang menyepelekan barang tersebut kecuali Ubay yang mana tujuannya datang ke tempat tersebut adalah demi kujang sang nenek yang mana kini muncul dalam acara pelelangan.
Tanpa rasa ragu Ubay mengajukan penawaran dengan harga tertinggi hingga membuat beberapa orang nampak terpaku dengan penawaran tersebut, beberapa pengamat memang mengatakan bila dalam kujang tersebut terselip nilai historis yang sangat tinggi, terlihat dari ukiran dalam kujang tersebut yang berisi sandi sandi yang para pengamat sendiri tidak faham akan maksud hal tersebut.
"Siapa yang berani menawar benda aneh itu dengan harga setinggi itu?" Tanya salah seorang penghuni ruangan lelang.
Sistem pelelangan yang tidak menyebutkan identitas namun hanya memberikan informasi mengenai ruangan itupun berubah gempar seketika saat mengetahui penghuni ruang VVIP lah yang menawar benda aneh tersebut.
"Aku kira dia buta, jelas bila benda itu tidak berguna tapi malah menawar dengan harga tidak terduga, kebodohan yang amat sia sia." Ucap salah satu penghuni ruangan lain.
Mungkin beberapa penghuni merasa syok akan kejadian tersebut, dan ingin menawar lebih tinggi akan benda tersebut, namun melihat ruangan yang di tempati Ubay membuat semua orang ragu untuk menyinggung orang besar tersebut.
Kujang tersebutpun berhasil di dapatkan Ubay hanya dengan satu kali penawaran dan tidak memberi celah pada siapapun untuk kembali menawar.
Hingga tiba barang ke dua berupa mahkota indah dari seorang raja yang kerajaannya sudah menghilang di telan lautan.
Orang orang yang melakukan ekspedisi untuk menemukan kota yang hilang itupun ikut menghilang, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tempat tersebut, bahkan beberapa robot ekspedisi yang di kirimkan pun ikut menghilang.
Hanya mahkota itu dan sebuah cincin legendaris yang yang dapat mereka temukan dengan cara yang terbilang extrim yaitu mereka mengirimkan hampir seribu robot ekspedisi dan hanya satu yang berhasil kembali, itupun kondisinya tidak baik baik saja.
Ubay sama sekali tidak tertarik pada kedua benda tersebut, dan saat mahkota itu di tawarkan, Ubay sama sekali tidak melakukan penawaran dan membiarkan benda itu dimiliki orang lain.
Namun saat benda terakhir muncul yaitu berupa sebuah cincin yang indah dengan detail elegan dan mempesona dengan batu mulia yang entah apa namanya hati Ubay jadi tergugah.
"Berapa sisa uang yang kita bawa?" Tanya ubay pada salah satu ajudannya.
"Yang kita bawa tersisa 50 milyar dolar tuan muda." Jawab salah satu ajudannya dan di angguki Ubay setelahnya.
Dia memperhatikan para penawar yang bersaing mendapatkan cincin tersebut, namun di detik detik terakhir ubay memberikan penawaran dengan dua kali lipat harga terakhir yang di tawarkan hingga akhirnya cincin itupun berhasil di milikinya.
.........
Seorang pria dari acara lelang nampak memberikan dua barang yang di beli Ubay dan tersenyum sekilas, Ubay sekilas melihat cuicin yang melingkari jari manisnya dan kemudian tersenyum menatap cincin dengan harga selangit dengan kotak berupa berlian yang kini ada di hadapannya.
"Aku membeli barang yang setimpal untukmu gadis kecil." Bisik Ubay mengambil cincin tersebut dan menyakuinya, sedangkan kotak yang dia bawa dia berikan pada salah satu ajudannya.
"Jual ini untuk makan malam." Ucap Ubay berjalan menuju ke luar ruangan nampak beberapa orang yang sudah mulai waspada, karena sudah jadi bahan biasa bila pencurian setelah pelelangan itu sering terjadi.
Ubay melihat sekilas helikopternya yang sudah siap menjemput, namun bukanlah perkara mudah baginya sampai pada helikopter tersebut karena sempat beberapa kali pencuri ulung siap mencuri barang barang Ubay.
Namun Ubay yang sangat terlatih dengan hal tersebut langsung menyadarinya memberikan sebuah hadiah berupa sebuah cairan kimia yang sengaja Ubay sembunyikan dalam jarum kecil yang selalu dia bawa ke manapun.
Ubay berhasil memasuki helikopter, namun saat dirinya dan para ajudannya lepas landas dari pulau tersebut sebuah rudal melayang menghantam capung besi yang mereka tunggangi.
Bukan Ubay namanya bila segala sesuatu tidak di persiapkan, Ubay diam diam sudah melakukan rencana cadangan karena di bawah sana sebuah perahu karet dan seorang penembak jitu sudah siap menyambut Ubay.
Ubay tersenyum sekilas saat helikopternya meledak dan dirinya bersama para ajudannya menjatuhkan diri ke laut dengan mereka sengaja, dan menaiki perahu karet.
Penembak jitu yang sudah di siapkan Ubay langsung menembaki beberapa orang yang memegang rudal dan senjata api, seorang ajudan Ubay langsung menyalakan mesin pada perahu tersebut dan melesat membelah lautan malam dan sampai di sebrang dengan selamat.
"Itu tadi sangat berbahaya!" Ucap penembak jitu membuka pelindung kepala dan kacamata sebelah yang semula dia kenakan.
"Dokter kita sedang melakukan malam pertama, bagaimana bila sesuatu terjadi pada kita bay?" Pria tersebut menghembuskan nafasnya kasar.
Bersambung...