
Lembah yang indah dengan sungai yang menuruni bukit bebatuan dan air terjun yang mengalir memberikan kesan keindahan, seorang bocah nampak berusaha belajar berdiri dan berjalan meski beberapa kali bocah itu terjatuh, namun dia tidak menyerah dan kembali berjuang bangkit dan melangkah kembali.
"Aku dimana?" bisik Alika menatap dirinya yang bergaun putih dalam pantulan air sungai, pemandangan sekelilingnya berubah menjadi dua orang insan yang tengah berlarian dan saling mengejar.
"Nenek, kakek!" lirih Alika menatap dua orang berwajah bak rembulan itu, Alika tersenyum simpul menatap bagaimana kebahagiaan mereka, Pemandangan kembali berubah menampakkan nenenk Zahra yang tengah mengandung dan berperut besar tengah tertidur di pangkuan kakeknya.
Alika menatap bagaimana kemesraan mereka, dua wajah yang menawan itu perlahan memudar dan berganti dengan dua sosok yang begitu cantik dan tampan, keduanya nampak berpelukan dan melambaikan tangan pada Alika hingga akhirnya menghilang dalam sekejap mata.
"Kakek, nenek." lirih Alika dalam isaknya dan perlahan membuka mata menatap langit langit kamar yang selalu di tempatinya dulu. Nampak seorang wanita berhijab besar tengah menjaganya.
"Sudah sadar nak!" ucap wanita itu tersenyum simpul dan menatapnya penuh ramah.
"Bu lurah!" bisik Alika berusaha bangkit dari tidurnya, dia menatap sekeliling mencari orang yang sudah memberinya pelukan hati ini, namun dia tidak menemukan orang itu.
"Dia..dimana?" lirih Alika, hingga sebuah anggukan dari Bu Lurah mengerti, Bu Lurah bergegas keluar kamar dan melihat sekeliling, hingga pandangannya merujuk pada pria dengan kemeja putih yang nampak menerima layatan dari para warga desa, Bu Lurah mendekat ke arah Ubay dan dengan sedikit berbisik Bu Lurah berucap.
"Nak, Alika sudah sadar dia mencarimu tadi! Sudah biarkan di sini ibu yang tangani!" ucap Bu Lurah dan dengan sekejap Ubay mengangguk dan berlari ke lantai dua memasuki kamar Alika.
Nampak Alika yang sudah jauh lebih tenang dan masih dalam kondisi menangis, Ubay menatap Alika lekat dan duduk di tepi ranjang. Dengan lembut Ubay mengusap rambut Alika dan akhirnya Alikapun menatap dirinya dengan mata sembab dan wajah yang nampak pucat.
"Terimakasih." lirih Alika berusaha tersenyum paksa, namun Ubay faham dalam kondisinya dia tersenyum berusaha membalas senyuman Alika dengan senyum simpul.
"Bila ini milikmu, aku kembalikan. Maaf aku tidak layak untukmu!" ucap Alika melepaskan cincin dari jari manisnya dan menyodorkan cincin itu ke hadapan Ubay.
"Bila kamu tidak layak, maka tidak akan ada wanita lagi yang di sebut layak di dunia ini. Ini pilihanku dan aku sangat berharap kamu mau mendampinhiku dalam suka dukaku menghabiskan sisa hidup kita bersama!" ucap Ubay memakaikan kembali cincin tersebut di jari manis Alika di lengan kanannya.
Alika tidak menjawab ucapan Ubay, dia menghamburkan tubuhnya dalam dekapan pria itu merasakan kenyaman yang selalu dia cari selama ini, Alika menumpahkan air matanya dan kembali mendengarkan detakan jantung Ubay yang begitu menenagkan.
Adit melintasi kamar Alika untuk melihat Anaknya Raisa yang tengah terlelap di kamar sebelah, pintu kamar Alika yang terbuka dapat dia lihat bagaiaman Alika dan Ubay yang kini nampak saling mencurahkan kasih sayang, Adit tersenyum sekilas meski air matanya masih mengalir, dia menutup pintu kamar Alika hingga akhirnya mampu menyadarkan Alika dan Ubay yang masih dalam pelukan.
"Hmmm, ah sudah jangan nangis ya? Kamu harus kuat!" ucap Ubay mengusap air mata Alika, hingga akhirnya Alika mengangguk dan berusaha tersenyum tulus.
Nenek dan kakeknya mungkin sudah bahagia selayaknya dalam mimpi Alika, dan mungkin juga kini nenek dan kakeknya berada dalam keabadian dan menikmati keindahan dunia alam barzah.
"Ayo turun, nenek dan kakek kita akan di semayamkan di sebuah pemakaman di tempat yang agak jauh!" ucap Ubay yang mana dirinya sudah melihat area pemakaman yang sudah di amanahkan kepada seorang ustad bila dirinya ingin di kuburkan di samping sebuah pemakaman.
Alika mengangguk mengerti, dia menatap wajah Ubay yang nampak terus berusaha menguatkannya, untuk pertama kalinya Alika mengusap pipi Ubay yang terasa begitu lembut, Ubay merasakan sentuhan lembut itu dan menggenggam tangan Alika meresapi setiap desiran cinta dalam tubuhnya.
"Pemakaman yang berada di samping kakekku itu adalah makam dari kakek buyutmu, dan ayah dari nenek Kejora." ucap Alika sontak saja mata Ubay membulat mendapatkan ucapan Alika, dia menatap mata yang kini nampak bersinar menatapnya.
"Buyut? Tapi, sudah sangat lama nenek mencari keberadaan kakek buyut dan tidak pernah di temukan, jadi?" ubay terpaku menatap Alika.
"Wah, benarkah?" Ubay merasakn sesuatu yang terasa plong, meski orang yang dia cari sudah tidak ada dan itu tandanya yang mengerti makna kujang itupun sudah tidak ada, namun hatinya merasa tenang karena setidaknya dia bisa menemukan pemakaman ayah dari neneknya yang selalu di cari nenek Kejora selama ini.
"Bener, tapi sial! Alik malah jadi penggemar beratnya sekarang, dan Alik jadi kangen banget di marahin sama kakek Jajang." ucap Alika berusaha ikhlas dengan semua yang sudah terjadi.
"Hmm, ayo nanti ceritanya lanjutin, sekarang ganti baju dulu, masa iya mau kepemakaman pake piama." ucap Ubay dan di angguki Alika.
"Kenapa masih diam?" tanya Ubay menatap Alika yang nasih terpaku.
"Belum halal loh! Belum boleh ngintip!" ucap Alika menunjuk jari telunjuknya ke arah hidung Ubay.
"Iya, aku keluar dulu!" ucap Ubay berjalan keluar kamar, dada Ubay seakan berdetak lebih kencang saat mengungat hal yang baru saja dia lalui, benda di balik celanya sudah menegang sejak tadi, apa lagi saat dada alika berhimpitan menyentuh dadanya yang bidang, semua itu mempu membangkitkan dunia indah milik Ubay.
Rona merah terpancar dari wajah Ubay, merasakan detakan hebat di dadanya, hingga akhirnya seorang pria keluar dari kamar sebelah Alika memangku Raisa yang sudah bangun.
"Gimana Alik?" tanya Adit menatap wajah Ubay yang kini nampak merona dan berbunga bunga.
"Dia baik baik saja sekarang, kamu tidak perlu khawatir tentangnya." ucap Ubay meyakinkan calon kakak iparnya itu.
Tak lama Alika keluar kamar dengan abaya hitam dan kerudung senada, Alika melihat Raisa yang nampak menggemaskan dan tersenyum simpul.
"Ica sama kakak dulu ya! Papahnya pasti repot!" ucap Alika memangku Raisa kecil dan berusaha membuat gadis kecil itu nyaman.
"Kamu baik baik aja de?" tanya Adit menyerahkan Raisa pada Alika, Alika menjawab pertanyaan Adit dengan anggukan dan tersenyum kemudian menatap Ubay.
"Ica sama kakak aja ya, kakak Aliknya sedang sakit, oke!" ajak Ubay memberikan dua sodoran tangan pada Raisa namun tidak di sambut baik oleh Raisa dan lebih memilih memeluk erat Alika.
"Ica gak mau, biar Ica sama aku aja, aku mau minta tolong sama kamu untuk membantu menggotong keranda, dan kakek." ucap Alika menyentuh tangan kanan Ubay dan di angguki pria itu.
"Iya sayang, ayo turun!" ajak lagi Ubay menggenggam tangan Alika dan berjalan menuju ruang bawah dan nampak orang orang yang tengah membaca suroh yaasin.
"Alik sedang datang bulan, jadi Alik tidak bisa ikut turut ke pemakaman, bisa minta tolong menebarkan bunga atas nama Alik." ucap Alika lagi saat berada di tangga.
Ubay mengangguk faham dan tersenyum simpul setelnya mengusap tangan Alika oleh jari jempolnya yang kini berada dalam genggamannya.
"Tentu sayang!" ucap Ubay lagi dan berjalan keluar rumah melepaskan genggaman tangannya pada Alika, Alika berjalan ke arah para perempuan yang tengah berkumpul. Meski dia tidak membaca suroh yaasin karena sedang datang bulan tapi dia mampu memberi kekuatan pada ibunya yang kini tengah menangis.
Bersambung...