BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB--9



Autor pov


“apa Anda adalah temannya nona Irene?” Andrea menghampiri seorang wanita yang sedang duduk sendirian di halte bus. Dia sudah mengintai sejak tadi gadis pendek yang menggunakan baju bercorak bunga-bunga dan celana jeans yang ketinggalan zaman itu.


 


Gadis itu viola Anggaini, wanita yang di perintahkan tuan aldiannya untuk di culik. Namun karena malas menculik wanita yang tampaknya akan suka rela mengikutinya. Membuat Andrea akhirnya menghampirinya. Dari mana ia tahu semua itu? Itu karena dia menyelidiki CV gadis itu yang nampak absurd, dimana di tuliskan di akhir bagian lampiran, dia menuliskan sesuatu seperti....


 


‘ingin menjadi pengantin ANDREA PRAMATA’


 


Dan tentu saja ini memudahkan tugasnya, daripada merumitkan diri menculik gadis itu, dengan memasukkannya dalam karung, lebih baik pakai cara aman.


 


Viola, menolehkan kepalanya, gadis itu tak menyembunyikan ekspresi terkejutnya, matanya membulat dan mulutnya ternganga. Bahkan gadis itu segera berdiri mensejajarkan diri dengan Andrea, namun sayang tingginya tidak mencapai-hanya sampai di batas dada dan juga perut Andrea. Ini kesialan gen-batinnya.


 


Namun untuk melihat wajah Andrea lebih dekat dia mendongakkan kepala ke atas, mempertemukan wajahnya dengan Andrea.


 


“kau benar-benar cantik dan tampan!” katanya histeris sembari ingin memeluk Andrea, namun urung karena melihat wajah dingin pria itu yang tidak ingin di sentuh.


 


“nona apa nona adalah teman nona Irene?” tanya Andrea sekali lagi.


 


Viola menganggukkan kepalanya seperti anak kecil yang menginginkan permen. Di tatapnya lagi lelaki yang ada di depannya dengan tatapan berbinar penuh harap-harap diberikan fans service oleh lelaki cantik yang sudah lama ia idolakan.


 


Andrea yang melihat ekspresi menjijikkan viola hanya bisa menahan wajahnya agar tetap bisa senormal mungkin. Dia tidak ingin menunjukkan wajah bencinya pada gadis itu dan membuatnya takut kemudian lari. Itu tidak akan menyelesaikan misinya kali ini.


 


“kalau memang begitu apakah Anda bisa ikut saya menemui tuan Aldian, beliau ingin menanyakan sesuatu mengenai nona Irene”


 


“hmm... tuan Aldian ingin menemuiku?”


 


‘kenapa kau tidak mengatakan iya saja’ kesal Andrea dalam hati, untuk menahan kejengkelannya, dia berdehem dan itu membuat viola kembali melihat Andrea, di miringkannya kepalanya sembari memperhatikan Andrea sedikit lebih dekat. ‘wah...dilihat darimanapun dia benar-benar tampan!’ gumam viola di dalam hatinya.


 


“tuan Aldian akan mentraktir Anda makan makanan mewah di sebuah restoran bintang lima” ujar Andrea lagi, membujuk. Dan sekarang ia menyesali keputusannya untuk menculik gadis ini baik-baik.


 


“baik, aku akan pergi, tapi ada satu syarat” ujar viola menampilkan senyum menggodanya.


 


Andrea yang mendengar itu mengepalkan tangannya erat. Tatapannya berubah tajam dan menakutkan. Inilah kenapa dia benci di kelilingi oleh wanita, mulanya mereka akan mengelilinginya, hanya karena wajahnya, kemudian itu berubah menjadi hal yang ekstrim sampai pada menginginkan dirinya seutuhnya. Bukankah itu mengerikan? Jika wanita-wanita itu akan mengambil kebebasannya. Itulah yang selalu terjadi pada diri Andrea sampai saat ini, di tambah lagi trauma masa remajanya, yang dipenuhi kegelapan. Membuat dia mengantisipasi untuk tidak terlalu dekat dengan yang namanya kaum hawa tersebut.


 


Andrea kembali menormalkan ekspresinya ketika dia melihat viola melangkah mundur menjauhinya, senyuman tipis ia berikan pada gadis itu. Setidaknya dia ingin tahu syarat apa yang akan di ajukan wanita ini untuk ia lakukan. Ya... Andrea hanya akan mendengarnya saja, jika gadis itu mengajukan syarat yang sama dengan yang ia pikirkan, maka dia benar-benar akan memasukkan gadis itu ke dalam bagasi mobilnya.


 


“silakan nona” ujar Andrea sembari membungkukkan kepalanya sedikit.


 


Viola yang tadinya mulai takut ketika melihat perubahan ekspresi Andrea, berubah senang ketika lelaki itu memperbolehkannya mengajukan syarat.


 


“terima kasih! Kalau begitu.... sebentar....” kata viola dengan penuh semangat. Dia melirik tasnya dan langsung mengambil sesuatu dari dalam tas besar kuliahnya yang padat.


 


 


Viola kembali berdiri tepat di depan Andrea dan menyodorkan boneka tersebut padanya.


 


“to-tolong terima hadiah dariku tuan! Aku sangat berharap kau menerimanya! Sebenarnya aku tidak bermaksud lancang mengajukan syarat seperti itu, tapi, aku melihat kesempatan bagus seperti ini untuk memberikanmu hadiah.... tolong terima ini, hanya itu syarat dariku” kata viola bersemangat, namun ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi malunya . dia bahkan tidak berani untuk menatap wajah Andrea, tatapannya hanya jatuh pada pijakkan semen yang ada di bawah kakinya.


 


Berselang beberapa menit, viola tidak mendapatkan respon apa pun dan itu membuatnya mengeluarkan keringat takut... apa dia akan dimarahi? Karena jujur hadiahnya tidak bisa dibilang mahal dan berharga, bahkan dirinya yakin jika lelaki itu tidak membutuhkan boneka ini sama sekali... namun, hanya ini yang bisa ia berikan sebagai bentuk dari rasa suka dan cintanya pada idolanya...


 


“aku tahu jika hadiahku tidak mewah dan juga berharga-“


 


“aku akan menerimanya” kata Andrea sembari mengambil boneka beruang itu.


 


“terima kasih tuan!” viola tersenyum senang dan segera mengambil tasnya. Kemudian segera melangkah untuk memasuki mobil yang ada di depannya-yang pintunya sudah terbuka sejak tadi.


 


Meninggalkan Andrea yang sedang terpaku memperhatikan boneka beruang yang baru saja ia terima. Gadis itu tidak meminta nomornya... gadis itu tidak meminta pertemuan pribadi dengannya.... bahkan gadis itu tidak meminta dirinya untuk bersikap ramah padanya...


 


Tapi gadis itu memberinya sesuatu yang bahkan lebih murah dari pada kaos kakinya sendiri? Andrea memperhatikan lekat-lekat boneka beruang yang ada di tangannya, apa yang istimewa dari benda ini, sampai-sampai dia ingin menyimpannya?


 


***


 


“jadi nona viola, saya akan langsung pada intinya,” Aldian menatap serius pada gadis aneh di depannya. Dia sangat yakin jika Fashion gadis ini ketinggalan zaman sekali, lebih nampak kalau dia memakai pakaian yang ada di tahun 80-an... atau jangan-jangan gadis ini memakai pakaian neneknya sendiri?


 


Aldian segera mengenyahkan pikirannya tersebut dan kembali fokus. Kali ini dia memerintahkan Andrea untuk menculik gadis itu diam-diam. tapi sepertinya cara baik-baiklah yang dipikirkan Andrea, well dia tidak peduli akan hal itu, yang jelas dia harus mendapatkan informasi yang jelas dari gadis ini mengenai orang tua Irene- gadis yang sialnya membuatnya sibuk akhir-akhir ini.


 


“si-silakan tuan..’ kata viola takut-takut ketika tatapan Aldian seolah mengintimidasinya. Ketika dia hendak menurunkan pandangannya, lelaki itu malah menginstrupsinya untuk duduk tegap dan memperhatikan lawan bicara. Dia tahu itu... tapi, entah kenapa jika berhadapan dengan Aldian, tubuhnya seolah berat, bahkan untuk menegapkan badan saja.... sekarang viola mengerti bagaimana tersiksanya Irene-temannya itu.


 


“apa Anda tahu siapa orang tua dari Irene arabella?” tanya Aldian yang kali ini menautkan jemarinya di atas meja sembari mencondongkan tubuhnya mengintimidasi. Kali ini dia sedang menginterogasi viola. Sampai saat ini penyelidikan mengenai orang tua Irene seolah dibuat palsu, dia tahu itu dari dokumen kartu keluarga yang terdaftar di pemerintahan tidak sesuai dengan hasil penyelidikannya setelah bertanya langsung ke lapangan.


 


Entah kenapa itu bisa terjadi, yang jelas, hal seperti ini tidak mungkin dibiarkan salah, dan hanya satu hal yang bisa mungkin terjadi... yaitu pemalsuan data.


 


“sa-saya juga tidak tahu tuan”


 


“Anda yakin? Nona Irene tidak pernah menceritakan sesuatu mengenai keluarganya?” tanya Aldian lagi memastikan, dan akhirnya dia hanya bisa menghembuskan nafas kesal karena viola mengangguk yakin dengan penuh ketakutan.


 


“maaf sudah mengganggu waktu Anda, sekretaris saya akan mengantarkan Anda pulang, sebelum itu silakan nikmati makanan yang tersaji” kata Aldian dingin dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan VIP tersebut.


 


Kemana dia harus menanyakan informasi mengenai orang tua Irene? Bahkan sudah dua minggu lamanya ia menunggu perkembangan, namun semua cara tetap menemui jalan buntu. Jika dia menanyakan langsung ke rumah gadis itu... itu hanya akan membuat wanita keras kepala itu waspada dan mengacaukan rencananya.


 


Kenapa mencari data seorang wanita biasa sesusah ini? Gumam Aldian pada dirinya sendiri.