
Irene pov
“Aldian! Itu sakit!” aku memberontak sebiasa mungkin seiring Aldian menyeret tubuhku semakin cepat dan kuat.
Aku bahkan tidak bisa berpikir jernih lagi ketika Aldian malah membawa tubuhku ke dalam apartemennya dengan paksa dan kasar. Apa yang akan dia lakukan? Apa mungkin karena tindakan kasarku pagi ini yang membuatnya melakukan ini? Atau karena kak Kris?
Brak!
Aku memejamkan mata ketika Aldian menutup pintu itu dengan kasar hingga suara nya memekakkan telinga. Aku takut dengan lelaki ini bahkan jauh lebih takut di banding menghadapi Fikri waktu itu.
“ke-kenapa kau marah?” aku tergagap ketika Aldian sudah melepaskan cengkraman tangannya. Tubuhku refleks mundur ketika kulihat Aldian sudah menatapku dengan wajah seram itu. Bahkan kali ini pun tanganku sudah gemetar ketakutan. Ke mana semua nyaliku yang selama ini ku banggakan di depannya?
Aku ciut begitu saja hanya karena tatapan Aldian yang menyeramkan itu.
“Kenapa kau mundur? Apa kau takut Irene?”
Aku menggigit bibirku takut sembari terus mundur. Walaupun Aldian tidak melangkah mendekat sama sekali, tapi tetap saja aku merasakan jika tatapannya itu menyuruhku untuk lari.
Aku tahu saat ini ketakutanku memuncak, bahkan air mataku ingin keluar. Namun aku harus kuat, aku harus lari? Benarkah?
Dengan menelan ludah susah payah, aku menghitung dalam hati, dan ketika sudah hitungan ke 5, aku langsung berlari menuju kamar Aldian. Kemudian menguncinya dari dalam.
Dan seketika itu juga tubuhku luruh. Aldian yang hari ini, bukan Aldian yang biasanya ku kenal. Ekspresi Aldian yang barusan. Tatapannya dan juga... Aku melihat senyum tipis dan dingin itu mengandung makna lain.
Aku tidak bisa mengerti semua ini?!
Tok
Tok
“Irene... Sebaiknya buka pintu ini, aku ingin berbicara denganmu”
Aku menggelengkan kepala penuh rasa takut. Tidak mungkin aku akan membukakan pintu agar pria itu masuk.
“Irene.... Jika kamu tidak membukanya, aku akan mendobrak pintu ini secara paksa”
Aku mengerutkan kening ketika mendengar penuturan Aldian. Dan benar saja, aku merasakan jika pintu ini sedikit bergerak. Dengan cepat aku langsung bangkit dan menjauh dari sandaranku pada pintu kamar itu. Tidak mungkinkan jika Aldian benar-benar mendobraknya?
Brak
Brak
Aku membulatkan mata ketika suara gebrakan itu semakin terdengar keras.
Brak!
“Al...Aldian” aku terkejut bukan main ketika benar saja pintu kayu tebal itu berhasil ia terobos begitu saja. Namun sialnya, ketakutanku tidak sampai di sini saja.
Aku melihat Aldian sudah melepas jasnya dan menampilkan kemeja putih kerja pria itu. Bahkan kali ini dengan tatapannya yang sedari tadi mengganggu pikiranku. Kulihat jika Aldian mulai mendekat sembari menggulung lengan kemejanya sesikut. Kakiku yang semenjak tadi melangkah mundur....
Kemudian kaku ketika melihat ke belakang, karena sudah tidak ada lagi jalan untuk kabur. Tubuhku sudah sampai pada pintu kaca yang terkunci rapat.
“apa kau akan menyakitiku?” tanyaku mulai memberanikan diri untuk menantang Aldian. Apa mungkin pria itu akan melayangkan tangannya padaku?
“aku tidak akan menyakitimu, Irene, karena kau milikku” aku tersentak dengan perkataan Aldian barusan. Tapi masih mau menguasai diri, aku menyadarkan diriku. Serta mulai mencerna perkataan pria ini.
Namun sialnya pria itu hanya melihatku dengan tatapan itu lagi dan wajah datar yang di penuhi aura yang dingin dan mencekam.
“kau tau sekarang aku sedang marah Irene? Aku sudah bersabar ketika kejadian yang melibatkan pria bajingan itu, namun sekarang ada pria lain yang ada di pikiranmu?”
“ja-jangan mendekat!” bentakku padanya ketika Aldian mulai melangkah lagi. Dan sialnya dia tetap memojokkanku. Alhasil....
“kau gadis kecil yang benar-benar berani.... Karena itulah aku menyukaimu”
Aldian sudah berada berdiri kokoh di depanku. Aku menelan ludah susah payah ketika kulihat dia dari dekat seperti ini. “Aku bukan milik siapa pun” tegasku padanya.
“kau sudah milikku sejak hari itu Irene, dan aku benci berbagi dengan pria mana pun” tubuhku merinding ketika dengan lancangnya Aldian mulai menyentuh pinggangku.
Dan ketika aku ingin menyentuh tangannya agar bisa segera melepaskan diri... Aldian malah mengeratkan tangannya dan mengunci tubuhku dalam kungkungannya.
“Aku sudah tau jika kau tidak ada bedanya dengan pria pria bajingan itu” ujarku dingin sembari memalingkan wajahku darinya. Aku tidak sudi untuk melihat wajah tampan dan menggoda itu.
Aku kecewa pada Aldian... Dimana di saat aku sudah ingin percaya padanya dan menganggap dia seorang pria baik-mungkin saja kami bisa berteman di masa yang akan datang.
Namun... Secepat inikah aku tahu siapa dia sebenarnya? Semua perhatian yang dia tujukan padaku? Itu semua hanya untuk membuatku nyaman dan akhirnya... Dia bisa mendapatkan tubuhku?
“kau tidak tahu seberapa besar aku menginginkanmu”
***
Author pov
Aldian mengetatkan rahang menahan diri untuk tidak terbawa nafsu bejatnya. Melihat Irene.... Yang memalingkan muka, namun tanpa di sadari gadis itu, dia memperlihatkan leher menggoda itu.
Bahkan ke mana perginya amarah Aldian yang menggebu-gebu sejak tadi. Sialnya lagi, hanya karena melihat Irene seperti ini. Amarahnya langsung pergi entah ke mana.
Aldian tau jika Irene ketakutan karenanya. Kali ini dia benar benar kehilangan kontrol dirinya karena hasutan Rianto. Entah kenapa melihat seorang pria mendekati Irene dan mendengar langsung dia menyatakan rasa sukanya pada Irene.
Terlebih lagi, pria itu dengan lancang menarik lengan Irene. Hanya Aldian yang boleh melakukan itu, hanya Aldian yang bisa menyentuh Irene. Tidak dengan pria lain.
“kau tidak tahu seberapa besar aku menginginkanmu” Aldian berbisik tepat di depan telinga Irene. Dengan sengaja pria itu semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Irene dan menghembuskan nafas panasnya di kulit leher gadis nya yang putih. Membuat Irene merinding dan langsung membeku.
“aku benar-benar ingin mengurungmu di sini” Aldian menggeram dengan menampilkan giginya.
Dia bahkan harus memejamkan mata untuk lebih bisa tenang dari ini. Kalau tidak, nafsunya untuk memotong semua jari pria yang sempat menyentuh Irene tadi... Kembali menggebu.
Aldian kali ini meremas pinggang Irene dengan kekuatannya. Dia masih tidak rela dengan kejadian tadi. Dan pikirannya berkecamuk dan kacau ke mana-mana. Bagaimana jika Irene menyukai pria itu di banding dirinya?
Bahkan Aldian tidak suka membayangkan jika mereka bertemu kembali. Apa yang harus ia lakukan agar Irene tidak bertemu dengan pria itu? Apa dia harus membunuhnya?
Melenyapkan pria itu memanglah semudah membalikkan telapak tangan. Tapi untuk sekarang dia tidak bisa bergerak untuk melakukan hal yang dia suka. Karena itu perintah dari daddynya.
“aku benar-benar ingin melenyapkan setiap pria yang pernah menyentuhmu” kata Aldian dengan nada keluhan yang panjang. Dirinya berakhir hanya menyandarkan kepalanya yang masih di penuhi kemarahan di pundak Irene.
Dia menyesal membuat Irene ketakutan, namun mau bagaimana lagi. Kecemburuannya pada lelaki yang menyentuh Irene sampai membuat Aldian tidak bisa berpikir jernih.