
Nada melihat gelagat Irene yang tidak biasa selama seminggu ini. Semenjak gadis itu masuk kerja hingga sekarang, Irene terlihat pincang dan tidak berjalan dengan normal.
Nada memang sudah bertanya, dan katanya kaki Irene sedikit terluka karena menjatuhkan gelas. Dia mengatakan itu tanpa menatap wajah nada sama sekali dan itu membuat nada mengira jika bisa saja Irene terluka bukan karena kecerobohannya. Tapi karena dilukai seseorang?
Yang jelas nada sudah melaporkan hal ini pada manajernya. Jadi dia tidak akan di marahi seperti beberapa waktu yang lalu. Karena tidak mengatakan tangan Irene ketumpahan air panas.
Nada kembali memfokuskan dirinya menatap tingkah Irene yang ramah pada pengunjung cafe. Sesekali ia juga melihat dan mendengar tuturan terima kasih beberapa orang karena Irene melayani mereka dengan baik.
“nada... aku sudah selesai,” ucap Irene tersenyum mendekati nada.
Nada ikut tersenyum membalasnya.
“ya udah lo berangkat gih sekarang” nada mulai berakting memarahi Irene dan mendorong Irene perlahan menuju pintu keluar dan menutupnya langsung.
Irene hanya bisa sedikit menggelengkan kepalanya dan memakai tas selempang kecil yang sempat di sodorkan nada tadi. Langkah kakinya yang berjalan pelan, mulai menembus keramaian. Walaupun kakinya sedikit sakit , tapi syukur dia masih bisa jalan.
Luka yang di sebabkan dahlia waktu itu memang ada di bagian pergelangan dan punggung kakinya. Namun itu tidak akan menghambat gadis kecil itu untuk berjala hanya menyusuri jalan setapak kecil ini. Dia harus naik angkot agar bisa sampai ke kampus tepat waktu.
***
Irene pov
Hari ini berbeda.... aku bisa merasakan tatapan menusuk dari beberapa orang yang berlalu lalang di sekitarku. Bahkan ada juga beberapa mahasiswi baik yang senior maupun junior membicarakanku terang-terangan.
“jalang itu ke kampus ini lagi? Bukankah sudah cukup banyak tempat sampah di dunia... dan kenapa kampus kita juga harus menampungnya?”
“dia wanita yang tidak tahu malu, bahkan setelah di campakkan oleh Aldian... dia masih berani menunjukkan wajahnya di sini?”
Apa? Aldian mencampakkanku? Untuk apa?
Sebenarnya gosip apa yang mereka bicarakan? Aku bisa menerima jika mereka mengatakan jika aku jalang murahan toh, aku bukan orang yang seperti itu... tapi... berita mengenai Aldian mencampakkanku?
Aku memang tidak bertemu Aldian 1 minggu terakhir. Lelaki itu juga tidak memberikan kabar pasti mengenai keberadaannya, tapi itu memang bukan urusanku! Aku baik-baik saja degan ke tidak hadirannya.
Tapi... kenapa ketika mendengar jika pria itu mencampakkanku dari mulut orang lain terasa sangat menyakitkan?
Aku goyah dan segera memegang dadaku karena dentuman detak jantung rasa sakit ini. Seperti di tusuk bilahan bambu berkali-kali, rasa sakitnya lebih mendalam dari yang kuduga.
Tidak! Aku tidak boleh bergantung dengan pria itu lagi. Walaupun pada akhirnya dia akan mencampakkanku, namun... ini terlalu cepat...
Aku seolah masih belum menerima semua hal yang ku dengar saat ini.
Hariku terlalu berat saat ini. Rumor mengenai Aldian mencampakkanku ternyata sudah sampai ke pihak media massa. Walaupun namaku jelas tidak di sebutkan sama sekali di sana, namun tetap saja bayak orang yang sudah mengira siapa gadis itu... dan nyatanya itu adalah aku.
Aku bertemu dengan viola tadi dan kami berbincang seperti biasanya. Dan viola memberi tahuku mengenai kabar ini.
Hari beratku berlalu ketika aku akhirnya bisa melepas penat di apartemen Aldian. Dan berbaring degan nyaman di atas kasurnya saat ini.
Satu minggu berlalu tanpa kabar dari pria itu. Bohong jika aku tidak merindukan sosok Aldian yang hangat dan jahil seperti biasanya. Hanya kesibukan kampus, kerja dan juga menjenguk mamalah yang bisa menghilangkan pikiranku dari bayang-bayang ketampanan pria itu.
Aldian yang selalu jahil memelukku dari belakang dan mengecup bagian leherku sembarangan.... pria itu memang selalu menyentuhku seenaknya, walaupun pada akhirnya dia akan berhenti setelah aku mengharapkan dia bertindak lebih.
Aku tahu jika dia sibuk karena mempersiapkan diri sebagai penerus perusahaan, tapi... apakah menelponku 5 menit saja untuk satu hari tidak bisa?
Setiap saat bahkan sebelum tidur aku hanya menggenggam Hp-ku untuk menunggu pria itu menelponku.
Tapi tidak ada sama sekali.
Bahkan... ketika saat ini air mataku mulai menggenang karena rasa sakit mengenai kabar Aldian membuangku-membuatku menatap langit-langit dengan pandangan yang kabur.... lalu aku hanya bisa mengakhiri hari ini akibat kelelahan karena perasaan yang bercampur aduk.
Dan kegelapan mulai menenggelamkan kesadaranku.
***
Ingat kaum adam, perasaan wanita itu begitu rapuh, perhatian sekecil apa pun yang kalian berikan pada mereka, akan menumbuhkan sebuah pohon harapan yang akan mengakar kuat di hati.
Buka karena baperan, tapi itu memanglah sebuah peran...
Peran wanita untuk selalu jatuh dalam setiap perhatian kalian.
Ingatlah... bukan karena perasaan wanita itu lemah, tapi memang itu takdir yang harus dibenarkan. Tuhan tidak menciptakan wanita untuk disakiti tapi untuk di sayangi. Tuhan tidak menciptakan wanita untuk menjadi tulang punggung, melainkan tulang rusuk.
***
Author pov
Seorang pria mengamati dalam kegelapan dan kesunyian malam, tubuh ringkih seorang gadis yang terlelap degan pulas sembari menggenggam ponsel pintarnya di atas ranjang besar itu. Ketika dia menelusuri satu-persatu tubuh indah wanita itu, matanya menangkap sesuatu yang janggal.
Pergelangan kaki gadis itu terbalut perban dengan tidak rapi, bahkan ada kulit kakinya yang nampak ungu kebiruan, seperti luka memar dan agak begkak.
Lelaki itu medudukan dirinya dengan perlahan, memposisikan diri melihat dengan jelas wajah cantik perempuan itu.
Rahangnya mulai mengeras dan membiarkan saja sudut bibirnya yang robek mengeluarkan darah. Tatapan pria itu mulai mendingin dan tetap memeriksa tubuh perempuan itu dengan jarak lebih dekat. Mulai dari wajah pias gadisnya yang nampak kesakitan, leher jenjangnya yang selalu nampak menggoda, sampai pada kaki perempuan itu.
Pria itu dengan sengaja menggulung sedikit celana tidur perempuan itu untuk memeriksa kaki gadis berharganya.
Syukurnya tidak ada luka lain yang serius, selain salah satu kaki gadisnya yang terbalut perban.
“Aldian?”