BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB--36



karin menatap garang pada aldian dan memeluk irene dengan sayang di elusnya rambut gadis itu.


kali ini irene sudah memakai pakaiannya yang patas dan begitu juga aldian yang memakai kaos dan celana panjangnya. sedangkan devan hanya diam saja menatap putranya itu dengan tatapan kecewa. ya, dia hanya kecewa karena aldian tak mampu menyembunyikan kelakuannya di depan karin. saat ini mereka berempat sedang duduk di ruang tamu aldian. dengan irene di sebelah karin dan aldian di dekat devan. melihat tingkah karin yang solah menyembunyikan irene dari aldian membuat devan tertawa kecil


"kenapa kau tertawa?!" geram karin pada devan. bukannya menasihati aldian, suaminya itu malah senyam senyum tidak jelas.


"sepertinya mom arus mengambil tindakan ini. sebelum hal yang kalian inginkan namun tidak mom inginkan terjadi,,, "


"apa maksud mom?" tanya aldian mulai tersentak dari duduknya.


mau tak mau karin menghembuskan nafasnya berat. "irene akan tinggal dengan mom dan untuk jaga-jaga, daddy kamu akan tinggal sama kamu di sini"


"tidak!"


"tidak mau mom!" jawab anak dan ayah itu serempak. membuat karin menatap datar keduanya.


"ini hanya sementara sampai waktu pernikahan di putuskan, pokoknya aku tidak mau tahu, devan, kau juga harus ikut andil di sini" geram karin tak mau di bantah. irene yang sejak tadi melihat karin hanya bisa menahan senyum, apa lagi melihat aldian dan daddynya yang sudah saling tatap tidak percaya.


beberapa detik irene menatap aldian, nyatanya pria itu juga balik menatapnya dengan aneh. Irene mengerutkan keningnya bingung ketika mulut aldian membentuk beberapa kata..


"permainan kita belum selesai"


setidaknya itulah yang di tangkap irene. membuat gadis itu membulatkan matanya. tapi padangannya segera dialihkan ke samping, karena tidak mau terus-terusan di tatap begitu oleh aldian.


***


perkataan karin memang dilaksanakan sebegitu apiknya. memisahkan aldian dan irene selama beberapa hari. dan karin puas dengan itu.


bukan hanya mendapat teman curhat, dia juga bisa berbagi penderitaan dan kebebasan antar perempuan bersama gadis itu. karena sikap aldian dan devan bagai pinang di belah dua.


"mom, aku sudah kenyang...." rengek irene karena sudah makan 2 porsi. ini adalah situasi yang tak pernah ia dapat dari mamanya. dimasakkan begini, dengan Karin yang selalu melayangkan senyum padanya.


Irene merasakan beginilah seharusnya kasih sayang ibu. tanpa ia sadari.... ternyata dia sudha terbiasa memanggil ibunya Aldian dengan sebutan mom...


"bagaimana keadaan mama kamu sayang?" tanya Karin tiba-tiba, membuat Irene menatap lesu pada piringnya yang kosong. namun senyuman pahit mulai mengembang di wajahnya.


"kabar mama baik mom, kemarin malampun juga begitu, menurut Irene, asal mama tidak bergantung lagi dengan pria itu, semuanya sudah membaik"


Karin mengerti perasaan Irene. walaupun Sinta belum mengenali gadis ini sebagai Irene. namun ketergantungan itu masih nampak, walau sudah agak berkurang. Karin yakin jika masih terselip sedih yang amat banyak di dada gadis itu karena tidak di kenali oleh ibunya sendiri.


"nanti malam mom temenin kamu ya, jenguk mama? boleh?"


"eh gk usah mom, malah merepotkan" tolak Irene segan. lagipun, dia juga sudah banyak merepotkan keluarga Aldian. bahkan untuk pergi kemana-mana sekarang selalu diantar oleh supir pribadi Karin. dengan dirinya dikaish tumpangan hidup gratis saja itu sudha cukup.


"kamu nggk perlu segan sayang, kamu kan calon menantu rumah ini"


"ta-tapi mom-" Irene tak sempat protes karena selanjutnya Karin menggenggam tangannya dan menatapnya dengan tatapan memohon. membuat hati Irene tambah tak enak lagi. alhasil gadis itu mengangguk menyetujui saja.


***


semuanya berjalan normal dan damai. tampak tak ada masalah lagi. kemudian kondisi kampus juga bisa dibilang lebih baik dari sebelumnya. Irene baru sadar ketika pengumuman dari rektor sekaligus ketua yayasan pendidikan di sini diganti. fasilitas kampus juga dilengkapi dengan lebih baik. ruang kantin, meja untuk mahasiswa serta ruang untuk dosen dibuat senyaman mungkin.


dan lebih bagusnya lagi, uang tunjangan siswa yang mendapat beasiswa juga di gandakan. membuat Irene dan viola senang bukan kepalang. duo gadis yang berbeda status finansial dengan kebanyakan mahasiswa di sana itu bahkan sempat tak percaya dengan pengumuman dadakan.


"apa sekarang aku bisa belanja baju dan tas mahal? aku bahkan tak sabar lagi!" teriak viola senang.


"kamu kan masih butuh uang untuk biaya adik kamu Vi..." protes Irene tak terima.


"oh, itu, hehe, bener juga" kata viola blak-blakan dan menghindari mata Irene.


cukup aneh, karena biasanya viola tak pernah menghindari tatapan matanya ... kecuali gadis itu ada yang disembunyikan?


Irene memicing penuh keraguan. "kamu sudha pacaran sama Andrea?"


"apa?!" teriak viola tiba-tiba hingga mmebuat orang-orang yang ada di koridor saat ini menatap mereka aneh.


wajah viola tiba-tiba memerah membuatnya mau tak mau menyeret irene pergi dari sana.


"nggak perlu teriak-teriak juga kali!" bisik rene namun masih dapat di dengar viola.


mereka akhirnya sampai dalam ruangan kelas yan masih kosong. segera viola mendudukkan dirinya. irene pun menatap violla aneh dan akhirnya duduk di samping gadis itu.


"apa menurutmu... "viola membuka pembiaran "aku cocok dengannya? setiap kali aku bertemu dengannya...aku merasakan kami itu jauh sekali berbeda" cicit viola denan tatapannya yang lurus ke depan.


"kenapa menanyakannya padaku?"


"karena aku merasa walaupun aku menyukai andrea, rasanya masih ada tembok yang membatasi kami"


irene mengerutkan keningnya berpikir sejenak. dia yakin jika hubungan temannya ini dengan andrea sudah sangat mulus di banding hubungannya dengan aldian. apa yang membuat viola ragu akan perasaannya?


"menurutmu bagaimana andrea itu"


"dia lebih banyak diam, dia juga selalu serius dan sangat tidak nyaman diajak bercanda, andrea juga banyak membantuku menyelesaikan masalahku selama ini"


tutur viola dengan wajahnya yang sedikit terseyum ketika mengingat pertemuannya dengan andrea.


irene yang melihat itupun ikut senang jika temanya menemukan pria baik seperti andrea. jika dibandingkan dengan aldian... mungkin jika aldian tidak mendekatinya, irene pasti akan jatuh hati juga pada pria itu.


"aku bersyukur kamu tahu perasaanmu vi..."


"aku memang suka pada andrea, tapi aku tidak tahu pperasaan lelaki itu, ada satu waktu ketika aku tahu dia perhatian padaku, namun ada juga waktu ketika aku merasakan dia menjauhiku" ujar viola sedih.


Irene hanya bisa melihat kesedihan itu Dimata viola. dia ingin membantu. tapi... apa yang harus Irene lakukan? bertanya langsung pada andrea mengenai perasaanya terhadap viola? itu mungkin akan terjadi jika Irene masih diantar jemput oleh Aldian.