BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB--15



Irene terpaku melihat wajah Aldian yang tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu sebelumnya.


 


Dengan mata yang seolah bersinar di kegelapan, serta ekspresi tenang yang tidak bisa ia baca sama sekali. Tanpa di sadari gadis itu, dia mulai berhenti bernafas dan mencoba mencerna jenis ekspresi apa yang di tunjukkan lelaki tampan yang masih bertelanjang dada, duduk di dekatnya.


 


Irene tahu jika kadang-kadang orang akan bercanda seperti aku akan membunuhnya, atau akan memasukkannya ke dalam got, setelah itu akan diakhiri candaan dan suara kikikkan akibat tertawa. Tapi... Situasinya dengan Aldian sekarang berbeda. Dia bisa merasakan keyakinan dan kesungguhan jika Aldian mungkin saja berani melakukan itu.


 


Membunuh?


 


“apa ada yang salah Irene?”


 


“Ti-tidak, aku... Hanya masih sedikit syok” cicit Irene mulai ketakutan. Dia menormalkan nafasnya seiring pergantian raut wajah Aldian yang sudah kembali normal.


 


Mereka berdua saling bertatapan, dengan Irene yang masih bingung dan takut, sedangkan Aldian... Pria itu mengamati wajah pias irene yang masih memerah karena habis menangis tadi.


 


Tangannya pria itu terulur ke depan, meraih wajah Irene. Dengan lembut dia mengusap pipi gadisnya. Ya, gadisnya, tentu saja, karena Aldian sudah mengklaim Irene sebagai salah satu miliknya.


 


Dia bisa merasakan getaran halus yang di buat tubuh Irene, dan itu membuat Aldian mengerutkan keningnya bingung, apa gadisnya masih trauma akan kejadian tadi? Dan kalau begitu sebagai seorang pemilik yang bertanggung jawab Aldian perlu membuat suasana hati Irene bagus bukan?


 


Dengan sekali tarikan, Aldian membuat Irene terkejut akibat jatuh dalam pelukan hangat pria itu.


 


Irene bisa merasakan punggungnya di sapu dengan halus dari atas sampai bawah, serta usapan menenangkan di kepalanya. Pria itu melakukan sesuatu yang manis dan membuat Irene mengulum senyum senang. Untuk pertama kalinya dia merasakan kehangatan seperti ini.


 


“bajingan itu masih membuatmu takut?” ujar Aldian dengan suara beratnya, membuat jantung gadis itu berdentum sangat keras hingga ia tak bisa menyembunyikan suara detaknya lagi.


 


Sebagai jawaban, gadis itu hanya menggeleng. Untuk sesaat.... Dia bisa melupakan masalah yang menimpanya. Hanya karena kehadiran Aldian... Menghiburnya seperti ini, membuatnya melupakan sedikit banyaknya masalah yang tengah ia hadapi.


 


“Kalau begitu tidurlah, aku akan ada di sini melindungimu” bisik Aldian tepat di telinga Irene.


 


Bagaikan nyanyian nina bobok yang sangat menggoda, Irene jatuh tertidur dalam kenyamanan yang di berikan aldian. Dia seperti tidak peduli lagi apa yang akan di katakan orang-orang, dan bagaimana nasibnya nanti jika aldian sudah bosan bermain kasih-sayang dengannya.


 


Dan jika itu terjadi.... Irene sudah mempersiapkan diri untuk terluka. Karena dia sadar, pria itu bisa mendapatkan apa pun, apa lagi membuang sampah yang tidak lagi berguna....


 


Intinya... Dia akan menanggung berbagai risiko yang akan merugikan hati dan jiwanya sendiri.


 


***


 


“sudah bangun?”


 


Irene mengucek kedua matanya ketika merasakan sengatan cahaya matahari yang menyilaukan langsung menusuk.


 


Gadis itu mendudukkan diri di atas ranjang besar itu. Dilihatnya seorang pria tampan yang berdiri di ambang pintu masuk kamar itu dengan baju kaos abu-abu yang ketat serta celana jeans kebesaran selutut-yang membuatnya sangat tampan dalam pakaian santai itu.


 


Irene sedikit terperangah dengan nasibnya yang kali ini menguji hatinya untuk tidak jatuh dalam pesona Aldian. Dengan wajah dan tubuh seperti itu, hanya wanita buta yang tidak akan tertarik dengannya.


 


“Selamat pagi”


 


“Sebenarnya ini sudah jam 11 siang” jawab Aldian menampilkan senyum menggodanya, mau tidak mau Irene harus merasakan kembali debaran jantungnya yang kembali berulah. Hell! Pria itu punya pesona seorang malaikat!


 


“a-aku ingin mandi! Kau keluarlah!” teriak Irene dengan segera memalingkan wajahnya yang sudah memanas. Jadi... Dia tidur terlalu nyenyak di sini!


 


 


Dia tahu jika gadis itu terpesona karena senyumannya dan juga wajah dan tubuhnya-tentu saja, karena tidak ada yang bisa menolak itu semua.


 


“Kalau begitu aku akan keluar, kau tahukan kamar mandiku tepat sebelah lemari pakaian itu?”


 


“Aku tahu, sekarang keluarlah”


 


Aldian kembali terkekeh ketika suara geraman kucing betina itu yang mulai marah lagi. Diapun menutup pintu kamarnya dengan pelan meninggalkan Irene untuk bersiap-siap.


 


Kakinya melangkah menuju bar kecil yang terhubung langsung dengan dapur.


 


Pria itu sedang memasakkan makanan sederhana yaitu nasi goreng spesial ala Aldian. Dia menyiapkan 2 buah piring dan memasukkan beberapa sendok nasi goreng. Ketika semuanya sudah rapi, Aldian langsung menaruhnya di meja makan kecil yang cukup untuk menampung tempat makan untuk 2 orang.


 


Dan ketika Aldian tengah menata sendok dan garpu di atas piring. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Dan ketika pria itu mengeceknya ternyata daddynya yang menelpon. Segera saja Aldian mengangkatnya, kalau tidak dia pasti akan mendapatkan masalah yang lebih berat nanti.


 


‘kenapa kau tidak menangkapnya hidup-hidup dan malah membunuhnya!’ Aldian sedikit menjauhkan telpon tersebut dari telinganya. Dia sudah tahu jika Devan akan marah jika dia membunuh Fikri aditama. Tapi mau bagaimana lagi, Aldian tidak bisa mengendalikan amarahnya sampai-sampai menyiksa pria itu hampir semalaman, hingga tewas di tempat.


 


“Dad, bajingan itu membuatku kesal, dan kau tahu sendiri, apa yang akan terjadi jika... Ada yang membuatku marah”


 


‘karenamu semua rencana yang kita susun bersama harus berantakkan, aku harap kau bertanggung jawab Al, karenamu, semuanya dimulai dari awal lagi’


 


Aldian menghembuskan nafas beratnya untuk ke sekian kali, yah... Memang benar jika kejadian kemarin tidaklah terduga. Selama seminggu penuh, dia harus menjalankan misi rahasia, dan mencari informasi ke berbagai daerah hanya untuk mengumpulkan petunjuk. Dan ketika dia dan Devan sudah di jalan yang tepat, dirinya malah menghancurkan saksi sekaligus bukti yang ada.


 


Fikri aditama, salah satu pion yang akan memberi petunjuk untuk memakmurkan perusahaan yang mereka kelola.


 


Tapi kemarin Aldian-pria itu kehilangan kendalinya, setelah Irene tertidur, dia langsung menyiksa pria tua itu. Mulai dari mencabuti setiap gigi-giginya, memotong jari, hingga mencungkil dan memotong lidah bajingan itu secara perlahan. Hingga Fikri aditama menghembuskan nafas terakhirnya ketika Aldian hendak memotong jari-jari kakinya.


 


“Aku janji akan mencari alternatif lain dad, jadi Kau tenang saja”


 


‘aku akan membiarkan ini kali ini saja, karena menyangkut Irene,-“


 


“Shit! Diamlah dad, kau sedang balas dendam padaku?! Aku janji tidak akan memeluk mom selama 1 minggu!” teriak Aldian penuh amarah ketika mendengar penuturan dadnya. Bukankah kemarin dia sudah pernah menegaskan sekali lagi jika Irene akan jadi miliknya?!


 


‘haha!hahaha! Baiklah, aku mengerti kalau begitu aku titip salam untuk calon menantuku’


 


“aku tidak akan pernah menyampaikannya”


 


Tut


 


Aldian meremas ponsel yang ada di tangannya. Devan benar-benar berhasil memicu amarahnya. Seperti yang dikatakan dadnya, jika dia sudah mengklaim seorang gadis sebagai miliknya, maka dia harus siap menikahi gadis itu bagaimanapun. Tapi pertanyaannya, apakah Irene akan mau menikahi laki-laki sepertinya?


 


Bagaimanapun, gadis itu sama seperti momnya, takut akan pembunuhan dan juga permainan kotornya selama ini. Itulah mengapa sampai sekarang dadnya masih hati-hati dalam melaksanakan hobi anehnya itu. Dan bagi Aldian.... Hanya Irene yang mampu mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang selama ini menghiburnya.


 


Dan dia berharap jika Irene mau menerimanya nanti, dan mungkin dia akan sama dengan daddynya, yaitu menyembunyikan hobi unik mereka.


 


“aldian...”