BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB--10



Author pov


 


 


Irene berlari di tengah hujan lebat. Awan kelam yang menaungi bumi saat ini sedang menguji takdirnya. Malam yang pekat akan kegelapan membuat matanya sedikit membuta. Untungnya cahaya dari lampu jalan dan toko di seberang bisa sedikit menerangi jalannya.


 


Tangis Irene bersatu dengan air hujan yang membasahinya. Dia menangis bersama bumi. Kenapa bisa jadi begini? Begitulah dirinya mempertanyakan nasib yang sedang mempermainkannya.


 


Kenapa tuhan tidak berbaik hati hanya dengan memberikan gadis itu sedikit belas kasihan?


 


Ketika tubuh nya sudah mendekati tujuan, Irene segera memusatkan kembali pikirannya.


 


Dia harus fokus, dia tidak boleh lemah.


 


“Ma....”gumamnya ketika sudah melihat sebuah gedung putih dengan lambang tambah merah serta tulisan logo rumah sakit cinta kasih. Segera saja tubuhnya melangkah masuk. Semua orang memperhatikan gadis itu, hanya berbalut kaos hitam dan juga celana panjang longgar. Semuanya basah kuyup. Namun Irene tak menghiraukan itu semua, dia harus segera menemui mamanya.


 


“suster! Dimana kamar pasien bernama sinta Monica?!” tanya Irene langsung pada suster yang bertugas di resepsionis.


 


“Tenangkan diri anda dulu, saya akan segera mengeceknya, tunggulah sebentar nona” ujar suster itu sembari menenangkan Irene yang tampak panik. Dia segera membuka buku laporan masuk pasien hari ini dan syukurnya dia bisa langsung menemukan nama tersebut, karena pasien yang masuk hari ini hanya 10 orang saja.


 


“nona, pasien yang bernama sinta Monica sedang di rawat di kamar 18, silakan anda lurus saja dan ketika ada persimpangan silakan belok kanan” ujar suster tersebut menerangkan. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada gadis di depannya, namun dari laporan kasus yang masuk, sekarang ia tahu penyebab kepanikan gadis itu.


 


“terima kasih sus” ujar Irene langsung berlari meninggalkan tempat resepsionis, meninggalkan suster yang menatapnya dengan sorotan mata sedih.


 


“Betapa malangnya....” gumam suster tersebut sembari membaca kembali laporan mengenai sinta Monica-pasien yang di kabarkan terluka di bagian lengan kirinya, dengan sayatan yang cukup dalam. Di data mengatakan jika sinta Monica berusaha membunuh dirinya sendiri di dalam kamarnya. Setidaknya itulah yang dia dengar dari beberapa rekan dan juga temannya yang bekerja di bagian ambulance.


 


***


 


Irene menggenggam tangan kanan mamanya. Dibawanya tangan kurus yang tinggal tulang itu ke pipinya.


 


“Ma, kenapa mama jadi gini?” tanya Irene, dengan suara parau karena tangis. Gadis itu kembali memperbaiki duduknya di kursi agar lebih mendekatkan diri pada mamanya. Dilihatnya wajah pucat sang ibu dengan tatapan iba.


 


Ingatannya kembali melayang saat-saat dia pulang dari kampus. Tiba-tiba saja buk Halimah, tetangganya menelpon dengan suara yang panik. Mengatakan jika mamanya sudah berlumuran darah di atas kasur. Untung saja itu belum sampai semenit tetangganya itu langsung menelpon ambulance dan membawa mamanya ke rumah sakit.


 


“untung aja Irene selalu minta buk Halimah liat mama,” gumamnya kembali meneteskan air mata. Buk Halimah adalah tetangga mereka yang baik, Irene selalu berkomunikasi dengannya agar selalu melihat kondisi mama, membuatkan masakan untuk makan malam siang dan juga pagi. Kadang ia juga meminta tolong pada wanita 56 tahun itu untuk membersihkan rumah mereka sekali seminggu agar mamanya bisa tinggal dengan nyaman.


 


Dan itu semua tentu tidak gratis. Irene selalu membayar sejumlah uang atas jasa tetangganya tersebut. Dan untung saja buk Halimah mau merawat mamanya. Walau hanya sesekali datang untuk mengantar makanan ataupun membersihkan rumah. Tapi Irene sangat bersyukur akan hal itu.


 


Sebenarnya jauh dalam lubuk hatinya ia ingin merawat mamanya, namun dia sangat takut akan pria yang mengaku bernama Bramasta itu. Serasa dia sudah cukup menderita akan stres karena pria itu, 2 tahun lebih dia menanggungnya. Hanya demi mamanya. Namun untuk sekarang apa dia harus menjauhkan mamanya dari pria bejat itu? Lalu bagaimana dengan kondisi wanita yang melahirkannya itu? Bukankah mamanya lebih mencintai pria itu ketimbang dirinya?


 


Irene kembali memejamkan matanya, kepalanya sakit karena terus-terusan menangis seperti ini. Seandainya mamanya tidak menerima pria itu, maka semua ini tidak akan terjadi, dia pasti akan merawat mamanya sampai sekarang.


 


Dan... Bukan berarti irene tidak mendengar perkataan buk Halimah saat itu, mengenai mamanya yang mencoba membunuh diri dengan menyayat pergelangan tangan sendiri- Irene hanya tidak percaya akan hal ini. Kenapa? Apa sebabnya mamanya berlaku seperti ini?


 


Irene di kejutkan dengan suara telponnya yang ada di atas nakas-disamping ranjang mamanya. Segera saja diceknya siapa yang menelponnya tengah malam begini.


 


“No-nomor tidak di kenal?” gumam Irene sembari menyeka sisa air mata yang masih menghiasi wajahnya. Tanpa pikir panjang gadis itu langsung mengangkatnya.


 


‘maria! Atau Irene?.....” Irene membulatkan matanya terkejut mendapati suara yang ada di sebalik teleponnya. Segera saja gadis itu akan mematikan telpon itu dengan perasaan jijik namun segera di instrupsi oleh orang tersebut.


 


 


“Apa maksudmu? Apa yang kau lakukan pada mamaku?” tanya Irene dengan tangis yang di tahan dalam hatinya ia bergumam, tuhan... Apa lagi ini?


 


‘gadis baik, kau tahu seberapa cintanya mamamu padaku? Jika aku tidak ada di sisinya, maka sesuatu pasti akan terjadi pada hidupnya’


 


Irene kembali mencerna perkataan pria itu barusan. Kemudian semuanya ia hubungkan mulai dari mamanya yang dikabarkan bunuh diri.... Ternyata itu benar, ini ulah pria brengsek itu! Berangnya dalam hati.


 


‘aku hanya meninggalkannya sebentar dan dia sudah ingin bunuh diri, coba kau pikirkan ini, jika aku benar-benar meninggalkannya selamanya, mungkinkah dia akan mati?’


 


“Kau bajingan-“


 


‘tenang sayang.... Aku punya solusinya, jika kau ingin mamamu hidup, bagaimana dengan menjadi kekasihku? Aku sudah berbaik hati menerima mamamu kembali, bukankah kau harus berterima kasih padaku?’


 


Irene menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong ketika mendengar ucapan pria di telpon itu. Dia sudah berhenti menangis, untuk apa mengeluarkan air mata jika itu tak bisa menghentikan kekejaman nasibnya?


 


“Beri aku waktu 1 minggu untuk memikirkannya” kata Irene akhirnya. Apa kali ini dia akan menyerah? Menyerahkan saja tubuhnya pada bajingan itu? Demi menyelamatkan mamanya? Dia masih tabu dan ragu.


 


‘tidak sayang, jangan katakan kau memikirkannya, hanya katakan kau akan melakukannya’ Irene menggigit bibirnya hingga berdarah. Dia tidak bisa menangis lagi, dan pelampiasan rasa sakit hanya bisa dengan menimbulkan rasa sakit baru.


 


‘ingat Irene, nyawa ibumu ada di tanganku’


 


“apa kau akan berjanji tidak akan menyakiti ibuku lagi?” tanya Irene dengan nada dingin. Dia lelah, sangat lelah akan semua cobaan yang tiada henti mengelilingi hidupnya.


 


‘itu tergantung bagaimana kau menerima persyaratannya, bukankah kita saling menguntungkan di sini?’ tanya pria itu lagi.


 


Irene berdiri dengan tangan mengepal kuat. Matanya terpejam sebentar seolah memikirkan sesuatu, apa yang akan terjadi pada hidupnya nanti? Dia pasti akan hancur sebagai seorang perempuan.


Tapi semakin Irene memikirkan jalan hidupnya selama ini, apa kah semua jalan yang ia tapaki memang sudah hancur?


 


Tidak ada yang benar selama ia melangkah sebagai Irene arabella.


 


“aku akan melakukannya dengan dua syarat”


 


‘apapun yang kau inginkan cantik’


 


“pertama jangan sakiti mamaku, kedua hanya berikan aku waktu 1 minggu, setelah satu minggu aku akan melakukan apa pun yang kau mau”


 


***


 


“Irene, kenapa akhir-akhir ini kamu selalu sibuk? Bukankah kamu sudah berjanji akan datang makan malam?” Irene terkejut dalam renungannya, ketika suara seorang pria mengintrusinya dari depan.


 


“aku sedang sibuk kak,” jawab Irene seadanya dan kembali dalam renungan masalah yang harus ia hadapi.


 


Kris-pria itu, kembali berusaha menarik perhatian Irene dengan mencoba mengulurkan tangannya yang bebas untuk menyentuh lengan telanjang Irene yang ada di atas meja kelas.


 


Irene yang merasa kegelian karena aksi Kris barusan akhirnya menolehkan kepalanya pada pria itu. Di tatapnya Kris dengan penuh tanya. Kenapa lelaki itu selalu mengganggunya seperti ini?!


 


“hmmm, maksudku, kamu itu sudah menunda pertemuan kita bahkan sampai 10 hari karena alasan sibuk, bukankah acara kemarin sukses besar?”