
"kak, bisa tolong ambilkan itu" kata mark sembari menunjuk piring yang ada di samping tangan Al.
"biar mom aja yang mengambilkannya okey" ucap Karin berinisiatif, karena Al terlihat tidak mendengar perkataan mark barusan. tangannya kemudian terulur ke dekat Al dan mengambilkan piring yang dimaksud putra keduanya itu.
setelah memberikan piring itu pada mark, kepala Karin kembali menoleh pada putra pertamanya itu. kemudian helaan nafas lelah meluncur dari mulutnya. kali ini mereka bertiga sedang sarapan di meja makan. tapi entah kenapa Al seperti tidak berminat sedikit pun pada makanannya.
lelaki itu hanya mengaduk dengan sendok, isi dari piringnya, tatapan Al yang ke samping seolah sedang memikirkan serius tentang sesuatu. dan itu membuat Karin sedikit khawatir. di tambah lagi, Al juga tidak mendengar panggilan dari mark.
"mom,-" sapa mark dari belakang tubuh Karin, didaratkannya kecupan singkat pada pipi ibunya itu. dia tahu sekali bagaimana kekhawatiran Karin terhadap sikap kakaknya-Al.
"kamu sudah mau pergi?" tanya Karin berbalik melihat mark. di tatapnya putranya itu dengan senyuman.
"iya mom, tapi nanti,....sepertinya ada sesuatu yang mengganggu kak Al, nanti aku akan menanyakannya"
"kamu fokus saja sama kuliah kamu mark, urusan Al, biar Daddy yang mengatasinya" kata Karin mengalihkan pandangannya lagi pada Al.
mark yang melihat redupan kekhawatiran yang tersirat dari mata momnya, akhirnya hanya menghela nafas menyetujui. dia harap dadnya bisa mengatasi ini.
sebab sudah 4 hari lamanya kakaknya bersikap pendiam dan acuh pada kondisi di sekitarnya. bukan saja saat makan, tapi saat mereka berkumpul keluarga pun juga begitu.
dan jika di kantor, sikap Al malah lebih parah daripada di sini. ia mendengar dari daddynya jika Al bahkan marah-marah tidak karuan karena kesalahan kecil dari sekretarisnya Andrea.
semuanya berubah semenjak hari dimana al di perintahkan Devan menangkap pengkhianat yang kabur dari kejaran anak buahnya. tidak ada yang tahu apa yang terjadi saat penangkapan itu. termasuk mark sendiri yang bingung dengan perubahan sikap tiba-tiba kakaknya.
dia berharap kakaknya bisa kembali seperti biasanya lagi.
***
al pov
aku memperhatikan lalu lintas yang ramai dan padat. kondisi Jakarta seperti biasanya. ku ubah dudukku lagi agak lebih santai dengan menyandarkan punggungku pada kursi penumpang.
pikiranku jauh terbang memikirkan wanita sialan itu. setiap kali mengingatnya amarahku selalu memuncak. bagaimana caranya agar aku bisa tenang dan terlepas dari memikirkan wanita itu?
"tuan, kita hampir sampai di kantor"
"belokan mobilnya, aku ingin pergi ke suatu tempat"
"tuan Aldian, hari ini tuan besar ingin anda untuk hadir lebih awal karena ini akan jadi pengalaman pertama Anda menghadiri rapat"
ck
aku menatap garang pada Andrea melalui kaca mobil depan, lelaki yang menjadi sopir pribadi sekaligus sekretarisku itu memang sudah di perintahkan Daddy untuk mengingatkan jadwalku, namun untuk saat ini, moodku benar-benar buruk.
"aku akan mengatakan pada Daddy jika aku tidak bisa datang apa kau puas?" kataku menekankan setiap katanya. mataku kembali beralih ke jendela mobil disampingku.
"saya mengerti tuan" aku tersenyum senang, mendengar tiada lagi bantahan dan perintah dari Andrea. mobil pun melaju melewati jalan menuju kantor, aku akan pergi ke sana sekarang, untuk melihat wanita itu.
***
akhirnya aku disini. kutatap dengan senyum bangunan tinggi dengan total lantai 20 itu. hari ini aku akan mengunjungi wanita itu lagi. aku sudah menyelidiki latar belakang gadis itu. dia adalah salah satu pekerja serabutan di kafe yang tak jauh dari gedung apartemen ini, jaraknya sekitar 500 m, dan aku juga tahu jika dia adalah salah satu mahasiswa di universitas H, itu malah tambah bagus lagi, karena dad adalah salah satu investor yang paling di segani di sana.
aku melangkah masuk menuju pintu masuk gedung tersebut. dilihat dari mana pun gedung apartemen ini sangatlah sederhana. dan jika bisa di bilang ini lebih mirip rusun daripada apartemen. aku menaiki tangga menuju ke atas. kakiku melangkah dengan santai sembari memikirkan rencana-rencana cemerlang untuk membuat gadis itu tunduk padaku.
ketika aku sudah sampai di lantai sepuluh, aku menelusuri setiap pintu kamar, mencari nomor kamar yang tepat, tempat dimana gadis itu berada. kakiku melangkah dengan santainya, mulutku bersiul senang tidak sabar melihat reaksi terkejut wanita itu.
"kau tidak akan bisa bersembunyi dariku lagi nona “gumamku dengan sedikit menampilkan senyum jahat ketika kudapati pintu kamar gadis itu.
tanganku beralih membuka paksa pintu dari kayu itu. dan betapa beruntungnya diriku, itu langsung terbuka. ternyata pintunya tidak terkunci sama sekali. aku segera masuk dengan tidak sabar.
mataku menerawang setiap sudut dari ruangan apartemen sederhana ini, mulai dari sofa kecil dan meja bundar di depannya. di sini tidak ada televisi sama sekali, sampai pada ruang dapur yang kecil dan minimalis yang tidak berjarak jauh. ku akui jika gadis itu cukup rapi untuk menata semuanya sendiri.
"kau! untuk apa kau datang ke sini lagi!"
senyum jahilku mengembang di wajahku. ketika ku dengar suara wanita itu lagi.
tatapanku yang tertarik, kembali melihat wanita yang kali ini berdiri 5 langkah di depanku, ku telusuri tubuhnya dari atas sampai bawah. gadis itu hanya memakai jeans dan jaket berwarna hitam. rambut panjangnya ter sanggul kuda ke belakang. jika ku tebak, dia hanya memakai make up biasa dan sangat tipis.
"nona, aku ke sini hanya untuk bertamu, apa kau akan mengusir tamu terhormat sepertiku?" tanyaku dengan bahasa sopan, namun terdapat makna kejengkelan di dalamnya. betapa aku ingin membuat sorot mata gadis itu yang sekarang berkilat marah, nantinya akan tunduk jatuh dalam genggamanku.
"dasar brengsek! apa kau tidak cukup jadi pengintip di malam hari saja?! sekarang keluar dari apartemenku!" itu perkataan yang cukup berani. dia bahkan mengatakannya dengan tatapan tajam dan marah. tangannya bahkan dengan berani menunjuk langsung ke arahku.
aku hanya tersenyum miring menanggapi perkataan yang lebih tepatnya teriakkannya barusan. dengan sengaja ku miringkan sedikit kepalaku, ku tatap dengan penuh candaan gadis di depanku ini. dan kulihat raut wajahnya yang berani tadi berubah takut dan terkejut.
kakiku melangkah pelan mendekat. sedangkan gadis itu mulai mundur dari posisinya mencari jalan keluar. betapa lucunya.... aku pernah melihat ekspresi itu pada seorang wanita yang dengan sengaja ku bunuh karena dia terus-terusan menguntit setiap kegiatanku. dengan sekali goresan lehernya langsung terbagi dua oleh tanganku. tapi sekarang kondisinya berbeda!
asal tahu saja.... ini bahkan lebih menyenangkan?
"kau terjebak nona?" kataku setengah tertawa. kututup dengan rapat mulutku langsung ketika kulihat jika tubuhnya sudah terjebak. karena punggungnya sudah menyentuh dinding.
sedangkan tubuhku sudah sampai di depannya. kedua tanganku ku ulurkan ke samping kiri kanan memerangkap sempurna tubuh kecil di depanku. setelah itu ku tundukkan kepalaku menyesuaikan pandangan dengan gadis ini.
"ku....kumohon, jangan lakukan itu..... ku mohon....hiks"
"kenapa kau menangis?" tanyaku tiba-tiba setengah terkejut. wanita ini tiba-tiba saja menangis? kenapa?
tapi entah apa itu, sebuah perasaan aneh membanjiri kepalaku. tanganku terulur menangkup pipinya, ku dongakkan kepalanya yang menunduk karena menangis, dan kali ini mata kami benar-benar bertemu.
kulihat jika mata itu bening berwarna abu-abu. dan itu adalah warna bola mata aslinya. aku terpukau dengan itu, benar-benar cantik.
"kenapa kau menangis?" tanyaku dengan nada bingung, aku bahkan belum melakukan apapun padanya? tapi dia sudah mengeluarkan air mata?
wanita dalam genggamanku ini tak merespon apapun, dia hanya terus menangis dan menangis, dan itu membuatku bingung. bahkan alisku berkerut karenanya. wanita benar-benar makhluk yang aneh, tapi, hmmm ketika mom menangis apa ya yang dilakukan dad? dan itu adalah pertanyaanku saat ini. jika ku ingat.....
ah ya! ada satu hal! dad melakukannya ketika membuat mom menangis.... kalau tidak salah mom langsung berhenti mengeluarkan air mata, kemudian tertawa. aku rasa itu akan berhasil!
tanpa berpikir panjang aku langsung mempraktekkan hal yang kupikirkan tadi.
kuarahkan dengan segera bibirku pada pipinya, kemudian kujulurkan lidahku untuk menghapus air mata gadis ini.
"KAU BRENGSEK! APA YANG KAU LAKUKAN!"