
Bugh!
Brak!
Suara yang kencang karena efek dari pukulan granat yang dilayangkan seorang pria paruh baya pada sosok muda. Yang sudah menjabat sebagai anaknya hingga 20 tahun lebih.
“Ini lebih baik” kata pria paruh baya itu. Dia sudah menghantam anaknya sendiri hingga sudut bibir dan pelipis sudah robek mengeluarkan darah segar.
“Kakak!” Teriakkan dari seorang pria seolah melerai pertengkaran mereka.
“Dad! Hentikan! Kak Al sudah babak belur” itu mark, dia sudah berada di ruangan kantor yang berantakkan itu. Dengan membantu, Al kakaknya untuk segera berdiri.
Lihatlah sekarang. Dua manusia gila yang sialnya berharga bagi mark itu saling menampilkan senyum mengerikan. Yang satu karena kemarahan. Dan satunya lagi karena senang menggoda ayahnya.
“Kak, hentikanlah, bukankah kita akan ada rapat bersama keluarga penting nanti?” geram mark.
Biasanya dia memang tak mau ambil pusing dengan perkelahian tak penting keluarga tak warasnya. Namun ini hari penting untuk perusahaan mereka melangkah maju untuk mendapat dukungan sebanyak mungkin dari luar.
Aldian sudah berdiri. Memperbaiki sedikit kemejanya yang sudah tak rapi. Serta sisiran rambutnya yang sudah berantakan oleh ayahnya. Ya, Devan marah padanya karena telah menyembunyikan istri tercintanya. Tapi apa peduli Aldian? Selama momnya bisa bahagia. Dia akan rela dipukul sebanyak mungkin bahkan untuk membawa momnya ke ujung dunia sekalipun.
Kemudian lirikkan mata Aldian tertuju pada mark. Begitu pun dengan Devan.
“kau.... Tertarik? Dengan itu?” Aldian menutup mulutnya refleks. Waw, seorang mark yang tak pernah peduli pada apa pun kecuali dirinya sendiri. Mulai mengatakan hal penting tentang orang lain.
Devanpun mengangguk sembari memegang dagunya. Matanya sedikit menyipit ke arah anak ke duanya itu.
“apa kita harus menghubungi rumah sakit jiwa?” ujar Devan terang terangan. Dia tak peduli jika mark akan tersinggung nanti.
“Bukankah kita akan bertemu keluarga Anna?” Aldian sedikit bertepuk tangan untuk mengejutkan mark. Benar saja, adiknya langsung melirik tajam padanya.
“Aku harap dia cantik” goda Aldian bertubi-tubi.
Devan yang sudah mengerti situasi ini berjalan mendekat ke arah dua putranya. Dia menepuk bahu mark pelan.
“Kita lihat apa gadis itu bisa secantik mom mu”
Dan kali ini Devan juga ikut menggodanya.
***
Aldian menatap malas pada seorang wanita cantik di depannya ini. Kenapa dia harus menemani Anna stealford, tuan putri terhormat itu untuk sekedar minum kopi.
Aldian akui jika Anna cantik. Dia sedikit lebih tinggi dari Irene. Wajahnya juga kebarat-baratan dengan mata coklat terang. Dilihat dari pakaiannya dan tampilan gadis ini. Dia putri sejati.
Tapi jika dibandingkan dengan irenenya. Gadisnya lebih hebat dan menggairahkan! Itu adalah pengakuan tulus Aldian.
“Maaf karena papa memaksamu untuk menemaniku” Anna menundukkan kepalanya takut. Tatapan Aldian tajam dan dingin, membuat syarafnya berhenti bekerja. Dia banyak mendengar berita mengenai pewaris perusahaan Antonio, yang dingin dan tak tersentuh itu. Tapi jika mengalaminya langsung.... Benar-benar membuatnya ingin kencing di celana saja.
Anna melirik kiri kanannya. Sekarang dia merindukan mark. Walau pria itu dingin dan juga ketus. Tapi, mark mampu menghalau rasa takutnya.... Andaikan saja mark ada di sini...
“kau takut padaku?”
“Ya” cicit Anna.
“aku dengar jika kita akan dijodohkan, apa kau menerima itu?” tanya Aldian angkuh. Dia tahu jika ini sangatlah menyenangkan untuk mengerjai mark. Namun, tetap dia ingin cepat pergi menemui Irene, karena sebentar lagi gadisnya ada jadwal di kampus siang ini.
“aku ingin kamu membatalkannya” Aldian cukup syok ketika Anna berani menatapnya dengan mata penuh keyakinan itu.
Kening Aldian berkerut. Memang dia akan membatalkannya. Tapi dia ingin berlama-lama mengerjai mark.
“ada pria yang kusukai” terang Anna lagi.
“Begitukah? Apa kau pikir akan menguntungkan jika menikah dengannya?”
Anna menggigit bibirnya, dalam benaknya, jika pun lelaki itu hanya pria biasa, Anna akan berusaha menjadikannya pria yang hebat dan tetap saling mencintai hingga maut memisahkan.
“putri, sudah. Saatnya. Kita. Pergi”
Aldian tersenyum miring melihat adiknya sudah tiba saja di belakang anna.
“sepertinya perjodohan ini akan menyenangkan” Aldian tersenyum jahat. Matanya tak lepas dari Anna yang menatapnya bingung.
“Kita akan bertemu lagi Princess” Aldian bangkit dan memperbaiki dasi dan juga jasnya agar terlihat rapi. Tangannya terulur di depan gadis itu.
Namun segera di sambut oleh mark. “Mr. Antonio, terima kasih sudah menemani putri” mark sedikit menekan dengan kuat jabatan tangan Aldian.
Seolah memperingati kakaknya itu. Jika dia masih seorang anak dari Devan Antonio. Memperingati jika dia sama gilanya dengan kakaknya.
Tapi Aldian tidak sebodoh itu hingga tak tahu artinya. Dia dan mark banyak belajar bahasa virginia dulu bersama.
“gadismu cukup cantik tuan”
Aldian tertawa dengan keras dan kencang. Dengan kasar dia melepaskan tangan mark. Berjalan menjauhi dua manusia itu.
Sedangkan anna yang melihat gelagat aneh Aldian mulai takut. Dia menyeramkan. Sama menyeramkannya dengan mark. Tapi anehnya dia tidak takut dengan mark. Dia aman karena ada mark di sisinya.
***
“hai” Aldian mengecup sayang pipi Irene, sesekali bibir nakalnya meluncur menuju gumpalan daging kenyal berwarna pink itu. Tempat favoritnya.
Aldian mengerutkan keningnya ketika Irene tak bereaksi malu-malu seperti biasa . Matanya seolah tak fokus akan dirinya dan itu membuat Aldian sedikit kesal. Hal sialang apa yang mampu membuat gadisnya semurung ini?
Irene mengatupkan bibirnya. Dan beralih melihat ke luar jendela mobil Aldian. Akhirnya itu terjadi. Hal yang ditakutkannya selama ini.
“apa yang kamu pikirkan sayang?” tanya Aldian dengan nada merajuknya.
Andrea menghembuskan nafas lelahnya karena melihat sikap tuannya makin hari makin tidak waras saja. Plus tidak peka.
Andrea tahu kenapa Irene seolah menjauhi Aldian saat ini. Dengan duduk berjarak dan menggeser tubuh untuk jauh dari tuannya. Begitulah sikap Irene yang dia lihat dari cermin depan mobil karena sesekali ingin mengintip aktivitas sang majikan. Bukan dalam hal negatif. Dia hanya takut jika tuannya itu tidak peka. Dan ternyata benar dugaannya.
“Tuan ponsel Anda, ada kabar dari kantor” kata Andrea datar.
Biarlah nanti ia kena sembur dan pukul karena mengganggu aktivitas tuannya. Tapi ini demi kebaikan tuannya sendiri.
“Kau benar-benar ingin masuk kamar 4 di rumah itu?” desis Aldian tajam.
Dia sudah mengingatkan Andrea!
Aldian mengambil ponselnya di saku jasnya dan membuka pesan yang katanya penting itu.
‘tuan, maaf jika saya mengganggu, tapi nona sedang marah pada tuan’
Aldian menaikkan salah satu alisnya. Tertarik dengan pesan Andrea. Dia akan memaafkan Andrea jika ini menyangkut Irene.
Aldian kembali membaca pesan berikutnya.
‘lihat artikel yang saya kirimkan’
Sebenarnya Aldian ingin menanyakan langsung salahnya apa pada Irene, namun ponselnya kembali bergetar.
Andrea kembali mengirimkan pesan.
‘sebaiknya Anda tidak menanyakannya langsung pada nona tuan, akan lebih baik Anda meminta maaf jika sudah tahu apa yang membuat nona marah’
Aldian menarik nafasnya gusar dan membuka artikel yang dikirimkan Andrea. Seketika Aldian baru sadar akan hal itu.
“Irene aku bisa menjelaskannya!”
“Nona, tuan kita sudah sampai”
Andrea dan Aldian saling bicara bersamaan membuat Irene melirik mereka berdua sekejap.
Namun tatapan datar dan wajah sendunya tak bisa lagi diobati.
Dia ingin menjauh sekarang untuk menenangkan diri dari pria yang sudah mengisi banyak hatinya.
“aku pergi dulu” gumamnya sedih.
Dia ingin menanyakan kabar Aldian siang ini. Apa pria itu makan dengan lahap, atau banyak masalah di kantor?
Tapi sepertinya tidak. Irene melihat artikel dari sebuah website yang selalu up to date tentang pria itu. Kemudian sebuah foto dan berita Aldian yang akan bertunangan dengan wanita bernama Anna stealford.
Ditambah lagi profil wanita cantik dan begitu sempurna itu menyakiti matanya. Hingga membuat Irene ingin menangis.
Dan saat dia melihat Aldian seolah tak terjadi apa pun sama sekali. Menambah rasa sakitnya.
“tunggu sayang aku bisa jelaskan ini” Aldian segera menahan Irene yang hendak keluar. Dan untungnya Andrea peka. Dia langsung mengunci pintu mobil setelah keluar dari pintu mengemudi.
“lepaskan” berontak Irene ketika tangannya dipaksa Aldian.
Sebenarnya Irene khawatir sekaligus cemas. Melihat Aldian yang babak belur menemuinya serta pergelangan tangan pria itu yang terluka kemarin. Tapi gengsinya karena sudah disakiti Aldian sama tingginya dengan kecemasan hatinya.
“Anna akan jadi tunangan adikku, itu semua tidak benar Irene, percayalah padaku, aku hanya menyukaimu, aku mencintaimu”