
semuanya terasa begitu nyaman.
Irene merasa jika kedamaian ini tak senyata itu. tangannya mencoba meraba bagian perutnya yang sudah ditempeli sebuah tangan besar dan hangat. merambat menuju lengan kokoh dan kuat itu. seolah ketidak percayaan ini masih menggerayangi syarafnya.
aaldian dibelakang sana. memeluknya erat di atas kasur. pria itu menempelkan kepalanya di tengkuk Irene. membuat gadis itu sesekali meringis tidak nyaman karena geli.
Irene berhenti meraba lengan yang ada diperutnya beralih pada lengan Aldian yang ada di bawah kepalanya. lengan kuat dan besar itu dijadikannya bantal saat ini, sesekali Irene memejamkan mata ketika dia menyentuh kulit lengan Aldian yang berada tepat di depan wajahnya. begitu nyaman rasanya dalam pelukan pria besar ini. sampai-sampai Irene tak mau beranjak padahal pagi sudah datang.
apa mau dikata, kemalasan itu tiba-tiba saja datang, membuat Irene kembali merapatkan tubuhnya ke belakang.
tak jauh bedanya dengan Aldian. pria itu sudha bangun sejak tadi. dia tidak menyangka jika posisi tidurnya semalam bahkan tidak berubah, yaitu memeluk Irene. ini sebuah hal baru, karena biasaya Aldian jika sudah tidur, suka sekali berguling ke kanan dan kiri. namun, karena ada gadis cantik itu dalam pelukannya. Aldian seolah punya alarm dalam otaknya untuk terus di posisi yang sama.
Aldian mengencangkan tangannya ketika dirasanya Irene merapatkan punggung pada dadanya. itu membuat Aldian senang hingga menyunggingkan senyum indahnya pagi ini.
dia tentu harus memberikan hadiah pada Irene. dengan rasa geli yang begitu menggebu dan membuncah dalam dadanya. Aldian menggigit pelan bahu irene yang sedikit terbuka dari gaun tidurnya.
"hei!" pekikan tak terima itu dilayangkan Irene. segera saja kepalanya berbalik ingin protes. namun sialnya Aldian malah membungkam mulut Irene seketika.
"hmmmph!!"
itu tiba-tiba dan membuat Irene terkejut. lengan Aldian sudah mengunci kepalanya, dengan yang satu ada di tengkuknya dan satu lagi menangkup pipinya kuat. Irene bisa merasakan kekuatan itu hingga membuat tubuhnya melemah karena menyerah. padahal dia sudah berusaha lepas dengan mendorong Aldian beberapa kali tadi, memukul dada telanjang pria itu, dan mencubit bahunya asal.
Aldian begitu ganas, karena gadisnya ini begitu menggemaskan. dia tak bisa menahan hasratnya untuk tidak menjilat dan menggigit bibir pucat Irene pagi ini. melihat bibir itu akan protes membuat keinginannya menggeluti bibir itu pagi ini sangat besar.
tuhan..... apa yang terjadi padaku?!
rasanya begitu nikmat dan candu. membuat Aldian tak bisa berhenti melakukan hal ini. awalnya memang sederhana, dengan menempelkan bibirnya disana. namun dia tidak puas! keinginan Aldian malah semakin memuncak dengan berbuat lebih.
Aldian baru bisa berhenti ketika dirasa irenenya kesulitan bernafas. diletakkannya pelan-pelan kepala gadis itu di atas batal, seolah-olah itu adalah hal berharga dan mudah hancur. kemudian matanya Aldian bersua dengan manik abu Irene yang begitu jernih.
Irene seharusnya memaki pria itu. dia harus marah! tapi kemana nyali itu lari?
Irene tak mampu mengeluarkan suaranya ketika melihat Aldian dengan wajah marah itu. tatapan Aldian menghunusnya dengan tepat. tatapan intens dan menakutkan itu... kenapa harus dilayangkan padanya. yang salah disini bukan Irene kan?
lalu?
Irene melihat rahang Aldian menggertak beberapa kali. serta jakun pria itu yang naik turun tak beraturan. mata Aldian yang tadinya menatapnya sekarang sudah beralih ke samping tak tau arah. dan hembusan nafas berat itu seolah sedang bersabar akan sesuatu.
mau tak mau Aldian hanya bisa menahannya. pagi hari yang begitu berat. akhirnya membuat Aldian menjatuhkan kepalanya di atas perut Irene. melalui celah pakaian gadis itu. Aldian bisa menghirup sebanyak mungkin aroma tubuh Irene. yang khas.
jika orang melihatnya sekarang. pasti mereka menjulukinya bucin atau budak cinta. tapi apa mau dikata ketika hatinya sudha berlabuh dan memilih seperti ini. semuanya buram dan blur Dimata Aldian. kenyamanan yang ditawarkan dan dihadirkan Irene membuat semua tubuhnya mati rasa. dia menjadi pria malas namun bersemangat jika itu tentang Irene.
dia yang kata orang selalu pintar dan tak mau meladeni pertengkaran anak kecil dengan orang lain, malah menjadi pria emosional dan bodoh di depan Irene.
"akwu ingin terus begini" Rajuk Aldian dengan suaranya yang teredam, karena wajahnya tenggelam di perut rata Irene.
irene menahan tawanya dan menutup mulutnya asal. gadis itu segera mendudukkan tubuhnya hingga membuat Aldian mau tak mau merubah posisi nya menajadi memeluk perut Irene lagi, dengan wajah yang masih menempel sempurna.
pria itu tak rela jika kenyamanannya menjauh.
Irene yang melihat sikap konyol Aldian menggelengkan kepalanya kesal. pria itu sudah 20 tahun lebih! tubuhnya yang besar dan berotot itu bahkan bisa membuat orang berpikir dia pria matang 30 tahunan! tapi apa?
dengan sikap manja Aldian saat ini- memeluk perutnya membuat Irene tidak percaya. pria ini tak pernah bisa bersikap dewasa sedikitpun! mau tak mau Irene pasrah saja ketika usaha terakhirnya mendorong bahu Aldian ke belakang gagal.
nafas hangat itu terasa menggelitik perut Irene. namun ia berusaha keras untuk menahannya sebentar, agar Aldian puas dengan hal yang dia lakukan.
sekarang Irene mengingat hal tadi siang, ketika Aldian bilang cinta dan sayang padanya. membuat segelintir rasa nyaman menyeruak keluar, hingga ke wajah Irene. wajah gadis itu memerah bak kepiting rebus. memanas bagaikan ketel uap yang baru di panaskan. dan untungnya Aldian masih betah dengan perutnya. membuat Irene tak menanggung malu terlalu banyak.
Irene mengusap pelan rambut Aldian yang sudha memanjang kelihatannya. mungkin sudah waktunya Aldian memotong rambutnya? Irene tidak tahu apa Aldian memang sengaja memanjangkan rambutnya sampai ke telinga dan tengkuk. namun... satu hal yang Irene tangkap.
posisi Aldian yang saat ini tisury telungkup, dengan wajahnya yang bersembunyi di perut irene- menambah kesan seksi pria itu.
Aldian tidak sama saat ini seperti dia dalam balutan jas hitam dan biru donkernya. Aldian di atas ranjang terlihat liar dengan rambutnya kusut dan tak teratur... dan itu cukup membuat Irene harus menahan nafas untuk menyembunyikan detak jantungnya yang menggila.
beberapa saat berlalu dengan ketenangan yang menyiksa itu. dan Aldian tetap tak berniat menjauh dari perut Irene. dia seolah sedang bermanja-manja seperti seorang anak lelaki yang sudah berpisah dari ibunya sekian lama. aroma Irene membuatnya nyaman. niat untuk beranjak dan bergegas ke kantor seolah lenyap karena dilelehkan oleh kehadiran Irene.
"kapan kamu akan menjawabnya sayang?" tuntut Aldian dengan suara yang teredam.
dia ingin menikahi Irene secepatnya. memberitahu momnya untuk menyiapkan pesta secepat mungkin. sama seperti kebanyakan orang. Aldian ingin mendengar jawaban Irene secepat mungkin.... karena gadis itu tidak membalas pernyataannya tadi siang.
namun anehnya bukan canggung yang Aldian rasakan. dia makin bermanja-manja pada Irene. menunjukkan jika dia sangat membutuhkan gadis ini dihidupnya. sampai Irene mengatakan dengan jujur apa isi hatinya.
"aku... aku tidak tahu-" kan, Irene tidak mengatakan tidak mau. dia hanya mengatakan tidak tahu. berarti gadis itu sedang ragu dengan apa yang ia rasakan. bukankah Aldian hanya perlu meyakinkan gadis itu?