
Irene pov
“Irene, lo beresin meja yang di pojokkan ya” ucap nada dan kuiyakan dengan anggukkan.
Kakiku melangkah mendekati meja yang di maksudnya, kemudian membersihkan meja tersebut dari tumpahan susu dan juga kopi.
Aku memikirkan hal kemarin... Dimana lelaki itu kembali mengacaukan hidupku. Ingatan mengenai kami pertama kali bertemu, kemudian dia yang mendadak muncul di apartemenku, sampai pada kejadian mencengangkan di kampus.
Aldian Antonio, begitulah. Pria mesum itu ternyata anak dari pengusaha kaya. Yang banyak di beritakan. Sialnya lagi nama dan wajahnya ternyata sudah banyak tampil di layar kaca, namun karena aku tidak pernah peduli semua kabar tentang selebriti, aku akhirnya berakhir menunjukkan ekspresi memalukan.
Dan mulai sekarang aku bertekad akan rajin menonton berita, agar situasi kemarin bisa kuhindari. Dan mengenai sikap angkuhnya. Sekarang aku mengerti kenapa Aldian Antonio memperlakukanku seperti kemarin. Menyeretku masuk dalam perhatian banyak orang, yaitu hanya untuk menunjukkan eksistensinya agar bisa membuatku tunduk dan hormat pada pria macam itu.
Aku mengarahkan kain lap yang ada di tanganku pada bagian meja yang sudah bersih dan menyekanya dengan kasar seolah itu adalah wajah brengsek Aldian Antonio. Memikirkan bajingan itu membuatku teringat kembali ekspresi orang-orang padaku. Mulai dari viola yang menggodaku dengan mengatakan akan menagih janjiku membelikannya mobil sport mewah, kemudian tatapan beberapa dosen-ada yang tercengang tidak percaya ada juga yang menatapku jijik, seolah aku menggoda pria itu. Dan itu sama mengerikannya dengan tatapan hampir semua orang padaku terutama kam perempuan yang menganggap kenalnya diriku dengan pria itu karena aku wanita murahan yang menggodanya.
Dia berhasil membuat hidupku dalam maslah. Dan sepertinya jika aku hadir di kampus nanti.... pastinya aku akan di tatap dengan dingin oleh semua orang. Tapi, setidaknya aku kenal dengan viola dan kak Kris yang pastinya akan mengerti keadaanku.
“ren, udah selesaikan? Ih lo, kenapa di beressihinnya kayak gitu banget, lo lagi sakit atau apa?”
Aku membalik ketika mendengar suara nada dari belakang. nada Alifia Saputri, wanita cantik dan tomboi yang tiba-tiba datang ke Cafe tempatku bekerja dan menawarkan diri untuk membantu pekerjaan di sini tanpa mau di bayar sama sekali. Namun karena manajer ini adalah salah satu orang baik dan gentleman, dia memaksa nada menerima saja sejumlah uang hasil kerjanya.
Nada memang baru sebulan kerja di sini, namun dia sudah mendapatkan skill meracik kopi yang di ajarkan kak tari-barista kami yang kompeten. Hanya satu hal yang membuatku bigung, kenapa dia mau menjadi pekerja sukarela? Padahal kebanyakkan orang bekerja pasti hanya ingin mendapatkan uang. Well... masing-masing orang memiliki keinginan tersendiri, mungkin saja nada ingin mendapatkan pengalaman berharga dalam bekerja.
“hah... aku hanya lagi kesal dengan seseorang.” Kataku menjawab pertanyaan nada, kubalikkan lagi tubuhku dan kulanjutkan pekerjaanku yang kali ini merapikan meja.
“gue biasanya gak suka gosip selebriti, tapi kayaknya beranda instagram gue di penuhi foto aldian antonio lagi gandeng cewek...”aku membelalakkan mata ketika nada mengatakannya dengan santai di belakangku. Dengan gerakkan cepat langsung saja ku berbalik dan mengambil smartphone yang ada di tangannya.
Astaga!! Aku melihat dan menscroll dengan cepat beranda instagram nada-yang memang di penuhi foto-foto laknat itu!, semuanya memang menunjukkan jika Aldian Antonio menggandeng seorang wanita. Tapi anehnya wajahku di sensor dengan emotikon tawa malu-malu. Bastard! Aku mengeratkan genggaman tanganku pada smartphone nada. Marah, tentu saja. Ini pasti perbuatan pria itu, walaupun di sensor dan hanya menampakkan sebagian tubuhku saja, yaitu bagian kakiku yang memakai celana longgar panjang. Namun tetap saja aku tidak akan aman dari awak media mulai saat ini.
“sepertinya tuh cewek bakalan jadi trending deh” aku mengangguk sedih ketika mendengar ucapan dari nada barusan. Yang dikatakan nada benar adanya, karena hampir 100 persen semua pemberitaan di media sosial mulai menyoroti kejadian Aldian Antonio yang menggandeng seorang wanita.
“lo kenapa?”
“dahlah, aku pengen mati aja kalau gini” ujarku sedih sembari mengembalikan benda pipih dan petak itu pada nada.
Kulihat jika nada melihatku dengan ekspresi bingung. “lo ada masalah apa? Apa ada laki-laki yang nyakitin lo? Gw bisa bantu nendang burungnya, sama ngancurin hidupnya” aku bengong ketika nada mengatakan itu dengan suara berani dan lantangnya. Kemudian sebuah senyum terbit di wajahku. Aku senang masih ada orang yang mau mengerti kondisiku tanpa perlu kusebutkan karena apa. Walaupun itu tidak akan terjadi sama sekali.
“lo ada duit? Minggu kemari aja baru minjam sama pak manajer” aku cengengesan ketika mendapati pertanyaan nada barusan, kulihat dia hanya menghela nafas dan langsung memegang bahuku.
“gue aja yang traktir, gue lagi banyak duit” kata nada dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca, dia tersenyum namun hanya senyum tipis dan tersirat kesedihan di dalamnya. Memang benar, minggu kemarin aku minjam uang sama pak menejer buat beli alat kuliah yang memang kurang untuk praktik, dan semuanya memang hampir habis juga.
“Eh, kagak usah, mungkin lain kali aja kalau Nggak sekarang nad kutraktir” kataku menolaknya tegas.
“kali ini aja kali gue pengen banget traktir lo, ” katanya yang kali ini menunjukkan wajah yang memelas.
Akhirnya aku mengangguk setelah sekian banyak kali menggeleng-karena nada terus-terusan membujukku tanpa henti sebelum aku menyetujui. Kulihat dia tersenyum cerah akhirnya. Dan itu juga membuatku ikut tersenyum melihatnya.
Satu lagi teman baik... Hah... Setidaknya aku tidak sendirian menjalani kehidupan yang berat ini.
***
Aku menghembuskan nafas lelah ketika tubuhku sudah sampai di area kampus luar dan belum memasuki gerbagnya. Untuk sekarnag aku memasuki gerbang bagian belakang khusus tempat parkir motor dan mobil- yang di jam siang begini sangat jarang di kunjungi orang.
Aku kembali berusaha bernafas ketika rasa sesak mengingat tatapan orang-orang padaku kemarin mulai menghantui. Tidak Irene kau pasti bisa! Aku berusaha menyemangati diriku lagi. Aku harus lulus dari kampus ini bagaimanapun caranya. Kakiku kulangkahkan memasuki gerbang itu, bagaikan suasana perang, jantungku berdetak lebih cepat.
Seharusnya lebih mudah aku memasuki gerbang utama karena langsung lurus saka ke kelas. Namun karena kejadian kemarin aku ingin menghindar dulu dari tatapan orang.
Dengan hati-hati aku melewati area parkir dan juga taman kampus. Ketika aku melihat ada orang aku langsung menutupi wajahku dengan buku begitulah seterusnya aku terus berjalan hingga sampai ke kelas.
Tapi ada sesuatu yang aneh, aku tidak mendengar bisikkan makhluk halus sama sekali. Kupikir, mereka akan menggosipkanku dan mengejekku dengan berkata lantang. Namun semuanya seolah berjalan lancar. Hanya tatapan mereka saja yang dingin.
Well, entah apa yang terjadi namun syukurnya aku sudah sampai di depan kelas. Ketika tanganku memegang gagang pintu untuk masuk, aku kembali menarik nafas menenangkan diri. Kau pasti bisa!
Aku akhirnya membuka pintu dan masuk ke dalam kelas. Kuperhatikan keadaan kelas yang tadinya ku dengar agak meribut sekarang tenang. Semua orang tiba-tiba melihatku dengan tatapan aneh seolah aku adalah makhluk asing. Tuhan...cobaan apa lagi ini?
Beberapa dari mereka bahkan menunjukkan kebenciannya padaku hanya dengan tatapan. Yah...walaupun itu kebanyakan dilakukan oleh para wanita kaum elite-seolah cemburu dengan keadaanku. Namun tetap saja ini memang kampus isinya semua hampir orang yang keluarganya berkecimpung di dunia bisnis.
Tidak mau berlama-lama menanggapi tatapan mereka aku mendudukkan diri di bangku depan dan meletakkan tas sandangku di atas meja. Kemudian baru ku rebahkan kepalaku di atasnya sebagai bentuk frustrasi.
Bahkan hanya memasuki kampus ini saja sudah membuatku lelah, lalu bagaimana dengan hari-hari berikutnya? Apa aku akan mati karena stress dan kelelahan nanti? Apa akhir hidupku hanya sampai di umur 21 tahun?