BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB--16



Aldian tersenyum cerah ketika melihat betapa lahapnya Irene memakan nasi gorengnya.


 


Gadis itu seolah olah menikmati makannya tanpa memedulikan sekitar. Tanpa tahu jika seorang pria berbahaya sedang menikmati pertunjukkan cantik gadis itu.


 


“apa enak? “tanya Aldian di sela-sela makannya. Bahkan pria itu hanya menyendok dengan porsi kecil saja.


 


Irene yang mendengar suara Aldian, berhenti menyuapkan nasi goreng itu. Dia baru tersadar jika sedari tadi Aldian ada di depannya. Sial, dia terlalu fokus memanjakan perutnya yang keroncongan sejak tadi.


 


Dengan malu-malu, Irene menepikan sendoknya dan mengangguk tanpa suara. Wajahnya memerah karena ketahuan bertindak tidak sopan. Dan ini semua karena Aldian!


 


Ya pria itu yang membuatnya nyaman seolah berada di rumah sendiri. Jadi jangan salahkan Irene jika dia bertindak kurang ajar.


 


“Makanlah yang banyak, oh ya, setelah ini aku akan pergi bekerja dan mungkin tidak akan pulang sampai 2 hari”


 


“kau mau pergi ke mana? “tanpa Irene sadari dia melontarkan pertanyaan yang absurd. Memangnya siapa dirinya sampai menanyakan hal seperti ini? Dia bukan kekasih Aldian ataupun keluarga dari pria itu.


 


Tapi tetap saja, Irene merasakan sayatan kesedihan ketika Aldian mengatakan kata pergi. Entah kenapa dia ingin sebisa mungkin berdiri di dekat pria itu untuk waktu yang lama.


 


“aku akan kembali secepatnya, jadi jangan khawatir”


 


“Aku tidak mengkhawatirkanmu, aku hanya bertanya karena aku juga ingin pergi ke apartemenku,” Aldian memijat sedikit keningnya. Mencoba mencari cara... Bagaimana menjelaskan situasi ini pada Irene. Dia sudah membeli gedung itu dan menyuruh orang untuk menghancurkannya.


 


Tentu saja Aldian tidak melakukannya secara Cuma-Cuma, selain untuk membuat Irene tinggal di apartemennya, dia juga menginvestasikan sebagian uangnya di sana untuk pembangunan rusun baru yang murah untuk menarik minat masyarakat yang kekurangan biaya.


 


Dan walaupun Irene kembali ke sana sekarang, mungkin saja sudah hampir seperempat bagian sudah menjadi puing.


 


“Aku sudah menghancurkan bangunan itu” jawab Aldian akhirnya ketika dia tidak punya cara lain lagi untuk menjelaskannya.


 


Irene yang mendengar itu melotot tidak percaya. “apa maksudmu?!”


 


“Bangunan itu sudah tua dan aku membelinya 2 hari yang lalu, maaf karena tidak bilang padamu, tapi aku tidak ada maksud lain untuk itu, sebagai gantinya kau bisa tinggal di sini dulu sampai aku menemukan tempat yang cocok untukmu nanti” bohong Aldian di akhir kalimat. Dia tidak ada niat sama sekali untuk membuat Irene pindah dari apartemennya.


 


“bagaimana dengan barang-barangku? Apa kau juga menghancurkannya?” kata Irene langsung bangkit dari duduknya.


 


Aldian yang melihat itu  langsung berdiri dan menggenggam tangan Irene menenangkan. Dia mulai takut gadisnya itu marah dan malah pergi dari sini.


 


“aku sudah mengamankan barang-barangmu Irene, dan sebentar lagi akan ada orang yang akan mengantarnya, jadi tenanglah,”


 


Irene menyipitkan matanya tidak percaya dengan perkataan Aldian barusan. Seolah merasakan ada yang ganjil dari perkataan pria itu.


 


“Sekarang duduklah okey?” ujar Aldian mencoba membuat Irene mengerti. Dia bahkan memasang senyuman hangat serta menggunakan kata-kata lembut agar gadisnya ini mau mendengarkan.


 


Secara dia tahu sifat Irene yang acap kali merasa kesal karena tindakannya yang semena-mena.


 


“Untuk apa aku melakukan ini, itu hakmu menggunakannya, bahkan untuk membeli gedung itu” kata Irene akhirnya sembari melepaskan genggaman tangan Aldian dan duduk kembali untuk menikmati nasi goreng yang tersaji di piringnya.


 


Aldianpun yang melihat tingkah Irene, hanya bisa menghela nafasnya. Seperti kata dadnya, perlu waktu untuk membuat seorang gadis nyaman di dekatmu. Entah kenapa sekarang Aldian merasa jika dadnya itu sudah seperti sumber pengetahuannya tentang cinta, secara kondisinya yang sekarang mirip sewaktu Devan dulu memikat momnya.


 


Aldian kembali duduk dengan tenang tak bersuara lagi. Dia menikmati setiap sendokkan nasi goreng itu dengan keadaan yang cukup canggung. Ketika lirikkan matanya tertuju pada Irene, dia hanya melihat gadis itu dengan tatapan tenang memakan suapan demi suapan.


 


Dan itu mengganggu Aldian. Tidak ada lagi tingkah konyol Irene yang bisa ia nikmati. Sikap malu-malu gadis itu ketika kedapatan bersikap tidak wajar dan menunjukkan perasaannya terang-terangan.


 


Sarapan di siang hari itu pun berakhir sudah, dengan Aldian mencuci piring kotor mereka. Walaupun awalnya Irene ingin membantu tapi pria itu dengan tegas menolak. Dia mengatakan jika tangan Irene yang cantik tidak boleh terkena air sabun agar tidak kasar seperti tangan bibi pembantunya di rumah.


 


 


Dia harus menanggung malu dengan wajah yang memanas.


 


Akhirnya gadis itu hanya duduk di depan televisi besar pria itu dengan camilan berupa keripik kentang di kedua sisi tangannya.


 


Dan Irene sudah merasa seperti tuan putri sekarang.


 


Aldian akhirnya selesai mengurus cucian piringnya. Dia pun segera melangkahkan kaki menuju ruang tamu dimana ada gadisnya sedang duduk dengan nyaman, menonton siaran televisi.


 


Aldian duduk dengan pelan di sebelah Irene yang sangat fokus menonton. Kepalanya dikit miring untuk melihat dengan jelas ekspresi menarik yang di tunjukkan gadis kecil itu.


 


Katika Irene menunjukkan raut wajah serius kemudian tiba-tiba kecewa. Membuat Aldian tidak bisa berhenti tersenyum. Sesekali dia juga harus menutup mulutnya agar tidak menimbulkan suara tawa yang nantinya akan menyebabkan Irene menyadari kehadirannya.


 


Aldian bisa melihat wajah Irene dengan jelas dari sisi ini. Dibandingkan dengan kata kuat, gadis itu lebih cocok di definisikan dengan kata lemah dan rapuh. Dia tahu jika setiap hal yang dilalui Irene selama ini tidak bisa di bilang mudah. Miliknya sudah lama menderita karena permainan takdir.


 


Dan bagi Aldian melihat gadis itu cerewet dan memakinya lebih bagus ketimbang dia menangis dan diam dengan ekspresi yang dingin.


 


Pria itu mencoba menjangkau wajah Irene dengan salah satu tangannya. Tanpa dia sadari jemarinya sudah menyingkirkan beberapa anak rambut yang lolos dari jepitan telinga Irene. Aldian tidak berhenti di situ saja, dia bahkan mulai menelusuri wajah Irene mulai dari pelipis hingga dagunya dengan usapan yang sangat ringan.


 


Dan itu semua membuat Irene langsung merinding. Gadis itu langsung menepis tangan Aldian yang seenaknya saja memegang wajahnya.


 


“Jangan menyentuhku!” geram Irene seraya bergeser ke samping menjauh dari jangkauan Aldian. Melihat gelagat Irene yang sangat lucu. Membuat Aldian bertambah jahil. Segera saja pria itu juga menggeser duduknya untuk lebih dekat lagi dengan Irene.


 


Hal itu terus berlanjut di antara mereka berdua-dengan Irene yang menjauh dan selalu Aldian yang mendekat. Sampai akhirnya tubuh Irene sudah mencapai batas sudut di sudut tepi sofa yang ia duduki. Gadis itu segera bangkit berdiri. Namun, naasnya Aldian malah menarik pergelangan tangan Irene dan menyebabkannya terjatuh dalam pelukan pria itu lagi.


 


“Kau! Brengsek lepaskan aku!” Teriak Irene memaki Aldian sebisa mungkin. Sedangkan pria itu malah sibuk memperbaiki posisi Irene di tubuhnya.


 


Alhasil gadis itu tepat berada di pangkuannya saat ini. “bajingan! Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?!” umpatan demi umpatan terlontar dari mulut Irene dan tentu saja di tujuan pada Aldian..


 


Kali ini Irene super malu. Wajahnya sudah memerah dan memanas seiring tindakkan Aldian yang berani membawa tubuhnya dalam pangkuan pria itu. Bahkan kali ini Aldian sudah memeluknya posesif, seolah tidak memberikan Irene celah sedikit pun untuk beranjak. Sekeras apa pun Irene memberontak dengan tenaganya ia kalah telak dengan kekuatan besar lelaki ini.


 


“sungguh, apa maumu sekarang?”


 


“aku ingin melihat luka itu” kata Aldian tabu. Pria itu langsung menurunkan leher dress yang menggantung di bahu Irene. Semalam dia sudah melihat luka gigitannya dan memberikan salep agar luka itu tidak menimbulkan bekas.


 


Namun pagi ini dia belum memeriksa bekas gigitan bajingan itu.


 


Irene terkesiap dengan tindakan Aldian. Dia ingin menepis kembali tangan lancang pria itu, namun urung ketika melihat kilatan amarah yang memancar dari mata Aldian. Entah kenapa setiap kali melihat amarah Aldian, membuat tubuhnya takut dan berakhir menciut tidak ada nyali.


 


“Sepertinya sudah sedikit baikkan ”gumam Aldian puas ketika melihat pundak Irene. Walaupun masih merah. Tapi tidak separah semalam.


 


Dan seketika itu juga hasrat Aldian terpacu. Giginya beradu seolah menahan sesuatu. Dia ingin menghilangkan bekas gigitan itu dan menggantinya dengan tanda kepemilikannya. Dia ingin menjilati dan menggigit setiap jengkal tubuh Irene, meninggalkan jejak kepemilikannya di sana.


 


Aldian akhirnya hanya mengusap bekas luka itu dengan ibu jarinya. Tidak lupa ia juga memberikan beberapa kecupan ringan di sekitar luka itu. Yang membuat Irene kembali merinding, dan kali ini karena geli. Bahkan dia tidak bisa mengontrol tangannya sendiri yang berada di dada bidang pria itu yang masih kaku.


 


Seharusnya ia mendorong Aldian menjauh, seharusnya dia bisa mengendalikan tubuhnya sendiri agar tidak terbuai dengan sikap manis Aldian, serta kata-katanya yang membuat debaran jantungnya seperti di pacu oleh sesuatu.


 


“hen-hentikan” cicit Irene akhirnya ketika Aldian sudah bertindak di luar batasnya. Pria itu mulai menggigiti kulit leher bahkan sampai ke dadanya.


 


Tuhan.... Kenapa aku harus berurusan dengan pria ini! Resah Irene dalam hati