
Irene pov
“jadi... Kakak kuliah di universitas H dengan beasiswa dari kampus? Lalu katanya kakak kerja, kakak kerja apa?”
Aku tersenyum cerah menanggapi pertanyaan Emy yang bertubi-tubi. Awalnya hubungan ku dengan gadis ini sangatlah buruk bahkan perkataannya beberapa menit lalu yang menuduhku menggoda Al, adalah hal yang mengejutkan buatku.
Namun... Orang seperti Emy sudah acap kali aku temui dan hadapi. Dia sama seperti kak Serena di kampusku atau beberapa teman SMA ku dulu. Sifat arogan karena mereka sudah punya segalanya sejak lahir, serta sifat mudah merendahkan orang lain ketika menjumpai seseorang kesusahan.
Tapi... Jauh di balik itu semua, aku sangat yakin jika ada hal yang kosong. Mereka hanya perlu satu keping cerita yang membuat hati mereka tergerak, kemudian dengan cara menjadi pendengar yang baik dan melihat mereka dengan tatapan yang jujur, maka aku akan mendapatkan hati orang itu.
Dan Emy? Gadis kecil yang duduk di depanku saat ini mempunyai keadaan yang sama. Awalnya dia ingin membuatku menjadi lawannya. Namun setelah beberapa kata aku membujuknya dia jadi menurunkan kewaspadaannya padaku.
Aku mengatakan terus terang pada Emy jika aku tidak menyukai Aldian. Aku juga bukan wanita yang cantik seperti dirinya. Bahkan jika jujur tinggiku dan Emy sangat berbeda. Bisa di bilang gadis itu hampir menyamai tinggi Aldian.
Aku bahkan membeberkan kondisi finansialku yang tak jauh beda dengan pengemis jalanan. Dan berkat itu semua Emy menjadi paham setelah perbandingan besar itu.
Hal ini membuatku lega, karena nyatanya, aku mendapatkan teman baru.
“Jadi... Aku bekerja di Cafe mentari, Cafe itu cukup nyaman, apa kamu mau pergi bersama lain kali? Aku akan melayanimu!”
“Hah... Andaikan semudah itu... Papa tidak mengizinkanku kak...” aku melihat raut wajah Emy berganti cemberut. Jadi masalah di sini adalah ayahnya terlalu over protektif?
“Begitu ya... Tapi, kamu kenapa bisa ke sini?” tanyaku langsung dengan raut wajah bingung. Jika aku simpulkan dari perkataan Emy mengenai ayahnya. Bukankah pria yang dipanggil ayahnya itu tidak akan mengizinkannya ke sini? Apa lagi ini... Apartemen Aldian?
Aku melihat gelagat Emy yang tak mau menatapku. Dia menyembunyikan wajahnya ke kiri dan ke kanan seiring aku berusaha mencari kebenaran.
“hah... Kamu punya papa yang hebat”
“Dia tidak menyayangiku!” aku menghembuskan nafas lelahku dan berakhir tersenyum hangat. Kemudian ada satu pertanyaan yang mulai hinggap di kepalaku....
“Emy, bagaimana rasanya punya papa?”
“hmm... Setiap akhir pekan kami selalu jalan-jalan, aku dan mama, kemudian papa, kadang kami juga melaksana pesta kecil di malam rabu, ya... Itu cukup menyenangkan, tapi-“
Tapi? Emy menghentikan perkataannya sejenak, kepalanya tertunduk ke bawah seolah sedang memikirkan hal yang sedih.
“Kakak tau, papaku selalu mengatakan aku tidak boleh pacaran, padahal semua temanku sudah punya, kemudian papa juga melarangku pergi berkumpul dengan teman-temanku”
Aku mengangguk mengerti dengan pemikiran Emy. Tetapi, jika melihat Emy dari atas sampai bawah, aku juga mengerti kekhawatiran papanya.
Aku pun tersenyum ketika mengingat sesuatu yang seharusnya aku lupakan sejak dulu. Namun... Sepertinya karena Emy dalam kondisi pubertas, aku yakin dia akan dapat mengerti hal yang aku jelaskan sekarang..
“hei... Kau tau sesuatu?” aku bertanya padanya sembari menggenggam kedua tangan Emy dan membawanya dalam pangkuanku.
“aku pernah berkumpul bersama dengan temanku. Waktu itu... Kami mau pergi ke klub malam, kejadiannya sudah lama sekali. Karena tidak ada yang melarangku pergi aku ikut dengan teman wanitaku ke sana. Kami berpesta sampai tengah malam... Sampai pada akhirnya kami di suruh minum minuman yang tidak seharusnya kami minum. Waktu itu hanya ada aku dan temanku, kalau tidak salah namanya Amanda, kami berdua berkumpul dengan beberapa orang teman prianya.
Aku dan Amanda mencoba untuk minum seteguk. Dan... Setelah itu kami mabuk bersama. Yang aku ingat waktu itu aku hampir saja di perkosa.... Namun untungnya ada seseorang yang menyelamatkanku.... Namun temanku Amanda...”
“a-apa yang terjadi kak?”
Aku tersenyum sedih ketika mendengar penuturan Emy, dengan menghela nafasku sebanyak mungkin, akhirnya aku melanjutkan kata-kataku.
“paginya aku mendengar kabar tentang Amanda yang di temukan meninggal di bawah kolong jembatan, aku tidak tahu... Jika malam itu adalah malam terakhirku bertemu dengannya.”
Aku membiarkan diriku tersenyum sembari menatap Emy. Namun tetap saja akhirnya sesuatu yang kutahan sejak tadi keluar juga. Air mataku meleleh tak terkira seiring tatapanku mengabur.
Emy yang melihatku sekacau ini langsung merentangkan tangannya dan membawaku dalam sebuah pelukan.
Aku menangis dan berusaha meredam raunganku. Untuk pertama kalinya aku mengingat Amanda yang sudah lama kulupakan. Walaupun Amanda adalah seseorang yang membawaku dalam bahaya waktu itu... Sejujurnya kami berteman karena kondisi yang hampir sama.
Aku yang tak punya keluarga yang utuh, serta Amanda yang punya masalah dengan hubungan keluarganya. Dan bahkan... Jika aku punya kesempatan mengulang waktu aku ingin bertemu dengan Amanda lagi dan kami akan bersama-sama pergi ke kampus.
***
Aku mengaduk sup yang kumasak tadi dengan senyum di wajah yang tak mau berhenti. Kemudian dengan sengaja aku melirik mataku melihat ke bangku sofa tempat dimana Emy tertidur pulas.
Setelah adegan menyedihkan dimana aku menangis dalam pelukannya, ah.. Aku jadi malu sendiri.
Tapi, secara tidak langsung itu membuatku jadi sedikit lega. Aku jadi tidak menyalahkan diriku lagi atas kemalangan yang telah berlalu. Karena Emy sudah mau mendengar ceritaku.
Brak!
“Irene!”
Aku berhenti mengaduk aduk sup ini dan langsung melepaskan celemek yang melekat di tubuhku. Pria itu sudah datang.
Aku pun berjalan menuju pintu depan dan ketika mataku langsung bersua dengannya, aku hanya menatapnya dengan tanda tanya.
Namun pria itu-Aldian, langsung mendekat ke arahku dan merangkum wajahku seenak jidatnya saja.
“Apwa yangh kwau lakwukan” dia bahkan membuatku tidak bisa bicara dengan benar!
Aku memukul pergelangan tangan Aldian sekuat tenaga, namun entah terbuat dari apa tangan keras dan kuat itu, aku langsung merasakan sakit.
“berhenti memberontak! Aku sedang memeriksa lukamu!”
Apa? Sejak kapan aku terluka?
“Emy! Dimana Emy?” emh? Aku mendengar suara seorang pria lagi?
Aku pun berusaha menolehkan kepalaku ke belakang, namun Aldian tetap merangkum wajahku dengan posesif, bahkan pria itu dengan sengaja membawa kepalaku agar mendekat dengan wajahnya.
“Matamu merah, kau habis menangis?” Aldian mengatakan itu dengan suara berat khasnya, yang selalu membuat bulu kudukku merinding. Aku dengan susah payah menelan ludah hanya mengangguk mengiyakan. Bahkan jika aku bohong sekalipun dia akan terus bertanya.
“aku akan membawa pulang Emy”
“Baiklah paman”
Akhirnya... Aku merasakan jika tangan Aldian melemah di wajahku. Dengan kesempatan itu aku bisa melirik pria yang akan membawa Emy... Tapi , Emy sudah dalam gendongannya? Sejak kapan?
Aku bahkan tidak merasakan dia lewat barusan.
Tapi akhirnya aku bisa melihat pria itu dari belakang. Jika aku tebak.... Dia kakaknya Emy? Bahkan tingginya sama dengan Aldian...
“Dia pasti pria yang baik”
“Apa yang kau bilang?” hell? Aldian kembali ke mode awalnya. Dia merangkum wajahku dengan kekuatannya lagi dan itu membuatku tidak nyaman.
Aku berusaha menarik narik tangannya agar dia bisa melepaskan wajahku segera. Namun sialnya dia malah menambah kekuatannya di kedua sisi wajahku.
Langsung saja mataku melotot ke arahnya meminta penjelasan, namun... Pria itu malah mendekatkan wajahnya lagi padaku.
Aldian menunduk seolah menyamakan tinggi kami yang sangat berbeda secara signifikan. Dan itu membuat jantungku kembali berdebar tak karuan. Tanganku yang ada di pergelangan tangan Aldian mulai melemah seolah tersihir oleh pesonanya.
Dari sini aku bisa melihat mata tajam itu terpaku pada manik mataku. Hidungnya yang mancung dan hampir menyentuh hidungku membuat kakiku mulai lemas. Bahkan deru nafas hangat Aldian yang terasa putus-putus, menyapu wajahku begitu saja.
Tapi... Ada yang aneh dengan tatapan Aldian saat ini. Keningnya yang berkerut dan matanya yang mulai berusaha bimbang antara menghindari tatapanku atau tidak. Kenapa dengan pria ini?
“jangan menangis lagi, aku di sini melindungimu Irene”
***