BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB--3



aldian pov


“mom!” Aku memeluk mom dari belakang mengejutkannya tiba-tiba. Kusandarkan kepalaku tepat di atas bahunya dengan sedikit menunduk menyesuaikan tinggi.


 


“Aldian! Kapan kamu pulang?!”


 


“DASAR BOCAH NAKAL! GANTI BAJUMU KEMUDIAN SEGERA MAKAN!” Aku cengengesan mendapati teriakkan daddy dan pertanyaan mom yang hampir berbarengan. Namun aku tak menghiraukan teriakan menyebalkan dad. Dan malahan lebih mengeratkan pelukkanku pada mom.


 


“Aku baru pulang mom” jawab ku seadanya dengan membenamkan wajah di leher mom yang hangat. Aku benar-benar merindukan wanita cantik ini!


 


“Kalau begitu ganti bajumu, kemudian kita makan malam bersama” kata mom lembut tidak protes sama sekali... Namun, auranya berbeda 180 derajat di belakangku. Dan aku yakin itu adalah aura membunuh daddy yang tak mau aku menyentuh mom lagi...


 


 


Hell?! Aku ini anaknya! Tapi dia cemburu padaku seperti aku ini pria lain yang menggoda istrinya.


 


“Karin benar! Sekarang pergilah ke kamarmu kemudian ganti baju! Kau akan mencemari makanan di sini!” aku sedikit tertawa mendapati perkataan dad barusan. Dia sedikit menekankan kalimat akhirnya seolah aku akan tersindir dengan itu semua. Namun sayang nya dad.... Aku tidak terpengaruh lagi.


 


Kulihat mom menghentikan gerakkannya mengaduk sayur yang ada di panci rebusan. Di matikannya kompor tersebut, di sertai dengan helaan nafas panjang.


 


“kenapa mom?” tanyaku semakin mengeratkan tanganku pada perutnya. Apa mom marah? Kata dad, mom sangat mencemaskanku, dan mungkin saja mom akan memarahiku karena membuatnya khawatir....


 


“kamu ganti baju dulu, mom mau bicara dengan dadmu” aku merasakan aura mom mulai sebelas dua belas dengan dad. Dan akhirnya aku mengurai pelukanku dari mom, “kalau gitu Aldian ke kamar dulu mom” ujarku sedikit sedih bercampur takut.


 


Kemudian kakiku melangkah pergi keluar dari dapur, meninggalkan dad yang kulihat langsung memeluk mom di sana. Dasar pria tua mesum!


 


Aku tak menghiraukan lagi dad dan mom yang pastinya akan bermesraan lagi di dapur. Walau bukan pertama kalinya aku melihat mereka seperti pasangan muda baru menikah. Tapi tetap saja, aku sedikit iri dengan hubungan yang nampak awet muda tersebut.


 


Mom dan dad sudah tidak muda lagi, namun hubungan mereka lebih manis dari kue kismis-ini hanya perumpamaanku. Well, bagaimana caranya aku bisa menemukan wanita yang seperti mom? Baik hati, penyabar dan selalu cantik.


 


Hah... Sudahlah, wanita seperti ini langkanya kayak nemu emas sekarung di tepi jalan. Mustahil, tapi belum tentu enggak ada.


 


Ku gelengkan kembali kepalaku yang sudah mengkhayal kemana-mana. Kakiku ku arahkan pada kamarku yang berada tidak jauh di depanku. Sialnya nasibku-keluhku dalam hati ketika kulihat pintu berwarna abu-abu di depanku... sebenarnya kamarku yang sekarang adalah kamar bekas pembantu 15 tahun lalu. Kamarku yang dulu waktu kecil tepat berada di lantai 2. Luas dan sangat nyaman. Namun karena selalu ada suara aneh ketika malam hari-tepat di kamarnya mom-dad, dan aku selalu protes karena itu-begitu juga mark- kami langsung di usir ke lantai bawah.


 


Dan begitulah akhirnya bagaimana aku menempati kamar ini. Aku membuka pintu di depanku dengan perasaan lelah. Kemudian langsung ku rebahkan tubuhku ke atas kasur besar di depanku, tanpa mengganti pakaian dulu.


 


Hari ini fokusku... Kembali terganggu. Hanya karena memikirkan gadis itu membelot lagi.


 


Apa yang harus kulakukan agar dia bisa tunduk padaku? Semuanya karena kejadian malam itu... Malam dimana, sial! Bahkan mengingat dia tidak tahu siapa sebenarnya diriku, membuatku ingin langsung membawanya membrowsing di internet mengenai seorang aldian antonio sang pewaris perusahaan devan antonio yang sudah diakui kejeniusannya oleh negara paman sam.


 


Aku benar-benar ingin melihat wajah terkejut wanita itu. Sebuah senyum terbit di wajahku, beberapa rencana cemerlang mulai tersusun rapi di otakku. Ini pertama kalinya aku bergairah bukan untuk membunuh seseorang, namun hanya untuk menundukkan kepala seorang wanita.


 


“persiapkan dirimu nona”


***


 


Irene pov


 


Aku masuk ke dalam rumah, sebuah rumah yang sudah 2 bulan ini tak ku kunjungi. Ketika kulihat, suasana begitu gelap, suram dan juga mencekam. Aku merasakan bulu kudukku merinding takut ketika kumasuki rumah ini.


 


 


Cahaya lampu neon panjang tiba-tiba saja menusuk mataku. Aku mengerjapkan mata berkali kali menyesuaikan diri. Dan ketika semuanya sudah terasa jelas. Segera ku edarkan pandangan meneliti keadaan. Semuanya masih sama... Ruang tamu kecil dengan TV lama dan sofa kayu yang sudah nampak tua. Rumah ini tak berubah bahkan setelah 2 bulan lamanya.


 


Aku kembali mengalihkan pandanganku pada beberapa foto jadul, yang terpaku di dinding dekat tubuhku. Semuanya masih sama seperti dulu... Ku amati dengan sayang beberapa foto yang menampilkan seorang gadis kecil dan wanita dewasa yang saling merangkul dan penuh akan tawa bahagia. Seolah tidak ada beban sama sekali.


 


Kemudian beberapa foto lain hanya menampakkan gadis kecil itu dengan pose sama yaitu berdiri, dan menunjukkan senyum bahagia pada kamera.


 


“Kau begitu cantik maria” gumamku dengan suara lirih, ketika ku rasa mataku mulai memanas. Kemudian segera ku gelengkan kepala untuk mencegah air mata itu mengalir.


 


“Bram itu kau?”


 


“tidak ma, ini aku!” jawabku getir.


 


“Oh maria, kamu baru pulang?” itu suara mama...


 


Dengan segera aku langsung menuju sumber suara. Kumasuki sebuah kamar yang tidak jauh dari tempatku berdiri, kulihat mama sedang duduk di atas ranjangnya sembari menyisir rambut panjangnya pelan dengan jemari-jemarinya.


 


“maria... Kenapa kamu selalu pulang terlambat?”


 


“mama... Tadi aku melihat seorang penjual ketoprak di jalan, dan aku membelikan satu untukmu ma” ujarku lembut menyembunyikan hatiku yang terluka. Dan menyodorkan sebungkus plastik makanan yang langsung diambil oleh mama. Ma... Ini aku irene bukan maria..... Akuku dalam hati.


 


Namun tidak pernah ku keluarkan dalam bentuk lisan. Mama pasti akan marah. Aku melihat mama tersenyum cerah. Namun itu hanya kebahagiaan sesaat. Jika dilihat kondisi mama, mata bercekung hitam dan lengan kurus. Kulit putih dan pucat yang tak terurus.


 


Aku memeluk mama dari samping mencurahkan semua rasa sayangku yang tak bisa terungkap karena aku bukan maria. Karena aku hanya irene, anak mama yang lahir 2 menit sebelum maria.


 


“Kenapa kamu jadi manja gini maria?”


 


“Ma... Besok aku kuliah jadi aku mau pergi lagi... Mama gak apa kan sendirian?” kataku tanpa mau menjawab mama.


 


Kurasakan usapan tangan lemahnya pada puncak kepalaku. Tangis yang tadinya susah payah ku tahan kali ini keluar. Ku gigit bibirku menahan isakkan yang akan keluar ketika mama bahkan membalas pelukku.


 


Kami berpelukkan satu sama lain. Andaikan mama bisa menerima ku sebagai irene, bukan maria. Itu sudah cukup menjadi sumber kebahagiaanku. Tapi sayangnya mama tidak bisa begitu. Itu karena mama shock kehilangan maria saat umur kami baru 5 tahun.


 


Mama tidak menerima semua itu, dan menyalahkan kelahiranku. Semenjak itu mama membenciku sebagai irene dan menyayangi sosok maria. Tapi jika di kupikir jauh lagi... Sebelum maria meninggalpun mama juga membenciku. Dan yang paling di benci mama dariku adalah warna pupil mataku yang katanya sama dengan nenek. Warna abu-abu yang sangat cocok di kaitkan dengan awan mendung.


 


Dan semenjak saat itu, aku berperan sebagai maria yang di sayangi mama sekaligus irene yang di bencinya. Yang membedakan kami hanya satu anggota tubuh, yaitu bola mata maria yang sama dengan mama. Coklat terang yang sangat cantik. Andaikan aku terlahir dengan warna yang sama, mungkin mama tidak akan membenciku.


 


 


“hai sayang,”


 


“bram! Kau sudah pulang?!”


 


Pria gila itu!