BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB--28



“siapa yang melakukan ini” tanya Aldian dengan suara rendahnya.


 


Irene tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya ketika menangkap sosok Aldian yang muncul-duduk dan menatap tajam ke arah kakinya


 


Apa dia masih dalam mimpi? Tapi bukan hanya karena itu saja yang membuat  dirinya terkejut bukan main. Wajah Aldian yang dipenuhi dengan luka gores dan lebam, membuat Irene menahan nafasnya.


 


Sudut bibirnya yang sobek dan mengeluarkan darah, pelipisnya yang agak membiru serta-dia bisa melihat perban yang terbalut di dada Aldian yang terlihat sedikit akibat kancing kemejanya yang tidak terpasang rapi.


 


“wajahmu....” Irene menggigit bibirnya sakit dan langsung menutup mulutnya, siapa yang berani menorehkan luka pada Aldian yang terkenal mengerikan seperti ini?


 


“ini hanya luka kecil, dibanding denganku... kakimu terluka, aku akan memanggil dokter” ujar Aldian menenangkan dirinya, namun jauh dalam lubuk hati terdalam, pria mengerikan itu sudah menyusun rencana-rencana mengerikan untuk membalas manusia bejat yang berani meletakkan tangan pada Irene.


 


Irene yang tersadar dari lamunannya langsung meraih lengan Aldian dan menahan pria itu pergi. Pandangan Irene mulai mengabur seiring air matanya mulai mengalir membanjiri wajahnya. Rasa rindu dan sakit hati selama ini, serta kegelisahan tiada henti yang membuat hatinya bingung, melebur dan menjadi satu dalam bentuk tumpahan air yang keluar dari matanya.


 


“jangan pergi-hic” sebenarnya gadis itu malu bersikap manja seperti ini, namun apa mau di kata di depan Aldian dia seolah bisa menumpahkan semua penderitaannya.


 


Aldian mulai menggenggam tanga Irene yang menghentikannya dan langsung membawa tubuh kecil gadisnya dalam pelukan hangat yang tak pernah ia bagi pada wanita mana pun selain ibunya sendiri.


 


Punggung yang bergetar dan rapuh, bahu yang terguncang hebat serta isakkan tangis Irene yang memenuhi pendengaran Aldian. Pria itu memang tidak bisa menghibur wanita sama sekali. nyatanya dia memang tidak pernah bisa melakukannya... karena memang pria itu tidak pernah dihadapkan dengan yang namanya perasaan rapuh dan ketidakyamanan seperti ini. Walaupun dia punya Karin, tapi Aldian tidak pernah melihat ibunya bersedih seperti ini, karena Devan, daddynya selalu bisa membuat Karin tersenyum.


 


“ja-jangan menangis, kumohon” itu adalah permintaan yang penuh dengan kekakuan. Apa Irene tidak bisa mengerti kepanikan dan kemarahan hatinya yang berbaur menjadi satu seperti ini? Ketika tangan Aldian mulai mengelus pelan punggung Irene, dia mulai bisa menenangkan otaknya dan berpikir, apa yang sebaiknya ia lakukan agar Irene berhenti menangis... walaupun ada satu hal yang terpikir.


 


Tapi Aldian masih ragu, pasalnya ini adalah hal umum yang selalu ia lihat ketika dadnya berusaha menenangkan momnya, dan berakhir selalu dadnya mendapatkan tamparan telak di pipinya.


 


Tapi jika di ingat lagi, ini bukan yang pertama kalinya bagi Irene dan juga pria itu melakukannya. Dan itu menambah kepercayaan diri Aldian akan apa yang dia lakukan selanjutnya pada gadis dalam pelukannya saat ini.


 


Irene sedikit tergagap ketika Aldian mengurai pelukan hangat yang mulai membuatnya nyaman. Tapi, terlepas dari hal itu, sesuatu yang mengejutkan mulai terjadi.


 


Irene merasakan sesuatu yang lembut menguasai bibirnya dengan ahli, ciuman yang lembut dari Aldian, begitulah kesimpulan yang diambil otaknya yang sudah kacau dan kali ini bertambah kacau. Awalnya Irene berusaha untuk melepaskan diri dari Aldian, dan mendorong pria itu ke belakang agar bisa melepaskan bibirnya.


 


Namun semua itu sia-sia, tenaga seorang gadis kecil seperti dirinya selalu kalah dengan tenaga besar Aldian yang seolah tak ada batas. Degan tangan pria itu yang berada di wajahnya dan yang satu lagi berada di pinggang kecilnya, membuat Irene seolah seperti sedang di puja.


 


Semua sentuhan dan setiap kecupan yang Irene rasakan penuh makna dan perasaan, yang awalnya dia pasrah hanya karena dipaksa, sekarang mulai terbuai karena pujaan seorang pria.


 


Irene mengerti ujung dari peristiwa ini nantinya, bisa jadi akan ada penyesalan besar yang akan membuat tubuhnya hancur. Dan seharusnya dia tidak semudah ini terbuai pada perbuatan Aldian yang semakin lama semakin hilang kendali.


 


Dengan susah payah Aldian menjauh dari tubuh Irene, setelah ia rasa Irene mulai tenang. Di kepalkan tangannya sendiri untuk menahan keinginan gilanya menguasai Irene malam ini.


 


Ketika matanya yang penuh akan keinginan yang menggebu-seolah perutnya tergelitik sesuatu, dan setiap syaraf terasa gatal untuk kembali menyentuh Irene seperti tadi.


 


 pandangannya kembali di fokuskan pada Irene, dia bisa melihat bibir itu bengkak karena ulahnya, apa lagi bibir indah itu sudah bertambah merah karena warna darah yang berasal dari mulut Aldian.


 


“sial” umpat Aldian.


 


“a-ada apa?” tanya Irene gugup, namun tak mau melepas pandangannya dari tatapan aldian yang menggelap. Pria itu nampak sedang marah akan sesuatu yang tidak bisa di mengerti oleh dirinya sendiri.


 


 


Irene merona karena biskka aldian itu.


 


Kemudian dia sedikit tertawa dan tersenyum jahil. Apakah mungkin Aldian sedang menahan diri untuk tidak menyentuhnya lebih? Yah, walaupun bukan pertama kali dia memergoki sikap Aldian yang satu ini.


 


Jika pemikiran Irene benar, maka akan sangat lucu untuk di ceritakan pada dahlia, mengenai seberapa liar perasaan pria tampan di hadapannya ini.


 


“ternyata ciuman di saat-saat seperti ini benar-benar ampuh, lain kali aku akan mengingat jika gadisku hanya bisa diam jika di berikan sentuhan di sini” ucap Aldian sembari menempelkan ibu jarinya pada bibir Irene, yang mana membuat gadis itu kembali memerah.


 


Irene langsung menatap Aldian berang dan hendak mendorong kembali pria itu agar menjauh darinya, namun sayang, kedua pergelangan kecil Irene langsung di penjarakan. Gadis itu langsung di buat tak bisa bergerak dengan Aldian yang mendorong tubuh Irene agar terbaring di tempat tidurnya.


 


Aldian tahu jika gadisnya ini keras kepala. Jadi dia langsung sigap mengurung tubuh Irene agar tidak bangkit lagi-dengan tubuh besarnya tepat di atas Irene.


 


“hari ini aku terluka,  apa kamu bisa mengabulkan satu permintaanku” suara berat dan indah itu berbisik di depan wajah Irene.


 


Dengan takut-takut dia masih belum bisa menyetujui begitu saja apa yang di minta Aldian “a-apa itu?” tanyanya memastikan.


 


Aldian hanya bisa tersenyum dan tenang menunggu jawaban dari Irene lagi, dia langsung menggigit pundak Irene dengan keras, membuatnya membekas seketika. Irene merakan sakit yang amat sangat di bagian pundaknya-hingga air mata yang tadinya sempat tak keluar, mulai menampakkan diri dalam bentuk butiran bening air asin.


 


“sa-sakit! Aldian! Itu sakit!” jerit Irene kesakitan dan berusaha keras memukul punggung aldian sekuat tenaga.


 


Aldian hanya bergeming.


 


Dia tetap membuat gigitan menyakitkan itu tanpa peduli erangan kesakitan Irene yang memekakkan telinga. Sampai akhirnya Aldian bisa merasakan rasa asin dari darah Irene yang keluar melalui celah-celah kulit putih itu.


 


Dia sudah puas sekarang.


 


Aldian menjauhkan diri dari Irene sedikit dan menatap wajah takut Irene seolah tidak mau di makan hidup-hidup.


 


Kemudian tatapan Aldian kembali jatuh pada tanda gigitannya di pundak Irene.


 


“aku akan mengobatinya nanti”


 


“kenapa kau menggigitku!” tunjuk Irene dengan matanya yang mulai membengkak karena menangis.


 


“menurutmu?” tanya Aldian balik.


 


Irene melotot marah, dan menuntut jawaban segera.


 


“baiklah... ini hanya caraku untuk mengatakan jika kau milikku mulai sekarang”-‘walaupun sejak awal kita bertemu kau sudah menjadi milikku’ sambung Aldian dalam hatinya.