
Author pov
Irene menatap dengan sayang mamanya yang terbaring di ranjang rumah sakit. Dengan infus yang tertempel di tangan kiri sinta, membuat Irene merasakan rasa sakit yang amat sangat pada hatinya.
Tapi meskipun begitu dia tetap bersyukur mamanya bisa di rawat dengan baik. Berkat tawaran dan bantuan Aldian dia bisa membawanya ke sebuah rumah sakit yang di kelola perusahaan Devan. Bukan hanya itu saja, mamanya juga mendapat pengobatan gratis dan juga terapi penyembuhan untuk mengobati dimensianya.
Bagi Irene, yang masih belum tau niat sebenarnya dari Aldian yang menolongnya. Tapi untuk sekarang dia akan membiarkan lelaki itu mengambil kendali dulu, dan kemudian ketika dia akan meminta balas budi.... Mungkin Irene akan memberikan apa yang dimau pria itu, termasuk.... Tubuhnya?
Irene tidak tahu pasti tentang ini. Dari sikap Aldian yang seolah berhati-hati dalam menyentuh tubuhnya. Namun kadang dia bisa merasakan jika pria itu hilang kendali dan bahkan membuatnya terpaksa menerima hal yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Bagi Irene setiap perhatian dan perkataan Aldian membuatnya seperti orang yang spesial dan di inginkan. Jika pria itu bertanya apakah dia berhasil mendapatkan hati Irene. Dengan tegas gadis itu akan langsung menjawab iya.
Dia jujur jika pengaruh Aldian dalam hidupnya sudah sebesar gunung, bahkan jika lebih lama lagi bersamanya, Irene tidak yakin hatinya akan siap di campakkan.
Irene tersentak dari lamunannya ketika mendengar ponselnya berdering dengan begitu keras. Ketika dia mencek siapa yang memanggilnya. Gadis itu cukup terkejut dan langsung mengangkat.
“Hai... Viola,”
‘Irene! Ke mana saja? Kamu hilang tanpa kabar kek gini? Mana udah absen dari kampus 1 minggu lebih? Kenapa gak angkat telponku kemarin2?’ Irene menghela nafasnya berusaha untuk menjelaskan dengan hati-hati pada viola. Temannya itu.
Memang sudah hampir 1 minggu lebih semenjak dia memutuskan menjual tubuhnya pada bajingan itu. Dan selama itu dia meminta izin libur dari kampus karena urusan keluarga. Bukan hanya untuk menenangkan dirinya tapi juga mengurus pengobatan sinta.
Dan baru sekarang Irene melihat notifikasi di HP-nya. Semuanya begitu mendadak sampai dia tak sempat bernafas. Mulai dari Aldian yang menyelamatkannya, sampai pria itu membiayai pengobatan mamanya.
“... Jadi gitu... Mamaku masuk rumah sakit, jadi aku ambil izin 2 minggu untuk nggk hadir ke kampus”
‘jadi gimana keadaan tante?’
“Mama harus rawat inap di sini, tapi semua akan baik-baik saja selama mama selalu di cek dan meminum obatnya” jelas Irene menerangkan pada viola agar temannya itu tidak khawatir lagi.
Selama ini dia memang tidak pernah mengenalkan mamanya pada viola, padahal mereka sudah sedekat benang yang di jalin jadi dua. Tapi, bagi Irene dia khawatir jika nanti mamanya akan syok melihat wajah baru.
‘jadi kapan kamu mau balik ke kampus? Kak Kris jadi gila nanyain kamu ke aku terus.... ‘
Irene sedikit tertawa mendengar guyonan viola barusan. Baginya kabar itu adalah hal yang membuat Irene sedikit terhibur.
‘kamu tuh ya... Pokoknya nanti kalau kembali ke kampus jangan masuk gerbang dulu, hubungin aku, soalnya kak Serena juga marah sama kamu, katanya kamu wanita ular yang udah goda banyak pria, mulai dari Aldian Antonio sampai Krisdian anak konglomerat, pokoknya jangan pergi ke kampus sendirian, oke?’
“oke2, gak akan deh” Irene kembali di buat tertawa oleh penuturan viola barusan. Memang benar jika dia kembali ke kampus nanti, mungkin akan terjadi perang dunia ke 3 di sana.
Irene mengakhir percakapannya dengan viola setelah 2 jam bercakap-cakap. Dan yang mendominasi percakapan itu hanyalah viola. Teman nya itu bercerita mengenai hadiah yang di berikan sekretaris Aldian. Mulai dari novel sampai pada boneka super besar dan sebuah smartphone mahal keluaran terbaru.
Dari percakapan itu Irene mengerti jika viola menyukai Andrea, tapi yang membuatnya takut adalah... Bagaimana jika viola akan sakit hati nantinya jika Andrea sudah bosan untuk memperhatikan gadis itu. Keadaannya hampir sama mirip dengan kondisi Irene saat ini.
Jadi yang bisa dia kasih saran untuk temannya itu hanyalah... Jangan terlalu berharap lebih pada perhatian seorang laki-laki, karena itu mungkin saja bukti pertemanan, bukan sebagai tanda kasih sayang terhadap pasangan.
Karena... Dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri.. bagaimana sinta berakhir mengenaskan karena cinta tertolak itu.
***
Irene menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 4 sore, seperti biasanya dia akan selalu kehabisan waktu di ruang inap mamanya.
Namun ketika Irene ingin menanggalkan jaket hitam yang ia kenakan. Pintu apartemen tiba-tiba terbuka. Dan itu menarik perhatiannya. Dalam hati Irene, bukankah Aldian akan pulang ketika jam pulang kantor, yaitu satu jam dari sekarang?
“Kau! Jalang licik!”
Irene membelalakkan matanya terkejut ketika suara bentakan itu muncul di sertai seorang gadis yang masih mengenakan baju sekolah putih abu-abunya. Menunjuk langsung ke arah Irene.
Irene yang melihat itu langsung menyipitkan matanya bingung, dilihat dari atas sampai bawah dia hanya seorang gadis SMA yang.... Cukup cantik? Irene bisa menebak jika anak itu pastinya blasteran. Bahkan jika di lihat dari tinggi badan, jika bukan karena seragam sekolah itu, Irene akan menganggap jika dia adalah wanita dewasa.
Dan ketika dia sudah mendekat. Segera saja diambilnya leher baju Irene untuk menantang wanita itu.
“Maaf kamu siapa?”
***
“ALDIAN! KEMBALIKAN PUTRIKU! KAU BAJINGAN!”
Aldian memijit keningnya yang kembali sakit. Dia sudah tertekan dengan pekerjaan yang di berikan Devan padanya dan sekarang ada lagi pria gila yang mendatanginya.
Brak!
“Paman... Bisakah kau mengetuk pintu dulu?” geram Aldian tertahan. Dia ingin cepat pulang menemui gadisnya di apartemen, namun semua kegilaan ini membuat kepalanya mau pecah! Jika saja tuhan mau berbaik hati menempatkannya di keluarga yang normal. Maka dia tidak akan seribet ini.
Aldian melihat dengan jelas kilatan amarah yang terpancar dari pria tinggi dan kuat di depannya. Setelah mendobrak pintunya secara brutal, dia bahkan mulai menatap Aldian dengan sorot mata membunuh.
“ALDIAN!-“
“paman... Tenanglah, aku yakin dia tidak bersamaku” Aldian berusaha menormalkan kondisi yang sangat parah. Pria di depannya adalah Arthur, suami dari aunty leanya. Berbeda dengan daddynya Arthur yang ia kenal cukup kalem dan juga selalu menjaga ketenangan. Namun, itu tidak akan berlaku jika sudah menyangkut Lea dan putri semata wayangnya itu.
Lihat saja sekarang, Arthur dengan dasi yang sudah entah ke mana serta jas yang tak terpasang rapi sama sekali. Aldian menebak jika pria itu langsung berlari ke sini untuk menanyakan kabar putrinya.
“ANAK BUAHKU BILANG JIKA EMY MAU MENEMUIMU! BAGAIMANAPUN DIA MENYUKAIMU, AKU TIDAK AKAN MERESTUI HUBUNGANNYA DENGAN BAJINGAN SEPERTIMU!”
Arthur mulai mengatur nafasnya ketika dia melihat Aldian hanya memasang wajah datar dan tidak berbicara sama sekali. Lelaki paruh baya itu akhirnya menjambak rambutnya sendiri. Untuk menghilangkan sedikit kepanikannya.
“paman duduklah dulu, dan tenangkan dirimu, dan kita akan membicarakannya baik-baik” ujar Aldian mempersilahkan Arthur u tuk duduk di sofa tamunya di ruangan itu.
Dan setelah Arthur mulai tenang dia juga ikut duduk di seberang pria itu. Dengan tangannya yang saling bertautan dan badan yang sedikit di condongkan ke depan.
“paman... Aku tahu jika kau tidak menyukaiku, tapi tolong jaga kata-katamu di sini, banyak orang yang akan mendengarnya” ujar Aldian dingin. Dia menunjukkan kuasanya di tempat itu secara tidak langsung. Dan Arthur yang melihat itu menggertakkan giginya menahan amarah. Entah kenapa ayah dan anak itu bisa bersikap hampir sama.
Bagi Arthur... Dia sudah membenci Duo Antonio junior itu... Bahkan ketika umur mereka masih 10 tahun. Bukan hanya karena darah Devan yang mengalir di sana, tapi sifat bajingan pria itu juga terwariskan pada kedua anaknya.
“Baiklah, maafkan aku, sekarang cepat katakan dimana putriku?”
Aldian mulai meredam auranya. Kemudian dia memejamkan mata hendak berpikir. Dia mulai menyambungkan beberapa petunjuk dalam ingatannya.
“Seperti yang kita tahu jika anakmu itu tergila-gila padaku-“
“kau tidak usah bangga dengan itu bajingan!” Arthur memotong perkataan Aldian dengan darahnya yang kembali mendidih. Jika bukan karena anaknya yang menyukai bajingan ini... Mungkin akan dengan senang hati Arthur membuka jalan restu menuju pernikahan. Tapi putrinya Emy, bahkan belum genap 18 tahun.
Dan jelas saja jika perasaan putrinya hanya sekedar cinta monyet di masa puber.
“Bisakah aku lanjutkan?” tanya Aldian dengan tegas. Lagi pun dia tidak ada niatan untuk mengasuh anak-anak.
Ketika Arthur menganggukkan kepala setuju, Aldian mulai melanjutkan perkataannya.
“beberapa hari yang lalu mark mengabari padaku jika Emy berusaha menghubungiku terus, dan aku menyuruhnya untuk tutup mulut saja.... Dan mungkin karena hal ini anak itu pasti mencoba mencari tahu dimana aku tinggal selain di rumah biasanya... “
“Dimana itu?”
“di apartemenku” geram Aldian. Dia baru tersadar bagaimana jika nanti Irene bertemu dengan Emy? Sedangkan dia tahu sekali anak kecil itu lebih brutal dari singa betina. Bagaimana jika nanti Emy menyakiti irenenya?
Aldian langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju tangga darurat. Dia tidak bisa menaiki lift khusus direksi karena akan terlalu lambat.
“Sial! jangan sampai dia menyakiti Irene!”