BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB--20



Hari ini adalah hari terakhir Irene meliburkan diri dari kampus. Walaupun tidak punya cukup quality time untuk pribadi, gadis itu akhirnya bisa santai sehari ini.


 


Irene memeriksa jadwalnya. Dia sudah menyelesaikan tugas kuliahnya. Dia sudah membesuk mamanya beberapa menit yang lalu. Dan sekarang dia punya waktu bersantai. Apalagi ini masih jam 12 siang.


 


Dan Irene puas dengan hasil karya yang terletak di atas meja. Yap untuk seharian ini Irene berencana menghabiskan waktu menonton berbagai film kesukaannya di apartemen Aldian.


 


Dia sudah menyiapkan popcorn 2 panci serta minuman bersoda 3 kaleng. Remot di sisi sofa dan... Jangan lupakan penyetel AC!


 


Karena hari inibpanas Irene dengan sengaja menyetelnya hingga suhu 20 derajat Celsius.


 


Ketika gadis itu mulai mendudukkan dirinya di atas sofa, suara bel pintu apartemen itu berbunyi. Irene langsung bertanya, siapa yang bertamu siang ini?


 


Dia pun mulai berjalan mendekati pintu itu dan berinisiatif membukanya.


 


“Kak!”


 


“Hai sayang”


 


“Jadi kamu yang namanya Irene?”


 


Irene melihat 3 orang wanita berdiri di depan pintu itu. Dia mengenal yang satunya adalah ibunya Aldian. Kemudian Emy, lalu wanita satu lagi?


 


Irene memperhatikan wajah wanita itu, jika dilihat dari dekat warna bola matanya sama dengan Emy, coklat terang.


 


“Apa kami boleh masuk?” Tanya Karin langsung pada Irene.


 


Gadis itu langsung berkata maaf dan mempersilahkan ketiga wanita yang bertamu itu untuk masuk.


 


Ketika sudah di dalam, mereka Karin mulai memperkenalkan Lea padanya.


 


“ini adalah adikku, namanya Lea”


 


“halo tante” Irene mengulurkan tangannya menyapa Lea dan itu di sambut antusias oleh wanita itu.


 


Setelah berbincang sedikit mengenai perkenalannya. Karin mulai menjalankan rencana liburan yang akan dia lakukan.


 


“jadi... Hari ini aku akan mengajak Irene Emy dan juga Lea adikku untuk kita liburan bersama! Dan tante sudah membuat rencananya!-“


 


“tunggu dulu, bagaimana dengan kak Devan? Kakak udah minta izin?” Lea langsung memotong perkataan Karin tiba tiba. Seingatnya kakak iparnya itu selalu over protektif dengan kakaknya Karin bahkan sampai sekarang.


 


Sangat tidak mungkin jika dia dengan mudah membiarkan istrinya pergi bukan?


 


“aku tau makanya aku kabur”


 


“Apa!”


 


“Jangan bercanda deh mom” ujar Lea dan Emy bersamaan. Mereka langsung protes dengan perkataan Karin barusan, karena mereka tahu bagaimana reaksi Devan Antonio mendapati istrinya hilang tiba-tiba.


 


Irene yang melihat interaksi 3 orang itu sedikit tertawa karena kerukunan keluarga yang begitu hangat.


 


“memangnya kenapa jika aku ingin kabur? Aku sudah lelah tinggal sendirian di rumah itu!” kata Karin memberontak dan tetap mempertahankan opininya.


 


Lea dan Emy yang mendengar itu hanya bisa pasrah dengan keadaan, secara Karin adalah orang yang keras kepala dan juga akan tetap mempertahankan keputusannya di awal.


 


“Irene, gimana sama kamu? Mau ikut Ngga?” tanya Lea pada gadis itu, sejujurnya Irene sangat berminat untuk pergi jalan-jalan. Dari semua rutinitas kehidupannya yang selali berat, dan penuh tekanan, dia sampai tidak pernah menikmati yang namanya jalan-jalan itu.


 


Tapi... Dia takut jika menjawab iya nanti, maka dia akan jadi beban bagi ketiga orang ini.


 


 


Irene menggigit bibirnya asal ketika melihat tatapan penuh semangat dari ibunya Aldian, serta tatapan harap dari Emy dan juga Lea.


 


Akhirnya Irene hanya bisa mengangguk setuju jika sudah di desak seperti itu, lagi pun... Siapa yang akan menolak liburan gratis?


 


***


 


“Dad! ini semua salahmu!” Aldian mulai menjambak rambutnya dan melayangkan protes pada Devan.


 


“Devan! Jika kau tidak menemukan Lea dan Emy aku akan menggantung tubuhmu di atas perapian rumahku!” ujar Arthur dengan penuh amarah.


 


Devan yang mendengar protes dan juga kekesalan yang langsung menuju padanya, membuat kepalanya hampir pecah. Dia kembali melirik surat yang di genggamnya sejak tadi.


 


Tulisan tangan istrinya.


 


“Karena dad selalu membuat mom tertekan, mom jadi pergi, dan bahkan Irene juga begitu!” kata Aldian tidak mau tau lagi. Dia super duper khawatir sekarang tentang 4 orang wanita yang katanya pergi berlibur ke suatu tempat.


 


Entah dimana itu? Dan mereka bertiga tidak tahu dan bahkan kehilangan jejak.


 


Devan sudah memeriksa semua jadwal penerbangan dan penjualan tiket, hingga meretas informasi para penumpang pesawat terbang. Sedangkan Aldian dan juga Arthur sudah menggali data pribadi penumpang melalui transportasi darat dan air. Dan semua itu nihil.


 


Jejak 4 orang itu seolah tidak berbekas sama sekali. Dan itu membuat Aldian bertambah cemas.


 


“Bahkan Lea dan juga Emy tidak mengangkat telponku! Sial!” dan sejak tadi Aldian harus mendengar umpatan demi umpatan yang terlontar dari mulut pamannya, Arthur.


 


“kalian bisa diam aku sedang berpikir” kata Devan dengan geramnya. Dia sudah tidak tahu lagi mau mencari istrinya itu ke mana.


 


“dad, apa dad tahu sesuatu? Semisal tempat yang ingin mom kunjungi?”


 


“aku tidak tahu... Karin tidak pernah bicara ingin pergi liburan” ujar Devan memijat kepalanya yang kembali berdenyut. Kenapa Karin berpikir untuk liburan? Seharusnya dia memberi tahukan dulu padanya, dia bahkan bisa membawa istrinya berlibur dengan tenang ke pulau pribadi mereka.


 


“bukankah kalian mengatakan jika sedang menyelidiki perusahaan DIRO? Sial! Jika aku tau ini akan terjadi. Maka aku akan mengurung anak dan istriku di rumah!”


 


Aldian hanya bisa memalingkan wajahnya yang khawatir setelah mendengar perkataan Arthur. Perusahaan itu adalah perusahaan baru, namun hanya kedok saja, sebenarnya perusahaan itu sudah berdiri lama sekali, dan untuk menyokong modal yang besar, dalam dunia industri, mereka melakukan perdagangan manusia di berbagai negara.


 


Lalu bagaimana jika Irene, mommy, Emy, serta anuti leanya terlibat masalah ini?


 


Bahkan Aldian tidak bisa membayangkan lebih jauh lagi.


 


“bagaimana dengan CCTV? Apa kau menyelidikinya Al?” tanya Devan dengan penuh harap,


 


“Dad... CCTV di kota Jakarta ini bagaikan semut yang bergerombol. Bahkan di setiap toko setidaknya ada lebih 2 CCTV, dan sekarang Leon dan Andrea sedang menyelidikinya” kata Aldian sembari memijit pelipisnya yang mulai berdenyut.


 


Arthur tidak lagi membuka suaranya. Hanya itu satu-satunya solusi untuk menemukan wanita-wanita itu.


 


“kita akan menunggu sebentar lagi, Andrea akan memilah beberapa kamera CCTV yang mungkin akan memberikan kita petunjuk” lanjut Aldian meyakinkan.


 


 


Kenapa momnya harus berniat pergi liburan sekarang? Padahan kondisi antara perusahaan Devan dan DIRO sedang tidak kondusif sama sekali. Jika seandainya mereka terlibat dalam permasalahan ini....


 


Aldian sudah tidak tahu lagi apa yang akan terjadi kedepannya. Yang jelas, mereka harus merahasiakan hilangnya 4 wanita ini. Jika sampai terdengar ke luar. Maka itu akan jadi kesempatan yang empuk untuk menghancurkan kerajaan yang di bentuk daddynya hampir 40 tahun lebih.