
malam ini Irene berkunjung ke rumah sakit tempat perawatan mamanya. dengan Karin yang menemaninya saat ini. ibunya Aldian itu setia menunggunya di sana. membuat Irene tersentuh dengan perhatian itu.
mata Irene melihat mamanya yang saat ini sudah tertidur lelap. diusapnya kepala itu dengan sayang dan sesekali gadis itu mengecup kening kulit yang mulai keriput itu. Karin yang melihat semua adegan itu mengusap matanya tak tahan untuk menangis. akhirnya mau tak mau dia sudah keluar ruangan, meninggalkan Irene dan sinta.
"semoga saja mama bisa cepat sembuh..." bisik Irene tulus.
dia mengusap sayang legan mamanya, dan memijat kaki sinta beberapa kali untuk menyalurkan rasa rindu itu. namun aksinya terhenti ketika menemukan sebuah surat putih yang tak disebutkan pengirimnya tergeletak di dekat kaki sang mama. Irene sangat penasaran apa isinya saat dia membaca sebuah tulisan kecil di sudut amplop itu.
bukalah....
itu adalah perintah yang membuat Irene merobek sedikit demi sedikit untuk membuka isinya. keningnya berkerut karena isinya adalah beberapa lembar foto dengan nuansa yang cukup gelap dan tidak jelas siapa yang ada di sana.
ada 3 buah foto tepatnya, dan satu buah surat serta sebuah flashdisk hitam.
Irene meletakkan foto itu dan membuka lipatan surat yang ada di sana.
'kau tau Aldian membunuh saudaraku, dan 3 buah foto serta satu flashdisk itu yang kukirimkan padamu adalah waktu Aldian menyiksa dahlia. aku tidak bermaksud untuk menyuruhmu percaya, namun tinggalkan lelaki berbahaya itu dan keluarganya, jika kau masih ragu dan ada yang ingin di tanyakan, kita bisa bertemu di kampus, aku juga salah satu mahasiswa di sana'
surat itu berakhir dengan penulisnya menuliskan nomor teleponnya di bawah.
jelas saja Irene tak mempercayai ini. dia yakin jika orang yang mengirimkannya hal semacam ini adalah orang yang ingin merusak hubungannya dengan Aldian. foto ini memang tidak jelas karena diambil secara diam-diam. lalu pria tinggi dan besar yang tampak membelakangi itu... terlihat menggenggam sesuatu seperti cambuk atau apalah itu. bisa jadi ini adalah gambar yang di ambil dari internet.
ya... Irene yakin itu.
namun tangannya malah mengambil benda kecil berwarna hitam itu. tidak, kenapa keraguan itu tumbuh dalam hati Irene? dia yakin jika Aldian pria yang baik dan hangat walau itu hanya padanya. tapi...
"sayang ini sudah cukup malam, bagaimana jika besok kita berkunjung lagi?" Irene membulatkan matanya dan langsung menyembunyikan foto dan surat itu di bawah kaki mamanya agar momnya Aldian tidak tahu.
gadis itu berbalik dan menampilkan senyum ramahnya "iya mom, bentar aku mau beres-beres dulu"
"kalau gitu mom nunggu di luar ya... di sini bawaannya mom pengen nangis terus"
Irene mengangguk dan Karin sudah kembali keluar. jika dia meninggalkan kediaman Aldian dan pergi dari pria itu, bukankah dia tidak akan bisa bertemu ibunya Aldian lagi? lalu... bagaimana dengan semua ini? berpikir meninggalkan pria itu entah kenapa membuat dadanya sesak.
***
Irene menyimpan dengan baik dan aman surat yang di terimanya di dalam laci dekat tempatnya tidur di kamar tamu rumahnya keluarga Aldian. dia masih tak berani membuka flashdisk hitam itu. apa karena Irene percaya pada Aldian? gadis itu juga tidak tau. namun hatinya seolah menolak untuk mempercayai apa yang dikatakan si pengirim surat.
Irene masih mencoba untuk memejamkan mata... namun kejanggalan itu menyeruak di dalam hatinya. jika dipikir.... Dahlia sudah tidak nampak lagi di kampus. rumor mengenai dirinya juga seolah hilang tanpa bekas. dia sudah menanyakan pada viola mengenai wanita itu, namun viola juga merasa bingung karena lenyapnya perempuan itu dalam berita.
mencoba meyakini, mungkin saja Dahlia sudah pergi dengan ayahnya ke Australia. karena ketua yayasan diganti dengan yang baru juga.
tok
tok
suara ketukan pintu membuyarkan diskusi pikiran Irene yang berkecamuk. diliriknya pintu yang tertutup rapat itu, sebelum akhirnya bangkit dari baringnya untuk melihat siapa yang mengetuk. mungkin saja momnya Aldian. karena memang kadang wanita paruh baya itu kelewat perhatian dengan Irene. sampai-sampai Irene merasa jika dia sudah punya keluarga baru yang hangat.
"mom.... ada ap- hmppp!"
Irene membulatkan matanya ketika yang ada di balik pintu bukanlah Karin.
mulutnya dibekap dengan tangan yang besar, membuat Irene tidak bisa berkata. "Irene.... sssh,...." telunjuk pria itu ditekannya ke bibir, kemudian mulai berbisik halus di depan wajah Irene.
mampus. Irene segera memundurkan tubuhnya agar menjauh hingga membuat bekapan tangan itu terlepas. pria itu adalah Aldian. entah keberanian dari mana dia bisa ke sini. bukankah Karin menjanjikan pada Irene bahwa Aldian tidak akan mengganggunya beberapa hari ke depan? namun kenapa dia ada di sini?
Irene menatap bingung pada Aldian. pikirannya saat ini tertuju pada surat itu. Aldian dan surat itu, apa yang sebaiknya ia lakukan untuk mengkonfirmasi semuanya? dia takut jika bertanya pada Aldian, nantinya bukan jawaban yang ia dapat malah kemarahan. Irene menghembuskan nafas lelahnya, sebelum akhirnya bertanya
"kenapa kamu bisa masuk?"
"hmmm, itu mudah sayang, aku hanya perlu membuat kesepakatan dengan Daddy" senyum Aldian lembut. langsung saja pria itu meraih pinggang Irene dan memerangkap tubuh gadis itu dalam kungkungannya. entah sejak kapan pintu kamar itu tertutup, Irene bahkan baru menyadarinya ketika Aldian malah sudah mengunci pintu itu dari dalam.
"kenapa kamu menguncinya?" protes Irene, ketika gadis itu ingin meraih gagang pintu, Aldian dengan cekatan membawa kedua tangan Irene ke depan dadanya.
"kamu tidak merindukanku?" tanya Aldian mengalihkan Irene untuk keluar dari kamar.
sungguh dia sudah bersusah payah dengan dadnya untuk membuat rencana ini, atau lebih tepatnya dia membujuk Devan agar bisa segera membiarkannya bertemu dengan Irene. Devan ternyata benar-benar melaksanakan apa yang di katakan Karin untuk mengawasi Aldian agar tidak bisa bertemu dengan Irene.
namun bujukannya itu berhasil di hari ketiga karena ternyata pria itu juga merindukan istrinya.
"tidak" kata Irene singkat dan mendorong lagi tubuh Aldian dengan tenaga yang sangat pelan.
'tidak, aku benar-benar sangat merindukanmu' lanjut batin Irene. bohong jika hatinya tak memikirkan pria itu. selama ini Irene hanya menyangkal setiap perasaan yang hadir agar tidak bisa tersakiti, terbiasa berbohong pada dirinya sendiri adalah hal yang biasa dilakukan gadis itu.
"hmm, untuk sekarang aku percaya" ujar Aldian masih dengan senyumnya.
Irene yang mendengar itu mendongakkan kepalanya ke atas memperhatikan Aldian lekat. pria itu tak nampak marah maupun sedih. ekspresinya benar-benar tidak bisa Irene baca saat ini.
"aku lelah, sebaiknya kau pulang sekarang, sebelum mom tahu-"
"aku akan pulang besok, untuk saat ini biarkan aku mendapatkan pelukan dari gadisku" Aldian melepaskan tangan Irene dan merengkuh tepat tubuh kecil gadis itu. kepalanya di rongkokkan dengan nyaman di atas pundak Irene, dengan sesekali tangan pria itu mengusap sayang rambut wanitanya.
"Miss You so bad" bisik Aldian berat tepat di depan telinga Irene, membuat gadis itu merinding dengan terpaan panas dan suara beratnya pria itu.