
Irene pov
Ini sudah waktunya pulang dari kampus, dan setelah ini aku harus melihat keadaan mama di rumah sakit. Dan besoknya lagi harus bekerja di Cafe mentari, aku harap manajer tidak marah karena aku absen selama 2 hari yang lalu.
Walaupun aku mengabari nada, tentang masalah keluarga yang kuhadapi. Tapi aku yakin jika manajer akan memarahiku habis-habisan.
“Irene, mau ku antar pulang?”
“hai! Lo gila! Itu ceweknya si Aldian!”
Aku menolehkan kepalaku ketika suara yang tentu saja ku kenal, memanggilku. Dan ternyata benar itu kak Kris dan seorang lelaki yang hampir sama tingginya dengan kak Kris.
Aku bisa melihat senyum hangat itu tercetak indah di wajah tampannya. Aku melirik sedikit ke arah seorang lelaki yang berdiri di samping kak Kris, yang ku tebak dia adalah temannya. Dan benar saja, pria itu langsung menatapku tajam dan berakhir memalingkan wajahnya.
Aku tidak tahu menahu mengenai rumor apa yang beredar dan menyebar secara diam-diam tentangku. Namun aku yakin jika itu adalah isu yang tak baik.
Dan sekali lagi ini pasti karena Aldian.
“halo kak Kris, sepertinya tidak usah” ujarku cepat menolak. Entah kenapa aku tidak ingin Aldian salah paham mengenai hubunganku dengan pria ini... Tapi kenapa harus begitu?
Bukankah bagus jika aku bisa berteman dengan kak Kris dan menunjukkan jika aku sudah memiliki pasangan di depannya. Lagi pun... Jika hanya mengantar pulang.... Aku yakin jika itu tidak apa. Bahkan sebelum-sebelum ini pun beberapa kali kak Kris mengantarku pulang.
Aku melihat ekspresi kak Kris yang agak kecewa. Namun di banding itu semua aku lebih terganggu dengan senyum kecut dan meremehkan temannya itu. Aku hanya menghela nafas lelah, kemudian tersenyum lembut padanya sembari bergumam kata maaf karena tidak bisa menerima tawarannya. Lagi pun jika aku menerima begitu saja, kak Kris pasti akan terkejut jika aku tidak tinggal di apartemen murah itu.
“tidak perlu minta maaf, lagi pula kamu nggk salah apa-apa ren... Eh, btw... Ada waktu gak? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan”
Mataku kembali tertuju pada kak Kris, kulihat jika mata pria itu sedikit berbinar memancarkan sesuatu. Kak Kris ingin bicara sesuatu?
“lo gila! Nggk aman nih anak, gw nasehatin lo sebagai teman Kris, yok lah cabut, ngapain lo kayak gini!” aku melihat teman kak Kris seolah menarik tangannya agar menjauh dariku. Namun sayangnya kak Kris tidak bergeming sama sekali, bahkan dia dengan sengaja melepas tangan temannya itu.
“kalau lo pengen pergi, silakan duluan, Gue ada perlu” aku cukup terkejut ketika mendengar suara dingin dari kak Kris yang di tunjukan pada temannya itu. Sangat jarang aku melihat sosoknya yang marah seperti ini.
“kak... Aku juga tidak bisa berbicara dengan kakak, karena sehabis ini aku ada urusan” ujarku sedikit takut. Lagi pula... Memang benar, aku tidak ada cukup waktu untuk berlama-lama lagi di sini.
Aku melihat pria yang di kenal kak Kris itu pergi dengan beberapa umpatan, meninggalkan kami berdua di lorong koridor kampus yang sudah sepi.
“kak... Kalau begitu aku juga mau pergi-“
“Tunggu!”
Aku tercekat ketika tiba-tiba saja kak Kris memegang pergelangan tanganku. Dan tubuhku langsung refleks untuk segera melepasnya.
Tapi...
“Kumohon hanya sebentar ren, sebelum aku terlambat” kak Kris tetap menggenggam pergelangan tanganku dan bahkan berusaha menarik tubuhku agar mendekat padanya.
Aku sedikit terhuyung karena hal mendadak ini, jika bukan karena kakiku langsung tegak merespons, maka aku yakin aku akan langsung jatuh.
Aku langsung melayangkan tatapan protesku padanya. Dan ketika itulah mata kami langsung bertemu.
“Aku nggk mau terlambat ren...” aku bisa melihat binaran kesedihan di manik matanya itu.
“A-apa maksud kakak-“
“aku suka sama kamu ren! Aku ingin kita menjalin hubungan lebih dari sekedar teman!”
Eh!!!
Aku membeku dengan perkataan kak Kris barusan. Ini memang bukan pertama kalinya seorang pria mengungkapkan rasa sukanya padaku... Namun, tetap saja aku sedikit terkejut karena itu kak Kris.
“Irene.....”
“eh,”
Aku melepas dengan paksa tangan kak Kris yang memegang pergelanganku sejak tadi ketika ku lihat... Aldian berdiri dengan wajah menakutkan di belakang kak Kris.
Kenapa di saat seperti ini? Bahkan ketika rumor mengenai Aldian dan diriku masih menjadi obrolan hangat semua orang, kak Kris malah menyatakan perasaannya padaku.
Dan tambah parahnya lagi... Di depan pak Kepala yayasan yang terkenal pilih kasih itu. Aku yakin jika beasiswaku nanti akan dalam bahaya.
Aku menundukkan kepala, takut, melihat wajah semua orang. Aku malu dengan diriku sendiri saat ini.... Kenapa bisa jadi begini?
“Ikut aku” aku merasakan sebuah tangan menyentuh pergelangan tanganku.
Dan ketika ku tengok siapa itu. Ternyata Aldian dengan wajah dinginnya. Pria itu bahkan... Tidak ada sorot kehangatan di matanya seperti biasa.
Kenapa dia marah?
Apa dia melihat aku dan kak Kris bersama?
Apa karena kak Kris menyatakan rasa sukanya padaku?
“maaf tuan Aldian yang terhormat namun saya masih ada urusan dengan Irene” aku melihat kak Kris mulai memegang tanganku yang satunya lagi.
Aku sedikit terkejut dengan situasi aneh ini, bahkan kak Kris sedikit menarikku agak mendekat ke arahnya. Aku bisa melihat wajah marahnya yang sama mengerikan dengan Aldian.
“aku akan menghitung sampai lima, lepaskan tangan Irene, atau kau akan kehilangan tanganmu” Aku merinding dengan suara berat Aldian yang mulai memenuhi pendengaranku.
Bahkan cengkeraman pria itu pada tanganku sudah sangat kuat namun... Dia malah semakin mengeratkannya.
“sa, sakit” kataku dengan berusaha untuk melepas tanganku dari Aldian.
“kau menyakitinya!!”
“Satu” aku membulatkan mata ketika Aldian mulai menghitung. Walaupun kak Kris berusaha keras melepaskan tangan Aldian dari tanganku, namun tetap saja, aku yakin tenaga kak Kris tidak ada apa apanya daripada Aldian.
“Dua”
“kau bercanda! Irene kesakitan bodoh! Aku tidak peduli kau anak siapa! Sekarang lepaskan tangan Irene!”
“Tiga”
Aku menggigit bibirku takut. Aldian... Pria itu sangat beda jauh dengan Aldian yang selama ini ku kenal.
Aku tau jika matanya menunjukkan kemarahan... Namun, tatapan mata Aldian yang penuh amarah sangat berbeda jauh dengan campuran emosi yang selama ini kulihat.
Jika seseorang marah akan suatu hal, maka aku bisa tahu jelas jika emosi yang ada di matanya penuh dengan bara api untuk menghancurkan seseorang, dan hanya sampai itu saja, tapi, tatapan kemarahan Aldian pada kak Kris, aku belum pernah melihatnya sama sekali, seolah-olah amarahnya untuk menghancurkan orang itu benar adanya..
Aku takut... Bahkan lidahku kelu hanya untuk mengatakan jika aku ketakutan.
“Empat”
Ini sudah hitungan Aldian yang ke empat, jantungku mulai berdegup kencang. Apa yang harus ku lakukan? Kulihat di sisi kiriku, kak Kris masih setia menggenggam tanganku dan tangannya yang satu lagi sudah mencengkram lengan atas Aldian dengan erat dan kuat.
“kak... Kak Kris,” kataku memberanikan diri membuka suara.
Aku melepas dengan paksa tangan kak Kris yang ada di lenganku dan lengan Aldian. Entah kenapa tubuhku menyuruh untuk menyelamatkan kak Kris kali ini.
Aku tidak tau kenapa. Tapi yang jelas, aku langsung menghamburkan diri untuk mendekat ke arah Aldian dan meraih tangannya yang masih menawan tanganku.
“aku... Akan di antar pulang oleh Aldian, jadi kakak tidak perlu khawatir” aku bisa melihat wajah kaget kak Kris, karena secara tidak langsung... Aku menolak perasaannya.
Kak Kris mengepalkan tangannya marah dan malah melihat tajam Aldian.
“Aldian, te-terima kasih sudah menjemputku.... Kalau begitu kak Kris, dan pak kepala, kami undur diri dulu” aku masih dengan jantung yang mau copot, berusaha menggiring Aldian agar pergi dari sini.
Untungnya... Pria itu menurutiku. Genggaman tangan Aldian yang sedari tadi mengunci pergelangan tanganku, masih seerat sebelumnya. Walaupun pria itu tidak menghitung lagi, aku tetap takut padanya.
Sekarang aku tidak bisa menebak isi kepala Aldian sama sekali...