BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB--12



Wajah Irene memanas ketika mendengar bisikkan Aldian tepat di atas bibirnya, dia bisa merasakan kesejukan nafas panas pria itu menerpa kulit wajahnya. Irene tahu jika posisinya saat ini sangatlah berbahaya, dengan tangan pria itu di pipi kanannya dan wajah serta tubuh mereka yang begitu dekat dan rapat.


 


Dentuman suara jantungnya yang sampai terdengar  ke telinga gadis itu, membuat tubuh Irene menghangat. Apa yang terjadi pada dirinya, apa ini pesona dari seorang pria tampan atau hanya sekedar perasaan aneh karena ia berdekatan dengan seorang pria?


 


 


“ibuku hanya ingin bertemu denganmu, malam ini, jika kau masih membantah, maka aku yang akan menggantikan bajumu nanti” kata Aldian mulai menjauhkan wajahnya dari Irene dengan perasaan tidak rela, entah kenapa dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri jika berada dekat dengan gadis itu. Tubuhnya seolah memiliki keinginan sendiri yang bertolak belakang dengan pikirannya. Tubuhnya seolah ingin melihat dan menyentuh gadis itu lebih lama lagi.


 


Namun dia harus membatasi diri untuk saat ini, dia tidak mau kena omel momnya karena terlambat makan malam.


 


Aldian menjauhkan tubuhnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan Irene sama sekali. Kali ini pria itu sudah melangkah mundur menjauhinya, dengan kepala yang di tekuk ke bawah dan pandangan marah, kemudian tangannya menjambak sedikit rambutnya ke belakang seolah sedang frustrasi.


 


Irene menarik nafasnya, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang. Kemudian di pikirkannya lagi perkataan Aldian tentang akan membawanya menemui orang tua lelaki itu. Dan Irene baru panik sekarang, di tutupnya mulutnya gugup tidak percaya. Apa yang akan dia lakukan? Apa yang akan terjadi jika dia ikut dengan Aldian? Apakah dia akan dimarahi? Atau di ancam agar mau menjauhi Aldian?-yah walaupun Irene akan setuju seratus persen jika mengenai hal barusan, dia juga tidak ingin dekat-dekat dengan lelaki angkuh itu.


 


“apa yang kau pikirkan?” tanya Aldian ketika melihat wajah Irene yang tampak pucat.


 


“kau akan membawaku ke rumahmu?” tanya Irene langsung, Aldian yang mendengarnya hanya bisa mengangguk jujur mengiyakan.


 


“ibuku ingin bertemu denganmu”


 


“tapi kenapa? Apa karena berita itu” Irene mulai bergetar ketakutan memikirkan semua yang terjadi. Ini semua salah anaknya mereka dan sekarang apa dia akan di siksa lagi oleh orang tua pria bajingan ini?


 


“kau tidak perlu takut sebegitunya, ibuku tidak pernah memakan daging manusia” kata Aldian santai dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Dia langsung memperhatikan gelagat Irene yang masih tidak mengerti dengan kondisi yang terjadi. Yah,... itu memang benar jika momnya tidak pernah memakan daging manusia, hanya dirinya, sang ayah dan juga adiknya mark yang pernah. Bagi Aldian sendiri, daging manusia itu hambar dan sangat tidak enak, walaupun dadnya mengatakan jika itu sedikit gurih di bagian kulit luar, namun dia tidak merasakan hal itu sama sekali, welll, kegilaan mereka memang berbeda-beda.


 


“bukan itu maksudku!-“


 


“jika kau tetap memikirkan suatu hal buruk maka itu benar-benar akan jadi buruk. Berhenti mengutuk jalan yang belum pernah kau lihat” tutur Aldian menasihati gadis itu. Setidaknya dia bisa menenangkan kekhawatiran Irene yang tidak mendasar. Bukankah dia  sudah bilang tadi jika momnya tidak memakan orang, lalu apa yang menjadi ketakutan gadis ini.


 


Irene tersentak ketika mendengar perkataan Aldian barusan. Berhenti mengutuk jalan yang belum pernah ia lihat.... selama ini ia selalu begitu, merutuki setiap jalan yang ia ambil, dan ketika itu tidak sesuai dengan perkiraannya maka dia akan langsung menyalahkan nasib.


 


Irene termenung dalam pemikirannya, kepalanya tertunduk ke bawah melihat lantai marmer putih mewah yang menjadi pijakannya. Lelaki itu benar, di satu sisi, dia selalu mengutuk, bahkan tanpa sadar berusaha untuk lari dari setiap jalan yang sudah ia ambil.


 


“aku akan menunggumu di luar, bersiaplah, dan jangan membuatku menjadi pelayan hanya untuk menggantikan bajumu.” Aldian meninggalkan ruangan ganti itu dengan senyuman yang tipis. Dia memang tidak tahu permasalahan Irene, namun sepertinya perkataannya barusan bisa mencerahkan sedikit kegelapan di pemikiran wanita itu. Dan semua itu memperbaiki hatinya yang sempat merasakan sesak dan juga sakit tadi.


 


***


 


“tuan, nona sudah siap,” ujar pelayan toko itu dengan hormat. Aldian mengangguk mengiyakan. Dan ketika Irene muncul di balik tirai kain berwarna gold itu, Aldian tidak bisa mengalihkan pandangannya.


 


Dia tahu jika Irene adalah gadis yang cantik, tapi ketika wanita itu berdiri dalam balutan gaun berwarna hitam tanpa lengan. Serta rambut panjang yang tergerai ke belakang. Dan ketika mata Aldian menatap pada bagian dada Irene yang sedikit terlihat, dia segera memejamkan mata. Gaun itu cocok dengan Irene namun belahan dadanya terlalu rendah!


 


 


Irene yang mendengar penuturan lancang dari mulut pria itu hanya bengong tidak percaya. Gaun ini indah di lihat dari mana pun Irene benar-benar menyukainya. “aku menyukai gaun ini” kata Irene berusaha mempertahankan gaun hitam yang melekat di tubuhnya.


 


Aldian yang mendengar itu segera melihat Irene. Dimasukkannya kedua tangannya ke dalam saku celana panjang hitam yang melekat di kakinya, kemudian Aldian menatap Irene dengan sorot mata penuh marah. Apa gadis ini mencoba membantahnya?


 


Para pelayan butik yang melihat sorot kemarahan Aldian, mencoba mengundurkan diri mereka ke belakang pelan-pelan. Karena mereka tahu rumor yang mengelilingi pria itu lebih buruk dari pada kabar penampakan di gedung rua sebelah rumah sakit.


 


Irene yang melihat Aldian mulai berjalan mendekatinya, hanya bisa menghembuskan nafas lelah, kenapa pria itu marah? Dia hanya ingin mempertahankan gaun cantik yang berkelap kelip ini, apa masalahnya?


 


“ganti, aku tidak menyukainya”


 


“Aku menyukainya dan ingin memakai ini!” kata Irene sembari menyilangkan tangannya di depan dada membentuk perlindungan diri ketika Aldian bertambah dekat.


 


“aku tidak menyukainya,” Irene membulatkan matanya takut ketika melihat kemarahan Aldian kembali memuncak. Dalam pikirnya, apa yang sebenarnya membuat lelaki ini marah? Dia bahkan menyetujui untuk memakai gaun yang dipilihkan para pelayan toko, seperti yang di bilang Aldian.


 


Dan kemudian Irene baru ingat... Mungkin saja gaun ini terlalu mahal, dan pastinya Aldian tidak ingin membiarkan uangnya melayang begitu saja hanya membeli gaun untuk seorang wanita yang selalu membuatnya kesal. Tapi... Irene benar-benar sudah jatuh cinta dengan gaun ini, dia ingin menyimpan dan bahkan menunjukkannya pada mamanya nanti di rumah sakit.


 


 


 “aku akan mengganti uangmu nanti, jika memang gaun ini sangat mahal” kata Irene dengan suara yang merendah di akhir. Di gigitnya bibirnya menghilangkan sedikit rasa takut yang mulai meresapi pikirannya. Kenapa pria itu menatapnya begitu tajam? Irene tidak tahu menahu dengan isi kepala Aldian yang tak mudah dia tebak.


 


“aku akan mengatakannya sekali lagi, ganti gaun ini” ujar Aldian dengan suara yang sudah memberat karena kesal dengan Irene yang selalu suka membuatnya berputar-putar dalam amarah. Jika dia tidak suka maka Aldian akan mengatakannya langsung, dan jika dia menyukainya maka dia akan membiarkan. Apa Irene tidak pernah bisa ‘menuruti’ saja keinginannya?


 


Irene kembali menghembuskan nafas lelahnya untuk ke sekian kali. Sikap kekanakan yang selalu labil dan di penuhi amarah, apa ii sikap asli dari Aldian Antonio yang sebenarnya? Irene berusaha mempertahankan tubuhnya untuk tetap tidak masuk dalam lautan rasa takut yang di buat Aldian. Wajahnya mendongak ke atas memperhatikan wajah Aldian.


 


tubuh mereka sudah sangat dekat saat ini, dengan Aldian berdiri tepat di depan Irene. Pria itu sedikit menurunkan pandangannya untuk melihat wajah berani Irene. Dan nyatanya, perempuan itu memang berniat menatangnya lagi.


 


Aldian mengeluarkan tangannya dari sangku celananya, kemudian diraihnya lengan kecil Irene.


 


“aku tidak suka kau memakai gaun ini” gumam Aldian sebelum akhirnya dia menarik Irene untuk jatuh dalam pelukannya. Irene membulatkan matanya tidak siap, dia terkejut dengan tindakan Aldian yang sangat menyebalkan, kembali pria itu bertindak seenaknya!


 


Srak!


 


“kau!”


 


“sekarang aku yang akan memilihkan gaun lain untukmu” bisik Aldian di depa telinga Irene. Bisikkan intens itu, bisikkan dari Aldian Antonio, membuat bulu kuduknya merinding.


 


Tidak lepas dari keterkejutannya tadi mendapati gaun bagian belakangnya di sobek langsung oleh Aldian, kemudian dengan santainya pria itu menawarkan diri mencari gaun baru untuknya. Irene berusaha melepas tangannya dari cekalan Aldian dan segera memegang gaun hitam yang sudah mulai melorot ke bawah. Pria gila ini!