BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB--13



Pria kokoh dengan bahu lebar dan tubuh tegap dan besarnya. Wajah tampan yang selalu enak di pandang. Membuat setiap wanita pasti akan langsung menghamburkan diri pada sosok kuat itu.


 


Baiklah ku akui jika Aldian adalah pria tampan dan kuat. Dia bisa dengan mudah pastinya mendapatkan hati wanita mana pun. Bahkan jika pria itu hanya tersenyum tipis saja, tidak mungkin jika saja pria itu menatap seorang gadis kupastikan jika dia akan mendapatkan hati dan tubuh gadis itu.


 


“Kenapa kau melihatku begitu?”


 


Aku sedikit terhenyak dari lamunan panjangku dalam menatap Aldian dari belakang. Melihat bahu dan juga punggung tegapnya itu.


 


“aku hanya sedang memikirkan beberapa masalah dalam hidupku” kataku konyol, sembari mengalihkan pandangan malu. Pria itu pasti memergokiku memperhatikannya barusan.


 


“ada masalah? Apa ada seseorang yang mengganggumu?” aku kembali menatap Aldian yang mendekat padaku kemudian berdiri dengan kokohnya di depanku. Astaga.... Pria ini benar-benar-aku tidak bisa menyangkal betapa menggodanya tubuh dan wajahnya.


 


Tapi ketika aku mencoba mendongak ke atas, bisa kulijat ekspresi aneh itu terpampang jelas di wajahnya. Maksudku, dia tampan, tapi raut wajah menyeramkan-dengan alis yang bertaut dan kening yang berkerut. Serta tatapan tajamnya yang langsung menagarh tepat pada manik bola mataku. Aku terpaku dengan sorot mata tajam itu. Seumur-umur, ini pertama kalinya aku melihat jenis sorot itu terpampang nyata dan jelas pada mata seorang lelaki.


 


Kilatan mata yang menyiratkan perlindungan dan kekhawatiran. Tatapan yang hanya pernah kulihat ketika ibu menatap maria ketika kecil. Apa.... Aku terlalu berharap lebih dari tindakannya ini? Tidak! Aku tidak bisa jatuh dan bertekuk lutut hanya karena tatapannya. Hah... Sekarang aku termakan kata2 ku sendiri mengenai gadis manapun akan jatuh hati hanya karena tatapannya.


 


“Siapa orang itu?” tanya aldian lagi ketika aku hanya fokus pada wajahnya dan tidak menjawab sama sekali.


 


“untuk apa aku memberi tahumu?”  uajarku dengan segara mengalihkan pandangan darinya. Aku menekan dadaku yang terasi berdenyut sakit, memikirkan kemungkinan pria itu habya memberikan perhatian padaku untuk main-main saja.


 


Sembari menguatkan perasaanku yang selalu rapuh akan perhatian manusia. Kuhela nafas berat dan akhirnya kubalikkan badanku membelakangi pria itu. Irene... Kenapa kau selalu lemah pada setiap perhatian yang di berikan seseorang?


 


“kau pikir aku juga ingin tahu? Sial, aku tidak tahu kenapa tapiaku selalu ingin menghabisi manusia mana pun yang mengganggumu, hanya aku yang boleh mengganggumu,”


 


Lagi-lagi dia mengatakan sesuatu yang membuatku merasa lebih baik. Entah kenapa perkataan aneh itu malah membuatku tenang.


 


“Ini bukan urusanmu tuan, dan juga.... apa kau ingin tahu manusia mana yang paling menyusahkan hidupku?” tanyaku sembari menghadap lelaki itu. Sebenarnya bukan niatku untuk berlama-lama dengan pria ini, tapi... Kejadiannya begitu cepat dan membuatku berakhir terjebak dengannya. Setelah adegan dimana Aldian mencabik gaun hitam sempurna itu. Dia memilihkan gaun santai biru pucat dengan lengan panjang yang hampir menutupi seluruh tubuhku. Saking besarnya, aku bahkan harus menggulung bagian lengan beberapa kali dan mengangkat rok ku yang melebihi mata kaki.


 


Dan ketika sampai di rumah kediaman keluarganya. Aldian memperkenalkanku pada Daddy dan juga momnya. Sosok Devan Antonio yang beberapa kali ku dengar dingin dan juga bertemperamen tinggi. Namun memiliki wajah yang lumayan tampan di usianya yang tak lagi muda. Menunjukkan senyum hangatnya padaku-membuatku berpikir beginilah rasanya ketika seorang ayah tersenyum pada anak perempuannya. Dan semenjak itu, aku tidak akan pernah mempercayai rumor buruk apa pun mengenai pria itu. Dan.... Mengenai ibunya Aldian, sosok wanita yang lembut dan juga penuh perhatian. Membuatku nyaman dan mendambakan sosok ibu yang hangat sepertinya.


 


Yah.... Aku juga sedikit iri dengan wajah ibu Aldian yang nampak awet muda dan juga terawat. Dalam benakku, mereka adalah keluarga bahagia dan sangat harmonis. Aku pernah dengan jika Aldian punya seorang adik, Mengenai sosok anak kedua di keluarga ini... Mark Antonio, dia tidak datang ke sini karena sedang melaksanakan perkuliahan di luar negeri, begitulah yang dikatakan nyonya cantik itu.


 


Keluarga Aldian memperlakukanku dengan baik, tidak sama seperti hal yang ku bayangkan, mereka mungkin akan memberikan beberapa kata pedas yang nantinya menurunkan harga diriku. Tapi berbeda dari ekspektasi, keluarga lelaki ini normal dan baik saja.


 


Dan setelah makan malam, aku sudah terjebak dengan Aldian, kedua orang tua Aldian ngotot menyuruh pria itu memperlihatkan rumah megah ini padaku.


 


Kemudian aku hanya berakhir jalan-jalan dengannya di halaman rumah yang luas dan spektakuler ini.


 


“jangan bilang jika dadku mengganggumu?”


 


“Hah?”


 


“Apa kau akan jadi seperti wanita-wanita itu?” aku memperhatikan wajah Aldian yang bertambah gelap seiring amarahnya memuncak serta auranya yang bertambah dingin. Aku yang tidak tahu maksud dari pria ini hanya bisa mengerutkan kening tidak mengerti.


 


“Apa maksudmu?” tanyaku langsung padanya ketika aura menakutkan dari Aldian semakin menguar tak terkendali, sekejap marah sekejap baik. Aku tidak mengerti jalan pikirnya!


 


“Tidak, tidak ada, aku akan mengantarmu pulang,” aku sedikit memiringkan kepalaku ke samping, bingung dengan tindakannya. Dan aldianpun hanya bisa mengalihkan tatapan marahnya menghindari pandanganku. Dia berjalan duluan dengan langkah besarnya itu, menyisakanku di belakangnya dengan tanda tanya yang besar.


 


Pertama aku sangat ingin mengatakan jika orang yang paling mengganggu hidupku di dunia ini adalah dirinya sendiri. Tapi malahan dia mengalihkan pembicaraan ke sesuatu yang absurd dan marah karena hal yang tidak menentu. Tapi aku harus tenang dan sabar untuk kali ini. Setidaknya setelah pertemuan ini, aku tidak akan berurusan dengan pria ini lagi.


 


Yah... Walaupun itu tidak akan berakhir mudah, mengingat kesan pertama kami bertemu pertama kali.


 


 


Aldian pov


 


Brengsek!


 


Ini semua karena Daddy!


 


“kak al, apa ada sesuatu yang mengganggumu?”


 


“bisakah kau diam!! Berhenti mengoceh dan urus saja urusanmu!”


 


“Tapi kak.... Berapa kali pun kau menyuruh bajingan itu berdiri setelah memotong kaki dan lututnya, dia akan tetap tergelincir, kau lebih sadis malam ini”


 


Aku mengetatkan rahangku marah, dan menatap bajingan dengan tubuh telanjang serta mulut berbusa putih yang sangat menjijikkan-terduduk tidak berdaya di depan kakiku. Mark benar mengenai kelakuanku yang malam ini sangat aneh. Berapa kali pun aku berpikir... sangat idiot menyuruh pria yang sudah kupotong kakinya 5 menit lalu berdiri.


 


“bereskan dia dan kirim mayatnya pada Kevin”


 


“kau ingin aku menyuruh leon merekam reaksi pria itu juga?”


 


“Tidak perlu, ambil saja fotonya” ujarku geram dan segera mengambil handuk yang tergantung di tangan mark.


 


Kulihat jika adikku itu menatapku dengan ekspresi datar, namun mulutnya sedikit terbuka seolah tidak percaya dengan apa yang kukatakan barusan. Ck, dia pasti sedang meragukan perkataanku mengenai rekaman video itu. Well, ini memang pertama kalinya dalam sejarah hidupku tidak meminta rekaman yang berisi reaksi kesakitan penuh dengan jeritan dari keluarga korban yang ku bunuh.


 


Karena menurutku ada yang lebih menyenangkan untuk ku tonton selain dari melihat ekspresi mengutuk pria bernama Kevin tersebut.


 


“kak... Emy terus menghubungimu-“


 


“bilang aku sedang sibuk”


 


“Kak... Jangan buat mom sedih, lagi pula dia adalah anaknya aunty lea,” aku menatap tidak suka pada mark yang langsung berdiri mengimbangi tinggi tubuhku. Aku hanya memasang ekspresi marah dengan tangan terkepal kuat. Emely.... Gadis kecil itu benar-benar membuatku muak. Jika bukan karena aunty lea, aku pasti sudah membunuh anak kecil itu.


 


“jangan mencoba membunuhnya kak,” aku memperhatikan mark yang menginstruksiku masih dengan wajah datarnya. Hah.... Kenapa gadis bodoh itu tidak tertarik dengan mark dan malah selalu mengejar perhatianku.


 


“Aku tahu, aku akan membereskannya besok,” ujarku akhirnya sembari menepuk pelan pundak mark. Kulangkahkan kakiku hendak pergi, namun terhenti kerena panggilan mark.


 


“kak sebaiknya kau mandi dulu di sini, nanti akan ketahuan sama mom”


 


Aku memperhatikan kemeja putih yang sedari tadi ku pakai sudah berwarna merah darah, serta mulai dari leher sampai kaki semuanya terkena cipratan darah ketika aku memotong kaki bajingan itu. Ck, merepotkan, dan seperti kata mark jika aku tidak membersihkan diriku sekarang, mungkin mom akan shock berat nanti ketika aku pulang.


 


Aku hanya mengangguk mengiyakan dan berjalan menuju kamar mandi yang tak jauh dari tempat kejadian tadi. Ini adalah markas baru yang di buat oleh dad aku dan mark bersama, tentu saja kami juga harus menghancurkan ruang bawah tanah yang ada di rumah. Bukan hanya karena takut ketahuan oleh mom. Tapi ruangan itu juga sangat sempit untuk melaksanakan ‘hobi’ kami bertiga.


 


Alhasil sebuah rumah tua yang berjarak satu kilo meter dari kediaman keluargaku adalah pilihan terbaik yang sangat ampuh.


 


Dan di rumah ini memiliki 3 lantai yang masing masing menunjukkan pemiliknya, lantai pertama adalah punya mark, dan lantai ke dua adalah punyaku dan lantai tiga khusus untuk daddy. Kami, aku dan mark di bebaskan untuk ‘menghias’ sesuka hati sesuai selera yang kami inginkan. Namun hanya ada satu peraturan yang berlaku diantara kami bertiga, yaitu tidak boleh mengganggu milik yang sudah di klaim.


 


Sial! Ini lah yang mengganggu pikiranku. Jelas jelas daddy... Ketika aku memperkenalkan irene padanya, dad menunjukkan senyuman yang sangat mengerikan. Dia tertarik juga pada Irene! Dan itu menganggukku sampai sekarang. Bukankah aku sudah mengatakan pada dad sebelum pertemuan tadi, jika Irene ada milikku?! Dan kenapa pria itu malah menatap Irene sebagai seorang mangsa yang patut di coba!


 


Aku memejamkan mata, menahan amarah yang kembali memuncak. Ketika guyuran air dingin mulai meredakan rasa panas yang ada di kepalaku... Tapi entah kenapa rasa sesak dan sakit di dadaku tidak mereda seiring lamanya waktu yang kuhabiskan dengan bermandikan air dingin?