BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB--11



“Irene, kenapa akhir-akhir ini kamu selalu sibuk? Bukankah kamu sudah berjanji akan datang makan malam?” Irene terkejut dalam renungannya, ketika suara seorang pria mengintrusinya dari depan.


 


“aku sedang sibuk kak,” jawab Irene seadanya dan kembali dalam renungan masalah yang harus ia hadapi.


 


Kris-pria itu, kembali berusaha menarik perhatian Irene dengan mencoba mengulurkan tangannya yang bebas untuk menyentuh lengan telanjang Irene yang ada di atas meja kelas.


 


Irene yang merasa kegelian karena aksi Kris barusan akhirnya menolehkan kepalanya pada pria itu. Di tatapnya Kris dengan penuh tanya. Kenapa lelaki itu selalu mengganggunya seperti ini?!


 


“hmmm, maksudku, kamu itu sudah menunda pertemuan kita bahkan sampai 10 hari karena alasan sibuk, bukankah acara kemarin sukses besar?”


 


Irene menghembuskan nafasnya berat ketika mendengar perkataan Kris barusan. Pria tulen, macho dan juga nampak berotot di depannya ini adalah salah satu unggulan wajah kampus. Krisdian alata, seorang lelaki yang lumayan tampan, yang digandrungi banyak wanita. Bukan hanya kaya dalam paras namun, kris juga termasuk salah satu anak konglomerat yang nantinya akan menjadi penerus usaha keluarga.


 


Bagi Irene berteman dengan Kris memanglah sebuah anugerah, karena tidak semua orang bisa mendekati pria ini. Tapi... dia mengkhawatirkan Serena yang pastinya nanti akan kembali mempertanyakan hubungannya dengan Kris.


 


Sudah cukup kerumitan hidup kampusnya di hancurkan oleh Aldian, dan sekarang masalah timbul lagi dengan Kris mendekatinya. Bagi Irene memang wajar seorang teman menemui temannya , namun bagi beberapa banyaknya pasang mata, itu tidak terlihat seperti pertemanan. Dan pastinya dia akan jadi objek gunjingan. Lagi, dan lagi.


 


“kak... aku sekarang pengen sendiri, pleasee untuk sekarang aku ingin menjernihkan pikiranku” mohon Irene dengan wajah sedih yang tak di buat-buatnya.


 


Kris yang melihat kesedihan itu ada di wajah Irene, menarik kembali tangan yang sedari tadi menyentuh lengan gadis itu. Dalam benaknya Kris, Irene adalah gadis yang cantik yang sangat susah di dekati. Bukan karena ia tak bisa mendekat begitu saja, namun, seperti ada batas yang memisahkannya untuk mendekat, seolah Irene membuat dinding yang tebal dan tinggi yang dilabeli dengan status pertemanan. Apa yang harus ia lakukan jika gadis itu bahkan untuk bercerita atau bahkan membuatnya berdua saja sangat susah.


 


Sebenarnya, Kris benar-benar ingin menanyakan hubungan Irene dengan Aldian Antonio. Namun selalu saja tidak ada kesempatan. Ketika hari dia melihat Aldian menggandeng  tangan Irene di depan semua orang kepalanya memanas ingin segera melepas tautan tangan itu. Rasanya sakit ketika melihat kebersamaan mereka.


 


Dan satu hal yang aneh dari pemandangan yang menakjubkan itu, seorang Aldian Antonio, tersenyum pada Irene. Andaikan Irene tahu kebenaran bahwa seorang Aldian tidak akan pernah menampilkan kedekatan dan juga keakrabannya dengan orang-orang luar. Aldian di kenal sebagai duplikat ayahnya yang sangat menyeramkan, dan jika mereka berdua tersenyum, maka yang di tampilkan hanya senyum jahat dan penuh akan rencana licik.


 


Tapi... kemari Kris melihat sebuah senyum lain yang tak pernah bisa di artikan sebagai senyum jahat.


 


Dan itu membuatnya berpikir jika Irene memiliki hubungan spesial d dengan Aldian. Dan itu.. bukan hanya dirinya saja yang berpikir demikian, semua orang se-kampus memikirkan hal yang sama. Tapi tak ada yang mau berani bicara keras-keras. Kris tahu pasti Irenne tidak mengetahui sosok Aldian sebenarnya. Dan karena hampir semua orang yang ada di kampus ini adalah kalangan elite dan selalu berhubungan degan perusahaan Devan Antonio, mereka semua termasuk dirinya, tahu sekali bagaimana sifat ayah dan anak itu.


 


Siapa yang berani mengganggu milik Aldian Antonio pasti tidak akan pernah menemukan hal baik ke depannya. Itulah kenapa tidak ada yang mengganggu Irene, walaupun rumor buruk tentangnya tersebar hanya dari bisikkan saja. Setidaknya gadis itu tidak akan di bully secara fisik.


 


 


“baiklah... kalau begitu aku akan pergi, hubungi aku jika kamu sudah baikkan” ujar Kris akhirnya bangkit dari duduknya. Lelaki itu kemudian melangkah keluar dari ruangan kelas Irenne dengan pikiran yang berkecamuk, di satu sisi dia sangat ingin dekat dengan gadis itu namun di sisi lain, halangan dirinya mendekati gadis itu bertambah.


 


“woi kris! Dari mana?” Kris menegakkan kepalanya ketika seorang lelaki memanggilnya dari depan, dan ternyata itu adalah temannya Gio.


 


“lo masih deketin tuh cewek? Lo lupa jika tuh cewek punya si Aldian” kata Gio ketika melihat ke belakang, mencari sumber dari mana temannya itu muncul. Dan ternyata itu dari kelas, tempat gadis yang di rumorkan berada.


 


“gue gak bakalan nyerah buat dapetin Irene”


 


“lo gila? Gue nyaranin lo nyerah aja, kan lo liat sendiri si Aldian itu gila, kemarin aja sekretaris bokap gue pergi ke perusahaannya, pas balik emang aman-aman aja, tapi lo tau gak besoknya gue dapat kabar sekretaris bokap gue itu meninggal gantung diri di flatnya,”


 


“lah, hubungannya sama hubungan gue dan Irene apa?” tanya Kris bingung, kenapa temannya ini membicarakan hal yang mengerikan ini padanya.


 


Gio semakin mendekat pada Kris dan dilipatnya tangannya di depan dada dan melihat Kris dengan tatapan kesal. Temannya memang tidak ada bakat dalam menjadi detektif.


 


“ck ck, denger gue ya setelah tuh sekretaris di makamkan, bokap gue dapat pesan, isinya tentang agar tidak main-main dengan keluarga Devan Antonio, usut punya usut, ternyata sekretaris bokap gue itu bilang kek gini ke si Aldian-“ Gio mendekatkan wajahnya  pada telinga Kris kemudian membisikkan sesuatu padanya,


 


“sekretaris itu mengatakan jika dia bisa menemukan wanita penghibur yang lebih baik daripada si Irene” ujarnya dengan suara bisikkan yang terdengar jelas.


 


Kris yang mendengar itu mengerutkan keningnya bingung, hanya karena Irene di hina sedikit saja, sampai membuat nyawa orang melayang? Bukankah itu tindakkan kriminal?


 


“lo pasti mikir, kenapa gak lapor polisi” kata Gio menebak isi pikiran Kris. Dan langsung di angguki oleh pria itu membenarkan.


 


“secara garis besar, kedudukan perusahaan yang akan di wariskan kepada Aldian adalah perusahaan penopang perekonomian negara ini. Jadi kalau semisalnya tuh anak di laporin ke polisi, palingan hukumannya juga bakalan gak banyak. Itu yang pertama yang kedua, perusahaan Devan Antonio itu sudah menjadi perusahaan besar yang mempunyai fondasi kuat, bokap gue gak akan menang kalau lawan tuh anak” Kris mulai memijiti keningnya mencerna perkataan Gio yang panjang lebar menjelaskan.


 


Jika seandainya memang itu yang terjadi, maka Kris berpikir dia tidak akan punya kekuatan yang cukup untuk melawan dan memiliki Irene, lalu apa yang harus ia lakukan mengenai perasaannya yang sudah terlanjur nyaman pada wanita itu?


 


***


 


Cinta itu benar-benar kejam. Jika mencoba untuk mengontrolnya maka kau tidak akan bisa, jika kau berusaha untuk memilikinya maka jangan berharap terlalu banyak, hanya ada dua hal yang harus dilakukan jika kau mencintai seseorang jika perasaanmu tak terbalas, mati karena tidak di cintai, atau hidup dengan rasa baru dan mulai membuka hati.


 


***


Jam pulang dari kampus......


 


Aldian menatap sebal pada segerombolan semut betina yang mengelilinginya. Padahal dia sudah dengan terang-terangan menunjukkan tatapan tidak sukanya, namun sepertinya itu tidak akan pernah mempan di mata gadis -gadis itu.


 


Kembali Aldian mengedarkan pandangannya mencari wanita yang di tunggunya sejak tadi. Dan ketika akhirnya dia menangkap sosok itu berjalan sendirian dengan tatapan kosong ke depan, segera saja kakinya melangkah untuk menghampiri.


 


Aldian merasakan detak jantungnya kembali di percepat oleh sesuatu ketika akhirnya dia ada di depan wanita itu. “akhirnya aku menemukanmu” ujar Aldian sembari menampilkan senyumnya-mengabaikan sorakkan-sorakan kaum hawa yang menjadi korban ketampanan dirinya.


 


Irene-gadis itu, yang mendengar perkataan Aldian barusan hanya melengos tidak tertarik. Dia kemudian berjalan kembali menghindari tubuh Aldian yang menjulang tinggi tepat di depannya, namun sayang, lelaki itu tak mau kalah dan malah kembali menghalangi jalannya. Segera saja Irene menatap marah pada wajah tampan Aldian.


 


Keningnya yang berkerut dan bibirnya yang mengatup, sudah sangat menjelaskan jika Irene sangat marah sekarang. Walaupun bukan pertama kalinya melihat kemarahan Irene, aldian kembali bingung di buatnya, entah kenapa dia merasakan jika kali ini gadis itu memiliki tingkat kemarahan yang tinggi.


 


“jangan ganggu aku” tekan Irene dengan suaranya yang dingin, kembali ia melangkah kan kaki ingin mengabaikan Aldian, akan tetapi pria itu langsung menarik tangannya agar Irene tidak kabur lagi.


 


Semua pasang mata yang melihat tontonan Live barusan segera saja mengambil ponsel masing-masing dan mulai merekam adegan yang menurut mereka cukup bisa jadi trending di youtube.


 


“kau benar-benar...” gumam Irene mengepalkan tangannya menahan amarah, gadis itu mulai berusaha melepaskan cekalan tangan Aldian yang kuat dari lengannya, namun sayang pria itu lagi-lagi membuat semuanya susah.


 


Aldian-pria itu menambah kekuatannya setiap kali merasakan Irene memberontak. Keningnya berkerut bingung akan sikap Irene yang tidak seperti biasanya. Bagi Aldian, sikap wanita ini memanglah pemarah dan bertindak tidak sesuai ekspektasinya, dan itu terjadi selama pertemuan mereka. Namun sekarang, Irene menunjukkan sikap bodoh menolak perhatiannya di depan semua orang? Bahkan tatapan dan suara dingin barusan, itu bukanlah Irene yang pernah ia lihat.


 


 


Irene yang mendengar perkataan Aldian barusan menggigit bibir dalamnya yang sakit karena terluka kemarin. Di dalam kepalanya dia berpikir keras mengenai apa lagi perbuatan Aldian yang akan membuatnya menjadi objek gunjingan orang? Irene sudah muak dengan semua kehidupan yang ia jalani, dia ingin istirahat bahkan sehari saja hanya untuk memikirkan kelangsungan hidupnya. Tapi kenapa dia selalu tidak punya waktu sampai sekarang?


 


 


“lepaskan tanganku tuan....” gumam Irene lagi dengan tatapan dinginnya pada Aldian. Dia tidak peduli siapa lelaki itu, mau anak pengusaha sampai presiden Indonesia. Dia tidak peduli, selama itu mengganggu ketenangan hidupnya, maka kakinya akan siap menendang ************ pria-pria itu.


 


“woah... Aldian ganteng banget gak sih?”


 


“woi! Ambil fotonya yang banyak, nanti bagi ke gue”


 


Suara-suara itu-geram Irene dalam hati. Dan dia berpikir keras bagaimana bisa lepas dari bajingan di depannya ini, namun semakin lama dia berdiri di depan semua orang, tingkat ke sabarannya semakin menipis, bahkan ketika dia melihat senyum yang penuh akan ejekan itu terpajang indah di wajah Aldian... membuat kesabaran Irene menghilang dari permukaan bumi.


 


Plak!


 


Sebuah tamparan melayang pada pipi Aldian dengan sangat keras, membuat kepalanya sedikit menggeser ke samping, karena tidak siap menerima pukulan dari gadis lancang di depanya.  Sebuah senyum terbit di wajah tampan Aldian, matanya melotot menyeramkan memperhatikan Irene. Keadaan yang hening tidak seribut  tadi membuat suasana sangat mencekam,


 


Semua orang yang ada di sana tahu bagaimana sifat gila Aldian yang tidak akan pernah membiarkan orang yang mengusiknya hidup. Dalam benak mereka semua... Irene benar-benar akan kehilangan nyawanya.


 


“kau brengsek, berhenti menganggukku” kata Irene  kembali berusaha melepas tangannya dari cekalan tangan Aldian, namun naas, pria itu malah semakin menguatkan cengkeramannya. Irene yang sudah merasakan tangannya mencapai batas-yang satu sakit karena menampar wajah bajingan itu, dan satu lagi lengannya sakit dan bahkan hampir membiru karena cengkeramannya yang kuat.


 


Irene tidak takut akan sorot mata lelaki di depannya. Malah dia lebih menampilkan tatapan berangnya menantang Aldian untuk bergelut tinju sekarang dengannya. Namun ketika matanya melirik pada pipi Aldian yang memerah dan juga sudut bibirnya pria itu yang mengeluarkan darah, membuat Irene ikut tersenyum kecut.


 


“aku tidak akan melepaskanmu kali ini” geram Aldian dengan suara mengerikannya. Semua orang yang menonton aksi Irene dan Aldian, menelan ludah kasar, antara khawatir dan mulai takut melihat Irene yang dengan beraninya berusaha melawan balik. dan membayangkan bagaimana mereka di posisi gadis malang itu.... mungkin kepala mereka juga tidak akan pernah di temukan untuk di makamkan secara layak.


 


“aku tidak mau ikut denganmu bodoh” Aldian semakin menarik tangan Irene merapat pada tubuhnya. Tidak ada orang yang pernah memanggilnya dengan sebutan bodoh, manusia-manusia di sekelilingnya selalu memanggilnya anak ajaib ataupun Jenius.


 


Keringat dingin di tambah suasana yang mencekam, membuat semua yang hadir melihat aksi Irene barusan mengatakan Aldian Antonio bodoh, merutuki kesialan mulut Irene. Kali ini gadis itu akan mati di tempat, begitulah pikiran orang-orang. Namun tidak bagi Irene, dia bahkan masih menatap tajam Aldian dan berusaha mencoba peruntungannya untuk segera lepas.


 


Aldian kesal mati-matian mendapati sikap bodoh wanita di depannya, apa dia tidak pernah mendengar rumor mengerikan jika menentang seorang Aldian? apa gadis ini hidup di saman batu sampai-sampai kepalanya hanya di penuhi benda keras itu?


 


Aldian akhirnya hanya berdecih, mencoba mengabaikan kekesalannya, di seretnya gadis itu menuju ke tempat mobilnya terparkir. Dan ketika sudah sampai, Aldian mendorong tubuh Irene kasar agar dapat masuk ke dalam mobilnya cepat. Irenne yang mendapat perlakuan kasar barusan dari Aldian masih ingin memberontak, bahkan ketika dia sudah berada di dalam mobil sekalipun. Tapi pria itu segera bergerak cepat kembal memerangkapnya dengan mengunci pintu mobil cepat.


 


Irene mengepalkan tangannya merasa sial dan sangat tidak beruntung, ketika di liriknya ke luar jendela mobil di sebelahnya, Irene sedikit bingung dengan ekspresi semua orang yang seolah bengong akan sesuatu, namun pemikirannya berubah menjadi wajar-wajar... karena baru saja sang pangeran menjemput tuan putri dengan kuda besinya.


 


“pasang sabuk pengamanmu” Irene menolehkan kepalanya menghadapi suara barusan, ternyata Aldian sudah duduk di sebelahnya di kursi pengemudi. Tidak mau melihat pria itu lama-lama, kembali Irene melihat lurus ke depan dengan tatapan nanar-seebari memasang sabuk pengaman itu. Memikirkan nasibnya. Apa yang akan terjadi adanya? Apa yang akan dilakukan pria itu pada tubuhnya? Apa yang harus ia lakukan jika dia bahkan untuk lepas saja dari bajingan ini tidak bisa sama sekali.


 


Aldian tidak lagi menghiraukan Irene yang duduk di sebelahnya, di usapnya bibirnya yang sedikit berdenyut sakit akibat tamparan gadis itu. Dan ketika dia mendapati sedikit darah menempel di ibu jarinya, dia baru sadar jika wajahnya terluka. Apa yang harus ia katakan pada momnya nanti jika melihat luka ini?


 


“shit!” umpatnya dengan suara yang keras, namun untuk sekarang dia punya ha yang lebih penting lagi untuk di kerjakan.


 


Irene tak melirik Aldian yang mengumpat marah di sampingnya, dia berusaha senormal mungkin untuk tidak takut... ya, dia tidak boleh takut dengan pemikiran bodohnya, mengenai Aldian yang mungkin saja marah dan berakhir memperkosanya.


 


***


 


“pilihkan dia baju yang bagus” ujar Aldian dengan suara yang dingin ketika matanya melihat seorang pelayan butik menghampirinya. Di dorongnya tubuh Irene agak kasar ke depan menyerahkan gadis itu pada wanita pelayan yang akan membantunya memilihkan baju. Irene yang masih bingung akan sikap Aldian yang membawanya ke butik baju yang cukup besar dan mewah, akhirnya hanya mengikuti jalan rencana pria bajingan itu. Dia tak ambil pusing selama itu tidak menyakiti dirinya.


 


Aldian menghela nafas melirik kepergian Irene yang di bawa masuk ke ruang ganti oleh wanita pelayan tadi, di dudukannya dirinya di salah satu sofa khusus tempat tunggu. Diambilnya sesuatu yang di dalam sangku kemudian di ceknya smartphoneya mulai dari pesan Andrea yang meminta libur dua hari. Aldian mengangkat salah satu alisnya mulai heran.... Andrea? Sekretarisnya yang terkenal workaholic itu? Meminta libur? Entah Anugrah atau setan mana yang menyangkut di pikiran anak itu. Sampai-sampai membuatnya ingin libur.


 


Well, bagi Aldian itu tidak maslah, karena selama bekerja bersama Andrea-lelaki itu sudah banyak membantunya dalam mengurus pekerjaan-jadi meliburkan pria itu untuk satu dua hari, tidak menjadi masalah baginya. Aldian kembali menscroll pesan wa yang datang, dan bertapa terkejutnya dirinya ketika mendapati seratus pesan dari momnya.


 


Aldian hanya bisa memijit kepalanya yang agak pening ketika membaca pesan yang banyak itu. Semuanya mengenai gadis yang di gandengnya beberapa hari lalu. Ya, benar sekali, sektelah fotonya viral menggandeng seorang wanita, itu menjadi trending yang agak menggemparkan. Dan entah kenapa Aldian membenci foto itu, tidak lebih tepatnya dia benci wajah Irene terpampang jelas di setiap media sosial.


 


Hatinya seolah tidak menerima itu semua, kemudian ide menutupi wajah Irene muncul, dia segera menghubungi sahabat hackernya untuk menyabotase semua foto yang menampilkan wajah gadis itu di tutupi dengan sesuatu. Dan tidak perlu menunggu beberapa jam, akhirnya semua foto Irene tertutup dengan emotikon. Kemudian berita itu sampai pada momnya.


 


Mau tidak mau Aldian harus mengabulkan permintaan momnya untuk bertemu dengan Irene. Bukan hanya tidak tahan dengan rengekkan wanita yang melahirkannya itu. Tapi daddynya ikut menekannya agar membawa gadis itu ke hadapannya-supaya bisa menenangkan istrinya tercinta. Dan untuk itu semua, Aldian harus mendapatkan ancaman, jika dia tidak bisa membawa Irene hari ini, maka dia tidak akan dianggap anak lagi oleh momnya, dan ancaman dari daddynya... dia sudah terbiasa dengan itu. Aldian mendapatkan ancaman akan pergi ke pulau selatan-pulau pribadi khusus, yang tersembunyi dari orang-orang. Tentu saja Aldian tidak akan pergi bermain di sana, dia pertama akan di buang dan di suruh bertahan hidup di pulau itu-pulau yang bahkan airnya saja beracun.


 


Aldian kembali menghela nafasnya lelah, ketika membaca ratusan pesan momnya yang itu-itu saja. Kemudian dimatikannya ponselnya kembali, karena tidak tertarik dengan beberapa pesan anak buahnya yang tidak penting untuk saat ini.


 


“tuan...hmmm”


 


“ada apa?” kata Aldian malas ketika melihat pelayan wanita di depannya menatapnya dengan takut dan suara yang terbata.


 


“no-nona Irene.. dia tidak mau memakai gaunnya-“


 


“aku akan ke sana” geram Aldian kesal. Pelayan wanita itu akhirnya mengangguk menyetujui, kemudian dia mengabarkan ke rekan-rekannya yang lain untuk meninggalkan gadis itu sendiri.


 


Aldian masuk ke dalam ruang ganti yang cukup besar itu, di lihatnya Irene-berada di tengah ruangan, menatapnya seperti kucing liar yang waspada pada orang asing. Aldian kembali menampilkan senyumnya ingin kembali tertawa akan sikap lucu Irene barusan. Kakinya melangkah mendekat pada gadis itu. Irene yang melihat bahaya mendekatinya, segera memundurkan diri, namun sialnya dia kembali di beri jalan buntu-punggungnya sudah menyentuh lemari pakaian.


 


Aldian bahkan sudah bertambah dekat, dengan langkah besar itu, dia hanya perlu satu langkah lagi mendekati Irene.


 


“aku menyarankan padamu untuk segera mengganti bajumu Irene” kata Aldian dengan suara yang menyeramkan. Dia sudah memerangkap tubuh gadis mungil di depannya. Kemudian kepalanya sedikit menunduk memperhatikan wajah Irene dengan begitu dekat.


 


“kenapa kau membelikanku gaun mahal itu? Apa kau akan menjualku?” tebak Irene. Matanya yang tadinya masih berusaha memberanikan diri dan berpikir positif, kali ini berubah sayu menunjukkan kelelahan dan ketakutan.


 


Aldian merasakan sesuatu yang sakit di dadanya, tanpa ia sadari tangannya sudah terulur sebelah, menyentuh pipi Irene. Menjual gadis itu? Tak pernah terpikirkan olehnya untuk menjual gadis itu, bahkan hanya melihat Irene di tatap lelaki lain sudah membuatnya merasakan sakit seperti ini, lalu untuk menjual? Dari mana kata-kata sialan itu didapatkan gadis ini?


 


Aldian membenci ini. Jadi selama ini Irene memikirkan jika dirinya akan berlaku kejam padanya? Aldian ingin menghukum gadis itu, dia ingin mengenyahkan pikiran kotor yang menganggap jika dirinya akan menjual gadis ini.


 


“apa yang kau laku-“ Irene terkejut bukan main ketika bibirnya di tempeli sesuatu. Dan itu adalah bibir pria tampan Aldian Antonio!


 


“aku tidak pernah berpikir akan menjualmu...-”