BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB--25



Author pov


 


“KAU! APA KAU INGIN MEMBAHAYAKAN KELUARGA KITA!”


 


Kris memejamkan matanya ketika mendengar suara keras makian pria tua yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.


 


“BOCAH ITU MENGANCAMKU KEMARIN MALAM AGAR AKU MENYURUHMU MENJAUH DARI WANITANYA!”


 


Pria tua itu mencoba menarik nafas dengan membabi buta. Teriakkannya yang menggema hingga ke sudut ruangan, benar-benar membuat tenaganya hampir habis terkuras.


 


Karena anaknya ini, karena Kris, Aldian mengancam keluarganya terang-terangan dengan datang secara langsung ke perusahaan besar mereka. Walaupun awalnya pria tua 57 tahun itu sangat senang dengan kehadiran pewaris perusahaan Devan itu, namun sialnya semua berubah 180 derajat ketika Aldian mengancamnya.


 


Seharusnya anaknya ini bisa menarik simpati perusahaan Devan dan menjilat sedikit demi sedikit kekuasaan mereka. Namun, sebelum anaknya ini mewarisi perusahaan, dia sudah menggemakan kabar permusuhan.


 


Apa yang akan terjadi pada perasaannya di masa mendatang nanti?


 


“seharusnya aku menyuruh orang gila itu saja yang mewarisi perusahaanku” pria tua itu menggeram dengan amarahnya.


 


Kemudian di tatapnya dengan jijik anaknya itu yang malah memandang lurus ke depan seperti robot tidak berguna.


 


“Ayah, bang Ryan bukan orang gila, Anda sendirilah yang memasukkannya ke rumah sakit jiwa” ujar Kris dengan suara yang dingin.


 


Dia benci keluarganya sebanyak dia ingin membunuh ayah brengseknya ini.


 


Bukan salah dirinya jika dia menyukai Irene, setiap pria yang mengenal gadis itu pasti akan terpesona dengan sikap ramah dan kuatnya.


 


Apa lagi senyuman cantik itu, yang tidak akan pernah bisa Kris singkirkan dari benaknya.


 


“Anda memasukkannya ke rumah sakit jiwa karena ingin memuaskan kesepian Anda karena tidak pernah menemukan kebahagiaan, seharusnya Anda merasa malu memanggil diri Anda sendiri sebagai seorang ayah-“


 


Plak!


 


Plak!


 


Dua tamparan telak mengenai pipi kanan Kris. Tangan keriput ayahnya yang masih kuat untuk membuat bibirnya sedikit robek. Kris tahu jika ayahnya ini hanya membenci dirinya.


 


Yang lahir karena perjodohan. Tanpa adanya setitik cinta dalam keluarga mereka. Kemudian Ryan, anak sulung keluarga ini yang sengaja dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa ketika baru berumur 17 tahun, hanya karena kedapatan tidak sengaja membuat ayahnya terjatuh.


 


Dan Kris masih bingung kenapa kakaknya itu di masukkan ke dalam RSJ ketimbang sel dingin berlapis baja.


 


“hanya ini yang bisa Anda lakukan, untuk membungkam kata-kata kasar yang keluar dari mulut saya, saya benar-benar kasihan dengan Anda, ayah”


 


Kris mundur sedikit, kemudian tersenyum kecut pada ayahnya. Sebelum keluar dari ruangan memuakkan kantor pribadi yang ada di rumah mereka.


 


Memang dia bersyukur tidak di masukkan ke RSJ sama seperti kakak tirinya Ryan, namun... Tetap saja dia bisa benar-benar gila jika terus-terusan di perlakukan begini oleh pria tua itu. Jika seandainya Ryan masih di sini, maka dia tidak harus di gunakan sebagai boneka.... walaupun dirinya tidak dekat dengan Ryan, dan bertemu hanya 1 kali saja.


 


Kris berharap jika dirinya dan Ryan bisa menjadi keluarga yang menyenangkan suatu saat nanti. Dan jika Ryan sudah kembali, dia juga berharap kakak tirinya itu bisa menjadi pewaris semua kekayaan keluarganya ini. Sungguh dia sudah muak dengan yang namanya uang dan perusahaan.


 


 


“aku tidak akan menyerah... kamu harus tau itu ren” gumam Kris, dengan tekad di matanya.


 


Dia sudah tidak peduli lagi dengan yang namanya Aldian, atau siapa pun itu. Ini mengenai perasaannya.


 


***


 


Seharusnya siang ini Irene bisa bebas berangkat sebentar ke rumah sakit untuk menjenguk mamanya, namun semua kacau karena kedatangan Aldian ke Cafe tempat dirinya bekerja. Pria itu beralasan ingin melihat sekejap bagaimana pembangunan apartemen tua yang ada di dekat Cafe, dan secara kebetulan Irene juga ingin berangkat ke kampus, setelah pekerjaannya selesai. Namun, itu semua hanya alasan konyol, nyatanya... Aldian bahkan tidak pernah melirik sedikit pun pada pembangunan itu.


 


Dan akhirnya dua sejoli itu duduk berdampingan di kursi penumpang dengan Aldian dan beberapa lembar kertas di tangannya. Serta, Irene duduk tenang di sampingnya sembari mengedarkan pandangan ke luar jendela mobil.


 


“tuan, rapat akan di mulai 3 menit lagi” kata Andrea, yang menjadi sopir, memecahkan suasana absurd di  antara dua orang itu.


 


Well, dia sudah sejak tadi ingin menanyakan, kenapa wajah gadis dari tuannya itu murung, sedangkan Aldian, hanya senyum-senyum sendiri.


 


Andrea tahu jika Aldian itu termasuk manusia yang tidak waras, tapi....


 


“katakan pada Daddy jika aku tidak bisa hadir” ujar Aldian tenang tanpa menjauhkan matanya dari kertas-kertas itu.


 


Dan setelah mendapatkan jawaban itu Andrea tidak membuka suaranya lagi dan mulai fokus pada jalanan. Jika dia kembali ikut campur, mungkin Aldian akan marah dan berakhir membunuhnya.


 


“jika Anda sibuk... sebaiknya turunkan saya di sini, saya bisa cari angkot menuju kampus” tegas Irene sembari melirik Aldian dengan malas.


 


Entah kenapa semenjak kejadian kemarin, dia berusaha menghindari Aldian sekuat tenaganya. Awalnya dia mau pasrah saja dengan Aldian, mungkin dengan membiarkan hatinya melemah dan membiarkan Aldian masuk begitu saja, setelah semua hal yang di lakukan pria itu, maka hidupnya juga akan tenang dan bahagia.


 


Namun, sebanyak ia menyukai Aldian, maka sebesar itu ketakutannya untuk di tinggalkan.


 


“aku tidak sibuk Irene,” ucap Aldian tenang dengan menampilkan senyumnya lagi.


 


“aku benci lelaki pembohong” tutur Irene acuh tak acuh.


 


Aldian mulai menggeser duduknya dengan sengaja, untuk mendekati Irene


“benarkah?”


Dia merapatkan diri pada Irene dan mencoba menggoda gadis itu lagi. dia tau jika dirinya sedikit kehilangan kendali kemarin dan mengakibatkan Irene mulai menjauh dari sisinya seperti ini.


 


Tapi siapa sangka, dirinya malah bisa melihat wajah putih itu memerah bak semangka hanya karena dirinya mendekat sedikit  saja?


 


Aldian mengulum senyumnya lagi dan lagi. Dia berusaha menahan kegirangan hatinya. Irene menjauh bukan takut padanya tapi karena ingin menyembunyikan rasa malu itu? Aldian berpikir mungkin saja Irene tidak akan pernah tergoda karena ketampanannya, namun sekarang apa?


 


Aldian dengan sengaja mendekatkan dirinya lagi dan lagi sehingga tubuhnya bisa bersentuhan dengan Irene.


 Ketika gadis itu mulai menolak dengan berusaha mendorong tubuhnya perlahan, Aldian seolah di beri lampu hijau untuk bertindak lebih.


 


Dia bisa merasakan sentuhan kecil di dadanya. Tangan kecil Irene yang selalu nakal memancingnya seperti ini. Jadi jangan salahkan Aldian jika pria itu selalu hilang kendali.


 


“kau selalu berhasil menggodaku”


***