
guys... sorry banget kmrn gk up, soalnya file ceritaku ke hapus... 😭bikin greget sampai putar lapangan tujuh keliling....
so... sampai sini dulu ya ... bsk klw nggk ad kendala aku usahain up 2 chapt langsung.
trims udh dukung cerita ini dari awal sampai akhir!
see u guys🤭🤭
Aldian pov
Aku hanya bisa terduduk lesu ketika melihat map biru yang di sodorkan oleh Leon setengah jam yang lalu. Semuanya begitu mengejutkan dan membuat kepalaku langsung mendingin saking terkejutnya.
Ini adalah laporan pertama yang membuatku hilang arah.
Apa maksud ini semua?
Apa yang sebenarnya Daddy rencanakan?
“Di sana tertulis jika nama nyonya masuk dalam daftar hitam.... Aku pikir tuan bukan sejenis orang yang akan menjual kekasihnya dengan mudah”
“Diam Leon, aku sedang berpikir” seperti yang dikatakan Leon jika nama mom ku masuk dalam daftar. Daftar perdagangan manusia di pasar gelap Jerman. Tapi kenapa?
Dan di sini tertulis jika pembelinya berinisial Mr.D. dan tentu saja setelah penyelidikan lebih lanjut, ternyata itu adalah inisial nama Daddy.
“bukannya ini gambar gadis yang sedang kau incar?” rahangku mengetat ketika mendengar perkataan Leon. Segera saja aku mengambil lembar foto yang ada di tangannya.
Aku mengamati gambar foto itu kembali. Sudah ribuan kali nyatanya mataku terpaku dengan foto yang berisikan seorang gadis kecil berumur 3 tahun memeluk boneka Teddy coklat. Rambutnya yang di kucir kuda serta mata abu-abu bening yang tak akan pernah kulupakan.
Hasil dari pencarianku selama ini masih dasarnya saja.
Ketika aku menyelidiki Fikri aditama, yang notabenenya hanya seorang pesuruh dari perusahaan DIRO. Menurut Daddy, perusahaan ini mengganggu jalannya bisnis yang sedang kami kembangkan akhir-akhir ini, yaitu ekspor impor obat-obatan dari berbagai negara. Karena apa? Karena dengan beraninya perusahaan berkembang itu mengambil semua jalur akses distribusi obat.
Mulai dari perairan sampai transportasi. Bukan hanya satu atau dua kali, tapi sudah sebanyak 5 kali. Dad sudah kalang kabut mencari cara lain agar bisa lepas dari masalah ini. Dan ini adalah cara terakhir yang bisa kami lakukan agar perusahaan DIRO bisa berhenti mengganggu.
“apa menurutmu perdagangan manusia secara ilegal ini akan bisa membungkam orang-orang itu?”
“Mereka tidak akan berhenti sebelum hancur” geramku menanggapi perkataan Leon. Kulihat jika pria itu malah menghembuskan nafas lelahnya seolah tak percaya dengan perkataanku.
Tapi... Apa ini sebuah takdir?
“aku tau kau tertarik dengan gadis itu... Tapi apa benar jika dia adalah orang yang sama dengan yang kau kejar saat ini? Bukankah di sana tertulis namanya Desy?”
“Ini foto yang sama yang di berikan Andrea padaku, dia sudah menyelidiki kebenarannya” kataku akhirnya. Aku berdiri tegap dari dudukku dan berjalan perlahan menuju pintu keluar ruangan ini. Meninggalkan Leon dengan setumpuk berkas yang harus ia selesaikan.
“Sial! Kau mau meninggalkanku dengan pekerjaan sebanyak ini!”
Cklek
Aku menutup pintu tepat setelah penuturan kekesalan Leon. Bagaimanapun semuanya masih belum jelas. Aku perlu menanyai Daddy tentang kebenaran ini. Kenapa nama mom dan juga wajah Irene waktu kecil masuk dalam daftar hitam perdagangan manusia.
***
Kepalaku begitu sakit dan juga aku sudah tidak punya tenaga sama sekali. Seluruhnya terkuras habis selama 2 hari ini.
“Kau sudah pulang?”
Oh suara itu!
Aku hampir saja lupa jika gadisku ada di apartemen ini...
Aku hanya bisa memasang senyum lemah sembari menatap wajahnya yang cantik itu.
“kamu sakit?” aku menggeleng dengan kuat ketika Irene menanyakan keadaanku. Setelah menutup pintu apartemen yang ada di belakangku. Aku membuka sepatu dengan asal dan segera mendekat pada wanita yang nampaknya sedang ....menungguku?
“aku perlu pelukan....” rajukku dengan suara yang dibuat manja. Jika Leon dan mark melihatku seperti ini mereka akan berakhir menertawakanku.
Aku bahkan sengaja merentangkan tanganku seperti anak kecil di depan Irene serta memasang wajah lelah yang pasti tidak akan di tolak wanita mana pun. Dan seketika aku lupa... Jika Irene bukan wanita dengan mudahnya memberikan skinship seperti ini.
“mandi dan bersihkan dirimu” hah... Bahkan Irene mengatakan itu dengan wajah datarnya sembari melipat tangannya tanpa perasaan sedikit pun.
“baiklah...” ujarku akhirnya dengan wajah yang benar-benar sedih.
Aku berakhir membersihkan diriku di kamar, mengganti bajuku dengan baju santai berwarna abu-abu polos, serta celana pendek selutut. Kemudian barulah aku berjalan keluar mencari keberadaan Irene.
Nyatanya ketika kucari ke setiap sudut, aku menemukannya sedang mengacak-acak dapurku. Dengan rambut yang di ikat longgar dan asal ke atas karena masih basah. Membuatnya kelihatan cukup seksi ketika tengkuk dan juga pundaknya terlihat sebagian.
Irene juga memakai baju kaos putih berlengan pendek dan celana jeans panjang yang tidak terlalu ketat. Namun lekukkan tubuhnya sangat jelas terlihat ketika dia memakai celemek berwarna merah polos itu terlalu ketat di badannya.
Sial wanitaku benar-benar cantik apa pun yang ia kenakan.
Aku tidak bisa menahan diriku begitu lama hanya untuk memperhatikan Irene dari jauh. Kaki dan tanganku yang gatal untuk mendekat dan menyentuh langsung pinggang Irene mulai menjalankan aksinya.
Dengan pelan dan hati-hati aku menggapai tubuh Irene dan memasukkannya dalam dekapanku. Namun sialnya keinginanku makin tak terbendung ketika dengan sadar aku seperti menyentuh kulit pinggangnya yang sedikit terbuka.
Grep
“brengsek! Lepaskan aku?!” Irene memakiku seperti biasanya. Tahukah dia seberapa aku merindukan makiannya itu?
Selama dua hari bekerja di lapangan dan juga berbagai penyelidikan, bayangan Irene selalu ada menghampiriku. Membuatku kadang tidak fokus melaksanakan pekerjaan. Sampai akhirnya ketika sudah dua hari berlalu dan sekarang, di malam ini. Aku akhirnya bisa memeluk tubuhnya secara nyata.
Bukan lagi hanya bayangan semata, ataupun guling yang di siapkan Leon untuk menertawaiku.
Aku menyembunyikan wajahku sedalam mungkin di antara leher dan pundak Irene. Tanganku yang berada di depan perutnya mulai mengetat, menunjukkan seberapa rindunya aku tubuhku akan dirinya.
Irene masih memberontak dan sesekali memakiku. Dia bahkan berusaha mengambil sendok penggorengan yang ada di depannya untuk mengetuk kepalaku. Namun ketika aku sadar akan hal itu, aku langsung meraih tangan gadisku dan meremas jemarinya pelan dan lembut.
“Sst... Tidak bisakah aku memelukmu sekali saja? Aku lelah Irene,” bisikku tepat di telinganya. Dan setelah itu Irene seolah tersihir oleh perkataanku.
Dia membatu dan sangat kaku. Bahkan butuh waktu beberapa menit agar tubuhnya rileks dalam pelukanku.
“Terima kasih” kataku dengan suara berat. Aku segera menjauhkan tubuhku darinya sebelum sesuatu yang berbahaya dalam jiwaku yang liar bangkit. Aku duduk di kursi menunggu makanan yang akan di sajikan Irene. Yah... Walaupun aku bisa melihat jika gadis itu masih sedikit terkejut dan agak gugup dari tindakannya, namun Irene berhasil menguasai dirinya.
Well, tidak akan ada yang bisa menolak pesonaku.
***
Irene pov
Aku memperhatikan Aldian dengan mata yang menyipit, menyelidikinya secara terang-terangan. Pria itu makan dengan normal bahkan bisa dibilang sangat lahap. Tapi... Menurutku masakkanku tidak ada apa-apa nya dibanding nasi goreng yang ia buatkan tempo hari lalu.
Pria itu punya bakat memasak. Mungkin jika perusahaan yang dia kelola nanti akan bangkrut. Aku yakin jika dia akan sukses menjadi seorang chef hebat.
“Jangan lihat aku dengan mata itu Irene, kau membuatku ingin melakukan sesuatu”
Aku memutar bola mataku malas ketika mendengar perkataan absurd Aldian yang terkadang tidak jelas. Dan akhirnya aku tidak lagi melihatnya dan langsung menghabiskan makananku tanpa menunggunya lebih dulu.
“Aku akan istirahat sekarang” ujarku sembari membawa piring dan juga lauk yang kumasak tadi. Aku membereskan semuanya tanpa suara dan setelah semuanya selesai. Aku melangkah menuju sofa di depan televisi. Tanpa memedulikan Aldian lagi.
Hell, apartemen ini hanya punya satu kamar tidur besar dan mewah. Pria itu sebenarnya membawaku ke sini pastinya untuk mendapatkan kesempatan ketika aku lengah. Kemudian dia akan berusaha menyentuh tubuhku lagi seperti beberapa saat yang lalu.
Aku membaringkan tubuhku di sofa dan menarik selimut hitam kesayanganku hingga sebatas dada. Kemudian aku memejamkan mata berusaha tidur secepat mungkin.
“kamu akan tidur di sini?”
“tentu saja,”
“Tidurlah di dalam kamarku”
“aku tidak mau” aku berusaha mempertahankan pejaman mataku agar tidak membuka untuk melihat Aldian yang ku tebak dia berdiri di samping sofa ini.
Aku membalikkan badanku akhirnya untuk menghindari Aldian. Namun takut merasakan jika ada sesuatu yang aneh menyentuh punggung dan juga kakiku.
“AAA APA YANG KAU LAKUKAN!” teriakku panik ketika tubuhku melayang begitu saja. Ketika kubuka mataku ternyata aku ada dalam gendongan pria ini!
Aldian mengangkatku seolah tanpa beban berat. Wajahnya yang terlihat tersenyum membuat mulutku tidak mau berhenti memakinya.
“lepaskan aku! Turunkan aku sekarang juga! Aldian!” namun tidak ada tanggapan ataupun jawaban dari Aldian. Dia malah terus melangkah dan membawaku entah ke mana.
“Bajingan! Turunkan aku! Kau breng-“
Bug
Aku terkejut ketika Aldian tiba-tiba saja menurunkan tubuhku tanpa perasaan. Namun ketika aku merasakan sesuatu yang empik di bawah. Aku baru tersadar jika dia membawaku Ke dalam kamarnya.
Aku terbaring dengan selimutku yang acak-acakkan. Dan ketika hendak duduk dan bangkit. Aldian malah menahanku. Dengan tubuh nya menindihku secara mendadak. Aku terkejut karena tindakkan itu.
Mataku langsung memanas dan hidungku seolah ada sesuatu yang akan meleleh di sana. Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan suara makian dan protes lagi, walaupun mulutku terbuka.
“istirahatlah di sini”
Aku melihat Aldian dengan rasa takut yang amat sangat. Walaupun kejadiannya sudah berlalu namun, bayang-bayang malam itu masih menghantuiku.
Aku memejamkan mata dan segera memalingkan wajahku ketika kulihat Aldian mulai mendekatkan wajahnya. Keningku mulai berkeringat dingin. Bayangan negatif perbuatan keji Fikri yang waktu itu mulai merasuki benakku.
Namun...
Aku merasakan sentuhan lembut mendarat di pelipis dan juga pipiku. Kemudian seperti ada gerakan bergelombang dari kasur itu. Aku pun memberanikan diri membuka mataku. Dan ternyata yang kulihat pria itu sudah berjalan menjauhi ranjang yang aku tiduri. Aku melihat tubuh tegap dan besar Aldian mulai lenyap dari balik pintu.
Jantungku berdebar keras bukan karena rasa takut lagi. Namun ini rasa kehilangan..... Kami baru saja bertemu setelah dua hari. Dan aku malah bersikap seolah pria itu sama seperti kebanyakan laki-laki yang hanya menginginkan tubuh wanita.
Pastinya Aldian sedang sakit hati sekarang karena perlakuan kasarku. Karena setiap bertemu dengannya, aku selalu berpikir jika semua pria sama saja. Mereka bajingan yang hanya bisa menggunakan tenaga untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Dan ketika sudah bosan mereka akan membuang wanita itu seperti sampah. Setidaknya itulah yang dialami mama selama ini sampai ia di campakkan oleh pria bernama Bram.
Aku memperhatikan pintu yang di tutup Aldian dengan perasaan sesak dan sakit.
Apa mungkin jika pria itu menyukaiku bukan karena tubuhku saja?