BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB-21



“lihat kan, ini bahkan sudah hampir 12 jam, tapi para lelaki itu tidak bisa menemukan kita.” Karin bicara dengan nada suara bangganya.


 


Irene yang mendengar itu pun langsung tertawa, begitu juga dengan Emy dan Lea. Mereka tidak menyangka jika ide ‘liburan’ yang di maksud Karin adalah hanya berganti lantai apartemen.


 


Yang artinya mereka berempat sedang menikmati waktu bersama tepat satu lantai di bawah apartemen Aldian. Bahkan Irene baru tahu jika 2 lantai yang di atas dan di bawah adalah kepunyaan Aldian. Dan seluruh totalnya ada 20 kamar. Dan tentu saja dengan fasilitas lengkap dan mewah. Tidak peduli apa itu akan di huni oleh manusia atau makhluk halus.


 


“Aku tidak menyangka jika mom sepintar ini” kata Emy menyoraki Karin. Dan itu malah membuat Karin menegakkan kepalanya seolah berlagak seperti orang sombong. Namun akhirnya mereka hanya tertawa menikmati waktu talk girls yang mungkin hanya akan mereka nikmati sesekali saja.


 


Jadi bisa di bilang liburan ala wanita ini menyenangkan. Mulanya mereka tadi di spa, kemudian mandi dengan wewangian aromatherapi, lalu di pijat untuk menghilangkan penat.


 


Tidak lupa di akhir itu semua mereka menikmati secangkir teh olong yang akan menambah rileks tubuh.


 


“jadi.... Apa om Devan gak akan marah tan?” tanya Irene takut-takut pada Karin. Dan itu membuat semua orang bungkam.


 


Karin yang di dapati pertanyaan seperti itu langsung tersenyum tak bersalah. “tenang saja, dia tidak akan bisa memarahi kalian, karena aku adalah biang keladinya di sini” ujar Karin menenangkan Irene.


 


Emy yang mendengar penuturan Karin barusan, akhirnya memperbaiki duduknya agar lebih santai. Dan dia jadi ke pikiran sama papanya.


 


“Ma... Kalau dipikir papa bakalan marah gk ya sama kita?” tanya Emy pada Lea.


 


Lea hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan anaknya itu. Karena dia tahu sifat Arthur yang akan marah jika itu memang salah. Well. Berbeda dengan Devan, Lea yakin jika pria itu tidak akan memarahi istrinya. Dan malah dia nantinya yang akan minta maaf.


 


“Arghh... Aku akan mati! Umpat emy akhirnya.


 


“Jadi... Nantinya Aldian bakal marah gk ya sama tante karena bawa kamu pergi?” tanya Karin pada Irene.


 


Gadis itu langsung membulatkan matanya terkejut dengan bahasan itu. Diapun langsung melihat ke arah emy. Takut-takut jika gadis itu akan kembali salah paham.


 


“tan-aku dan Aldian itu-tidak ada apa-apa” terang Irene dengan terbata-bata. Karena dia melihat ekspresi emy yang berubah agak menyeramkan dimatanya.


 


“hah... Sangat di sayangkan sekali... Baiklah girls... Sekarang sudah waktunya membuka Hp kalian, kita sudahi dulu pertemuan kita sampai di sini” kata Karin dengan semangat. Dia langsung mengeluarkan smarphonenya dan menghidupkan kembali benda pipih itu yang hampir mati seharian.


 


“buset dah! Papa telpon aku sampe seribu kali?! Ma... Papa gak ada kerjaan banget ya” keluh emy dan itu membuat Irene jadi sedikit iri. Andaikan dia juga punya seorang ayah yang seperti papanya Aldian atau emy, mungkin dia akan mendapatkan perlakuan yang sama.


 


Irene menatap setiap wajah terkejut 3 perempuan yang ada di depannya. Mulai dari ibunya Aldian yang seolah menatap layar ponselnya seperti sudah biasa, padahal Irene jelas mendengar sebuah gumaman tadi jika wanita paruh baya itu mendapatkan hampir dari 5 ribu panggilan keluar.


 


Bahkan tante Lea, ibunya emy hanya menghela nafas dengan susah payah seolah seperti orang yang akan di marahi. Irene tebak jika mamanya Lea itu mendapatkan panggilan yang hampir sama dengan emy.


 


Irene hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan keluarga itu.


 


Dan hati gadis itu mulai penasaran, mangkinkah Aldian mengkhawatirkannya? Jika iya, berapa banyak panggilan keluar yang akan dia dapatkan? 1 atau 2?


 


Iren hanya bisa mengenyahkan khayalannya yang mulai berharap jika setidaknya ada satu panggilan dari Aldian yang menunjukkan seberapa khawatir pria itu.


 


Irene mulai menghidupkan smartphonenya. Dan mulai mengecek apakah ada panggilan keluar dari pria itu?


 


Dan Irene hanya bisa menelan kekecewaannya dengan hati yang berat. Terbukti, Aldian hanya menelponnya 2 kali saja itu pun 2 jam yang lalu.


 


See? Kau tidak begitu penting Irene-tegas gadis itu pada hatinya.


 


***


 


 


Kemudian dengan hati yang terluka dia menekuk kakinya dan menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut. Irene ingin menangis, tapi apa penyebabnya? Hanya karena Aldian tidak menelponnya sebanyak tante Karin mendapatkan panggilan keluar?


 


Hanya karena hal sepele itu yang membuat hatinya kecewa dan merasakan sakit?


 


Setelah bubar dari pertemuan itu yang Irene pikirkan hannyalah satu, apa arti hidupnya bagi Aldian?


 


Hatinya terlalu rapuh untuk membendung semua rasa sakit ini, terutama untuk seseorang yang ia rasa sudah banyak mengisi kekosongan di hatinya. Dan.... Apakah benar perasaan yang ia rasakan ini? Apakah boleh dia sedikit saja serakah untuk mengatakan jika Aldian adalah miliknya?


 


“berhenti memikirkan hal bodoh Irene!” gumam gadis itu dengan suara lemahnya.


 


***


Aldian pov


 


“dad... Berikan Hp itu..... Aku ingin menelpon Irene dan mom” ini sudah ribuan kali aku merengek meminta Hp ku pada dad. Namun pak tua itu malah memasang raut wajah menyeramkan yang membuatku harus menghela nafas ribuan kali.


 


Daddy tidak mengizinkanku untuk memegang Hp ku sebelum aku menemukan rekam jejak 4 orang wanita itu di kamera CCTV.


 


Tapi ini namanya penyiksaan. Sudah lebih dari 500 kamera dari 3 wilayah di kota Jakarta ini yang ku periksa. Nyatanya tidak kutemukan satu pun wajah Irene dan yang lainnya.


 


Bahkan jika aku melirik ke kiri dan kana, nampak Leon dan juga Andrea sudah terkapar tidak jelas. Aku yakin jika mata mereka akan infeksi ke esokkan harinya.


 


Dan... Dua pria kolot itu malah sibuk menelpon dengan harapan ada celah satu detik dimana mereka bisa mengangkat. Ck.... Kenapa aku juga harus ikut memeriksa CCTV?! Aku juga ingin segera mengetahui keadaan Irene dan mom. Tapi masalahnya Daddy menyita Hp.


 


Aku yakin jika para wanita itu nantinya akan mendapatkan ribuan panggilan keluar.


 


Dan ini sudah 12 jam berlalu. Dan tidak ada satu pun petunjuk yang jelas. Aku bahkan tambah khawatir karena ketika melihat beberapa kamera CCTV tadi, menunjukkan orang-orang dari perusahaan DIRO seolah berkeliaran mencari sesuatu.


 


“akhirnya! Emy menghubungiku!” aku membelalak kaget ketika mendengar teriakkan paman Arthur. Dengan sigap aku pun juga langsung berdiri untuk memeriksanya.


 


“sayang kau dimana?! Aku akan menjemput kalian!-oke tunggu aku di sana!”


 


Aku akhirnya hanya bisa bernafas lega setelah melihat paman bisa menghubungi keluarganya. Kemudian mataku tertuju pada Daddy.


 


Aku menatap Daddy tajam seolah memberikan isyarat mana hpku. Daddy langsung merogoh sakunya dan memberikan benda pipih itu.


 


Segera saja aku langsung menelpon mom dan juga Irene.


 


Setelah mengetahui dimana lokasi pasti mereka-yang sialnya membuatku hampir tertawa. Ya... Aku tertawa mengetahui kebodohanku. Mom, Irene, emy dan aunty Lea... Mereka bahkan tidak meninggalkan gedung apartemen tempat keduaku tinggal. Dan itu hanya berjarak 500 meter dari kantor Devan Antonio yang kami pajaki saat ini.


 


Aku jadi kasihan pada dua anak buahku yang sudah memaksakan diri melebarkan mata mereka untuk melihat komputer hampir seharian penuh.


 


Mom mengatakan padaku jika Irene aman dan baik-baik saja di dalam apartemen. Dan itu membuatku akhirnya bisa bernafas lega.


 


Ini adalah kejadian yang benar-benar menguji kekuatan jantung 3 orang lelaki. Jika aku bisa membandingkannya dalam sejarah hidupku. Ini pertama kalinya jantung dan kepalaku hampir meledak karena kepanikan.


 


Dan untuk pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang lain. Selama 12 jam ini, aku menyadari sesuatu yang bisa saja membuatku lebih menderita dari semua penyiksaan yang pernah aku alami.