BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB-- 35



Irene tak tahu lagi harus mengatakan apa. Di satu sisi keinginannya ingin bersama dengan Aldian. Namun.... Keraguan itu masih memuncak. Kasus mamanya adalah hal nyata yang membuat Irene memilih menjomblo kan diri.


Kediaman Irene itu membuat Aldian menghembuskan nafasnya berat. Kepalanya sudah dialihkan ke atas paha Irene. Lelaki itu sengaja mengambil tangan Irene yang ada di rambutnya. Mengecupnya sekali, sebelum akhirnya menempelkan tangan itu pada pipinya.


“Kau tahu apa keinginanku sekarang?”


“Apa itu?” Tanya Irene penasaran.


Aldian tipe pria yang punya segalanya. Well, mengungkapkan keinginan adalah hal terakhir yang menurut Irene akan dibahas pria itu.


Pertanyaan Irene membuat duduk seketika. Entah apa yang dipikirkannya. Tapi Irene memilih pertanyaan yang salah.


“Ingin ku tunjukkan apa yang sangat ingin aku lakukan saat ini?” tanya Aldian lagi. Namun suaranya memberat. Matanya kembali menajam. Aldian mengulurkan tangannya pada pipi Irene, meremasnya sedikit untuk menuntut jawaban, karena Irene hanya diam saja dengan mata bulat terangnya itu.


Entah setan dari mana, Irene malah mengangguk pelan. Walau ada keraguan dan ketakutan, melihat Aldian yang kelihatan serius, namun keingintahuannya akan keinginan pria itu saat ini membuat Irene ingin mencoba juga.


Senyum jahat itu ditampilkan Aldian sampai menampakkan gigi taringnya. Apa ini? Irenenya ternyata juga ingin mencobanya juga.


Tak berpikir lama lagi. Aldian bangkit dari berdirinya. Menuju lemari tempat penyimpanan bajunya. Disana pria itu mengambil sebuah dasi. Ketika Aldian melihat ikat pinggangnya dia sempat berpikir dua kali. Irene pasti akan sakit jika dia menggunakan benda ini, pikirnya.


Akhirnya Aldian hanya mengambil sehelai kemeja putihnya, dan sebuah dasi.


Kakinya melangkah lebar menuju Irene. Dia berdiri dengan angkuhnya dan jangan lupa senyum jahat itu makin mengembang di wajahnya. Irene bahkan terpaksa harus menelan ludahnya kasar, karena gugup dengan kelakuan Aldian yang berubah drastis.


Ke mana Aldian yang seperti anak-anak itu? Yang selalu memasang senyum hangat dan wajah memelas meminta perhatiannya Irene? Ke mana?!


“pakailah” titahnya.


Irene melirik kemeja itu, yang menggantung di tangan Aldian, sedikit keraguan kembali muncul, namun tak menghalangi Irene mengambil kemeja itu. Dia kini tak berani menatap wajah Aldian.


“Gantilah dengan ini, aku akan menunjukkan sesuatu yang menyenangkan” bisiknya di depan telinga Irene.


Irene meremas kemeja itu kuat-kuat didepan dadanya, sebelum akhirnya gadis itu benar-benar mengangguk. Irene berjalan pelan menuju kamar mandi, menyisakan Aldian di sana dengan debaran jantung yang kian membuatnya gila.


***


Irene keluar dengan penampilannya yang sudah memakai kemeja Aldian. Tangannya nampak berusaha sebaik mungkin menutupi kegugupan itu.


Namun Aldian tak pernah bisa salah lihat. Irene gugup bukan main begitu juga dirinya yang sudah tak sabar. Aldian sedikit mengumpat ketika melihat Irene yang masih menundukkan pandangannya ke bawah. Kemeja itu memang membungkus tubuh Irene sempurna hingga lutut. Namun.... Bukankah gadisnya ini terlalu menggemaskan? Terlalu kecil untuk tubuh Aldian yang memang besar.


Jika dia memeluk Irene saja, sudah pasti saat ini tubuh gadis itu tenggelam. Aldian sudah lama menunggu Irene untuk segera mendatanginya. Tapi, kelihatannya gadis itu ragu dan takut, membuat Aldian menggelengkan kepalanya sedikit.


Akhirnya tak mau menunggu lama lagi, Aldian segera saja melangkah mendekati Irene, kemudian tanpa aba-aba mengangkat tubuh kecil itu dalam gendongan putri-nya.


“Aldian!” Irene terpekik dengan aksi tiba-tiba pria itu. Tangannya refleks langsung memeluk leher Aldian.


“Ssssttt.... Tenanglah” bisiknya sebelum akhirnya Aldian menaruh Irene di atas rajang tidurnya lagi.


Kebingungan, keresahan dan juga ketakutan membuncah di hati Irene. Namun kecupan sayang Aldian di atas keningnya memudarkan itu semua. Bibir pria itu bahkan menempel lama dikepalanya seolah meyakinkan jika ini tidak akan sakit. Hingga membuat Irene percaya.


Aldian sedikit terkekeh ketika melihat manik abu Irene yang menatapnya penuh tekad.... Well, mereka hanya akan bermain hal menyenangkan kali ini dan tidak ada yang aneh.


Aldian kembali mengecup kening Irene, beralih ke pipinya, hidung gadis itu, hingga ke telinga Irene, sebelum akhirnya Aldian berbisik pelan dengan suara beratnya itu.


“dasi ini.... Pakailah untuk menutupi matamu”


***


Irene menahan nafasnya ketika matanya menggelap. Dia tak bisa melihat apa-apa lagi saat ini. Jantungnya berdebar kencang akan hal itu. Ini adalah hal yang pernah ia lakukan pada Aldian dulu, atau lebih tepatnya memang pria itu yang meminta. Tapi sekarang.... Posisinya terbalik.


“Aku ingin mengetahui sejauh mana aku bisa menyentuhmu, sejauh mana tubuhmu juga menginginkanku” kata Aldian di sana.


Irene sudah mengangguk berulang kali. Dia ingin cepat permainan ini selesai tentunya, karena hari sudah semakin siang. Atau itu hanya alasan Irene? Apa yang sebenarnya dia ingin Aldian melakukan itu segera, karena Irene juga penasaran sejauh mana sentuhan yang mampu membuatnya nyaman.


Aldian memulai permainannya.


“Lets start the game”


“Irene, apa aku boleh menciummu di sini?” tanya Aldian menunjuk leher Irene yang terbuka.


Dan tentu saja Aldian tidak mendapat jawaban. Irene nampak ingin membuka mulutnya sedikit namun dikatupkan kembali. Sampai akhirnya gadis itu menggeleng tidak mau.


Tawa Aldian sedikit pecah. Namun ia kembali mengondisikan dirinya. Mendekat ke arah leher Irene tepat di bawah dagu gadis itu. Mendaratkan sebuah kecupan ringan yang membuat Irene tersentak tak terkira.


“Bagaimana jika aku menjilatnya sedikit?” tanya Aldian lagi.


“Tidak, aku...” terlambat, Aldian sudah menjilat leher depan Irene hingga basah. Membuat Irene menahan nafasnya dan menggigit bibir bawahnya. Geli dan sangat basah. Apa yang harus Irene lakukan jika itu membuat tubuhnya tak tahan.


“Aldian.... Berhenti,. Kumohon-“ suara Irene putus-putus, dia bahkan tak mampu lagi bicara karena Aldian menguasai titik sensitifnya di sana.


“aku akan ke bawah sedikit”


Apa maksudnya, Irene tak mampu lagi untuk berpikir. Tubuhnya siap mengantisipasi apa pun! Dan dia yakin itu.


Namun naas, serangan Aldian selanjutnya malah membuatnya tak bisa lagi bernafas. Lagi jantungnya terkejut dengan perlakuan pria itu.


“Aldian! Ja-jangan disana!” teriak Irene tak pasti.


Karena saat ini pria itu tengah menguasai perutnya. Tangan Irene yang memang bebas, mulai mencari kepala Aldian dan bahunya, dijambaknya rabut lebat pria itu dan di dorongnya brutal bahu kokoh Aldian.


Semuanya sia-sia ketika Aldian menangkap tangannya. Entah karena kesal atau apa, Aldian malah menggigit perut Irene yang masih dibalut kemeja.


“Akh! Aldian!”


Brak!


“astaga! Aldian! Menjauh dari sana! Dasar bocah nakal!”


Dan teriakkan terakhir itu bukanlah Irene...