
Hari yang dimaksud tiba.....
Irene pov.
Aku sibuk!.... Bukan main.
“Ren semua udah siap kan?”
“Irene? Yang bagian buku tamu udah kamu kasih sama bianca kan?”
“Irene, tolong pesanin galon sama bang bima ya”
Dan...
Masih...
Banyak lagi....
Entah kenapa aku menjadi anggota BEM secara mendadak. Semua itu terjadi karena mbak Laura, salah satu kenalanku. Dan salah satu anggota BEM di bagian persiapan jatuh sakit 2 hari sebelum kejadian-maksudku hari ini. Dan aku sebagai teman yang baik menawarkan diri sebagai pengganti tugasnya yang super banyak ini.
Walaupun acarnya di mulai jam 8 pagi, namun kami sudah siap siap dari subuh khusus untuk finalisasi persiapan kali ini. Mulai dari marketing sampai panggung! Urusan konsumsi dan juga informasi. Semuanya harus di cek dengan benar oleh para anggota BEM. Dan apa bila ada yang kurang maka kami harus mencatatnya. Dan menambal semuanya.
Aku berhenti sejenak di tengah semua kesibukan ini, kemudian kuraih sangku almamaterku dan kucek jam di hpku. 5 menit lagi semua tamu akan datang dan hampir 90 persen persiapan sudah terlaksana. Kau bekerja sangat keras Irene, semangatku pada diriku lagi. Kemudian kakiku mulai melangkah lagi, melewati beberapa lalu lalang orang, menuju tempat yang sepi untuk istirahat. Aku sudah mengecek semua tugasku mulai dari membantu persiapan konsumsi dan pengecekan setiap bagian panggung. Dan semuanya sudah beres.
Aku menatap bahagia pada bangku taman kampus yang tampak sepi pengunjung, aku tidak pernah sebahagia ini melihat bangku tua bercat putih susu itu selama hidupku! Dan tidak sia-sia kakiku melangkah dan memutuskan ke sini.
Aku mendudukkan diri dengan anggun, bak meniru gaya tuan putri yang ku tahu. Ku tegakkan punggungku dan ku daratkan bokongku dengan gerakkan pelan. Oh astaga. Akhirnya aku bisa duduk juga!
Aku melihat kiri kanan yang ternyata hanya ada beberapa orang di taman ini. Dan ketika kulihat situasi sudah aman, segera ku tarik kakiku ke atas dan duduk bersila di atas bangku itu.
"Inilah hidup…." Gumamku dengan suara lelah. Aku mendesah nikmat ketika akhirnya kakiku bisa dimanjakan lagi. Sebuah senyum simpul terpampang jelas di wajahku. Kemudian dengan sengaja aku membuka sepatu butut abu-abu ini dan menyelonjorkan kaki santai bak di pantai. Mumpung tidak ada orang…. Etika dan kharisma bisa lewat.
Ah…. Andaikan setiap hari bisa seperti ini, gumamku nikmat dalam hati ketika kurasakan dinginnya angin pagi bercampur panasnya matahari yang mulai menghangatkan tubuhku. Dan aku hanya bisa memejamkan mata menikmati ini semua. Nikmat yang sepertinya tidak seberapa bagi orang lain dan termasuk diriku sendiri. Kali ini aku bisa merasakan betapa nikmat terasanya sensasi yang tuhan berikan kali ini.
"Nona kau tidur?"
Kenapa aku mendengar suara bajingan itu?
“kau mengabaikanku?!”
Aku mengucek kasar telingaku. Kenapa aku mendengar suara bajingan itu lagi?
“Kau!”
“Kya! Apa yang-“ mataku membulat sempurna terkejut dengan apa yanh terjadi. Seseorang dengan cara paksa menarik lenganku kasar dan sialnya ketika aku melihat perbuatan siapa itu. Ternyata itu adalah lelaki mesum yang waktu itu menerobos masuk apartemenku.
“A-apa yang kau lakukan di sini?” Ujarku bertanya. Kulirik lagi tanganku yang tak berdaya dalam cengkeramannya yang kuat. Segera saja aku melawan tenaga pria itu dan langsung melepas tanganku.
Untungnya dia juga segera melepas lenganku.
Aku memperbaiki posisi dudukku dan melipat tangan di depan dada. Kuperhatikan lelaki itu dengan tatapan jengkel, ku akui dia benar-benar tampan dalam balutan kemeja putih rapi dan celana panjang hitam. Kemudian rambut lebatnya di sisir ke belakang formal.
“kau terpesona?” tanyanya meledekku. Namun aku hanya berdecih menanggapi pertanyaannya barusan. Terpesona? Pada pria ini? Hanya wajahnya saja yang baik? Tapi tidak dengan sikap kurang ajar dan sombong itu!
“Kenapa laki-laki bajingan sepertimu bisa ada di sini?” tanyaku langsung, sembari mengalihkan tatapanku ke samping tidak mau melihatnya. Dan kuyakini jika lelaki ini pasti akan meledak lagi karena marah.
“kau.... Aku baru tahu ada makhluk aneh sejenis dirimu, kau pikir aku pria gelandangan? Dengan Pakaian seperti ini?”
“menurutmu?”
“kali ini aku akan sabar, tapi aku akan membalasmu nanti, sekarang ikut aku” hah... Kapan hidupku akan damai tuhan?
Aku tidak menanggapi perkataannya barusan dan malah menguap tidak jelas. Seolah aku tidak tertarik dengannya. Jika boleh jujur, dia tampan dan sangat memikat, perempuan manapun yang ada di posisiku kali ini akan bersedia berlutut dan mencium kakinya. Namun, tidak denganku. Ogah banget! Tampang doang yang good looking, tapi atitude kayak bajingan. Mana mau saya.
“kenapa? Aku sibuk dan jangan menggangguku! Jika kau bertindak aneh lagi. Maka aku akan berteriak” ancamku padanya. Dan kali ini aku menampilkan jari telunjukku tepat di depan wajahnya.
Helaan nafas lelah keluar dari mulutku. Kali ini aku bangkit dari duduk dan meregangkan otot ototku yang lelah tepat di depannya. Seolah mengabaikan keberadaan lelaki brengsek itu, aku mulai berjalan meninggalkan pria itu di belakang.
“kau...” aku merasakan sebuah tangan yang besar mencengkram lengan kananku dengan cepat dan kuat. Jalanku yang tadinya santai berhenti di tengah jalan. Sial! Pria ini.... Aku menolehkan kepala ke belakang dan mendapati pria itu mencekal tanganku.
Mataku membulat terkejut dan ketika mulutku terbuka ingin teriak, dia malah menarikku dalam pelukannya! Aku menahan nafas ketika tubuhku dirangkum sempurna oleh pria ini. Suaraku yang tadinya hendak keluar, sekarang tercekat di tenggorokan. Mataku membulat sempurna, terkejut dengan aksinya.
Pria ini benar-benar gila! Ini masih di kampusku dan dia bertindak bajingan bahkan di depan umum sekalipun?! Aku tidak bisa berbuat apa-apa, ketika kesadaranku sudah kembali, aku mencoba lepas, namun naas, semua itu sia-sia, tenaga lelaki ini kuat sekali. Bahkan jika dia ingin mematahkan tulangku sekalipun dalam pelukannya. Maka itu hanya menghitung waktu sebelum aku terbaring di ruang ICU.
Tapi otakku masih bekerja! Aku harus berteriak!
“TO-mphhhh!brmme” tidak! Ini juga tidak bisa.. kanapa? Karena dia menekan kepalaku agar terus masuk dalam pelukannya yang menyiksa ini. Hingga mulutku tidak bisa di buka sama sekali.
“Sebaiknya kau ikuti permainanku nona,” katanya tepat berbisik di depan telingaku. Bulu kudukku berdiri sempurna seketika, geli dan sangat mengerikan. Tapi sialnya lagi. Jantungku malah berdetak tidak karuan. Entah itu karena takut atau apa. Tapi yang jelas situasi kali ini sangat berbahaya.
Dan... Aku tidak punya pilihan lain selain mengangguk setuju akhirnya. Karena percuma jika melawannya kali ini. Dia pasti akan waspada dengan teknik tendanganku kemarin, dan jikalau aku mau menantangnya dengan tinju. Aku yakin aku akan kalah telak.
Pria ini kuat, dilihat dari sisi mana pun. Aku bisa merasakan tubuhnya yang kokok di balik helaian baju kemeja putih tipisnya. Tidak aku salah.... Bahkan dilihat dari jauh pun, tanpa aku ada dalam pelukannya, dia tetap menyandang nama kekuatan di bahu lebarnya itu.
“Bagus kau memilih pilihan yang tepat”
“Hah!” aku menghembuskan nafas keras, ketiak dia tiba-tiba menarik tubuhku menjauh. Kupegangi mulutku yang terasa sakit akibat tekanan yang tadi dia berikan.
“kau bajingan!”
“apa pun yang kau bilang” aku menatap tidak suka pada pria yang kali ini berdiri tegap di depanku. Kulihat jika dia sedikit memperbaiki lengan kemejanya. Lalu berjalan mendekatiku. Aku langsung bereaksi waspada ketika dia mulai mendekat lagi.
Namun sayangnya aku hanya melihat senyum licik terpampang jelas di wajahnya yang tampan itu. Seketika pikiranku terpaku pada wajahnya. Tuhan... Kenapa kau menciptakan seorang iblis dengan wajah tampan seperti ini?! Keluhku dalam hati.
“kau akan menyesal setelah tahu siapa diriku Irene”
What! Tunggu. Jadi dia tahu namaku? Aku menggigit bibirku takut. Tanpa kusadari kakiku melangkah mundur, mencoba kabur. Namun sayangnya, pria itu malah langsung menangkap tanganku lagi dan menyeretku keluar dari taman.
Aku yang sudah setuju akan mengikutinya kali ini pasrah saja. Aku takut, jujur aku sangat takut. Seingatku, aku tidak pernah memberitahu namaku sama sekali padanya, tapi... Jika ku ingat lagi, dia tahu namaku, dia juga tahu apartemenku, bahkan kampus tempatku belajar! Apa mungkin..... Dia semacam pengagum rahasia?
Aku menggelengkan kepala tidak setuju dengan pemikiran terakhir itu. Lelaki setampan dia menjadi seorang penggemar wanita biasa sepertiku? Ini kemustahilan yang nyata...
Aku akhirnya berhenti memikirkan semua kemungkinan buruk yang terjadi. Termasuk di culik kemudian akan di jual ke luar negri.... Ayolah irene! Berhenti memikirkan itu!
Aku akhirnya hanya menghela nafas lelah. Ku edarkan pandanganku ke kiri dan kanan. Ternyata aku sudah di seretnya sampai di tengah kerumunan..., Tunggu di tengah kerumunan?
Sungguh! Kali ini kami berdua sedang berjalan bagaikan seorang selebriti. Mataku langsung ku arahkan ke pada pria yang dengan santainya malah mengabaikan semua mata yang melihat. Segera saja aku menarik pergelangan tanganku agar dia berhenti berjalan.
Semua orang... Bahkan aku juga melihat tatapan beberapa dosen terkejut melihatku. Apa? Apa yang terjadi?
“Kenapa kau menarik tanganmu?”
“Kau gila? Lihat semua orang sedang memperhatikan kita, lepaskan tanganku, aku janji akan menemuimu nanti” bisikku agak keras pada wajahnya ketika dia menolehkan wajah padaku.
Dan reaksi yang dia tampilkan setelah bisikkanku hanya... Senyuman?
“kya! Lihat dia tersenyum!”
“Ini pertama kalinya aku melihat dia tersenyum!”
“Hei! Cepat ambil foto!”
Aku terkejut bukan main ketika kerumunan orang yang kebanyakan mahasiswi yang ada di sekelilingku berteriak tidak karuan hanya karena lelaki bajingan yang menyeretku kasar ini tersenyum?
“selamat datang tuan Aldian, saya menyambut anda di kampus kami yang asri ini”
***