BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB--14



Irene pov


 


 


Akhirnya waktu itu tiba. Ini sudah satu minggu setelah kesepakatanku dengan pria itu. Dan Mewselama itulah dia merawat mama di rumah sakit, berperan sebagai lelaki yang bertanggung jawab dan sangat mencintai mama.


 


Aku memperhatikan cermin berbentuk segi empat yang memperlihatkan tubuhku seutuhnya.


 


Irene yang begitu cantik... Polesan make up tipis di wajah. Serta baju aneh yang menempel di tubuhku. Bahkan aku tidak bisa bilang jika ini adalah sejenis baju. Bahannya yang sangat tipis dan transparan. Bahkan aku bisa melihat dengan samar bagian pribadiku terekspos secara tidak langsung.


 


Apa begini akhir dari semuanya?


 


Tapi kenapa hatiku sedikit sakit memikirkan ini semua? Seolah ada sesuatu yang membuatku kecewa?


 


Tapi apa? Ketika aku memejamkan mata karena sakit hati ini, yang terlintas di benakku hanya Aldian dan wajah marah kekanakannya. Apa aku... Mulai bergantung pada pria itu?


 


Bukankah ini sudah saru minggu lamanya? Dan semenjak dia mengundangku ke rumahnya, Aldian tidak pernah menganggukku lagi. Hubungan kami seolah putus begitu saja tanpa sebab. Tapi... Bukankah ini yang kuharapkan? Lagi pula semua lelaki sama saja, mereka berakhir hanya mengincar tubuhku.


 


“Kau sudah siap?” aku menolehkan kepala ke belakang melihat ke arah sumber suara. Dan ternyata itu adalah cia-dia mengaku padaku jika dia adalah anak perempuan dari bajingan itu. Dan dia juga memberitahuku siapa sebenarnya ayahnya itu.


 


Nama pria yang akan mengambil semuanya dariku malam ini adalah Fikri aditama. Pria 48 tahun yang sudah memiliki 5 istri dan 7 orang anak.


 


Dia benar-benar bajingan sejati.


Aku menatap cia yang menampilkan raut wajah benci sekaligus iba padaku. Aku bisa mengerti hal itu. Bagaimanapun jika berada di posisi gadis ini, aku juga akan membenci orang yang akan menghancurkan keluarganya.


 


“Kau tunggulah di sini... Aku akan mengatakan pada ayah” aku mengangguk mengerti tanpa bersuara mendengar penuturan dingin dari gadis itu. Pasti sangat berat untuk bisa menerima kenyataan jika seorang ayah akan menghancurkan kehidupan keluarga dan juga seorang gadis.


 


Suara pintu yang tertutup rapat dan terkunci dari luar membuat jantungku waswas tak karuan. Dari awal ini semua menakutkan. Aku pun mendudukkan diri di ranjang yang cukup besar di dalam ruangan ini. Setelah memutuskan semuanya.... Aku di bawa Fikri ke rumahnya.


 


Untungnya mama sedang terlelap sekarang di rumah sakit dengan aman. Yah... Setelah bertahun-tahun aku baru mengerti penyakit mama, aku tidak sadar jika itu bisa menimpa mama sampai saat ini. Penyakit dimensia/pikun. Biasanya ini hanya terjadi pada orang lansia karena bagian syaraf pada otak sudah mulai rusak akibat bertambahnya usia. Namun... Itu tidak tertutup kemungkinan karena kerusakan otak akibat syok tertentu.


 


Selama ini... Kenapa aku baru menyadarinya?


 


Tak terasa mataku mengabur karena genangan air yang muncul tiba-tiba. Aku menangisi kebodohan dan juga kecerobohanku. Selama ini aku mengira mama akan baik jika aku merawatnya sendiri.


 


Aku selalu sibuk mencari uang dan juga bersekolah. Tapi semuanya belum terlambat selama pria bajingan itu mau bersama mama. Dan aku akan melakukan apa pun selama mama bisa hidup dengan aman dan juga bahagia... Tapi apakah ini memang satu-satunya jalan? Apakah ini tindakkan yang benar?


 


Aku meremas kain yang menutupi pahaku sebagian. Lelehan air mataku juga sudah mulai membasahi pakaianku. Aku ingin meraung melepas semuanya, namun sayangnya aku sudah tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali.


 


Aku bisu karena takdir mempermainkan keberuntunganku. Setiap saat ketika aku mulai bisa merasakan yang namanya kepedulian, maka saat itulah aku akan merasakan kepahitan hidup yang baru.


 


“Jadi... Kau sudah siap Irene?”


 


Deg!


 


Aku mendongakkan kepalaku ke atas ketika suara pria itu memenuhi pendengaranku. Aku menatapnya jijik dengan mata yang basah.


 


Aku bisa melihat tatapan mesum berbinar dimatanya seolah akan memakanku hidup-hidup. Dia bahkan memperhatikanku mulai dari ujung kepala hingga kaki.


 


Aku tersentak ketika mengamati Fikri yang mulai bergerak mendekat dan mulai melepas atasannya dengan buru-buru. Mataku mulai membelalak karena ketakutan. Bahkan untuk menelan ludahpun sangat susah di situasi saat ini. Aku mulai menjauh dengan mundur sedikit demi sedikit ke atas ranjangnya.


 


Tanganku gemetar takut, tubuhku beraksi lain dari pikiranku yang katanya sudah siap. Hatiku tidak ingin ini! Aku tidak mau!


 


Mulutku bergetar karena tangis dan ketika kulihat lagi pria gila itu di depanku, dia sudah tersenyum licik karena terhibur melihatku menjauh dan ketakutan. Dia tau jika mataku sekarang menunjukkan ketakutan, bukan lagi kebencian.


 


Hidungku mulai memanas dan air mataku mulai keluar seiring isakkan tangisku terdengar di keheningan malam. Pria itu mulai mendekat ke arahku dan merangkak di atas ranjang dengan menyisakan boxer satu-satunya kain yang menutupi tubuhnya.


 


“Hiks... Kumohon.... Aku tidak mau” aku terisak dengan kata-kata yang tisak jelas. Dan siapa pun yang mendengarnya pasti mengerti betapa lolongan permohonan itu adalah sesuatu yang menyedihkan.


 


Pria itu tidak menggubris permohonanku dan malah lebih mendekatkan dirinya. Aku bisa mencium parfum vanila yang menyengat dari tubuhnya. Aku ingin berlari dan segera muntah, namun seolah mengerti dengan pemikiranku dia segera menahan tanganku. Dan membawa tubuhku mendekat.


 


Kulihat senyuman licik mulai terbit di wajah tua itu, garis keriput yang menunjukkan usia pria tua ini seolah menertawakan kondisiku yang tak berdaya. “aku akan membuatmu merasakan kenikmatan malam ini sayang, seperti janjiku malam itu”


 


Aku tertegun dengan perkataannya. Air mataku tak lagi mengalir dan hanya tatapan kosong yang kutunjukkan padanya. Pada akhirnya dia yang akan menang atas tubuhku. Pada akhirnya aku hanya.... Seorang yang dipermainkan oleh takdir.


 


Fikri mulai mendaratkan kepalanya kepundakku. Aku bisa merasakan gigitannya yang lumayan sakit. Tapi tetap saja semuanya tidak berarti sekarang. tubuhku memang merasakan sakit namun. Suara untuk berteriak dan mengatakan jika itu sakit... Sudah tidak ada lagi. Semuanya sia-sia, bahkan jika aku berjuang sekarang untuk kabur, bagaimana dengan mama?


 


Siapa yang akan merawatnya? Hanya aku satu-satunya keluarga mama setelah maria tiada.


 


Jika... Jika seandainya maria masih hidup. Mungkin mama hanya akan membenciku, dan aku tidak perlu menjual diri demi kebahagiaan mama.


 


“Hmm? Kau tidak bersuara sama sekali?” aku hanya mengalihkan wajahku ketika pria itu sudah berhenti bermain dengan pundakku.


 


Dia menegakkan kepalanya ingin melihatku namun aku selalu mengalihkan wajah darinya. Aku jijik melihat wajah itu.


 


“Kau dingin-“


 


Brak!


 


“Sial siapa itu! Cia berapa kali sudah ku bilang jangan masuk- siapa kau?”


 


Aku mengerutkan kening ketika Fikri menjauh dari tubuhku. Mataku melihat ke sumber suara gebrakan tadi dan betapa terkejutnya diriku ketika kulihat... Laki-laki itu berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang hampir sama terkejutnya denganku.


 


“Aldian...” gumamku dengan tidak percaya.


 


Berselang beberapa detik kemudian, tatapan Aldian mulai menggelap. Bukannya hanya padaku tapi pada Fikri, yang mulai mendekat ke arahnya dengan amarah yang memuncak.


 


“siapa kau?! Kenapa kau berani-beraninya masuk ke sini!? Vito! Cia!”


 


“Tidak ada gunanya memanggil nama itu” aku gemetar mendengar perkataan Aldian yang dingin dan juga menyeramkan. Pria itu berdiri dengan tegap, sorot matanya yang penuh amarah dan juga rahangnya yang mengetat.


 


Aku segera memegang lenganku yang susah gemetar ketakutan. Aura Aldian yang terasa dingin dan tidak seperti biasanya. Jadi... Inilah Aldian Antonio yang katanya bisa membuat takut siapa pun hanya karena berdiri dengan tatapan dingin?


 


“apa maksudmu! Bajingan! Vito?! Dimana kau?!” aku melihat Fikri mulai meninggalkan ruangan kamar ini dengan tergesa-gesa.


 


Dan aku baru sadar jika.... Aku dan aldian sudah tinggal berdua sekarang.


 


Aku menelan ludah kasar masih merasakan ketakutan yang tadi. Ketika kulihat lagi wajahnya, ternyata pria itu sudah memasang wajah marah dengan tatapan tajam yang menghunus tepat ke jantungku.


 


Berbagai pertanyaan muncul di benakku, apa yang dilakukan pria itu disini? Kenapa dia menatapku dengan marah? Dan perasaan lega apa yang muncul dan menyirami hatiku tiba-tiba?


 


 


Aku menyilangkan tanganku didepan dada dan meringkuk-berusaha untuk menutupi tubuhku sebisa mungkin,


 


“Pakai ini” ujar Aldian dengan suara dinginnya. Dia menyodorkan kemeja putihnya padaku. Dan itu membuat wajahku memanas akan tindakannya barusan aku malu dengan pikiran kotorku ketika ada kemungkinan dia juga ingin melakukan ‘itu’ denganku.


 


Aku menggigit bibirku gugup, kulihat pria kokoh itu dengan pandangan malu. Bukan hanya karena tindakannya, tapi karena aku bisa melihat jelas tubuh indah Aldian. Mulai dari lehernya yang besar dan penuh dengan guratan urat. Pundaknya yang lebar dan besar, sampai pada dada bidang serta perut kotak-kotaknya.


 


Ya tuhan... Maafkan pikiran mesumku ini!!


 


Tapi... Aku juga bisa melihat beberapa bekas luka seperti goresan pisau di perut kirinya dan luka bakar berwarna hitam di perut kanannya.


 


“apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kau pura-pura jual mahal padaku dan malah memilih menjual dirimu pada tua bangka itu?”


 


Aku melihat Aldian dengan marah ketika dengan lancangnya menuduhku barusan. Kemudian ku genggam erat kemeja Aldian yang di sodorkannya tadi.


 


Jadi itu yang dipikirkannya sejak tadi mengenai kejadian ini.... Sekarang aku mengerti kenapa pria itu hanya menatapku dengan sorot yang amat dingin.


 


“Untuk apa aku menjelaskannya padamu-“ aku diam sejenak mencoba menata perasaanku yang terluka karena mengetahui pemikiran Aldian mengenai kejadian tadi.


 


“lagi pula tidak ada bedanya antara kau dan juga bajingan itu” ujarku dengan tak kalah dinginnya.


 


Aku bisa melihat wajah Aldian yang bertambah merah menahan marah. Bahkan tangannya mengepal hendak memukul sesuatu. Tapi apa peduliku? Dia bukan siapa-siapa, dia hanya seorang yang numpang lewat dan menggangguku sesaat.


 


Kemudian akan menghilang seperti kebanyakan orang yang susah tau kondisi kehidupanku.


 


“Pakai kemeja itu cepat” geramnya tertahan.


 


Aku mengerutkan kening mendengar penuturan Aldian. Tapi ketika kulihat matanya bertambah menyeramkan sampai membuatku tercekik, aku menuruti saja perintah pria itu, jangan sampai dia menyakitiku nanti.


 


Aku sudah selesai memakai kemeja Aldian. Dan ternyata kemeja putihnya menguarkan aroma anggur yang menenangkan. Ketika kulihat lengan dan tanganku... Ini kebesaran. Sampai sampai bisa menutupi hampir seluruh tubuhku. Bahkan untuk bagian leher, hampir kedodoran dan membuat pundakku kelihatan. Jadi... Sebesar inikah tubuh Aldian?


 


“Eh-“ aku kaget ketika aldian tiba-tiba saja menarik salah satu lenganku. Dia menyeretku secara paksa dari ruangan kamar itu dan melangkah keluar.


 


“Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!” berontakku ketika ingin melepas paksa tanganku, namun sayang dia segera menggenggam dengan erat dan membuatku mengernyitkan kening kesakitan. Ini akan biru untuk beberapa hari, aku yakin itu.


 


Dan ketika sudah berada di luar, Aldian secara paksa memasukkanku ke dalam mobilnya.


 


“Kau mau membawaku ke mana bajingan! Lepaskan aku! Brengsek!” aku memberontak sebisa mungkin memakinya sebanyak yang ku mau. Namun hasilnya nihil dia tetap tak menggubrisku. Bahkan ketika pria itu sudah duduk di sebelahku di kursi pengemudi.


 


***


 


Aldian menyeratku masuk ke sebuah apartemen mewah di tengah kota Jakarta, setelah ia menekan beberapa nomor pin yang ada di samping pintu.


 


Aku tercengang ketika melihat isinya yang super mewah dan berkelas. Semuanya sangat menyilaukan bagi rakyat biasa sepertiku.


 


Aku merasan jika Aldian kembali menarik tanganku. Dia membawa tubuhku masuk ke salah satu ruangan yang ternyata adalah sebuah kamar tidur. Dan semua isinya hanya berwarna hitam dan biru tua-benar-benar selera seorang pria.....


 


“seharusnya kau menjadi simpanan pria kaya sepertiku ketimbang menyerahkan tubuhmu pada laki-laku tua itu”


 


Brengsek!


 


Aku menatap aldian dengan marah ketika dia mengungkit permasalahan tadi lagi. Bukankah lebih bagus jika dia diam saja seperti tadi? Setiap kata yang meluncur dari bibirnya hanya membuat hatiku sakit.


 


Aku kemudian berdecih dan segera melepaskan tanganku dari Aldian, namun sayangnya, pria itu masih menggenggamnya erat. Wajah Aldian yang sejak tadi penuh dengan amarah kembali menatapku dengan dingin.


 


Sial! Aku sudah lelah mendongak melihat wajahnya. Aju ingin pulang dan istirahat, namun pria ini tetap menahanku!


 


Apa yang harus kulakukan agar pria ini mau melepaskanku? Apa aku bicara yang sejujurnya saja? Yah... Mungkin itu lebih baik menjelaskannya terlebih dahulu daripada kesalahpahaman berlarut-larut yang mengakibatkan Aldian akan menahanku lebih lama.


 


Aku akhirnya menghela nafasku panjang dan memusatkan pandangan ke depan tanpa mau melihat wajah Aldian.


 


“Aku akan menjelaskan semuanya. Tapi pertama-tama aku ingin duduk, dan segelas jus jika kau ada” kataku dengan tenang, syukurnya Aldian segera melepas tanganku.


 


“Aku akan mengambilkannya”


 


Aku memejamkan mata ketika mendengar suara pintu tertutup di belakangku. Aldian sudah pergi dan aku berada di tempat ini sediri. Kulirik ranjang besar yang ada di tengah kamar ini. Kelihatannya akan nyaman jika aku tidur di sana, bahkan aroma kamar ini juga sama seperti Aldian. Mataku mulai beralih ketika sebuah pintu kaca langsung ke balkon apartemen. Aku ingat jika ini adalah lantai 35. Dan pastinya pemandangan dari balkon akan sangat indah...


 


Seiring rasa penasaranku, kakiku mulai melangkah ke pintu kaca dan membukanya dengan pelan, kulihat balkon dengan pagar hitam setinggi perutku menjadi pembatas antara jurang dunia lain dan kamar ini.


 


“ini indah” gumamku ketika kusandarkan tubuhku dengan nyaman menikmati pemandangan luar biasa dari atas. Kota jakarta yang selalu padat dan menyimpan berbagai kesedihan di hidupku selama ini. Memiliki sisi indah jika di amati dari mata burung di atas langit.


 


Kelap-kelip lampu jalanan hingga rumah-rumah warga, sampai gedung bertingkat yang bersinar di malam hari.


 


“kau akan kedinginan nanti, masuklah”


 


Aku menolehkan kepalaku ke belakang, melihat aldian memegang gelas dengan salah satu tangannya. Dia bahkan tidak menyembunyikan rasa ingin tahunya untuk mendengar penjelasanku.


 


Aku mengulum senyum yang akan terbit di bibirku. Rasa senang membanjiri sekujur tubuhku, setidaknya pria ini peduli padaku, dia bahkan mau mendengar cerita hidupku yang menyedihkan.


 


Aku melangkah mendekatinya dan segera mengambil jus yang ada di tangannya. Segera saja ku dudukkan diriku di atas ranjang besar pria itu dan menyilangkan salah satu kakiku.


 


Ku ronggokkan jusnya di atas nakas setelah meminumnya seteguk.


 


Aldian turut mendudukkan dirinya di dekatku.


 


Dan aku mulai bercerita mengenai kisah irene-wanita yang menyedihkan yang baru tahu tentang penyakit mamanya. Sampai pada perjanjian yang ku buat dengan pria tua bangka itu.


 


“.... Aku berniat menyerahkan semuanya pada Fikri asalkan dia tidak pergi dari sisi mamaku, aku berpikir jika semuanya akan baik-baik saja, namun aku salah, aku tetap takut dan berusaha memohon untuk di lepaskan, sampai akhirnya kau datang dan membuat rasa takutku menghilang, terima kasih karena sudah datang dan mengusir pria itu” ujarku mengakhiri ceritaku.


 


Aku tidak bisa menebak isi kepala Aldian saat ini. Bisa di bilang jika dia hanya diam tanpa mengeluarkan suara, bahkan pergerakan sekecil apa pun selama cerita hidupku bergulir.


 


 


Aku kembali melirik Aldian yang masih menunjukkan wajahnya yang datar, seolah memikirkan sesuatu.


 


“bukankah kau ingin membunuh pria itu? Kalau kau ingin aku bisa melakukannya”


 


Dan saat ini... Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aldian... Dia berbeda-tidak. Dia bukan Aldian yang kukenal.