
Aldian tersenyum cerah melihat wajah masam Irene yang berlarut-larut pagi ini. Alasannya belum pasti di ketahui pria itu. Namun semenjak semalam ketika dia mengecek keadaan Irene di kamarnya, gadisnya malah sudah tertidur dengan pulas. Walaupun Aldian tidak sempat menuntaskan semua rasa kekhawatirannya, namun ketika melihat Irene hidup aman dan bernafas dengan nyaman di kamar tidurnya.
Dia rasa itu sudah cukup membuat jantung dan juga tubuhnya membaik.
Akhirnya Aldian bisa merasakan ketenangan dan kedamaian lagi. Dan masalah dad dan momnya.... Dia akan mengira jika daddynya kali ini pasti marah besar. Mengingat jika semua orang dalam bahaya karena rencana Karin yang mendadak itu.
Dan tentu saja membuat semuanya menjadi kacau.
“Makanlah yang banyak, kau terlihat kurus” ujar Aldian tenang dengan menyodorkan lagi roti tawar dengan selai coklat di atasnya.
Namun tidak ada tanggapan dari Irene. Diam-diam gadis itu hanya melirik Aldian dengan ekor matanya dan berakhir mengabaikan perkataan pria itu.
Rasa sakit hatinya kemarin masih membuncah bak gunung salju di antartika. Tidak akan pernah mencair ataupun berkurang.
Ketika Irene melihat jam yang ada di hpnya, dengan segera dia melangkah menjauh dari meja makan dan kembali mengabaikan Aldian.
Aldian yang melihat sikap cuek Irene padanya... Membuat senyum yang terukir di wajahnya sejak tadi luntur tiba-tiba. Bahkan roti yang ada di tangannya sudah ia singkirkan dengan menjatuhkannya ke atas piring.
Ada sesuatu yang membuat Aldian tidak suka dengan sikap Irene yang seperti ini. Bahkan tangannya mengepal erat seolah menahan sesuatu.
Aldian menatap Irene dengan mata tajamnya, meneliti tubuh kecil dan ramping itu sedang memperbaiki baju dan juga memeriksa tasnya. Kemudian ada sesuatu hal yang terpikirkan oleh Aldian, bukankah hari ini gadis itu akan berangkat ke kampusnya? Dia hampir melupakan hari ini adalah hari Irene untuk ke kampus lagi.
“Aku akan mengantarmu” ujar Aldian dengan suara tenangnya. Namun terkesan dingin di telinga Irene. Ada sesuatu yang salah dan itu masuk dalam pendengarannya.
“aku akan berangkat sendiri, tidak perlu mengantarku” kata Irene kemudian ketika ia melihat Aldian mulai bersiap-siap memakai jasnya. Tidak perlu menunggu jawaban pria itu, Irene malah langsung bergegas menuju pintu keluar apartemen.
Entah kenapa dia bisa merasakan sesuatu yang aneh dari pria tampan itu.
Seolah sesuatu yang lain dan itu sangat berbahaya. Irene merasakan jika tubuhnya harus segera pergi menjauh.
***
Aldian melihat pintu apartemen itu tertutup rapat. Tangannya yang memegang jas kerja berwarna hitam, mulai mengepal kuat. Darahnya mendidih seolah di bakar sesuatu. Dan tanpa ia sadari, ia sudah melemparkan jas itu ke sembarang arah untuk meredam sesuatu yang berkobar di dalam dirinya.
“brengsek!” umpat Aldian.
Lagi-lagi.... Sesuatu itu merasuki dirinya.
Keinginan dan nafsu yang membara. Rasa ingin memiliki gadis itu bergejolak dalam dirinya saat ini. Bahkan sampai di titik Aldian tidak bisa membendungnya lagi. Sampai saat ini mungkin hanya sekedar amarahnya saja yang meledak tidak karuan. Tapi jika lebih lama lagi... Dia takut jika amarahnya ini akan melukai Irene nanti. Dan jika itu sampai terjadi....
“sial semakin lama aku bisa semakin gila” geram Aldian sembari menangkup wajahnya. Sifat Irene yang membangkang dan juga dinginnya wanita itu... Membuat Aldian tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Nafsunya untuk membuat Irene tetap di sampingnya. Membuat gadis itu tidak perlu pergi kemanapun.... Sampai dimana ia ingin merantai tubuh indah itu hanya untuknya saja.
“sial apa yang aku pikirkan?” Aldian terus bermonolog dengan dirinya. Pikiran liarnya yang membayangkan seandainya saja bagaimana jika dia mengurung tubuh Irene di sini saat ini juga?
Tapi sekali lagi, Aldian masih memakai pikirannya jernihnya yang sedikit itu. Untuk sekarang dia tidak boleh egois dan nantinya akan menyebabkan gadis itu terluka.
***
Selama di kampus fokus Irene tidaklah menentu. Gadis itu terganggu dengan bayangan Aldian yang aneh pagi ini. Dia yakin biasanya jika dia mengabaikan pria itu, maka aura menyeramkan yang ia rasakan pagi ini tidak pernah muncul, tapi kenapa?
Bahkan jika Irene memikirkannya, selama ini sikap cuek dan kasarnya pada Aldian masih sama seperti biasa. Namun... Apa dia sedikit keterlaluan tadi pagi?
Semakin Irene memikirkannya, dia semakin tidak mengerti semua hal yang terjadi pada perubahan sikap Aldian.
“Ren, kenapa kamu nggk makan?” Irene sedikit tersentak dari lamunannya, ketika viola memanggilnya.
Dengan senyum yang cerah seolah tak terjadi apa pun, gadis itu hanya menjawab pertanyaan temannya itu dengan melirik piring nasi yang tersaji di depannya. Kali ini setelah kuliah selesai, seperti bias Irene dan viola akan berbincang di kantin kampus.
Entah itu isu yang menggemparkan dunia, maupun rumor receh di sekitaran mereka. Itu adalah kegiatan yang wajib bagi gadis dewasa dan jomblo di kampus ini.
“ada masalah sama babangnya? ”tebak viola yang tepat memukul Irene di tempat.
“aku hanya lagi ke pikiran sama mama vi...” kilah Irene sembari mengaduk makanannya dengan cepat.
Dia tidak mau jika viola nantinya malah makin menggodanya jika ia menjawab iya...
“Bukannya kamu bilang jika mama kamu udah agak baikkan gitu?”
Namun tetap saja perkataan viola mengganggunya. Apa mungkin dia sudah keterlaluan pagi ini pada Aldian? Bagi Irene sendiri, sepertinya sikapnya biasa saja.
Bukankah Aldian mengenalnya? Tidak mungkin pria itu tersinggung dan marah hanya karena sikap seperti itu.
Semakin Irene memikirkannya, semakin membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Dan bagaimanapun juga, dia harus membuat pembatas antara dirinya dan Aldian secepat mungkin, karena semakin lama bergantung maka akan semakin berat hatinya untuk berpisah.
Sungguh dia tidak ingin perasaannya terlalu larut karena Aldian memperhatikannya.
“jadi... Intinya kalian bertengkar?” tebak viola dengan memasang raut wajah tertariknya.
Dan kali ini Irene hanya memutar bola matanya malas dan tidak menanggapi pertanyaan temannya itu.
“hem... Aku jadi kasihan dengan laki-laki yang menyukaimu, sepertinya dia perlu usaha lebih keras lagi untuk memenangkan hati temanku ini” ujar viola dengan menggelengkan kepalanya. Dia tidak mengerti jalan pikir Irene, wanita mana yang mencoba menolak pria sekeren dan sekaya Aldian? Di tambah lagi, dari rumor yang ia dengar-dengar di kampus ini, Aldian secara terang-terangan mengumumkan jika tidak ada yang boleh mengusik ketenangan Irene. Bahkan jika gadis itu hanya cemberut saja. Maka akan jadi hal gawat bagi semua orang.
Inilah kenapa Irene tetap aman melangkah hingga sekarang... Yah walaupun viola masih meragukannya, namun terbukti dari orang-orang yang hanya lalu lalang dan menghindari kontak dengan Irene, membuatnya lega.
“Vi... Kita bahas yang lain deh, masa iya kamu bakal nanya laki-laki playboy itu terus”
“what?! Playboy? Kamu ngatain Aldian playboy? Bahkan nih ren... Sampai sekarang cewek yang dekat sama dia itu Cuma kamu!” Irene sedikit mencibir perkataan viola barusan.
Dia tidak percaya sama sekali berita aneh seperti itu. Menilik sikap Aldian yang seolah biasa menghadapi dirinya sampai sekarang. Dia yakin jika, walaupun Aldian tidak terlihat menggandeng wanita di luar, tapi bisa saja dia bermain perempuan di apartemennya, who know?
Lagi pun, Irene tidak akan pernah yang namanya berharap Aldian memilihnya sebagai pasangan hidup, karena apa? Ya... Karena Emy, menyukai Aldian. Dan sudah sepatutnya gadis sepertinya tahu diri untuk tidak terlalu berharap pada pria bajingan sepertinya.
“Aku sadar diri vi... Dia itu bak dewa di langit dan aku kayak kotoran di bumi. Dunia kami beda”
“dunia kalian beda apaan?! Kamu tinggalnya dimana? Di Indonesia, kamu sekarang di mana? Di bumi! Tanah yang kamu pijak sama udara yang kamu hirup sama dia itu sama! Beda apaan coba?” kata viola menggebu-gebu menyadarkan Irene. Yah walaupun dia akhirnya hanya bisa melihat wajah Irene yang tidak berminat sama sekali.
“Intinya aku bilang gini, kalau Aldian itu seratus persen suka dan tertarik sama kamu-“
“berarti ada kemungkinan dia bosan dan mencampakkanku kan?” potong Irene langsung dan membuat gadis yang bernama viola itu diam seribu bahasa.
Viola akhirnya bisa duduk dengan diam, dan Irene bersyukur akan hal itu. Sebagai sesama perempuan yang sudah menyandang kata jomblo dari lahir hingga sekarang. Apa lagi ketakutan akan gagalnya sebuah hubungan, Irene yakin jika viola akan mengerti kekhawatirannya.
Hubungan yang tidak jelas ini menggiring Irene untuk hati-hati mempercayakan perasaannya.
***
Aldian menahan kepalan tangannya agar tidak menempel ke wajah lelaki tua penjilat yang saat ini mengikutinya bagaikan anjing setia.
Aldian sangat jengkel dan siap menghunuskan pisau yang tersimpan di balik jasnya untuk membungkam mulut keriput itu.
“.... Jadi tuan.... Ada kepentingan apa Anda di kampus kami? Saya pernah dengar jika kekasih Anda ada di sini, apa mungkin gadis yang waktu itu?”
Tanpa mau menanggapi perkataan barusan, Aldian hanya berjalan lurus mengabaikan. Rianto-kepala yayasan sekaligus pemimpin kampus ini. Dan tentu saja dengan sikapnya yang menjengkelkan. Sangat sial bagi pria itu untuk bertemu di jalan dengan Rianto. Niat awalnya dia ingin mencari Irene dan memberikan kejutan pada gadis itu...
Berakhir membuatnya bertemu dengan pak tua ini. Tapi meskipun di abaikan oleh Aldian, Rianto tetap dengan keputusannya berusaha menarik minat pria itu.
“Jadi... Apa Anda mencari wanita yang waktu itu tuan? Saya akan dengan senang hati mencarikannya untuk Anda, jadi Anda bisa istirahat di ruang tunggu kantor saya-tidak perlu membuat kaki Anda capek begini” Rianto berdecak kesal karena setiap perkataannya tidak di gubris sama sekali.
Rianto tahu jika Aldian adalah kuncinya untuk bisa mengelola dengan bebas yayasan pendidikan ini. Dia yakin jika dia bisa mendapatkan Aldian di tangannya, maka tidak akan ada yang bisa menghalangi niatnya.
“...dan juga saya punya seorang putri yang lagi menempuh pendidikan di Australia, dan bulan ini dia datang, saya harap putri saya bisa membantu kinerja dari perusahaan yang di kelola ayah Anda kedepannya. Jika Anda berkenan saya bisa memperkenalkan dia pada Anda, selain bertalenta dia juga sangat populer di kampusnya” Rianto menyabarkan dirinya ketika bahkan untuk perkataannya yang kali ini tidak di tanggapi lagi.
Dari yang ia dengar dan lihat waktu itu, ketika kompetisi sains di kampus ini. Sikap dan juga perkataan Aldian benar-benar berbeda dengan sekarang.
Bisa di bilang dia tidak pernah melihat tatapan tajam ini ketika ada gadis yang waktu itu. Bahkan aura yang ia rasakan jauh berbeda. Rianto berpikir mungkin saja, semua rumor dan berita mengenai anak pertama Devan Antonio, merupakan orang yang dingin dan juga tertutup kecuali pada keluarganya sendiri.
Jadi... Rumor itu benar? Sekarang apa yang harus ia lakukan? Bukankah Aldian adalah satu-satunya jalan untuknya bisa mengambil alih kekuasaan?
Rianto terkejut ketika langkah Aldian berhenti tiba-tiba. Ketika dia melihat apa yang terjadi... Sebuah senyum terbit di wajahnya.
‘ini adalah peluang yang bagus’