BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB--26



Author pov


 


Devan menatap malas pada layar smartphonenya. Andrea mengabari jika anak sulungnya itu mulai malas bekerja, lagi!


 


Jika bukan karena Devan mengerti rasanya jauh dari wanita yang mengambil semua kehidupan para lelaki. Seperti perasaannya pada Karin, maka Devan akan dengan senang hati menghukum bocah pemalas itu.


 


Tapi semuanya malah berimbas padanya, dia tidak bisa pulang tepat waktu seperti biasanya, karena pekerjaan Aldian juga dia kerjakan. Hal inilah yang menyebabkan istri tercintanya itu marah dan selalu merajuk setiap malam.


 


“dasar iblis kecil!” umpat Devan.


 


Dia mulai mencari nomor-nomor tertentu yang bisa membuatnya balas dendam pada anaknya itu... dan ketika sebuah nomor tidak di kenal tertera di ponselnya.


 


Senyum jahil dan tawa jahat sudah menggema ke setiap sudut ruangan.


 


***


 


Seperti biasanya, universitas H kedatangan selebriti papan atas lagi.


 


Kali ini sorang wanita bernama dahlia Margaretta, dengan hotspans super hotnya dan baju yang seperti pakaian dalam saja, berjalan dengan anggun diantara kerumunan para lelaki. Tentu saja banyak cerita mulai beredar mengenai wanita itu.


 


Tapi yang jelas... Irene bisa melihat tatapan jijik viola, yang ada di sebelahnya. Dia sedikit tertawa ketika melihat kernyitan tidak suka viola, ketika melihat dahlia mulai mengibaskan ekornya ke kanan dan ke kiri.


 


“jalan aja kayak bebek kepanasan, seksi paan tuh anak?” ketus viola tidak suka.


 


“hush, itu anaknya pak kepala yayasan, mau di DO kamu dari sini vi?” tutur Irene sembari menahan tawanya. Bagaimanapun... dia tidak bisa mengataka jika perkataan viola salah, karena itu benar adanya.


 


Bahkan Irene bisa mendengar bisikkan di belakangnya yang mengatakan jika dahlia seperti anjing betina yang menggoda lelaki hanya dengan kibasan ekornya. Mungkin lebih parah itu ya?


 


“tuh anak gak ada malunya apa? Ini tuh di Indonesia,  bukan Australia, kalau di sini pakai bikini aja di dalam rumah udah di tegor tetangga sebelah, lah tuh anak mamerin paha kinclongnya ke sana kemari, dia pikir kampus ini milik bapaknya?” tambah viola lagi yang mengabaikan peringatan Irene.


 


“yaudah yok, kita cabut ke kelas aja, ngapain mantengin diri liat goyangan itik” cibir Irene disertai tawa kecilnya melihat tingkah viola yang seolah iri pada dahlia.


 


Irene yakini jika gadis itu cantik, kulitnya selembut sutra dan wajahnya sebening mutiara, namun sayangnya, hanya sikapnya saja yang salah, membiarkan berbagai pasang mata pria menatapnya dengan lapar.


 


Dengan susah payah Irene memandu viola, temannya satu ini memang ratunya gosip, jika sedikit saja ada yang menggegerkan di kampus ini, dia langsung menyorakinya dan membuat cerita aneh-aneh di masa depan.


 


“eh, tunggu dulu!” viola menghentikan langkahnya dan langsung menghadap Irene.


 


Dia dengan tegas memegang bahu Irene dan menatap tajam Irene.


 


“kamu tau enggak? Kenapa tuh si cabe ke sini?”


 


***


 


Waktu itu... Irene seharusnya bisa memprediksi ini, seharusnya kesialannya hanya sampai dirinya di permalukan di depan pak Rianto. Dan seharusnya ia bisa lebih menganggap serius perkataan viola siang tadi.


 


“sekarang lo buatin gue jus”


 


 


Dengan senyum terpaksa dia mohon pamit dengan wanita yang hampir kelihatan telanjang itu. Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah dahlia Margaretta yang tadi siang.


 


‘dasar bebek kampret!’ kutuk Irene dalam hati. Dia benar-benar menyumpahi dahlia dengan segenap kata-kata kasarnya, bahkan melebihi perkataan kasarnya pada Aldian. Kenapa dahlia bisa tahu jika di sini adalah apartemen Aldian? Apakah Aldian sendiri yang memberi tahu tempat ini? Bukankah waktu itu Aldian mengatakan pada Irene jika apartemen ini hanya dirinya dan keluarganya saja yang tahu?


 


Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Irene. Dan walaupun dia mengaku sebagai pembantu bersih-bersih rumah-yang nyatanya itu sangat konyol. Namun Irene berharap jika dahlia tidak membuat masalah lebih besar dari ini...


 


Contohnya membuat berita konyol mengenai seorang wanita tinggal bersama Aldian?


 


Irene selesai menyiapkan jus seperti pesanan wanita itu, dan meletakkannya di depan meja kecil di depan sofa.


 


Dan ketika Irene hendak mengakhiri keramah tamahannya itu dengan senyum semanis mungkin, dia di kejutkan dengan dahlia yang mengangkat galas jus itu dan menyiramkannya ke badan Irene.


 


Senyum jahat penuh dengan hinaan, dahlia menatap Irene rendah.


 


Bibirnya yang sedikit mengerut namun tetap berusaha tersenyum bersalah. “maaf, sepertinya tangan Gue kepleset”


 


Irene menganga terkejut dan berusaha keras membersihkan bajunya, namun dia terkejut kembali ketika tangannya di tarik oleh dahlia. Matanya kembali melebar mempertanyakan sikap kurang sopan wanita itu.


 


“lo mau ngeracunin Gue kan? Tapi sayangnya Gue udah tahu niat busuk lo” dahlia kembali tersenyum kecut.


 


Dengan sengaja wanita itu menunjukkan gelas jus yang masih ada di tangannya. Dan kembali tersenyum dengan penuh kemenangan kemudian melepas gelas kaca itu tepat di depan kaki Irene.


 


Prang!


 


Suara yang mulai memekakkan telinga. Membuat Irene memejamkan matanya. Dia merasakan sesuatu yang menyengat mengenai pergelangan kakinya, namun di abaikan wanita itu. Apa dia selemah ini? Apa dia semudah ini di rendahkan oleh seseorang?


 


“saya tidak meracuni gelas itu” geram Irene berusaha untuk menahan tangisnya.


 


Dia menatap tajam pada dahlia yang lebih tinggi sedikit darinya, bibir gadis itu sudah mulai bergetar dan hidungnya mulai memanas, namun dia masih ingin menguatkan diri untuk tidak menangis di depan wanita ini.


 


“lo masih menyangkalnya? Lo pikir dengan Aldian suka sama lo untuk beberapa waktu bisa buat lo jadi tuan putri? Seharusnya lo punya kaca sekarang.... liat tubuh dan wajah lo, welll mungkin untuk kali ini bakal Gue maafin, namun besoknya, jangan pernah racunin minuman gue lagi” Irene diam seribu bahasa.


 


Apa yang dikatakan dahlia tidak salah sama sekali, namun apakah semua ini benar? Aa tindakannya ini untuk membuat Irene tahu diri?


 


Tapi.... gadis itu sudah berusaha untuk tidak termakan kata-kata manis Aldian, bahkan dia sudah ingin mulai menjauh dari pria itu, tahu apa wanita itu mengenai hubungannya dan Aldian? Mereka hanya..... berteman? Bahkan di sebut teman pun tidak.


 


“pikirkan kata-kata Gue, siapa tahu berguna buat lo, soalnya... Cuma Gue yang pantas di sandingkan sama Aldian” ungkap dahlia dengan senyum jahatnya. Dia cukup puas degan raut wajah kekalahan Irene saat ini. Dan seperti kata ayahnya.


 


Irene tidak ada apa-apanya di banding dirinya. Dilihat dari dekat pun begitu, bahkan wanita ini hanya memakai kaos longgar berwarna putih dan celana jeans ketat selutut, style macam apa itu?


 


Dibanding dengan dirinya yang lebih glamor dan terkenal cantik. Dia yakin jika Aldian bisa jatuh ke dalam genggamannya.