
“bagaimana dengan lukamu Al? Apa sudah sembuh?” Tanya Irene khawatir.
Dia memang sudah menanyai ini berkali-kali, bahkan waktu di rumah sakit. Tapi pria itu hanya menanggapi pertanyaannya dengan senyuman sialan itu.
“Aku baik-baik saja” ungkapnya.
Irene kembali memutar bola matanya dan melengos. Membiarkan Aldian kembali dengan lembaran kertas dan map itu. Apa salahnya jika pria itu mengatakan sedikit saja jika dia sakit? Setidaknya Irene berpikir jika Aldian bisa berbagi secuil rasa sakit dan beban yang ia tanggung.
Menjadi seorang penerus usaha keluarga memang tak semudah yang ia pikirkan.
Ada beban dan rasa tanggung jawab yang besar.
“Aku dengar... Jika minggu besok kamu akan ujian”
“hmmm.... Kami akan ujian selama 2 minggu penuh” ketus Irene.
“kamu marah?” tebak Aldian. Ketika pria itu melihat Irene sedikit cemberut, dengan kelopak matanya yang agak sayu.
Irene kembali merapatkan tubuhnya pada pintu mobil, menghela nafas, sebelum akhirnya dia mengatakan...
“tidak”
“aku tidak ingin membuatmu khawatir, sayang... Jika aku mengatakan ini sakit, maka aku akan menambah beban di dalam kepala cantikmu itu” jujur Aldian dengan hatinya yang memberat.
Jika dia mengatakan pada Irene luka di dada dan punggungnya ini sakit, dia tahu jika gadisnya yang super baik ini. Hanya akan mengkhawatirkan dirinya.
“a-apa lukamu itu sakit?!”
Aldian hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepala melihat wajah khawatir Irene.
“Ka-kalau begitu kenapa kau tidak memeriksanya ke rumah sakit?! Kita harus ke dokter!” panik Irene.
“Aku sudah memeriksanya, dan dokter mengatakan jika itu hanya luka gores”
Irene yang tidak percaya dengan perkataan gamblang pria itu, dia hanya bisa memicingkan mata meneliti wajah Aldian, apa pria itu sedang berbohong atau tidak.
“jangan pernah bicara denganku lagi!” berang Irene.
Dia yakin jika Aldian bohong. Melihat senyum Aldian yang seolah palsu itu.... Hanya untuk menenangkannya.
Irene berpaling, melipat tangannya dan kembali pada mode marah.
Tidak... Aldian saat ini sedang menahan senyum, tawa dan juga gelitikkan tak beraturan yang mengocok usus di perutnya.
‘oh.... Lihat wajah marah itu, aku benar-benar ingin menggigit bibirnya yang mengerut dan hidung mungil itu.’ Setidaknya begitulah pertarungan batin Aldian.
Dia hanya menahan diri memperhatikan Irene dari samping. Kepalanya agak di miringkan sedikit agar bisa lebih leluasa menikmati wajah lucu itu.
Dia senang jika Irene mengkhawatirkannya seperti ini.
“Bagaimana jika kita bertaruh?”
“jangan mengalihkan pembicaraan!” jawab Irene cepat, tanpa mau menunjukkan wajahnya.
“aku akan menyetujui pemeriksaan rumah sakit nanti” ujar Aldian menyerah.... Setidaknya nanti dia hanya harus menyuap dokter untuk mengatakan jika dirinya baik-baik saja kan?
“tapi, kamu harus berani bertaruh denganku” sambungnya.
Irene terlihat semangat dengan itu. Setidaknya dia bisa mendengar sendiri jika Aldian dalam kondisi baik dari dokter. Tanpa di sadari Irene, dia langsung mengangguk menyetujui untuk bertaruh dengan Aldian....
***
“jadi dia mengatakan padamu, jika selandainya kamu dapat nilai terbaik tahun ini di ujian besok, dia akan memberikanmu hadiah yang tak pernah ada di dunia ini?” tanya viola.
Dan Irene hanya mengangguk.
Dia tidak tahu hadiah macam apa itu, yang tidak pernah ada di dunia ini? Namun bisa di wujudkan oleh Aldian?
“Dan jika kamu kalah?”
“Itu seperti... Aku harus menuruti satu permintaannya” ucap Irene bingung.
“itu cukup mengerikan... Tapi kau menanyakan isi permintaan itu?” tanya viola lagi, penasaran.
“Katanya itu semacam hal yang tidak akan membuatku rugi, dia mengatakan semua itu seolah olah aku adalah wanita yang paling beruntung jika kalah atau menang sekalipun”
“aku tidak tahu apa yang di pikirkan Aldian Antonio itu” resah gadis itu.
Dia hanya bisa melihat teman dekatnya-Irene kebingungan saat ini.
Sejenak mereka berdua diam dalam kebisingan kantin kampus.
Menurut viola, memang ada kemungkinan Irene menang, secara perempuan yang duduk di depannya ini termasuk mahasiswa teladan dan juga murid yang diakui.
Tetapi, Irene tentu saja harus mengalahkan Bian. Dia mencetak rekor nilai tertinggi tahun kemarin. Dan Irene di posisi ke dua.
“kenapa dengan mudahnya kamu bisa bertaruh seperti itu? Bukankah Irene yang ku kenal selalu waspada?”
“Aku menyetujuinya karena dia mau di periksa sama dokter, jika tahu pria brengsek itu baik-baik saja, aku tidak akan menyetujui ini” kesal Irene akhirnya.
Wajahnya yang bingung berubah merah karena marah dan sebal. Irene bodoh dengan membiarkan hatinya terlalu khawatir.
“sepertinya aku harus menang!”
***
Dua minggu kemudian.....
“Penyelidikan mengenai Irene belum membuahkan hasil sama sekali?”
Aldian memijit batang hidungnya untuk mengurangi stres akhir-akhir ini.
Ada seseorang yang berkuasa di balik buntunya identitas siapa Irene sebenarnya. Dan Aldian yakin jika orang ini cukup tangguh untuk menjadi seorang lawan.
“ketika aku masuk ke server yang sama saat kita mendapatkan informasi perdagangan manusia itu, maka sedetik kemudian virus langsung menyebar dan mengambil semua dataku, ini membuatku jengkel!” geram Leon.
Dia tidak pernah menemui ini sebelumnya. Karena Leon termasuk handal dalam menerobos data. Bahkan bisa di bilang data rahasia kepolisian bisa langsung ada di genggamannya.
Tapi kali ini kasusnya begitu rumit, di tambah lagi masa lalu gadis yang di selidiki Aldian itu.... Benar-benar tidak masuk akal. Bukan hanya kartu identitas keluarga yang abnormal itu, tapi juga siapa sinta Monica sebenarnya. Apakah benar jika dia adalah ibu kandung Irene?
“Semua sistem akan kembali normal dalam beberapa hari-hah sial! Aku harus membersihkannya seperti menyapu halaman rumah dengan beberapa bulu” keluh Leon lagi.
Aldian yang melihat seberapa kacaunya temannya itu, hanya bisa menghela nafas. Bukan berarti hanya Leon yang frustrasi di sini.
Tapi Aldian juga, beberapa waktu ini Devan dengan sengaja memberikan tugas berat di kantor hingga ia lembur sampai jam 2 pagi. Di tambah lagi masalah Karin. Momnya itu hilang entah ke mana-dan Aldian tidak cemas sedikit pun, karena dia yang menyembunyikan ibunya itu.
Mungkin karena itulah Devan memberikan tugas segunung.
“aku harap bisa dapat kabar baik besok” ujar Aldian dingin.
“kau gila! Sudah kubilang ini tidak akan berhasil!” bentak Leon.
Pria itu langsung bangkit dari kursinya dan menatap Aldian tajam.
“aku mengatakan ini sekali lagi, aku tidak sanggup menghancurkan semua virus itu”
Aldian melipat tangannya di depan dada, dan menatap tajam ke dalam mata Leon.
Gemetar dan rasa takut. Itu yang di rasakan Leon. Namun, dia ingin mempertaruhkan hidupnya. Setidaknya dia akan mati lebih cepat di tangan Aldian, daripada mati perlahan karena stres.
“jangan lupakan prinsip hidup kita selama ini, bukankah ayahmu dan daddyku mengajarkan kita untuk menyerang lebih dulu sebelum orang itu menghancurkan kita?” Aldian berhenti sejenak untuk menjeda rasa marahnya. Kemudian menghela nafas sebelum akhirnya berkata lagi “kita terbiasa untuk memutus nafas seseorang bukankah begitu?”
Senyum yang licik dan penuh dengan nafsu membunuh yang menggebu-gebu.
Dari sosok Aldian yang mengerikan. Liam hanya bisa menelan ludah kasar, dan ingatan kemarin... Ketika pria gila di depannya ini dengan tenang mencabik-cabik kulit dari seorang wanita bernama dahlia Margaretta, muncul dalam benaknya.
Leon yakin jika dia juga seorang anak yang terlahir dari keluarga yang gila, namun... Sepertinya Aldian lebih gila dan bengis daripada dirinya.