
Irene menarik nafasnya, kemudian melihat lagi pemandangan sempurna di depannya. Arghhh! Matanya ter nodai oleh pria mesum itu.
Jika bukan karena ancaman Aldian akan memberikan hadiah ciumannya di depan semua orang. Irene akan menolak dengan tegas hadiah konyol yang ia dapat kali ini.
“Ha-hanya lakukan apa yang kumau bukan?”
Di jantungnya saat ini sudah getar-getir ingin loncat kemanapun agar tidak terlibat dengan aksi batinnya. Sedangkan pikiran Irene sudah melalang buana ke mana-mana ketika tak sengaja tangannya menyentuh kulit dada Aldian.
“Sudah mau mulai?” Aldian menggeram. Dengan suara nya yang dalam dan hampir seperti bisikkan. Dia menang! Irene akan melakukannya untuknya malam ini? Hal yang selalu meliar dan menari-nari dipikiran mesumnya akan terwujud.
Pipi Irene memanas. Dan bersemu merah karena mendengar dalamnya suara pria itu. Untungnya Aldian tidak bisa melihat Irene.... Karena saat ini, Irene sudah menutup mata Aldian dengan dasi yang dikenakan pria itu tadi.
Aldian berbaring diranjang besarnya dengan sandaran bantal. Matanya di tutup dan sudah bertelanjang dada. Sedangkan tangannya sudah di borgol Irene. Menampilkan bahu dada dan tubuh kotak-kotak yang menggiurkan itu. Irene bersumpah dalam hatinya jika ini akan jadi terakhir kalinya mereka melakukan hal seintim ini.
Irene mulai memberanikan dirinya dengan menarik nafas dalam. Sedangkan Aldian disana sudah mulai bertingkah aneh. Di mata Irene, Aldian dengan sengaja menyentakkan kepalanya beberapa kali kebelakang. Mengerutkan kening dan menggeram tidak jelas.
Tapi Irene mulai mengabaikannya. Dia sudah menyusun rencana apa yang akan ia lancarkan untuk pria mesum yang sedang tak berdaya itu. Seharusnya begitu karena Irene sudah memastikan borgol yang ia dapat sebagai ‘hadiah’ tadi mengunci di pergelangan besar Aldian.
“Aku akan mulai” Irene merutuki dirinya yang dengan sial mengeluarkan suara yang sudah seperti bisikan saja.
Dia malu!
Aldian merasakan jika ada gelombang di kasur yang tengah ia tiduri. Membuat kepalanya yang dipenuhi oleh bayangan Irene kembali pening. Lalu sentuhan lembut itu terasa ketika dia yakin jika jemari lentik gadisnya perlahan menyentuh bahunya yang kokoh.
“sial, sepertinya aku sudah gila, bisakah kamu melepas penutup mataku Irene?” geram Aldian yang bahkan tak tahu malu ketika di akhir kalimatnya ia sedikit mendesahkan sesuatu.
Dia yakin jika itu karena merasakan berat akan sesuatu di perutnya.
“bukankah ini hadiahku?” bisik Irene yang mulai berani.
Irene tidak tahu keberanian macam apa itu. Dirinya yang tak pernah berpacaran, dan anti di sentuh pria mana pun. Kali ini bersikap liar diatas tubuh seorang pria.
Walau masih takut-takut. Tapi tubuhnya kali ini seperti punya otak sendiri untuk bertindak. Mulai dari menyentuh bahu Aldian pelan, menelusuri beberapa luka di dada bidang pria itu, sampai pada luka bakar hitam di sisi perut Aldian. Irene melepas rasa penasarannya seiring dengan merasakan luka-luka itu di sentuh tangannya.
“pasti ini semua sangat menyakitkan” gumam Irene.
Gadis itu sedikit menyampirkan sulur rambutnya yang mulai menghalangi pandangannya dari tubuh Aldian.
“Hmm? Kupikir tidak sesakit itu” Aldian menelan semua kata-katanya kembali, ketika merasakan sesuatu yang kali ini mengimpit tubuhnya.
Sial, andai saja dia bisa melihat keadaan Irene saat ini, pasti dia sudah tidak tahan lagi. Dan untungnya gadis itu menutup matanya.
Irene menempelkan tubuhnya pada Aldian. Pelan dan sangat membuat pria itu frustrasi.
“Irene...” Aldian mulai menggeram tidak jelas lagi. Kata-katanya yang sudah tersekat di tenggorokan semuanya. Kepalanya tak lagi bisa jernih. Tubuh hangat Irene melingkupi dada dan perutnya. Bahkan benda kenyal sialan itu! Jangan pikirkan apapun aldian! Itu adalah jeritan tertahan batin pria itu ada sesuatu Tepat mengenai bagian dada atasnya, sedangkan jemari Irene.... Menahan tubuh gadis itu agar bisa tetap memberikan jarak walau itu Cuma 1 mili saja.
“Jujur padaku jika itu sakit” titah Irene. Dia bisa melihat wajah Aldian dari jarak sedekat ini. Melihat alis tebal Aldian terangkat sebelah serta mulut pria itu yang sedikit terbuka. Lucu, ketika melihat guratan urat di leher dan kepala Aldian, seolah pria itu tersiksa akan sesuatu
“ya, itu sakit sekali” jujur Aldian akhirnya. Dia tidak tahu kenapa Irene harus repot-repot mempertanyakan bekas luka itu. Tapi tak apa, dia senang jika gadis itu mengkhawatirkannya.
“cium aku Irene! Demi tuhan ini lebih menyiksa daripada apa pun”
“ Bukankah aku yang akan menyentuhmu?” goda Irene dan membuat Aldian menggeram lagi. Tubuhnya sudah panas tidak terkendali. Dia yakin jika Irene juga merasakan bagian intinya sudah mengeras. Tapi apa wanita itu tak mengerti, atau dengan sengaja membuatnya perlu mengatakan keinginannya?
“Dimana bibirmu?!”
“Di sini” Irene meniupkan nafas panasnya dengan perlahan pada bibir Aldian. Namun secepat kilat menjauhkan wajahnya lagi karena Aldian seolah ingin melahap apa pun yang ada.
“Irene!” Aldian merasakan darah sudah mulai mengalir ke tangannya. Oh astaga... Pria itu lupa jika sejak tadi tangannya sudah memberontak ingin di lepaskan dari borgol besi dan langsung memegang kendali. Hingga menyebabkan luka di situ.
Namun, Aldian tidak menggubris rasa sakit di tangannya ada sesuatu yang perlu ia cemaskan ketimbang luka gores itu.
Aldian benar-benar sudah sampai pada batasnya.
***
Malam yang begitu indah, ketika Devan akhirnya menemukan Karin. Istrinya ternyata sengaja bersembunyi selama ini dan dibantu oleh Aldian melancarkan aksi petak umpet itu.
Devan sudah menduganya jika Aldian juga ikut terlibat. Dari gelagat anak iblis itu.... Yang tak cemas sedikit pun pada momnya.
“bisakan hentikan ini? Aku mohon, “ mohon Devan sembari berlutut di depan Karin yang sudah duduk di rajang besar mereka.
Karin yang terlampau kesal dengan sikap Devan yang mengurungnya akhir-akhir ini, membuat sisi manusianya memberontak.
Dia bukan barang yang perlu di simpan serapat itu.
“Janji akan membiarkanku keluar dengan mudah? Jika tidak aku tetap akan minta bantuan Aldian untuk pergi dari sini.” Kata Karin kejam. Dia bahkan dengan sengaja menepis tangan Devan yang hendak menggenggam tangannya.
Devan memijit pelipisnya, berusaha berpikir keras agar Karin bisa tenang. Dan sebuah ide muncul dalam benaknya..
“hmmm, sayang.... bagaimana jika kita adakan pernikahan untuk Aldian dan Irene? Kamu menyukai gadis polos itu kan?” tanya Devan tenang, walau dalam hatinya dia masih takut.
Karin mulai tertarik. Dia sudah sejak lama menginginkan teman bicara wanita yang selalu ada di rumahnya. Ah... Memikirkannya saja membuat Karin tersenyum cerah dan langsung melihat ke arah Devan. Seolah marahnya tadi lenyap entah ke mana.
“kau setuju juga?!”
“selama kamu dan anak kita bahagia” Devan tersenyum cerah, meninggalkan rasa takutnya ketika Irene tak marahan lagi padanya.
“Aku ingin pernikahan itu diadakan di pantai yang waktu kita mengadakan bulan madu ke tiga, kemudian bulan madunya harus di tempat sederhana namun terkesan mewah-“
“bagaimana jika di pulau pribadi Aldian?” Irene menjentikkan jemarinya semangat. Itu ide yang cemerlang. Beberapa bulan lalu Aldian membeli sebuah pula pribadi yang cukup nyaman dan memiliki iklim tropis. Di sana juga adem ayem saja.
“Kau Jenius!” Karin ingin segera memeluk suaminya yang masih berlutut itu.... Namun terhenti akan sesuatu. Wajah Karin mulai berubah masam lagi. Dan refleks wanita itu kembali ke mode ngambeknya.
Sial Karin! Kenapa dia bisa lupa jika saat ini sedang marah karena sikap Devan yang mengurungnya seperti hewan?!