
Aldian pov
Aku tidak bisa menahan senyumku ketika kulihat wajah pucat Irene setelah tahu siapa diriku sebenarnya. Bahkan aku harus menahan tawaku hingga akhir acara hanya untuk menjaga pribadi kalem dan dinginku di depan semua orang.
Yah... Ini adalah rencana sempurna untuk menaklukkan gadis keras kepala ini.
Setelah kepala rektor memanggil namaku sebagai Aldian Antonio, Irene langsung kaku dan menatapku dengan mata bening abu-abunya. Kemudian jangan lupakan mulutnya yang membuka terkejut.
Aksi gemas gadis itu membuatku harus ekstra sabar menahan diri untuk tidak menertawai kekonyolannya. Betapa tidak? Melihat hampir keseluruhan orang yang hadir tahu siapa diriku sebenarnya, dan hanya wanita ini yang tidak mengenali paras tampan seorang Aldian Antonio.
“Kau.... Maksudku tuan Aldian, bisakah Anda melepaskanku?”
Ah... Suara itu lagi, aku menolehkan kepala ke samping melihat pada gadis yang memanggil namaku dengan nada geram dan penuh akan amarah.
“aku rasa tidak nona, bukankah kau sudah setuju akan mengikutiku?” kataku dan diakhiri dengan senyum senang. Untuk kali pertama dalam hidupku, aku tersenyum senang bukan hanya karena ada di dekat mom maupun ketika membedah tubuh manusia. Tapi hanya karena senang menggoda gadis ini.
“Apa kau tidak cukup senang sekarang karena sudah menghancurkan hidupku... Setidaknya biarkan aku pergi” aku memperhatikan Irene yang menundukkan kepalanya. Kemudian memeluk tubuhnya seolah melindungi diri dari ketakutan.
Senyum yang terukir jelas di wajahku tadi seketika hilang. Kemudian ku sandarkan tubuhku ke sandaran sofa, dan ku dongakkan kepalaku ke atas.
Yah... Kali ini kami berdua sedang beristirahat di ruang kepala rektor di kampus ini. Sangat besar dan cukup mewah untuk pria 56 tahun itu. Dan alasan kenapa Irene terlihat frustrasi seperti sekarang dan menginginkan pergi, adalah karena diriku.
Aku memaksanya untuk mengikuti setiap kegiatan acara dari awal sampai akhir. Tujuanku hanya satu yaitu membuatnya tahu seberapa besar kekuasaan seorang Aldian Antonio. Bahkan untuk kepala rektor di sini bersujud di kakiku, Itu tidak cukup untuk mengganti semua uang yang perusahaan dad dan aku investasikan di sini.
Aku hanya ingin menunjukkan semua itu pada gadis ini!
“sebenarnya apa tujuanmu?”
Aku menegakkan kembali tubuhku, dengan posisi duduk yang sempurna, kemudian kembali kulihat Irene yang masih menundukkan kepalanya ke bawah dengan posisi tangan menangkup wajahnya.
Suara yang di keluarkannya teredam oleh raupan telapak tangan itu.
“Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu yang menakjubkan padamu bagaimana rasanya ketika berdiri di sampingku” ujarku dingin. Setidaknya sekarang menurutku urusanku dengan gadis ini sudah selesai. Aku sudah menunjukkan hal menakjubkan padanya, yang bahkan semua orang pasti akan ketagihan setelah mencoba sekali saja.
“bagaimana menurutmu? Bukankah ini semua menyenangkan? Bukankah menurutmu ini adalah kesempatan langka karena mendapatkan perhatian dariku” lanjutku mengejeknya habis-habisan.
Aku benar-benar ingin melihat reaksinya sekarang namun sayang wajahnya di tutupi oleh kedua tangannya.
“jadi begitu... hanya karena aku menginjak harga dirimu pada malam itu kau melakukan semua ini?”
“sekarang kau mulai mengerti” ujarku di sertai tawa kecil di akhir.
Akan lebih menyenangkan jika dia memperlihatkan wajah kekalahan itu. Namun seperti menyembunyikan sesuatu Irene, masih menangkup wajahnya.
Aku menaikkan salah satu alisku bingung ketika dia bangkit berdiri dari duduknya. Kaki gadis itu kemudian melangkah hingga tubuh kecilnya itu berada tepat di depanku. Kali ini aku bisa melihat semuanya.
Aku mendongakkan kepala melihat wajahnya yang kacau. Muka yang memerah dan wajah yang di penuhi amarah.
“kenapa? Apa kau akan mengakuiku sebagai pria terhormat dan menarik semua kata-katamu pada malam itu?” tanyaku sembari kembali menyandarkan diri. Kulipat kedua tanganku di depan dada, menunjukkan kekuasaanku.
“KAU BASTARD!”
Aku terkejut ketika merasakan sesuatu menyentuh perutku. Dan ketika aku melirik benda apa itu, ternyata gadis ini dengan berani meronggokkan kakinya tepat di atas tubuhku.
Gadis ini dengan berani-bahkan mencondongkan badannya ke arahku, dengan kakinya tetap menekan bagian perutku. Dan ketika wajahnya sudah berada tepat di depanku.
Aku bisa meliat mata bening berwarna silver itu mengkilat karena air yang menggenang di sudutnya, alisnya yang berkerut marah serta mulut yang akan membuka.
“kau pikir dengan menjadi anak pengusaha kaya kau bisa berbuat sesenaknya padaku! Jangan harap kau bajingan!” aku terpaku dengan perkataan Irene barusan. Dia bahkan membuatku membeku dalam kondisi saat ini. Dengan tangannya memegang kerah bajuku.
“jika aku melihatmu sekali lagi, maka aku benar-benar akan memotong bagian bawah tubuhmu itu dan memberikan potongannya pada anjing liar di jalanan” aku menelan ludah kasar. Bukan karena takut akan ancamannya... tapi, gadis ini terlalu dekat.
Aku memegang dadaku merasakan detak jantungku yang mulai tak karuan lagi. Kenapa bisa seperti ini? Mataku yang tetap terpaku melihat beningnya mata Irene, membuatku memikirkan sesuatu yang belum pernah ku pikirkan sebelumnya.
Kemudian aku mencoba melirik bagian bibirnya yang mengatup rapat menahan amarah. Bibir yang sedikit pucat, dan basah. Berwarna pink. Bibir itu yang pernah menyentuh bibirku.
“kau bajingan” aku mengerjapkan mata berkali-kali mendengar bisikkan Irene yang sangat jelas di telingaku. Gadis ini mulai bangkit dari atas tubuhku dan kemudian baru melayangkan tatapan jijik padaku.
“maaf atas kelancangan saya tuan, saya harap anda memiliki hari yang menyenangkan”
“kau mau ke mana?” tanyaku ketika melihat dia hendak mengambil tasnya yang ada di sebelahku. Namun sayangnya aku segera menahan tas itu dengan merampasnya paksa. Kulihat jika Irene menampakkan wajah marahnya lagi ketika dia sudah agak tenang tadi.
Ku tampilkan senyumku dan kulilitkan tali tas sandangnya pada leherku.
“tuan... kenapa kau tetap menahanku? Bukankah acaranya akan selesai sebentar lagi?”
“aku mengizinkanmu pergi, namun kau harus mengambil sendiri tasnya” ujarku dengan santai. Kulirik ekspresi Irene dengan muka yang sudah bertambah merah.
Entah kenapa kejadian dia menginjak tubuhku bahkan sampai mengancamku dengan kata-kata barusan, malah membuatku tidak masalah. Entah itu karena sesuatu ya tiba-tiba kurasakan? Atau karena aku yakin pasti gadis ini sangat lemah dan mudah saja kuhancurkan?
Untuk saat ini semua jawabannya masih kabur dalam benakku.
Aku kembali memperhatikan Irene yang tak kunjung mendekat.
Namun berselang beberapa detik kemudian kakinya mulai melangkah ke arahku. Tangan gadis itu mulai terulur menyentuh lalu mengambil tasnya yang menjuntai di atas perutku.
“kau pikir aku akan melaksanakan rencana busukmu?”
Aku terkejut tiba-tiba. Ternyata Irene tidak berusaha mengambil tasnya untuk di lepas dari leherku, namun malah menarik tasnya agar leherku terjerat.
“kembalikan tasku brengsek!”
Aku merasakan sedikit sesak di bagian leher, cekikkan yang di akibatkan tali tas kecil ini di tambah lagi tenaga kuda gadis cantik itu. Membuatku tersenyum senang. Gadis ini gila? Bahkan setelah dia tahu siapa diriku?
“kau benar-benar sesuatu....” gumamku. Dengan cepat kuraih tali yang melilit leherku dan menariknya paksa. Dan membuat Irene langsung terjatuh di atas tubuhku. Tangannya tepat bertumpu di atas dadaku, dengan wajah kami kembali saling bertemu.
Aku bisa merasakan jantungku kembali bergetar hebat. Perasaan aneh tadi mulai muncul lagi, ketika kulihat mata beningnya yang membulat karena terkejut.
“TUAN!”
Shit!
***