
Irene pov
Aku menatap penuh kebencian pada pria yang dengan santainya berdiri di ambang pintu masuk kamar mama-celana jeans panjang dan kemeja kotak-kotak, di sertai dengan tubuh tinggi dan wajah yang di penuhi janggut- membuatnya benar-benar dalam umur 48 tahun.
Tatapannya yang mesum padaku, membuatku jijik dan menolehkan kepala ke samping. Ku eratkan kembali pelukanku pada mama.
Namun.... Mama melepas pelukanku dengan kasar dan langsung berdiri dari duduknya. Aku bisa melihat mata mama yang tadinya sayu sekarang bersemangat menyambut pria itu.
Bramasta-tidak itu bukan nama asli dari pria itu. Bramasta adalah cinta pertama mama sebelum dia menikah dengan papa. Setidaknya itu yang ku tahu. Aku tidak tahu banyak mengenai keluarga mama ataupun papa. Yang aku ingat.... Hanyalah ingatan dimana diriku mama dan maria bermain bersama, kemudian semua itu mulai jarang karena kematian maria, dan kemudian pria itu datang.
Pria yang mengaku sebagai Bramasta itu. Berdiri tepat di depanku kali ini. Mama sudah bergelayut manja di tangannya. Dan aku hanya bisa menatap pemandangan itu nanar. Sudah puluhan kali aku mengatakan pada mama jika pria itu hanya mengaku saja sebagai lelaki yang sempat menjadi cinta pertama mama.
Tapi jika dia mengaku sebagai pria itu... Maka bagiku tidak masalah selama dia juga mencintai mama. Sebab, semenjak mama kehilangan maria, pikiran mama selalu salah mengira orang, bukan hanya pak Riki-tetangga kami dianggapnya sebagai pak Harto, entah siapa itu. Dan sekarang kesalahpahaman itu berlanjut pada pria ini. Tiba-tiba saja dia mengaku bernama Bramasta dan selalu singgah ke rumah.
Dan itu terjadi 3 tahun lalu. Bukan karena dia mencintai mama. Tapi... Dia menginginkan tubuhku. Alasan kenapa aku kabur 2 bulan yang lalu dan tinggal di apartemen murah yang bahkan jauh dari kampus adalah dirinya.
Benar sekali. Puncak kesabaranku akhirnya hilang 2 bulan lalu. Hanya karena mama aku bertahan selama ini. Aku takut jika dia menyakiti mama.
2 bulan lalu pria brengsek ini berniat memperkosaku. Dan untungnya aku sempat kabur dari jeratannya. Namun, semenjak itulah mimpi buruk selalu menghantuiku. Ketakutanku akan malam dimana lelaki bajingan itu mencoba memiliki tubuhku adalah malam paling menakutkan.
“Aku lihat jika maria sudah pulang” aku berdecih tidak suka ketika mendengar kata-katanya barusan. Kulihat mama malah tersenyum senang padanya.
Bajingan itu... Apa yang harus aku lakukan agar mama tidak lagi merasa bergantung pada laki-laki ini?
Memikirkan tentang papa pun itu adalah hal mustahil. Aku tidak pernah mendengar mama mengatakan tentang keberadaan papa sekalipun, bagaimana dia dan siapa pria itu? Tidak pernah, hanya sekali aku mendengarnya ketika mama menceritakan mengenai sosok Bramasta dan setelah itu mama langsung menikah dengan seorang lelaki. Hanya sampai disitu.
“Aku akan kembali ke apartemen dulu ma, mama baik-baik ya di sini...”
“eh, kenapa kamu pergi lagi, ini sudah malam maria,”
“besok maria ada kelas pagi, jadi takutnya nanti terlambat” ujarku meyakinkan. Aku berdiri, kemudian memperbaiki pakaianku. Jijik sekaligus benci, begitulah caraku menatap pria itu kali ini.
Kemudian baru ku tatap mama dengan sayang. Aku melangkah mendekatinya dan ku cium pipi mama dengan sayang. Kamu harus bertahan Irene, ini demi mama. Kataku menguatkan diri dalam hati ketika mataku tidak sengaja melihat pria tua itu menampilkan tatapan mesumnya padaku lagi.
“hati-hati ya maria..”aku mengangguk menanggapi perkataan mama.
Aku mengakhiri kunjunganku dengan memberikan senyuman hangat pada mama, lalu melangkah keluar dari rumah ini cepat-cepat.
Dan ketika diriku sudah di luar, baru akhirnya aku bisa lega. Nafas yang sejak tadi ku tahan ketika melihat pria itu. akhirnya terlepas juga.
Tuhan... Apa yang harus kulakukan agar mama bisa lepas dari pria itu?
Aku menatap ke atas bebas. Langit malam dan suara jangkrik adalah suasana malam yang begitu menghanyutkan. Jika kupikir lagi... Ternyata mama juga tidak sepenuhnya menyayangi maria.... Jika mama memang menyayangi dan mencintai maria, maka mama tidak akan mengizinkan anak gadisnya untuk keluar malam.
“Ma... Aku pengen liat mama senyum sama Irene” gumamku, tak terasa air mata mulai menetes keluar. Mataku memanas, ketika mengingat lagi semua perlakuan mama yang membenci diriku sebagai Irene.
***
Beberapa hari kemudian.....
“kenapa wajahmu senang gitu ren?”
“Hari ini! Hari spesial kak Kris ulang tahun dan dia berjanji... Akan mentraktirku!” ujarku senang dengan wajah yang tak terkira, sembari menautkan jemari jemari tanganku di depan dada. Betapa aku menunggu hari ini, karena sudah lama aku tidak di traktir oleh seseorang.
Tapi kenapa viola menatapku dengan pandangan aneh begitu? Maksudku... Dia menatapku dengan tatapan bosan dan bete seolah aku ini gadis aneh?
“kau benar-benar gadis aneh” nah kan...
Aku menghembuskan nafas kesal tidak mengerti maksudnya. Kemudian memperbaiki dudukku lagi agar lebih nyaman. Kali ini aku dan viola anggiani, sedang duduk berdua dan saling berhadapan, di salah satu meja kantin kampus. Setelah jam-jam yang berat tadi di kelas, akhirnya kami bisa menikmati secangkir ekspresso di sertai dua gorengan tahu tempe dimeja kantinnya mak ika.
“kak Kris itu suka sama kamu Irene...”
“kau bercanda, bukankah mbak Serena jauh lebih menggiurkan dari padaku?” kataku tidak percaya dan acuh. Itu adalah perkataan konyol yang baru saja kudengar dari viola.
Lagi pula, gadis tercantik di sini, Serena, kakak tingkatku yang tahun ini duduk di semester 5 adalah gadis yang selalu mengejar kak Kris, dan tentu saja dengan body aduhainya itu. Aku kalah saing.
“kamu tuh ya.. di bilangin, percaya diri dikit deh, kak Kris itu suka sama kamu Irene! Kamu itu cantik, sayangnya gak pekaan aj, denger nih ya... Aku taruh bahkan anak dari devan antoniopun bakalan tertarik sama kamu!”
“Hahaha! Itu lelucon yang bagus vi!” aku tertawa tanpa henti ketika dia mengatakan hal barusan. Demi apa coba dia bisa berkata seperti itu. Aku bahkan sampai memegang perutku tanpa henti karena saking menghayati tawaku.
Astaga.... Viola kebanyakkan baca novel sepetinya.
“Arggh! Dasar! Aku punya temen sebego kamu bikin greget tau!”
“Denger ya vi... Gini aja deh, kalau bener anaknya devan antonio yang kata kamu ganteng itu tertarik sama aku, aku janji bakalan beliin kamu mobil sport mewah hasil minta uang sama anaknya!” oh astaga! Ini obrolan yang benar-benar lucu. Bahkan viola tidak memperhatikan kemungkinan kami bersua saja hanya sekitar 1 banding satu juta. Yang artinya... 99.99999% adalah ketidak mungkinan.
Dalam sebuah data survei, jika peluang yang terjadi untuk berhasil itu adalah kecil, dan itu kejadian akhirnya. Bisa di bilang mukjizat tuhan sedang berjalan.
“baiklah! Kamu yang bilang dan jangan ingkari janjimu!” aku menutup mulutku hampir tertawa melihat ekspresi viola di depanku. Mukanya hampir memerah dan raut wajah marahnya benar-benar lucu!
Hah... Jika benar itu terjadi, maka aku akan jadi versi cinderella terbaru yang menemukan seorang pangeran tampan....
***