
“kau brengsek mesum! Jangan mendekat! Atau aku akan membunuhmu!! “ Irene berteriak dengan kencang. Kakinya sedari tadi sudah berlari untuk menjauh dari Aldian.
Walaupun bahkan Aldian hanya berdiri di tengah ruangan, dan berjalan perlahan untuk mendekati Irene.
Aldian menahan senyumnya melihat tingkah Irene yang begitu lucu.
“Bukankah aku harus menepati janjiku? Kau menang Irene, dan aku harus memberikanmu hadiah?” Kata pria itu tenang sembari memasukkan tangannya dalam saku celana.
“Mana ada orang yang memberikan hadiah seperti itu!” protes Irene, dia dengan sengaja berjongkok di balik sofa untuk menghindari Aldian. “Aku tidak ingin hadiah itu! Ganti yang lain!”
“Kita sudah menyepakatinya Irene... Ingat? Bahkan kita berjabat tangan setelah itu”
Irene menggigit bibirnya. Dia menyesali keputusannya untuk menang dalam taruhan itu. Seharusnya dia kalah saja. Hadiah yang di tawarkan Aldian.....
Benar-benar membuat Irene merinding.
Pria itu gila!
***
Beberapa menit yang lalu...
9.30 malam.....
Irene pov
Hari ini Aldian katanya pulang agak terlambat. Yah, walaupun selama dua minggu ini aku jarang melihatnya, tapi syukurnya untuk hari ini dia mengabariku akan segera pulang sebelum tengah malam.
Intinya.... Aku menang dalam taruhan itu. Aku menduduki peringkat pertama di kelas untuk tahun ini. Dan aku tidak sabar untuk mendapatkan hadiah yang katanya ‘menakjubkan’ itu dari Aldian.
Aku menyamankan diriku menunggu Aldian datang. Dengan se-toples kue di pangkuanku dan nyala televisi besar nan tipis di depan.
Aku menunggu pria itu sembari menikmati film laga keluaran terbaru dari China.
“aku pikir itu dia” gumamku ketika mendengar suara pintu terbuka.
Aku meninggalkan sofa dan berjalan mendekati pintu untuk melihat Aldian. Dan aku bisa melihat Pria itu tampil dengan kemeja putihnya lagi dengan celana kerja berwarna hitam.
Walaupun terlihat tidak rapi-dengan kancing atasan kemejanya yang terlepas serta dasi yang sudah entah ke mana, Aldian masih tetap bisa memanjakan mataku.
“hai, aku harap kamu tidak terlalu lama menungguku” kata Aldian.
Dan tentu saja senyuman yang cerah itu dan tatapan hangatnya.
“Aku tidak menunggumu, aku menunggu hadiahku” ujarku protes.
Aku memicingkan mata, heran ketika Aldian hanya menahan tawanya. Tapi terserah, aku tidak mau tahu apa yang lucu, karena memang itu Aldian. Dia selalu tertawa tidak jelas seolah ada yang lucu dan menghiburnya.
Aku meminta hadiahku dengan mengulurkan salah satu tangan di hadapannya.
“aku menunggu ‘hadiahku’” tekanku.
Aldian melangkah tenang untuk mendekatiku.
“ah, ya benar, kamu menang, aku sudah menyiapkannya.” Katanya lagi.
Aldian menyodorkan sebuah kantong kertas kecil yang bertengger di tangannya sejak tadi.
Aku segera mengambilnya dengan senyum yang melebar. Ini pertama kalinya aku mendapatkan hadiah setelah sekian lama dari seseorang. Sebuah kalung atau gelang? Terserah apa itu, aku lebih menghargainya sebagai hadiah meskipun harganya murah sekalipun... Yah jika mengingat Aldian itu bisa saja selangit, aku akan meminta yang murah saja nanti.
Namun... Senyum di wajahku luntur ketika melihat isinya.
“apa ini?” tanyaku bingung.
“Sebuah borgol” katanya tenang.
Aku memutar bola mataku ketika mendengar kata itu. Siapa pun tahu jika ini adalah sebuah borgol yang di gunakan polisi untuk menangkap orang jahat. Tapi untuk apa?
Aku tidak memerlukannya sama sekali karena aku bukan polisi!
Aku melirik Aldian yang ada di depanku, dan mulai bertanya.
“ini untuk apa? Kenapa kau memberikanku sebuah borgol?”
“ini untuk....” Aldian mendekatkan wajahnya padaku dan berbisik di depan telingaku.
Dan setiap kata yang ku dengar dari bisikkannya membuat jantungku bergetar hebat.
Aku terkejut. Dan refleks menjatuhkan borgol yang ada di tanganku ke lantai.
***
Beberapa menit kemudian....
Irene pov
“Jika kamu mendekatiku aku benar-benar akan membunuhmu!” teriakku lagi.
Oh tuhan... Selamatkan aku dari pria gila itu.
Aku merutuki kesialanku untuk menang dari Aldian, tahu begini lebih baik aku menyerahkan peringkat pertama pada bian.
Aku berjongkok di balik sofa, untuk menyembunyikan diriku dari Aldian, sesekali, mataku dapat melirik dirinya sedikit dari balik sofa.
Terlihat di sana....Aldian mengambil borgol yang terjatuh di dekat kakinya.
“ini hanya permainan sederhana Irene.... untuk satu malam ini, sebagai hadiah karena sudah menang, aku memberikanmu kesempatan untuk melakukan apa pun pada tubuhku-“
“dasar mesum! Berhenti berbicara konyol seperti itu! Aku tidak mau!” rutukku padanya.
Pria itu gila! Dia sinting! Hanya wajahnya saja yang waras!
Bagaimana dia bisa meminta hal konyol seperti itu? Seolah-olah itu hal biasa yang diperbincangkan di warung kopi?
Aku yakin saat ini wajahku memerah. Membayangkan hal yang di bisikkan Aldian membuat jantung dan kepalaku memanas.
“apa kamu tidak tertarik? Kebanyakan gadis yang sebaya bahkan lebih tua darimu tidak akan pernah melewatkannya”
Aku menahan nafas ketika mendengar suara langkah kaki Aldian semakin lama semakin dekat.
“nona... Anggap saja malam ini aku adalah budakmu, tubuh dan jiwaku adalah milikmu seutuhnya”
Langkah itu berhenti, aku melihat Aldian sudah ada di depanku saat ini, dengan dirinya mengulurkan tangan padaku.
“Nona, berdirilah” Suara yang berat dan menggoda itu.
Aldian terlalu seksi di berbagai hal, aku tidak yakin jika hatiku akan tetap teguh pada keputusan awal.... Tidak! Aku pasti bisa!
Dia hanya merayuku!
Aku menghembuskan nafas, dan mengabaikan uluran tangan Aldian, kemudian bangkit. Berdiri di hadapannya.
Lebih tepatnya aku sedang menahan rasa maluku.
“Aku ingin hadiah yang lain,” kataku.
Aku memberanikan diri melihat mata Aldian untuk meyakinkan pria itu.
“benarkah?”
“Tentu saja! Aku tidak ingin melakukannya walaupun kau laki-laki terakhir di dunia ini!” terikku langsung dan memenuhi kesunyian yang ada.
Aku memperhatikan Aldian lagi yang malah menatapku aneh. Sudut bibirnya sedikit berkedut dan matanya tak lagi melihatku.
“apa kamu yakin?” Aldian bertanya lagi padaku untuk memastikannya.
Dan aku langsung mengangguk, mengiyakan. Tapi anehnya, pria itu malah mendekatkan wajahnya padaku lagi, hingga membuatku mundur untuk menghindarinya.
“Ganti yang lain! Aku ti-“ aku menghentikan ucapanku ketika Aldian malah membuatku mundur perlahan-lahan. Dia dengan sengaja memajukan tubuhnya agar aku bisa terintimidasi.
“Aku rasa kamu tertarik Irene”
Aku terkejut ketika tubuhku sudah tidak bisa pergi ke mana-mana lagi.
Aku lebih tepatnya terjepit di antara jendela kaca besar yang ada di belakangku dan tubuh Aldian yang hanya berjarak beberapa centi saja kali ini.
“jujurlah Irene”
Aku menggigit bibirku untuk menghilangkan rasa gugup ini. Jantungku sudah tidak karuan sejak tadi, di tambah lagi... Dengan wajah Aldian yang tepat di depanku. Tangan dan kaki pria itu mengunci pergerakan tubuhku, bahkan hanya ada dua tanganku yang tepat menyentuh dadanya agar Aldian tidak lebih dekat dari ini.
Aku kembali di kejutkan dengan Aldian yang mengambil tanganku. Dengan gerakkan perlahan meronggokkan tanganku di pipinya.
“haruskah saya memanggil Anda tuan putri?”